
"Kak, kasihan pak Ruslan, pasti gara-gara kejadian tadi pagi yang bikin beliau sampai jatuh sakit," Aya merasa bersalah.
"Hm, tapi abah memang ada kelemahan tubuhnya, ding. Mungkin saja ada efek kejadian tadi pagi, tapi tidak sepenuhnya karena itu juga. Jadi kamu jangan merasa tidak enak, sebaiknya kamu kinsentrasi dengan kehamilanmu saja," jawab mama Alif yang kontraksinya kian sering dan teratur.
Aya mengelus perutnya yang masih rata, "Terima kasih ya Allah, aku boleh dititipkan anugerah sebesar ini tapi sayang ... dia hadir disaat ayahnya tidak lagi menginginkan keberadaanku," gumam Aya, air mata mulai merembes perlahan di pipi wanita cantik itu.
"Aku yakin, jika Aga tahu pasti dia akan berubah pikiran," tutur Aminah seraya mengingat reaksi suaminya saat tahu tiap kali ia mengandung. Jika tidak ada masalah seperti tadi, seperti Zain pasti Aga pun akan menghujani Aya dengan ciuman dan memperlakukannya seperti ratu.
"Melihat kemarahannya hingga menalakku, sepertinya mas Aga tidak akan goyah, kak."
"Belum tentu. Bukankah Aga sangat mendambakan memiliku buah hati denganmu? Selama ini dia berharap kamu cepat hamil, kabar baik ini pasti membuatnya menarik kata-katanya," mama Alif masih berusaha membesarkan hati perempuan yang sudah ia anggap seperti adiknya itu.
"Entahlah kak, hatiku terlanjur sakit walau seandainya dia ingin kami kembali bersama, aku yang akan pikir-pikir."
"Tidak boleh begitu adingku sayang, pikirkan anak ini dan masa depannya, kamu mau dia tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya?"
Aya terisak semakin kencang, mama Alif dapat memahami kekecewaan yang dirasakan Aya. Ibarat telah dilambungkan ke langit ke tujuh tapi kemudian dihempaskan hingga jatuh terjerembab.
"Ding, bisa minta tolong panggilkan perawat? Kontraksi-ku semakin sering dan aku rasa waktuku melahirkan semakin dekat."
"Sebentar, kak." Aya langsung menghampiri petugas.
***
"Aga, apa aku bisa minta tolong?" Tanya Zain pada sahabatnya yang tampak sesang melamun di teras rumah.
"Ada apa Zain?" sahut Aga dingin.
"Mama Alif akan melahirkan dan abah ... ehm, tolong kabarkan pada Zais kalau abah sakit dan sedang dirawat di UGD, serangan jantung. Aku mau ke rumah mamaku dan harus segera kembali ke rumah sakit."
Aga terkesiap sesaat namun kemudian malah bersikap santai, "Apakah ini karma?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Ga?"
"Ck, macam kamu tidak tahu apa yang sudah diperbuat abahmu padaku saja lalu sekarang kamu dengan mudahnya meminta bantuanku."
"Ya Allah, ini kondisinya genting, Ga. Aku harus gerak cepat, baik istri mauoun abahku sama-sama membutuhkan keberadaanku. Jadi tolong jangan dulu kamu membahas masalah itu."
__ADS_1
"Aku tidak peduli dan tidak sudi, suruh orang lain saja."
"Baiklah, Ga. Kalau tidak bisa menolongku tidak apa-apa tapi aku mohon ampuni kesalahan abahku lahir batin, tolong ikhlaskan apa pun yang sudah terjadi baik yang abah sengaja ataupun tidak, sebab aku takut abah ... ah, waktunya tidak banyak."
"Apa separah itu, Zain?"
"Kamu pikir kenapa aku sampai memohon begini?"
"Ma-maafkan aku, Zain. Baiklah, aku akan segera ke rumah Zais," sahut Agastya yang melunak melihat kekhawatiran di wajah Zain.
"Terima kasih, Ga."
"Sama-sama, maafkan keegoisanku. Ah, kenapa aku bisa melupakan semua kebaikan hati pak Ruslan hanya karena kejadian tadi pagi?"
"Sudah, akan ada waktunya kita membahas hal itu nanti."
