Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Profesional


__ADS_3

Aya sadar ia telah menggadaikan harga diri demi menambah pundi-pundi gulden. Ya, Aya memang tidak munafik, dia tidak menampik kenyataan itu. Mengingat kejadian tempo hari, Aya berniat mengakrabkan diri dengan teman-temannya. Berusaha memangkas sekat yang membuatnya terkesan sombong oleh rekan-rekannya.


Aya tidak meladeni tamu selama beberapa waktu akibat tubuhnya msih sakit dan luka-lukanya belum sembuh, kebetulan juga pada saat itu ia mendapat tamu rutin bulanannya. Tidak ingin menganggur dan di cap hanya menjadi teman-temannya lagi, Aya jadi memikirkan ide yang sekiranya membuatnya tidak bosan tapi juga bermanfaat, untuknya juga orang lain.


"Arrabella, bisa kau bantu mami menyediakan makanan dan berberes? Soalnya 2 orang pembantu yang biasa mengerjakan sedang izin pulang kampung selama 1 minggu," tawar Irene.


"Siap, mi," sambut Aya gembira, karena baru saja ia hendak menawarkan diri melakukan sesuatu yang bermanfaat di ianjo.


Pagi-pagi sekali Aya sudah sibuk berkutat di dapur menyediakan sarapan dan menghidangkannya. Lanjut membersihkan ruang demi ruang VIP ianjo. Mulai dari teras ruang tamu, paviliun mami Irene juga kamarnya sendiri. Kemudian ia mengetuk kamar teman-temannya untuk menawarkan diri mencuci pakaian dan membersihkan kamar.


Meski hanya 2 orang teman yang menerima tawarannya itu, tapi Aya tetap bersyukur.


Saat hari agak siang, Aya kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka. Sementara itu pada sore hari, Aya sibuk mengolah lahan kecil di taman kecil sekeliling kamarnya untuk ditanami mawar. Bibit mawar itu sendiri bibitnya dia dapat dari halaman depan ianjo yang tunbuh liar. Rencananya nanti jika mawar itu berbunga akan dia rebus dan airnya bisa untuk bahan menyegarkan wajah juga campuran lulur. Lumayan jadi tidak perlu membeli bukan?


"Hei, kenapa kamu malah mengambil upah mencuci pakaian dan membersihkan kamar temanmu, hm?" Tanya Irene.


"Hem, tidak apa-apa, mi. Sekedar untuk mengisi waktu, tapi malah rasanya tidak apa-apa jika aku jadi pembantu saja di sini, hehe," sahut Aya sambil tersenyum.


"Heisss! Jangan bodoh Arrabella. Kamu gadis yang potensial malah lebih tepat jadi primadona. Baiklah, aku izinkan kamu mengerjakan itu semua hanya sementara luka-lukamu pulih dan sampai haidmu selesai saja," tegur Irene.


"Ba-baik, mi. Maaf."


"Ya, nanti kalau sudah selesai kamu segera melayani tamu lagi dan ... oh iya, jangan lupa lihat tanggalan di kartumu, jangan sampai kamu terlambat suntik pencegah kehamilan walaupun cuma sehari."


"Hah, suntik pencegah kehamilan?" Tanya Aya.


"Lho iya seperti waktu itu, sebelum kamu berangkata ke villa "


"Jadi itu bukan suntik vitamin, ya?"

__ADS_1


"Haha ... ya, bukanlah. Pokoknya selama kamu di ianjo, jangan sampai hamil, sebab kehamilan hanya merepotkan kita saja nantinya."


"Ba-bagaimana kalau sampai hamil?"


"Gugurkan!" Tegas Irene.


"Oh," sahut Aya yang sebenarnya pun belum siap jika sampai hal itu terjadi.


"Ingat, jangan sampai hamil, kecuali dengan pria yang menebusmu lalu menikahimu dan dia sepakat memiliki anak denganmu, itu terserah saja. Tapi aku beritahu, para lelaki yang datang ke sini rata-rata sudah punya istri dan anak di Jepang sana, tentunya mereka pun malas punya anak lagi di sini. Tujuan mereka hanya menyalurkan hasrat dan bersenang-senang saja. Mengerti?"


"I-iya," Aya berusaha mencerna perkataan Irene.


***


Tepat 2 minggu setelah kejadian penyiksaan oleh teman-temannya, Aya siap meladeni tamu. Tentu saja setelah suntik pencegah kehamilan dan merawat tubuhnya dengan baik. Tanpa keraguan dan profesional, Aya kembali memenuhi keinginan tamu yang mengetuk kamarnya. Profesional? Tentu saja. Meskipun menjadi wanita penghibur bukanlah cita-cita apalagi tujuan hidupnya, Aya tetap berusaha menjalani profesi sementara-nya ini dengan sebaik-baiknya.


