
"Jangan khawatir jika Allah berkehendak, nanti kalian akan bertemu, tapi seandainya jika tidak ... bersyukurlah sekarang kamu punya kami, sebagai keluarga barumu," hibur pak Ruslan.
"Terima kasih, pak," jawab Aya.
"Besok aku tunggu kalian ke rumah ya, bersih-bersih rumah belakang untuk sitempati Aga dan Aya," kata pak Ruslan usai mereka bersantap malam.
"Ehm, sepertinya tidak perlu, pak. Aku dan Aya biar menginap di sini saja sementara tempat tinggal kami selesai dibuat, kalau Zain tidak keberatan, sih," Aga meminta pendapat sahabatnya.
"Oh ya tentu tidak keberetan dong, Ga. Malah kami senang kalian mau tinggal di sini. Biar besok kita langsung cek lokasi dan mencari bahan," jawab Zain.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian," ujar pak Ruslan
Agastya lega mendengar jawaban pak Ruslan, bagaimana pun mulai sekarang lelaki itu ingin menjaga pergaulan istrinya. Istrinya lebih baik berkawan dengan mama Alif solehah dari pada bergaul dengan bu Aminah yang centilnya bagaikan ulat bulu itu.
"Aku merasa lebih nyaman di sini, sayang. Sebab di sini lebih ramai berkat adanya anak-anak Zain," ucap Agastya menjelaskan alasannya menolak halus tawaran pak Ruslan, sepulang pria paruh baya itu dari rumah Zain.
"Baiklah, aku ikut katamu saja, mas. Lagi pula, aku perlu banyak belajar jadi istri dan ibu yang baik dari mama Alif," sahut Aya.
"Nah, itu juga maksudku. Em, bagaimana ... apa kamu sudah siap jadi ibu anak-anakku?" Tanya Agastya sambil menggoda Aya.
Blush. Wajah Aya seketika merona mendengar tawaran Agastya yang lebih mirip ajakan bercinta.
"Insya Allah siap mas, tapi tidak dalam waktu dekat," jawab Aya malu-malu.
"Lho kenapa lagi? Umurmu sudah cukup, kok. Em ... atau kamu malu harus melakukan itu di rumah orang yang kamarnya tidak kedap suara seperti di rumahnya tuan Takeshi dulu?" Cecar Agastya sambil membaringkan kepalanya di pangkuan Aya.
"Em, aku ..."
"Aga, Aya ... silakan kalau mau istirahat di kamar, aku ngerti kok, kalian lama tidak ketemu. Pasti rindu berat untuk segera berdua-duaan di kamar," sela Zain pada kedua pasangan di hadapannya.
"Ah, kamu memang sahabat yang pengertian, Zain," jawab Agastya seraya bangkit dari posisi rebahannya.
__ADS_1
"Ayo, sayang. Udah lampu hijau dari pemilik rumah, nih." Berbeda dengan Agastya yang sudah seperti di rumahnya sendiri, Aya masih sangat sungkan berhadapan dengan keluarga Zain.
"Udah sana Aya, ikuti suamimu," perintah Zain sambil tersenyum, dia mengerti kecanggungan Aya. Jika saja ia tidak ikut menjemput Aya ke wisma Evergreen, tentu Zain tidak percaya perempuan se-sopan itu adalah seorang wanita nakal yang terkenal atas kepiawaiannya melayani pria hidung belang.
"Apa yang kamu tunggu lagi? Lihatlah anak-anakku juga sudah tidur, saatnya aku memanjakan mamanya anak-anak," imbuh Zain sambil berlalu menuju kamarnya.
"Sayang, kamu tidak perlu gak enakan begitu di rumah Zain, mereka sudah seperti keluargaku, lho," kata Agastya saat mereka sudah berada di kamar.
"Ih mas ini, aku kan baru bertemu mereka. Mana bisa langsung klik dan merasa seperti di rumah sendiri."
"Hihi, benar juga. Kamu perlu waktu untuk penyesuaian. Hm, sekarang gimana ... apa kamu juga perlu waktu untum penyesuaian dengan suamimu ini?" Agastya merentangkan kedua tangannya, siap menyambut Aya dalam pelukan.
