Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Jangan Terlalu Menuntutnya


__ADS_3

Arahin, mas," pinta Aya sebelum mengambil kendali atas kedalaman dan kecepatan bercinta mereka malam itu. Keduanya baru tahu kalau bercinta sangat ampuh meredakan perselisihan yang baru saja terjadi. Lebih-lebih Aya, yang dengan posisi itu mendapatkan sensasi berbeda dari biasanya sehingga ia berulang kali mendapat pelepasannya.


"Gimana? Mas senang, puas?" tanya Aya dengan nafas terengah usai mengakhiri sesi panas mereka.


"Sangat senang dan sangat puas, istriku memang luar biasa, mantap," Agastya mengecup kening Aya.


"Mas gak nanya apa yang kurasa? Apa aku cukup senang atau pura-pura puas?"


"Sudah, jangan mulai lagi, sayang. Tidak asyik berantem kayak tadi. Aku sudah tahu jawabanmu lewat reaksi tubuhmu."


"Hah, syukurlah. Ingat baik-baik tadi adalah pertengkaran terakhir terkait urusan tempat tidur dan masa laluku sebagai gadis ianjo. Lain kali, aku tidak akan memaafkanmu."


"Lalu kamu ngambek dan gak mau memberiku hak suami?"


"Tentu saja, karena aku akan langsung pergi. Percuma saja memaafkan orang yang kemudian melakukan kesalahan yang sama, bagiku itu adalah kesengajaan."


"Ya, aku akan mengingat hal itu selamanya. Jangan pergi, ingat kita ini masih baru menikah, perlu banyak belajar menyesuaikan dan mengerti kondisi masing-masing."


"Baiknya begitu. Oh iya mas, sebentar lagi aku ujian persamaan SMP dan tahun depan aku berusia 17 tahun, apa aku boleh lanjut SMA?"


"Belajarnya masih pakai sistem private dengan tim bu Dinar lagi, kan?"


"Kalau mas izinkan aku belajar di sekolah berbaur dengan siswa lain, aku bersedia. Bu Dinar juga menjamin, sekolahnya ekslusif dan hanya golongan tertentu yang boleh bersekolah di situ."


"Hm, coba tanya sama tuan Takeshi saja, sayang."


"Mas ini gimana, sih? Aku sedang minta pendapatmu, tuan takeshi biasanya acc sama kesepakatan kita kecuali jika bertentangan dengan keinginan beliau."


"Ya sudah terserah kamu maunya gimana, asalkan kamu gak kecapean dan bisa bagi waktu. Hanya saja itu bakal 3 tahun lho lamanya kamu belajar, gimana kalau misalnya .. kamu tiba-tiba hamil?"


"Aish mas ini, jadi mas izinin gak aku sekolah biasa?"


"Bentar aku mikir dulu, sayang," sahut Agastya. Tidak ingin salah memberi jawaban, ia memilih mendatangi Takeshi yang sedang bersantai di teras.

__ADS_1


"Tuan, sebentar lagi Aya akan lukus SMP, menurut tuan ... apa sebaiknya dia melanjutkan pendidikannya secara private atau biasa saja?" Tanyanya.


"Kamu maunya gimana?"


"Terserah Aya."


"Aya maunya gimana?"


"Terserah aku, tuan."


"Ck, jadi mutar-mutar gitu, sih?"


"Makanya aku bingung tuan," sahut Agastya cengengesan.


"Hm, kalau menurutku ... sebaiknya private sajalah dulu. Selain waktu tempuh pendidikannya lebih singkat, kita juga lebih mudah mengawasi. Kamu tahu sendiri, istrimu itu cantik, bisa-bisa jadi siswi favorit di sekolahnya. Aku tidak mau, Aya jadi bahan gunjingan jika ada yang tahu dia berstatus kekasihku, tinggal bersamaku tapi malah bersekolah," Takeshi mengemukakan pendapatnya.


"Baiklah tuan, aku akan memintanya melanjutkan oendidkannya secara private saja."


"Baguslah. Oh iya Agastya, tadi pagi aku lihat tampang Aya kusut sekali kenapa? Kamu mengerjai istrimu hingga waktu istirahatnya terganggu?"


"Aku tahu kalian baru saja menikah, lagi panas-panasnya. Tapi aku sarankan, perhatikan kondisi istrimu, jangan terlalu menuntutnya. Dia masih muda, kelelahan bisa saja mempengaruhinya. Kalau malamnya sudah kamu bikin lelah hingga terganggu waktu tidurnya, bagaimana dia konsentrasi belajar besoknya. Lagi pula dia pagi-pagi sudah mengurus sesuatu sebelum mulai sekolah," ujar Takeshi bagaikan seorang mertua yang menegur menantunya.


