
Sinar matahari yang menyengat kulit kecoklatan Agastya tidak mengurangi semangatnya mengumpulkan bambu. Setelah membawa bambu-bambu pilihan menuju tepi danau, Agastya merasa sudah waktunya pulang. Rencananya nanti usai makan siang dan beristirahat, dia akan kembali lagi ke danau itu untuk mulai merangkai bambu menjadi rakit.
Walaupun perutnya sudah bernyanyi minta diisi, Agastya tetap melangkah tegap sambil sesekali bersiul menuju rumah utama.
"Halo, aku pulang!" Ujar Agastya saat memasuki rumah.
"Halo juga mas Aga, gimana rakitmu sudah jadi belum?" sambut Ryujo.
"Belum tuan. Aku hanya bisa mengumpulkan bambu dan membawanya ke tepian danau, keburu lapar. Makanya pulang, hehe."
"Wah, memang kepulanganmu tepat waktu. Ini pas jam makan siang dan dik Aya sudah selesai memasak untuk kita," kata Ryujo dengan nada riang.
Agastya tersenyum, ia memilih membersihkan badannya dulu sebelum bergabung dengan yang lainnya di ruang makan.
"Mas Aga kemana saja? Aku merindukanmu so much," ujar Himawari yang meloncat dari kursinya menyambut kedatangan Agastya di ruang makan.
"Hai Himawari, mas Aga tadi ke hutan mencari bambu untuk membuat rakit."
"Rakit untuk kita menyusuri danau?" tanya Himawari dengan mata berbinar.
"Betul."
"Jadi nanti sore kita pergi ke danau, ya. Aku tidak sabar menaiki rakit yang dibikin mas Aga."
"Ah, rakitnya belum jadi, Himawari. Mas Aga kelaparan dan pulang. Nanti lagi mas Aga ke sana melanjutkan kerjaan mas, agar besok rakitnya bisa kita gunakan," jawab Agastya sambil menggendong Himawari dan mendudukan gadis kecil itu di kursi semula.
"Himawari sudah dulu bicaranya. Kamu dengar tadi, mas Aga kelaparan demi membuat rakit untukmu. Sekarang mari kita menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Aya," saran Takeshi pada putrinya.
***
"Agastya, kamu tidak perlu kembali ke danau sore ini," kata Takeshi usai mereka makan siang.
"Iya, tuan. Apa ada tugas untukku?"
"Hm, bukan tugas tapi ada yang mau kubicarakan denganmu."
Agastya merasa heran atas sikap dingin tuannya. 'Hm, kira-kira apa yang ingin tuan Takeshi bicarakan, apa beliau berubah fikiran atas perbincangan kami semalam?' gumamnya dalam hati.
"Tolong bikinkan 3 gelas kopi hitam dan bawa ke ruang kerjaku, ya," ujar Takeshi lagi yang langsung disambut anggukan Agastya.
Setelah membuat 3 gelas kopi, Agastya memasuki ruang kerja yang di dalamnya sudah ada Takeshi dan Ryujo.
__ADS_1
"Duduklah. Kita perlu bicara santai mengenai masa depanmu," ujar Takeshi.
"Em ... apa mengenai tugas baruku di ibu kota, tuan?"
"Itu salah satunya, namun yang utama adalah mengenai kelanjutan hubunganmu dengan Arrabella."
"Maaf, apa tuan berubah fikiran?" tebak Agastya ragu.
"Bukan aku, tapi kamu yang mungkin berubah fikiran setelah kita ... ah Agastya, apa kamu tidak merasa ada sesuatu yang aneh?"
"Aneh gimana, tuan?"
"Ya ... sesuatu yang mencurigakan."
"Mencurigakan? Ini tentang Aya atau ..."
"Apa saja."
Agastya nampak berfikir sejenak. " Tidak ada tuan, aku merasa ... biasa saja."
"Baguslah kalau begitu. Em ... jadi begini, tadi malam tanpa kita sadari ada penyusup yang mendekati rumah utama. Penyusup itu kemudian menyergap Aya dan membawanya ke barak."
"A-apa? Agastya terkejut mendengar penuturan Takeshi.
"I-itu tidak mungkin tuan," Agastya berusaha tidak mempercayai kalimat yang dikatakan tuannya.
"Agastya, aku juga tidak akan percaya jika tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri," timpal Ryujo.
"Huh, masa sih ... Aya begitu tega mengkhianatiku?" gumam Agastya.