"Baiklah." Agastya menutup rumahnya dan berjalan menuju dermaga. Sebab Zais tinggal di kampung lain dan butuh waktu 15 menit menggunakan speed boat menuju kediaman adik tiri Zain itu.
Sekilas Agastya melihat ke arah rumah Zain, berharap melihat Aya di situ. Sungguh walaupun ia tidak menyesali tindakannya yang telah memutus ikatan pernikahan dengan Aya, namun sesungguhnya cinta Agastya masih teramat besar bagi perempuan itu.
***
"Aya, bagaimana keadaan kakakmu?" Tanya Zain yang susah kembali ke rumah sakit.
"Kontraksinya semakin kuat kak, sudah bukaan 9," sahut Aya.
Mendengar itu, Zain bergegas menuju kamar bersalin untuk men-support mama Zain.
"Sayang, gimana?"
"Air ketubanku sudah pecah, sebentar lagi anak ke tiga kita lahir. Abah gimana?" jawab mama Alif, wajahnya memerah menahan nyeri.
"Abah masih belum sadarkan diri tapi jangan khawatir, abah sedang ditangani. Aku sudah menghubungi keluarga kita."
"Syukurlah."
"Atur nafasnya bu," ujar perawat memutus percakapan suami istri itu.
__ADS_1
"Sayang, fokus pada anak kita saja." Sebelah tangan Zain menggenggam tangan istrinya dan tangannya yang lain me-lap keringat yang membasahi kening wanita tercintanya itu.
"Baik, pembukaan sudah lengkap. Ibu, tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan, dan dorong," aba-aba dokter pada mama Alif setelah wanita itu beristirahat beberapa saat.
Mama Alif langsung mengikuti instruksi tersebut.
"Ayo sayang, semangat," Zain melabuhkan kecupan di tangan dan dahi istrinya.
"Rileks bu, kita ulangi lagi, ya. Tarik napas dalam-dalam, buang perlahan, dorong. Bagus, bu."
"Oeeek ... oeeek," tangis nyaring keluar dari mulut mungil begitu lolos dari jalan lahirnya, setelah mama Alif mengejan tiga kali.
"Selamat bu, pak. Bayi-nya perempuan," kata dokter yang menangani persalinan.
"Alhamdullilah. Terima kasih Allah, terima kasih istriku," ujar Zain sambil memeluk haru wanita yang telah bertaruh nyawa demi buah hati mereka.
"Bayi cantiknya sudah siap diadzani, pak. Silakan," perawat memberikan bayi yang sudah dibedong kepada Zain. Dengan suka cita Zaib menyambut bayi perempuannya, lalu mengumandangan adzan dengan nada suara yang lembut sambil menghadap kiblat.
"Selamat atas kelahiran putrinya ya, kak ... bang," Aya ikut merasa bahagia sekaligus terharu atas penambahan anggota keluarga Zain termasuk menyaksikan bayi diadzani adalah pengalaman baru baginya. Aya jadi membayangkan beberapa bulan ke depan akan mengalami hal yang sama. Ah, tapi mungkinkah mas Aga mau menerimanya lagi?
"Terima kasih ding Aya, ayo kamu harus menjaga kandunganmu baik-baik biar bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ibu," ujar mama Alif.
"Sakit, kak?"
"Iya tapi kamu jangan khawatir karena sudah kodrat kita sebagai wanita dan lagi, semua rasa sakit juga tidak nyaman selama hamil dan melahirkan berganti sukacita begitu pertama kali mendengar tangis bayi kita."
"Kak, bukankah adzan itu panggilan untuk sholat kenapa kok diucapkan pada bayi?" Aya tidak dapat menahan rada ingin tahunya.
"Sebenarnya itu sunnah sih, adzan di telinga kanan dan menyerukan iqamah di telinga kiri bayi baru lahir, artinya kita sebagai orang tua berharap yang paling pertama didengar bayi adalah panggilan untuk menyembah Allah," jelas mama Alif seraya tersenyum.
"Zain ... Zain, maaf. Ah, alhamdulillah mama Alif sudah melahirkan," ujar Zais dengan nafas tersengal.
"Eh Zais, kenapa kamu terburu-buru begitu?" Tanya Zain saat melihat adiknya.
"Abah, bang ..." jawabnya.
Zain mengangguk mengerti, "Sayang, maaf aku tinggal dulu, ya," ujarnya sebelum menyusul Zais menghampiri pak Ruslan.
__ADS_1