
"Sora, bawa Himawari ke kamarku dan mulai sekarang kamu tidur dengannya, tolong didik dan dampingi anakku dalam segala aktivitasnya. Aku percaya padamu," kata Takeshi sambil mengarahkan Aya yang menggendong Himawari menuju kamarnya.
Aya merasa tidak tenang saat melihat Takeshi juga memasuki kamar itu. Selintas terpikir, karena Himawari sudah lelap, akankah tuan Takeshi melahapnya seperti tamu pria yang sudah-sudah?
Memang dari segi tampang dan kisah mengenai Takeshi dari Irene, tampaknya tidak mungkin malam ini ia akan bercinta dengan tuan barunya itu. Tapi siapa tahu, tampang bisa saja menipu, bukan? Toh tidak sedikit lelaki yang pernah Aya layani juga bertampang manis seperti Takeshi ini. Sok jual mahal dan alim tapi begitu pintu kamar terkunci, langsung berubah ganas seperti singa kelaparan dan tanpa ampun menerkamnya berulang kali.
Kamar itu cukup luas, tempat tidurnya juga besar tentu akan aman dan nyaman jika Takeshi mengajaknya bermain cinta di situ atau di sofa atau lantai yang beralaskan karpet tebal atau ... mungkin juga di kamar mandi yang terletak di pojok itu? Ah, pikiran Aya yang masih belia itu memang sudah tercemar oleh hal kotor tapi nikmat yang diidamkan banyak orang.
Takeshi tampak mengambil tas kecil. "Aku tidur di kamar sebelah, titip Himawari, ya," ujar Takeshi sebelum meninggalkan Aya dan Himawari.
Fiuuuh.
Aya merasa sedikit kecewa karena ternyata Takeshi tidak menyentuhnya sama sekali tapi juga lega, karena sudah terbebas dari ianjo yang membuatnya sibuk memuaskan pria hidung belang.
Kehidupan Aya semenjak ditebus tuan Takeshi dan menjadi pengasuh Himawari jauh lebih baik dan bahagia dibandingkan saat di ianjo.
Jujur saja, sebagai perempuan yang telah tahu nikmatnya berbagi peluh dan desaah dengan pria dewasa, tubuh belianya terkadang berontak, meminta pelepasan. Namun, rasanya itu hilang tatakala ia sibuk meladeni Himawari, majikan kecilnya itu.
***
"Motto (lagi), motto dayo (lagi dong)," celoteh Himawari saat mereka bermain.
"Stop. Sudah, sudah ini saatnya kita makan. Lihat, aku sudah sudah membuat sup ikan favoritmu," ujar Aya samnil menunjukkan mangkok yang sudah berisi makanan.
"Wow, aku suka ... aku suka. Aku mau makan, aku suka ikan, aku suka wortel," celetuk antusias gadis kecil itu.
Aya pun mendudukan Himawari di kursi dan memasang pelapis agar baju anak itu tidak kotor oleh makanan.
"Mari berdoa sebelum kita bersantap," ajak Aya.
"Ya, ya ... setelah itu, Sora cepat suap aku," pinta manja Himawari.
Takeshi tersenyum melihat keakraban Himawari dan Aya. Keberadaan Aya sungguh seperti kepingan puzzle hilang yang ditemukan kembali untuk melengkapi hidupnya. Eh ... kok hidupnya? Bukankah Aya hanya berperan sebagai pengasuh anaknya saja?
Ya, ya tentu saja tidak ada yang salah dengan istilah 'hidupnya' sebab Aya telah membuat separuh hidupnya yaitu Himawari, bunga mataharinya yang sempat layu itu kembali segar dan ceria. 'Terima kasih, Arrabella,' gumam Takeshi.
__ADS_1
"Sora, aku suka denganmu. Aku suka senyummu, juga masakanmu. Kamu lucu dan baik sekali, mau kah kau menjadi mamaku?" dengan ringan dan polos, gadis kecil itu mengutarakan keinginannya.
"Uhuuuk," Takeshi tersedak atas keberanian putri kecilnya, dia yang dewasa dan tentunya sedang membutuhkan teman hidup saja tidak berani mengungkapkan pernyataan itu terang-terangan.
"Ke-kenapa tuan?" Aya beralih pada Takeshi yang wajahnya sudah memerah.