Agastya menunduk, baru sadar ia sedikit kelewatan. sudah meminta jatah sebelum tidur, pagi-pagi bita sebelum sholat subuh ia kembali meminta haknya dengan alasan suntikan semangat lalu ... pada jam istirahat, ia juga mencuri waktu istrinya untuk main cepat.


"Oh iya, satu lagi. Aku dapat laporan dari bu Dinar, Aya beberapa kali terlambat mengikuti kelas setelah istirahat, lalu kembali dengan keadaan yang kusut dan pakaian yang tidak rapi ... tolong jangan sampai mereka curiga kalau ada sesuatu diantara kalian Agastya, dan juga kamu tolong hargai waktu istrimu. Saat seharusnya dia belajar, jangan menyeretnya ke kamar, toh istrimu belajar hanya 5 hari setiap minggunya dan aku khususkan hari minggu semua pekerjaku, termasuk kalian kuliburkan ... kalian bisa puas-puasin bercinta saat libur," tegur Takeshi lagi, ia benar-benar kasihan dengan Aya dan tidak ingin Aya kelelahan.


"Ma-maaf tuan," sahut Agastya tanpa ingin mendebat tuannya.


"Aku juga minta maaf harus menegurmu masalah yang sangat pribadi begini, tapi ya harus kulakukan juga. Sebagai suami, kita harus mengerti kondisi istri kita. Kamu belum merasakan yang aku rasakan sih, aku malah jarang mendapat hak-ku dari istri karena dia sakit."


"Ah, kalau itu karena kondisi nyonya tuan."


"Lalu kalau kondisi Aya gimana? Yang baik-baik saja belum tentu memang baik-baik saja. Kamu saja yang tidak tahu, betapa ngerinya seorang wanita yang memendam kekesalan lalu meledak jadi amarah. Uuuh, yang ada kamu gak dapat jatah sama sekali selama beberapa waktu jika sampai kalian bertengkar, haha," ledek Takeshi.

__ADS_1


'Sudah tahu tuan, semalam aku sudah mengalami betapa mengrikannya seorang Aya jika marah,' gumam Agastya.


***


Tuan Takeshi, dengan alasan yang sama menetapkan Himawari juga menempuh pendidikan secara private dengan tim bu Dinar, seperti Aya. Jadi keduanya tidak perlu repot keluar rumah. Yah, walaupun akibatnya moment indah berinteraksi dengan teman sebaya jadi tidak dialami dua perempuan beda usia tersebut.


Himawari sangat antusias karen ia pun 'bersekolah' seperti Aya. Perlahan gadis manja tuan Takeshi menjadi mandiri mengurus dirinya. Ini sangat membantu Aya yang pagi-pagi kegiatannya cukup padat sebelum memulai pelajarannya, sekarang Aya hanya tinggal mengarahkan saja. Pagi hari usai bermain sebentar dengan ayahnya, Himawari mandi lalu menikmati sarapan dan bersiap masuk ke tempat belajar yang berupa gazebo di halaman samping rumah dinas, hingga siang hari. Meski tidak mengenakan baju seragam, waktu bagi Aya dan Himawari bersekolah sudah persis seperti jam belajar di sekolah regule pada umumnya, yaitu pagi hingga siang hari.


Aya dan Himawari menempati gazebo yang berbeda namun masih berdekatan, memudahkan keduanya terkadang saling melempar senyum tanda dukungan semangat saat belajar.


"Tolong fokus, nona Himawari," ibu Cahaya, memperingati anak didiknya.


"Ah maaf ibu, aku hanya ingin melihat Sora," sahut Himawari.


"Sora siapa?"


"Itu yang sedang belajar dengan ibu Dinar."


"Oh, nona Arrabella?"


"Iya, aku memanggilnya Sora, yang berarti langit."


"Oh, begitu. Sora baik ya sama kamu?"


"Sangat baik, bu. Sayangnya, dia jahat."


Kening ibu Cahaya mengerut mendengar jawaban Himawari.


"Kenapa? Dia sering memarahimu atau ... memukulmu?"


"Tidak, tidak pernah. Sora jahat karena tidak mau menikah dengan papa, malah sering dekat dengan Agastya. Tidur pun sama Agastya, tidak mau bertiga denganku dan papa," kata Himawari menimbulkan prasangka lain di benak bu Cahaya, yaitu ... Aya telah mengkhianati tuan Takeshi dengan pekerja di rumah dinas itu. 'Perempuan tidak tahu diuntung,' umpat ibu Cahaya.


"Em, Himawari ... biarkan orang dewasa menyelesaikan masalahnya, ya. Sekarang kita lanjut belajar berhitung," alih bu Cahaya.

__ADS_1


Himawari melemparkan pandannya pada Aya, dan Aya memberi kode 'ok' dengan jari-nya dari gazebo sebelah, setelah saling tersenyum, keduanya pun melanjutkan pelajarannya hingga pukul 11.45.


__ADS_2