Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Pak Ruslan Tidak Mau Menolong


__ADS_3

Dari jauh pak Ruslan melihat Zain dan Agastya berjalan menuju rumahnya. 'Wah pemuda itu, seolah tahu kalau aku baru saja mendapat kabar dari tuan Takeshi,' gumam pak Ruslan yang kemudian menunggu di teras.


"Assalamualaikum," ucap Zain dan Agastya bersamaan saat tiba di beranda rumah pak Ruslan


"Waalikumssalam anak-anakku, tumben kalian kemari," sahut pak Ruslan.


"Apa kabar, bah ... mama sehat?" Tanya Zain.


"Alhamdulillah, kabar baik. Mamamu juga sehat. Oh iya, ada yang mau abah omongin sama kalian, terutama Agastya."


Agastya dan Zain bertatapan sambil tersenyum.


"Wah, kebetulan. Kami juga mau ngomongin sesuatu sama abah," sahut Zain.


"Oh iya? Kalau begitu kita ke situ saja," tunjuk pak Ruslan sambil menunjuk gazebo di halaman rumahnya.


"Jadi begini pak," Agastya bersiap memulai kisahnya begitu mereka duduk di gazebo. "Beberapa hari yang lalu, aku menemukan Aya istriku."


"Wah, selamat ya, Aga. Akhirnya kalian bertemu juga, dimana, kenapa kamu tidak mengajaknya kemari biar abah kenal sama menantu abah itu?"


"Disitulah masalahnya, pak." Agastya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa bingung campur sungkan.


"Bilang saja, barangkali abah bisa bantu, Ga."


"Beberapa hari lalu, bang Latif mengajak kami singgah di kabupaten A dan aku menemukan Aya, ternyata dulu dia diculik dan dibawa ke situ untuk dijadikan wanita penghibur di wisma Evergreen."


"Astaga, Ga. Kalau tidak salah, wisma itu cukup terkenal dam dilindungi pihak yang kuat. Lalu bagaimana rencanamu?"


"Aku belum menemukan solusinya, pak. Istriku bilang, induk semangnya minta tebusan 1 juta rupiah agar bisa membawanya keluar dari situ."


"Lumayan juga uangnya, tapi ... apa benar dengan uang segitu istrimu akan bebas dari wisma itu, Ga?"


"Nah itu dia, pak. Aku tidak yakin. Sebab Irene, induk semangnya itu terkenal licik sejak dulu. Sebenarnya, sebelum kami menikah, istriku sempat menjadi jugun ianfu."


"Hah, wanita pemuas tentara Jepang maksudmu, Ga?"


"Iya, pak. Dulu Irene juga memnbuat harga yang mahal bagi pria yang ingin menebus Aya dari ianjo, 300.000 gulden."

__ADS_1


"Luar biasa dan kamu mampu menebusnya, Ga?"


Agastya menggeleng. "Bukan aku pak, tapi tuan Takeshi yang menebusnya."


"Ah, sebentar ... Takeshi menebus Aya dari ianjo tapi kok malah jadi istrimu, bukannya dia sudah jadi hak-nya Takeshi, apa artinya kamu telah merebut wanita Takeshi?"


"Tidak, pak. Tuan Takeshi menebus Aya untuk dijadikan pengasuh bagi Himawari, putrinya lalu karena sering bersama kami saling jatuh cinta dan kemudian menikah secara siri, karena saat itu Aya masih belum cukup umur. Jadi karena orang-orang tahu tuan Takeshi telah menebus Aya, maka Aya diakui sebagai kekasih tuan Takeshi walaupun sebenarnya dia adalah istriku."


"Ya, ya ... aku mengerti kenapa bisa begitu. Jadi intinya, istrimu diperalat Irene dan tuan Takeshi yang membebaskannya tapi tidak menjadikan istrimun itu simpanannya, begitu kan?" Simlul pak Ruslan.


"I-iya pak, singkatnya begitu."


"Wah, berarti Irene itu benar-benar licik dan banyak akal bulusnya, Ga. Aku fikir, walaupun kamu punya uang 1 juta rupiah, tetap sia-sia saja," sahut pak Ruslan yang langsung putar otak memikirkan cara agar bisa membawa istri Aga keluar dari jerat Evergreen.


"Pak, aku bingung. Aku tidak punya uang segitu, apakah bapak bersedia membeli sawah dan tabungan emasku?" Tanya Agastya.


