
Kapal raksasa yang komandani Takeshi kini merapat di pelabuhan di wilayah Irian Barat, sesuai tugas yang dimandatkan padanya, Takeshi bertugas mengatur semua operasi Angkatan Laut di daerah itu.
Ryujo tidak perlu repot mencarikan tempat, sebab di tanah yang mereka tuju terdapat semacam komplek peninggalan pemerintah Belanda yang terdiri dari beberapa bangunan. 1 gedung paling besar dijadikan markas, yang bagian belakangnya mereka gunakan sebagai ruang pelayanan kesehatan, bangunan lain si sebelah timur yang memiliki banyak kamar menyerupai barak dijadikan mess bagi tentara dan bangunan di sisi barat dijadikan tempat tinggal bagi Takeshi selaku komandan beserta ajudan dan asistennya.
Dalam waktu singkat, para tentara Angkatan Laut yang cekatan itu bekerja keras mempersiapkan area komplek agar lebih layak huni, ada yang membersihkan bagian luar dan keliling kawasan, ada yang membenahi bagian dalam bangunan, ada pula yang mengangkut beberapa perabotan dan keperluan lainnya dari kapal dan langsung menatanya ke dalam masing-masing bangunan sesuai fungsi.
Takeshi, puas atas kerja sama para anak buahnya. Meskipun terbilang sederhana, bangunan yang ia tempatinya sekarang benar-benar layak disebut sebagai rumah tinggal yang nyaman.
"Nah, Himawari ... kini kamu bisa tinggal di sini selama papa bekerja tanpa harus ikut terombang-ambing di perairan," katanya pada sang gadis kecil.
"Hore! Aku senang di sini, bisa bebas bermain," sambut Himawari ceria.
"Ya, tentu saja, nak."
"Apa Sora akan tinggal di sini menemaniku?"
"Tentu saja, Sora, Agastya, Monic akan bersamamu di sini."
"Asyik, aku tidak akan kesepian selama papa berlayar. Aku tidak apa-apa papa tinggal lama-lama asalkan ada mereka bersamaku."
Takeshi tersenyum sambil mengusap rambut putrinya. "Ini kamarmu dan Sora," tunjuk Takeshi.
"Wah, cukup luas. Kamar ini cukup untuk kita tidur bertiga."
"Tidur bertiga? Ini kan kamarmu dan Sora," tekan Takeshi.
"Iya, seperti di rumah yang lama. Jika papa pulang, maka aku dan mama, kita bertiga tidur bersama."
"Ah, maksudmu ... papa, kamu dan Sora akan tidur bersama?"
"Iya."
"Oh itu tidak bisa, sayang. Jika papa ada di sini, kamu bebas memilih akan tidur dengan papa atau dengan Sora di kamar kalian. Kita tidak bisa tidur bertiga seperti dengan mamamu dulu."
"Kenapa? Bukankah di sini lebih luas dari kamar di kapal?"
__ADS_1
"Himawari sayang, ini bukan masalah luas atau tidak, tapi Sora adalah pengasuhmu kita tidak boleh tidur bersamanya kecuali papa sudah menikah dengan Sora," Takeshi mengajukan alasannya.
"Kalau begitu nikahi saja Sora agar kita bisa tidur bertiga, aku mau tidur diantara orang-orang yang kukasihi," sahut Himawari dengan polosnya. Sungguh pernyataan apa adanya seorang anak kecil yang tidak memedulikan perasaan papa sebagai lawan bicara.
Lelaki itu menggeleng pelan, jika bisa semudah itu tentu Takeshi akan mengabulkan harapan anaknya, tapi Takeshi tahu, tidaklah mudah menjadikan Arrabella sebagai istrinya dan mama bagi Himawari. Takeshi hatus memenangkan hatinya terlebih dahulu, sementara Arrabella yang masih belia itu tentu perlu banyak waktu untuk menimbang keputusannya.
"Dengar Himawari, kita tidak mungkin selamanya tinggal di sini. Ada saatnya kita kembali ke Jepang dan ..."
"Aku mengerti, pa. Jika papa menikah dengan Sora temtu dia tidak keberatan ikut kemanapun kita akan pergi termasuk kalau kita kembali ke Jepang."
"Benar, tapi Sora belum tentu mau menikah dengan papa."
"Masa? Aku akan membuat Sora bersedia menikah dengan papa agar dia bisa menjadi mamaku dan kita bisa tidur bertiga," jawab Himawari dengan mata yang berbinar bahagia.
Dari jauh terlihat Aya berjalan santai membawa beberapa barang memasuki rumah yang akan dia tempati bersama Takeshi dan lainnya.
"Sora! Sini dulu," Himawari menyongsong Aya dan menarik tangan gadis itu mendekati ayahnya.
"Hati-hati Himawari, kamu lihat kaki Sora masih luka," kata Takeshi setengah khawatir.
"Aku tahu, pa. Tenang saja."
"Menolongmu apa?" tanya Aya bingung.
"Aku mau tidur denganmu dan papa, tapi papa bilang tidak bisa, karena kamu tidak mau jadi mamaku. Jadi kamu menolongku dengan cara kamu harus menikah dengan papa agar kita bisa tidur bertiga, sekarang."
Kehilangan muka, Takeshi memilih menunduk demi menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu, demikian juga dengan Aya.
"Jawab Sora," pinta Himawari.
"Apa, aku harus menjawab apa, Hani?"
