
"A-aku jadi pengasuh Himawari, anaknya."
"Dia menebusmu dengan sejumlah uang yang besar beserta bonus, tapi hanya menjadikanmu pengasuh anaknya? Aku dengar kamu jadi kekasih, juga menyekolahkanmu tapi tidak ingin menjadikanmu 'pengasuh' pribadinya? Haha, sepertinya tuan Takeshi benar-benar tidak waras."
"Mami, tolong ... aku tidak mau bekerja seperti di ianjo lagi. Tolong beri aku pekerjaan yang halal saja, sungguh mi ... jadi tukang masak, buruh nyuci pun aku bersedia," sekali lagi Aya memohon.
"Tidak bisa Arrabella, aku sudah mengerahkan daya dan upaya dibantu oleh Arata membawamu kemari. Kecantikan dan kemolekan tubuhmu akan jadi sia-sia kalau kamu milih jadi pembantu," tolak Irene.
Kini Aya mengerti, Arata, lelaki yang pernah hampir melecehkannya di kapal dulu itu ternyata selamat dan kemudian bekerja sama dengan Irene
"A-aku perempuan yang sudah menikah, aku tidak mau mengkhianati suamiku, kembali jadi wanita penghibur hanya akan menodai pernikahan kami." Aya mengungkapkan kenyataan, berharap itu bisa mengubah keputusan Irene.
"Menikah? Haha ... kenapa tidak ada kabar kalau tuan Takeshi sudah menikahimu?" Dibalik tawanya, Irene menyimpan kekhawatiran, habislah ia jika keberadaam Arrabella ditemukan dan ketahuan Takeshi telah menculik Arrabella.
"Bukan tuan Takeshi, tapi Agastya. Aku menikah dengan Agastya, mi."
"Hah, siapa Agastya?"
__ADS_1
"Asisten tuan Takeshi."
"Haha, suamimu hanya asisten ternyata?" Irene seketika lega. "Tidak masalah. Lagi pula tidak ada bukti kalau kamu sudah menikah. Yang bodoh itu suamimu, mau-maunya menikah perempuan bolong yang jelas-jelas sudah dipakai pria lain."
Sekali lagi Aya tidak mampu mengelak takdirnya, meski kini sudah berusia 18 tahun, lebih dewasa saat ia pertama kali terjun menjadi jugun ianfu dulu, masih 14 tahun, tapi ia tidak punya kuasa memutuskan sendiri pilihannya. Ah, diam-diam Aya menyesali keluguannya yang tidak berpikir panjang saat dijemput oleh orang yang mengaku dari pihak intelijen tempo hari pertambahan usia membuat kecantikannya semakin matang. 'Tuhan, tolong aku ... Mas Aga, di mana kamu, mas? Keluarkan aku dari tempat ini, mas.' jerit Aya dalam hati.
***
'Wisma Evergreen' adalah nama tempat yang dipilih Irene bagi usaha barunya di bidang yang sama seperti ianjo, yaitu tempat yang menawarkan jasa kepuasan bagi para pria hidung belang. Dan ... di sinilah penderitaan Aya terulang, menjadi pekerja di bawah asuhan mami Irene, melakukan tugas yang sama saat berada di ianjo hanya beda istilah saja. Sedikit perbedaan cuma di tempat yang sekarang, selain sebagai induk semang dan perantara, mami Irene juga turut bekerja aktif menawarkan dirinya.
"Dengar Arrabella, kamu hanya bisa pergi dariku jika ada lelaki yang sanggup membayarmu mahal, lebih mahal dari yang sudah dibayarkan oleh tuan takeshi, haha. Dan jangan coba-coba kabur sebab, aku masih punya pengawal yang hebat, yang siap kapan saja menyiksamu," ancam Irene pada Aya.
"Ah, Arata ... kenapa, baru tadi pagi kamu menindihku sekarang sudah mau memakainya, masih kurang puas?" Sahut Irene dengan dengan mata melotot.
"Bukan, aku hanya menagih janji saja. Sebelum kau lempar dia ke pelukan pelanggan lain, dia harus memuaskan aku dulu," Arata melirik nakal pada Aya, seolah menelanjangi dengan tatapannya.