Bruk. Aya langsung menghambur ke dada bidang suaminya, sejak tadi pagi dia berusaha menahan diri untuk memeluk suaminya dan kini hanya mereka berdua, tentu saja Aya tidak menyia-nyiakan tawaran Agastya.
"Aya, aku sangat mencintaimu," ujar Agastya seraya merangkum bibir istrinya dengan mulutnya.
Tidak perlu banyak aba-aba, secara naluri Aya tentu saja segera membalas belitan lidah suami yang sangat dirindukannya itu.
"Hum, waktu tempo hari menginap di wisma kamu jual mahal padaku," ucap Aya cemberut seraya melepaskan diri dari dekapan Agastya.
"Eng ... i-itu kan, keadaannya belum jelas. Kalau sekarang beda, aku sudah kembali menjadi istriku dan hanya milikku aku tidak perlu mengantri dengan siapa pun jika ingin bersamamu."
Aya yang baru saja duduk di dipan, mendongak ke arah suaminya.
"Maaf aku tidak bermaksud," Agastya langsung merasa tidak enak saat melihat reaksi datar Aya.
"Ya sudah memang kenyataannya begitu, mas. Justru aku yang minta maaf tidak mampu mencegah hal itu terjadi padaku. Kemari mas, duduk sini," Aya menepuk kasur yang didudukinya.
"Ada apa, kok serius sekali?" Agastya duduk di sisi istrinya.
"Aku mohon maaf atas kesalahanku yang sudah-sudah, juga minta pengertianmu ... kali ini dan beberapa waktu ke depan tidak bisa melayani dan memberikan hakmu sebagai suami."
__ADS_1
"Oh, aku mengerti." Agastya berfikir Aya hanya sedang menyiapkan hatinya untuk bisa berperan 'normal' sebagai istrinya.
"Baru tadi sore aku dapat tamu bulanan," jelas Aya lagi.
Seketika Agastya menghela nafas lega. "Baiklah, haha ... aku fikir tadi kamu kenapa. Tentu saja aku akan menunggu kamu bersih. Menunggumu bertahun-tahun saja aku sanggup, apalagi ini cuma beberapa hari."
Cup. Agastya melabuhkan kecupan mesra di dahi Aya.
"Berjanjilah, mulai saat ini kamu hanya milikku, sayang," bisik Agastya.
"Eng ... aku bisa memuaskanmu dengan cara lain, mungkin memijatmu atau hal lain, mas."
"Ah, hal lain seperti apa, sih? Sudahlah hati ini sangat menguras hati dan tenaga kita. Baiknya kita beristirahat. Untuk jadi bahagia juga kita perlu energi, aku yakin ke depan semuanya akan baik-baik saja. Tidak lama kita akan ounya tempat tinggal sendiri dan aku yakin Allah akan menganugerahkan buah hati untuk kita."
"Semoga harapan kita segera terlaksana, mas."
"Ya, sayang." Agastya merengkuh wanita halalnya sekali lagi. "Aku ingin selamanya kita bersama seperti sekarang, tidur bersama ... bangun pun bersama. Pagi hari yang pertama kulihat adalah senyuman di wajah cantikmu, sebagai sumber semangatku, sayang."
"Ish, ternyata efek lama tidak bersama membuat suamiku pintar menggombal," ledek Aya.
"Ck, kamu fikir mudah hanya bercumbu dengan bayang-bayang semu? Sementara aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, bahkan tidak tahu apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Syukurlah Allah yang Maha Pemurah berkenan mengabulkan doaku dan mempertemukan aku dengan kekasih hatiku ini."
Cup. Cup. Cuuuuup.
Meski sedikit kecewa harus menekan hasratnya namun tidak urung Agastya melabuhkan kecupan gemas bertubi-tubi di wajah istrinya.
"Manis banget sih kamu sekarang, mas," ucap Aya gemas.
"Laaah, aku tidak mengada-ada, sayang. Aku melakuakn apa yang selalu hanya kuimpikan dan apa yang aku katakan ini apa adanya, jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam."
"Iya, iya ... aku percaya sama suamiku ini.
__ADS_1