"Soraaa, jangan pedulikan papa. Dia sudah besar dan bisa mengurus dirinya sendiri. Kamu jawab saja, apakah kamu mau menjadi mamaku?" tanya Himawari lagi.
"Hani sayang, kamu kan sudah punya mama jadi aku mana bisa mamamu juga?" jawab Aya lembut.
"Memang aku punya mama, tapi mamaku tidur lama lalu berubah menjadi abu, lalu aku jadi tidak punya mama lagi," rengek bocah kecil itu.
"Aku tidak bisa menjadi mamamu, karena kamu sudah memilikinya."
"Baiklah, kalau begitu ... karena mamaku sudah lama dan tidak ada di sini, aku akan memintamu menjadi mamaku yang baru saja, bagaimana?"
Aya tersenyum sambil membelai pipi gembul Himawari, "Kenapa Hani-ku yang manis ini ingin punya mama baru?"
"Hani mau bobo denganmu dan papa, Sora. Hani sering meminta papa tidur bersama kita, tapi papa bilang tidak bisa, karena Sora bukan mamaku."
"Dengar ya sayang, walaupun aku tidak menjadi mamamu, aku janji akan menjadi temanmu selamanya."
"Sungguh?"
"Iya, sungguh."
"Sora janji?" Himawari mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya. Sora janji," Aya pun menautkan kelingkingnya dengan kelingking milik Himawari.
"Apakah nanti akan ada adik kecil diperutmu seperti punya Monic?" cecar Himawari lagi.
"Uhuuuk," Takeshi lagi-lagi tersedak.
"Papa! Kalau makan hati-hati, dong. Lihatlah, Sora jadi kesusahan menjawab pertanyaanku," tegur Himawari pada ayahnya.
__ADS_1
"Hani, tidak boleh berbicara seperti itu pada orang tua, ya. Tentu di perutku akan ada adik kecil seperti milik nyonya Monic jika kamu sudah besar dan tidak suka membantah. Makanya cepat habiskan makananmu agar kamu cepat besar dan kuat menggendong adikmu nanti, ok?"
"Horeee! Aku mau makan yang banyak, agar aku cepat punya adik, dan menggendongnya ke mana saja," teriak Himawari girang.
Takeshi lega mendengar jawaban Aya yang ternyata mudah diterima akal kecil Himawari.
'Ah, Himawari ... ternyata kita punya kerinduan yang sama. Kamu ingin punya mama dan aku ingin punya istri, kita sama-sama ingin memiliki keluarga yang utuh, ada ayah ibu dan juga saudara sebagai tempat berbagi. Doakan agar keinginanmu terwujud, papa akan berusaha memenangkan hati Arrabella agar mau menjadi mamamu,' gumam Takeshi dalam hati.
"Papa, kapan kapal ini sampai?" tanya Himawari.
"Kenapa?"
"Mau main-main di taman."
"Sabar sebentar ya, sayang. Besok pagi kita akan merapat di pelabuhan, dan di kota itu papa akan mencarikan rumah tinggal untukmu."
"Apa papa akan pergi meninggalkanku di sana?"
"Hm, maaf. Iya nak, kamu sementara akan menetap di sana."
"Dengan Sora juga, kan?"
"Tentu, dengan Sora, Agastya dan juga Monic."
"Yeiiii," Himawari bersorak gembira. Baginya tidak apa-apa ditinggal selama beberapa hari oleh ayahnya asalkan ada Sora, wanita yang diinginkan Himawari menjadi mamanya.
***
Takeshi menimbang, pelayaran berikutnya akan membutuhkan waktu yang lama karena letak yang terpencil dan medan yang dituju cukup berbahaya. Sebab itu Takeshi berniat meninggalkan Himawari di kota transit yang dinilainya lebih aman.
"Ryujo, tolong carikan rumah yang aman dan nyaman di Irian Jaya nanti. Sebab tujuan berikutnya ..."
"Ah, saya mengertu tuan, apa boleh Monic juga tinggal di rumah itu? Getaran kapal akibat gelombang tidak terlalu baik untuk kandungannya yang masih muda dan dia jadi sering mual."
"Tentu saja, Ryujo. Aku justru khawatir, kamu yang gimana saat berjauhan dengan istrimu? goda Takeshi pada ajudannya.
__ADS_1
"Yah, mau gimana lagi tuan. Demi kesehatan Monic dan anak kami, aku akan baik-baik saja."