"Ck ... mohon bersabar, Arata. Bagaimana pun kita harus main aman. Arrabella belum membersihkan tubuhnya dan belum mendapat suntik pencegah kehamilan. Aku pastikan kamu jadi pria pertamanya, ok?" Irene mencebik sambil mendorong Arata keluar kamar. "Tapi kalau kamu sudah tidak tahan aku siap bermain bersamamu sekarang," bisik Irene menggoda mantan tentara Angkatan Laut Jepang yang gagah dan tampan itu.
__ADS_1
"Ah, ayolah kalau begitu." Arata segera menggendong Irene ala bridal style.
"Arrabella aku ada perlu dulu, kamu gunakan bahan-bahan yang sudah kusiapkan itu untuk merawat tubuhmu dan nanti siang akan ada perawat yang datang untuk memberimu suntikan," pesan Irene sebelum hilang dari pandangan Aya.
Paham 'keperluan' yang dimaksud, Aya hanya mengangguk. Tidak ada pilihan, ia pun menuruti permintaan Irene. Dengan berteman air mata Aya melakukan serangkaian perawatan tubuhnya. Kini ia hanya bisa mengenang dengan tangis dan air mata ... kehangatan bersama keluarga barunya di rumah tuan Takeshi, mas Aga suaminya yang selalu mengidamkan suatu saat mereka punya rumah dan bahagia dengan anak-anak mereka kelak.
Menjadi wanita di bawah asuhan Irene, membuatnya harus mengubur harapannya, hidup bahagia dengan mas Aga, melupakan cita-citanya menjadi pekerja dan keinginan bertemu kembali dengan keluarganya. Menjadi perempuan 'wisma evergreen' seolah membenarkan apa yang pernah dikatakan tuan Isao dulu padanya yaitu sekali jadi pelacur, tetap saja kamu akan jadi pelacur, tetap saja kamu pernah digilir banyak pria.' Ya, benar apa yang dikatakan Isao, sekuatbapapun dia sudah berusaha bahkan tuan Takeshi sampai menyekolahkannya ke jenjang universitas toh kenyataannya ... nasib mengarahkannya kembali jadi wanita penghibur. 'Aya bisa apa, Tuhan?' gumam Aya diantara isak tangisnya.
***
"Sudah selesai, Arrabella?" Irene dengan wajah ceria menghampiri Aya. Aya tersenyum melihat penampilan Irene yang sudah berganti baju, ingat dulu ia mood-nya akan jauh lebih baik setiap kali selesai bercinta dengan mas Aga. Perasaan lega yang mampu membuatnya sellau berpikir 'semua pasti baik-baik saja.'
"Apa yang kamu pikirkan? Malah melamun, apa kamu sudah selesai merawat tubuhmu?" Ulang Irene.
"Eh, sudah. Sudah, mi. Tinggal pakai body lotion," sahut Aya.
"Baiklah, itu petugasnya sudah datang. Suntik sana dulu biar besok malam kamu sudah bisa mulai bekerja," kata Irene. Bekerja? Harusnya saat mendengar kata 'bekerja' maka yang terbersit adalah seseorang yang sedang tekun melakukan tugas tertentu di meja, di lapangan, di dapur, di sawah atau apapun yang bersifat memeras otak, tenaga dan pikiran. Tapi berbeda dengan 'bekerja' versi Irene, tentulah pekerjaan yang memeras tenaga dan keahlian menari erotis di ranjang seraya mendesahh demi memuaskan pelanggan. Kedengarannya memang mudah dan menyenangkan, tapi kenyataannya hati dan harga diri terpaksa harus dihancurkan demi memenuhi isi kantong dan perut.
__ADS_1
'Sikap, perilaku dan cara berpakaian seorang perempuan menentukan bagaimana ia harusnya dihargai,' asih terngiang kata-kata mas Aga di telinga Aya saat Aya sedang menyusun beberapa lembar pakaian yangdiberikan mami Irene padanya. Pakaian yang hanya diperbolehkan suaminya untuk ia pakai hanya saat mereka hanya berduaan di dalam kamar. Sebagian malah tidak layak disebut sebagai penutup tubuh karena bahannya justru mengekspos tubuh pemakainya. Kalau sama suami, pekerjaan dan menggunakan pakaian ini, mungkin termasuk ibadah tapi kalau sama orang lain? Jelas dosa. Aya menggeleng sambil bergumam, "Maafkan aku, mas. Aku tidak punya pilihan."