"Aya-mu itu tidak dengan sengaja mengkhianatimu, Agastya. Kronologinya begini, tadi malam saat Aya membakar sampah ia disergap seorang prajurit lalu dibius."
"Wah pantas saja semalam aku tidak mendengar Aya minta tolong atau sejenisnya. Saat memeriksa pintu setelah tuan Ryujo keluar dari kamarku, aku memang mendapati pintu belakang terbuka. Aku sempat berfikir barangkali Aya ada diluar, namun mengingat malam cukup larut, aku menduga Aya ceroboh sekali sampai lupa menutup kembali pintu, lalu aku masuk dan mengunci pintu itu."
"Hm, seandainya kamu mengikuti naluri curigamu dan memilih untuk berkeliling hingga barak belakang mungkin kejadian itu dapat dicegah. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Aya yang dalam keadaan terbius, kemudian dicecoki minuman yang telah dibubuhi obat perangsangg dan kemudian Aya jadi mudah ditiduri para prajurit," jelas Ryujo.
Agastya menangkup wajah dengan kedua tangannya, merutuki firasatnya yang sama sekali tidak peka. Hatinya sedih sekali saat membayangkan gadis yang dicintainya bersenang-senang dengan beberapa pria sekaligus.
"Jadi sekarang gimana?" tanya Takeshi sambil menyentuh bahu Agastya.
"Gimana apanya tuan?" tanya Agastya galau.
__ADS_1
"Kelanjutanmu dengan Arrabella, apa kamu masih ingin meneruskan rencanamu untuk menikahinya?"
Agastya menyandarkan punggungnya, matanya yang sedikit berair itu memandang langit-langit. Jika boleh berkata jujur, Agastya sangat kecewa tapi mau gimana lagi? Toh semua terjadi diluar kendalinya, Aya pasti juga tidak menghendaki kejadian itu menimpanya.
"Hah, aku tidak peduli!" ucap Agastya lantang.
"Maksudmu?" tanya Takeshi.
"Aku tidak peduli tuan, aku siap menerima Aya apa adanya."
"Kamu serius?"
"Iya tuan, saya serius."
"Baguslah, itu yang kuharapkan. Aku harap kamu bisa memegang kata-katamu dan jangan mengungkit kejadian itu dihadapan Arrabella. Anggaplah kamu tidak tahu sebelum dia sendiri yang mengatakan padamu."
"Baik, tuan."
"Eh tapi misalnya nanti dia sudah bilang sama kamu tentang kejadian itu, aku harap kamu jangan berubah, Agastya. Bersikaplah biasa saja, kamu tahu ... wanita apalagi yang masih muda seperti Aya-mu itu sangat sensitif. Bisa saja dia merasa minder atas kejadian diluar kehendaknya itu. Agastya, aku mohon sekali lagi, maafkan aku dan prajuritku."
"Ah tuan, jangan begitu. Justru aku berterima kasih tuan telah membesarkan hatiku."
"Sudah seharusnya begitu Agastya, malah seharusnya aku bisa mencegah kejadian itu. Ah, kalau saja aku bisa menertibkan gairahh liar para prajuritku tentu kamu dan Arrabella tidak akan menjadi korbannya," sesal Takeshi.
"Hm, tuan jangan ikut merasa bersalah begitu, kita anggap saja kejadian itu sebagai ujian kemurnian cinta mereka, benar begitu, kan Agastya?" Ryujo meminta persetujuan.
"Ah ... iya benar sekali tuan Ryujo."
"Ya, ya ... aku memang selalu benar, Agastya. Jadi kami tunggu kesiapanmu menikahi Aya."
"Ah, aku sih ... sekarang juga siap, tuan."
"Masa? Baru saja mendengar kabar buruk mengenai kekasihmu, kamu tidak perlu waktu untuk menata hati?"
"Tidak tuan, semakin cepat Aya kumiliki maka aku akan semakin mudah menjaganya."
"Haha, tampaknya kamu sudah kebelet kawin," ledek Ryujo.
"Hm ... mungkin, tuan. Tapi aku tergantung kesiapan Aya juga, sih. Aku tidak mau memaksanya."
"Aish ... memaksa gimana? Tadi aku dan tuan Takeshi memastikan perasaannya juga bagaimana kelanjutan hubungan kalian, dik Aya bilang terserah mas Aga ajah," ucap Ryujo dengan gaya centil.
__ADS_1
Tentu saja kata-kata Ryujo membuat mereka tertawa dan Takeshi tidak sungkan menghadiahi pukulan di bahu ajudannya itu.