"Kamu harus bilang iya, kamu harus mau menikah dengan papaku."
"Ah, a-aku," Aya kehilangan kata-katanya sementara Agastya berusaha bernapas normal saat melihat gelagat tuannya yang tampaknya juga diam-diam menaruh perasaan pada noni Belanda yang dikaguminya itu.
__ADS_1
'Ya Tuhan, ternyata saingan cintaku berat sekali. Tentu Arrabella akan memilih tuanku yang lebih segalanya dariku,' batin Agastya.
"Eh, Himawari ... kamu sendiri tidak suka bila dipaksa jadi jangan memaksakan kehendak seperti itu, tidak baik," Takeshi berusaha menenangkan perasaannya sendiri.
Himawari tampak berpikir keras, "Sora, apa kamu tidak menyukai papaku?"
"A-aku ti ..." ah, lagi-lagi Aya kehilangan kata-katanya atas pertanyaan menjurus dari tuan putri kecilnya itu.
"Himawari, kelak kalau kamu sudah besar kamu akan tahu menikah adalah pilihan yang bisa diputuskan begitu saja. Sora perlu waktu untuk banyak berpikir," Takeshi berusaha memberi pengertian.
Himawari merengut, ia pun duduk sambil melipat kedua tangannya di dada. "Baiklah ... kalau begitu, Sora ... kamu jangan terlalu lama berpikir, kalau nanti kakimu sembuj kamu harus menikah dengan papa, sebab aku sudah tidak sabar kita tidur bertiga," putusnya tidak mau dibantah lagi.
"Sora, abaikan perkataan Himawari. Kamu silakan kembali berbenah dan perhatikan langkahmu agar kakimu tidak semakin parah kondisinya," perkataan Takeshi sungguh mampu memyelamatkan Aya dari situasi yang super canggung itu.
"Baik tuan, terima kasih." Aya pun berlalu, meninggalkan Himawari yang kesal karena papanya membiarkan Sora meninggalkan mereka tanpa jawaban yang sesuai dengan keinginannya.
"Papa, harusnya kita saling membantu agar Sora mau menikah denganmu," protesnya setelah Aya menjauh.
"Iya sayang, papa tahu ... tapi kita benar-benar harus menghargai pendapat Sora. Kamu harus mengerti tidak baik mendesaknya seperti tadi, sesuatu yang dipaksakan tentu tidak akan baik juga hasilnya. Kita harus meluluhkan hatinya dengan cara yang lembut agar dia bisa menerima kita."
"Tapi itu akan lama pa, dan belum tentu Sora mau. Aku sudah pernah memintanya jadi mamaku tapi dia malah memberiku jawaban yang tidak kumengerti."
"Kalau memang Sora tidak mau, ya sudah terima saja. Kita tetap tidak boleh memaksakan, meski itu sesuatu yang baik sekalipun. Kita berdoa saja, semoga suatu saat nanti akan ada seseorang lain yang lebih tepat menjadi mamamu dan kita tidak boleh kecewa jika ternyata Sora lebih memilih orang lain yang tepat untuknya, kamu mengerti?"
"Tidak. Aku hanya mau Sora yang jadi mamaku, pa. Hanya Sora perempuan yang bisa kau nikahi, sebab bagaimana aku bisa bertemu seseorang yang lebih tepat jadi mamaku dibanding Sora jika orang-orang yang bersama kita hampir semuanya laki-laki, pa?" sahut Himawari masih dengan mode ngambek-nya.
Takeshi terkekeh, Himawari benar juga. Tentara Angkatan Laut yang menjadi anak buahnya saat ini semua lelaki, kaum perempuan yang ikut di kapal raksasa itu tidak ada yang single, karena mereka merupakan istri dari prajurit yang diizinkannya ikut mendampingi.
"Ya, ya ... papa mengerti. Kamu boleh merayu Sora jadi mamamu tapi ingat jangan memaksanya, ya."
Himawari memeluk erat ayahnya sambil menangis, "Aku hanya ingin kita tidur bertiga dengan Sora, pa. Apakah itu terlalu sulit untuk diwujudkan?" lirih suara Himawari disela isaknya. Ah, betapa gadis kecil itu telah berpikir lebih tua dari usianya.
Seketika hati Takeshi berdesir perih mendengar perkataan anaknya. Apakah ia bisa dikatakan egois, jika memang ia tidak bisa mendapatkan perempuan yang tepat seperti Sora dan memilih menduda saja? Sementara Himawari butuh sosok perempuan yang bisa menjadi mamanya. Di sisi lain Takeshi sangat mengerti jika Sora punya banyak pilihan dan kebebasan menentukan lelaki mana yang bisa memenangkan hatinya. Takeshi tidak bisa membatasi Sora, sekalipun Sora adalah orangnya dan Takeshi punya wewenang bahkan memaksanya untuk dinikahinya.
Sungguh, sangat sulit bagi Takeshi memilih kata-kata yang lebih sederhana agar Himawari mengerti tentang cinta sementara hatinya sendiri telah tercuri oleh gadis yang sama-sama mereka inginkan menjadi bagian keluarga mereka nanti.
__ADS_1
***
'Eh, sebentar ... apa tokoh 'Aga' yang disebut Aya di bagian bab awal novel ini adalah Agastya, pemuda lokal yang jadi asisten Takeshi?' tanya Mangata pada dirinya sendiri. Ah, kalau begitu, berarti Agastya adalah ... .