Iya sementara, karena hanya sebagai batu loncatan saja demi mengumpulkan uang untuk membebaskan dirinya dari ianjo. Kelak, jika ia sudah berhasil keluar dari lembah hitam ini, Aya ingin melanjutkan pendidikan dan belajat lebih giat lagi agar bisa mendapat pekerjaan yang halal dan terhormat


Pria itu meminta Aya memakai pakaian yang minim dan memijatnya terlebih dahulu sebelum bercinta. Tentu saja dengan senang hati Aya penuhi. Memuaskan dan mendapat uang, itulah yang menjadi tujuan Aya saat ini. Dengan tersenyum Aya menerima uang tips sejumlah 50 gulden dari tamunya barusan dan segera saja Aya menaruh uang tersebut ke dalam amplop yang sengaja ia selipkan di dalam buku hariannya.


Aya terkesiap saat melihat tidak ada lagi uang di dalam amplop tersebut, "Astaga, siapa yang tahu tempatku menyimpan uang? Sungguh tega sekali." Gumam Aya kecewa. Ia merasa apa yang sudah dilakukannya beberapa waktu lalu sia-sia, namun ia tidak imgin berprasangka, apalagi menuduh siapa yang telah mengambil uangnya, Aya hanya bisa pasrah sambil memikirkan tempat menaruh uang yang lebih aman lagi.


Aya membersihkan tubuhnya dan mengoleskan lotion, menyemprotkan wewangian dan mengenakan pakaian yang sengaja disiapkan Irene untuk menggugah selera pria sebelum bersiap menerima tamu berikutnya.


Lama tidak menerima tamu ternyata tidak membuat Aya kehilangan pelanggan, justru para lelaki yang pernah diladeninya jadi rindu dan lagi-lagi rela mengantri demi bisa berduaan dengannya.


"Halo, sayang ..." sapa seorang pria yang tahu-tahu sudah berada di kamarnya dan memeluk Aya dari belakang.


"Hai, tuan Akeno," balas Aya. Sejenak Aya tertegun, akankah ia menolak pria satu ini? Lelaki yang diam-diam dicintai oleh Lucia, temannya.

__ADS_1


"Kenapa sayang? Aku dengar kamu sakit, apa sekarang kamu bisa melayaniku?" tanya Akeno.


"Hm, tuan yakin tidak salah kamar?" jawab Aya gugup. Sungguh, Aya tidak mau dicap pengkhianat teman sendiri.


"Oh, tentu tidak. Selama berlayar, hingga kapalku merapat, aku sudah membayangkan hangatnya tubuhmu, sayang," sahut Akeno yang mulai melancarkan aksinya, mengecup mesra tekuk Aya.


"Tuan, tahan sebentar. Ada yang mau aku omongin." Cegah Aya.


"Ck, cepat katakan. Jangan mengulur waktu, aku sudah sangat merindukanmu, sayang."


"Hm, tuan yakin ingin bersamaku malam ini?"


"Astaga, pertanyaan macam ini, hm? Jelas-jelas aku berada di sini."


"Ah, aku hanya memastikan ... takutnya ada yang keberatan."


"Siapa yang keberatan, pacarmu?"


"Tidak, tapi seseorang yang menaruh hati pada tuan."


"Ah, memangnya ada yang menaruh hati padaku? Siapa? Apa gadis ianjo juga atau?"


"Hm ... iya. Apa tuan sungguh tidak tahu kalau gadis itu-"


"Sebentar, kalau yang kamu maksud itu adalah gadis ianjo juga, maka jawabanku adalah aku tidak peduli. Aku bebas memilih siapapun gadis yang kuinginkan untuk bersamaku," Akeno memotong perkataan Aya.


"Tapi aku jadi tidak enak sama temanku itu, tuan," sergah Aya.


"Hei dengar, kamu jangan merusak suasana. Buang jauh-jauh rasa tidak enakmu itu. Salahnya sendiri kenapa menaruh hati padaku? Aku hanya tamu, dan datang ke sini untuk dilayani oleh siapapun yang aku mau. Mau dia tidak senang jika aku memilihmu atau gadis lain, aku tidak peduli. Perasaan itu urusannya sendiri, karena urusanku adalah memilihmu untuk menghabiskan malam ini denganmu," papar Akeno sebelum melucuti pakaian yang dikenakan Aya.

__ADS_1


Mendapat pengertian dari Akeno, membuat Aya mengeri salah satu makna profesional dalam pekerjaan yang sedang digelutinya saat ini, yaitu mengabaikan perasaan temannya sendiri demi kepentingan pribadi.


__ADS_2