"Hm, kamu tidak perlu sampai jual-jual kepunyaanmu begitu, Ga. Kamu harus realistis, kamu perlu modal untuk hidupmu jika Aya sudah kembali ke pelukanmu. Uang titipan tuan Takeshi masih utuh denganku sejumlah 300 ribu rupiah, kekurangannya aku bisa pinjamkan padamu tapi ... jika kamu datang sendirian ke sana, aku yakin Irene tidak akan memberikan Aya padamu. Bagaimana ini, ya? Sebab tempat yang kamu maksud itu di backing penguasa yang sudah lama bekerja sama dengan pihak wisma."


"Lalu bagaimana menurut bapak?"


"Lantas, menurut abah apa yang harus kita lakukan?" Tanya Agastya.


;Lelaki paruh baya berperawakan sedang itu tampak berpikir, Agastya dan Zain juga ikut terdiam.


"Wah, abah ... ada tamu kok gak bilang-bilang?" Aminah dengan cerianya menghampiri gazebo membawa nampan berisikan 3 gelas kopi dan sepiring singkong rebus beserta madu.


"Kami sedang berdiskusi, Aminah," sahut pak Ruslan° datar.


"Diskusikan apa, perlu aku ikut berbagi fikiran?"


"Ah ... tidak, tidak ini urusan lelaki. Kamu masuk saja ke rumah," perintah pak Ruslan pada istrinya.


"Eh, bang Aga ... kemarin ke sini katanya ada yang mau dibicarakan dengan abah. Mau menginap di sini, bang?" Ramahnya Aminah pada Agastya.


"Tidak, bu. Saya menginap di rumah Zain biar sekalian mengurus kerjaan," balas Agastya sopan.


"Sayang sekali, padahal aku mau ngobrol banyak dengan bang Aga," seketika wajah wanita muda itu cemberut.

__ADS_1


"Aminah, kamu masuk saja ke rumah," pak Ruslan memgulang kembali perintahnya pada sang nyonya ke tiga yang kentara menebar pesona.


"Inggih," Aminah pun berbalik sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Aminah kenapa, bah?" Tanya Zain iseng.


"Ah biasa, mama muda-mu yang satu itu emang suka gitu kalau abah nengokin mama-mamamu yang lain."


"Suka duka punya istri lebih dari satu ya pak, haha," Agastya setengah meledek.


"Makanya, kalau tidak siap gak usah aja, Ga. Aku kalau bisa membalikkan waktu, gak mau juga punya istri banyak."


"Wah kalau aku, kemungkinan sih gak mungkin, pak. Punya istri satu aja, semenyedihkan ini, pak."


"Yah, mau gimana lagi namanya juga hidup, Ga. Kita rencananya apa, jadinya lain lagi, iya kan?"


Ketiga pria itu menikmati snack paginya sebelum kembali ke topik sebelumnya, pembebasan Aya.


"Aku pikir, kita harus mendekati pihak pemegang kuasa di daerah itu sebagai pendukung rencana kita," pak Ruslan membuka suaranya.


"Abah kenal?"


"Tidak secara langsung, tapi yang penting dia tahu aku dan urusannya akan mudah kalau dia tau aku, gak bisa kita bicarakan ya ... biar uang yang bicara," ucap pak Ruslan mengawali strateginya.


"Uang bicara, maksud abah nyogok gitu?" Lagi-lagi Zain menanggapi perkataan abahnya dan membiarkan Agastya jadi pendengar saja.


"Ya ... gak apa-apa, urusan begituan sih, tahu sama tahu saja. Kalau ada uang, semua urusan jadi lancar."


"Hm ... aku fikir abah ini hanya tau main bersih, rupanya main cantik juga, haha ... gak nyangka Zain, bah."


"Khusus untuk kasus ini saja, ikuti pola-nya ... melawan orang licik dengan trik cerdik agar mereka tidak bisa berkutik lagi, Zain."


Terbit senyum di wajah Agastya mendengar kalimat terakhir pak Ruslan. "Kalau begitu ... apa bapak tidak keberatan kalau aku minta datang ke wisma evergreen? Ah, akhirnya Agastya berani juga mengatakan hal itu.


"Hah, ngapain aku datang ke situ?"


Dheg! Seketika semangat Agastya merosot.

__ADS_1


__ADS_2