Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Lelaki Arif


__ADS_3

"Hm, setelah lewat setengah buku baru deh banyak muncul tokoh bernama mas Aga," gumam Mangata. Sambil membatasi bagian novel yang ditulis ibunya sendiri.


Sampai di sini Mangata mengambil kesimpulan sendiri kalau ia adalah anak haram yang mungkin lahir dari hasil skandal ibunya, Geetruida. Sangat masuk akal jika hal itu yang kemudian menjadi dasar ia diangkat sebagai 'anak kandung' pasangan Helena dan Amar yang di dalam cerita itu ditokohkan sebagai Clay dan Yusuf. Tapi kenapa? Sebab jika orangtuanya pasangan yang menikah, kenapa malah ia "diberikan" pada orang lain? Apakah tokoh Aya dan lelaki yang merupakan ayah kandungnya itu sangat tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini?


Padahal sejauh yang dibaca Mangata, mereka pasangan yang saling mencintai, gak mungkin sampai menolak dikaruniakan buah hati.


Di salah satu bab, Mangata membaca kisah yang berisikan 'petunjuk' tambahan, tentang sesuatu yang menguatkan asumsinya kalau di dunia nyata, ia dan Arunika adalah saudara se-ayah. Hanya asumsinya saja sih, sebab bisa saja kenyataan sebenarnya malah ia dan Arunika adalah kakak-beradik, saudara sekandung yang harus berpisah karena Aya dan Aga tidak bersama lagi. Lantas, bagaimana dengan Lembayung senja, adik Arunika? Apakah gadis itu adik Mangata juga?


Harusnya jika memang sudah memutuskan berpisah, ngapain masih menyimpan kenangan yang tujuannya agar terus mengingat orang yang pernah lekat di hati?


Berdasarkan bacaan itu, hampir 100% bisa Mangata pastikan kalau tokoh mas Aga adalah pak Sagara, sebab nama-nama yang dipilihkan mas Aga kemudian juga digunakan pak Sagara menamai anak-anaknya, termasuk Mangata sendiri.


"Huff, aku harus segera meluruskan semua agar tidak ada kesalahpahaman, terutama Arunika. Jangan sampai Arunika sakit hati jika alasanku membatalkan pernikahan kami oleh penyebab yang tidak jelas dan tidak bisa diungkapkan. Ah, pak Sagara harus tahu kalau aku adalah anaknya dan Arunika harus tahu kalau kami bersaudara, begitu juga dengan Lembayung Senja. Kebenaran harus terungkap, meskipun nantinya ada pihak yang merasa dipermalukan," tekad Mangata.


Minggu depan Mangata berencana mengunjungi Geetruida di Magelang, selain karena rindu bercerita dengan maminya, Mangata juga berniat memastikan kebenaran asal-usulnya, kemudian mengajak mami Geetruida menemui pak Sagara, untuk membicarakan semuanya. Biar semua jelas dan hubungannya dengan Arunika bisa dipastikan arahnya. Meskipun cinta dan sangat mendambakan Arunika jadi pendamping hidupnya, jika kenyataannya ia dan Arunika saudara se-ayah, Mangata tidak akan memaksa keinginannya.

__ADS_1


***


Usai beraktivitas, Mangata kembali membuka bab lanjutan novel 'Arrabella' sebagai pengantar istirahatnya malam ini.


Laksamana Takeshi adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang yang sangat di segani di negaranya sendiri maupun ditempatnya sekarang, Indonesia. Sesungguhnya, Takeshi juga adalah seorang intelijen Jepang yang sudah belasan tahun tinggal di Indonesia yang saat itu masih disebut sebagai Hindia Belanda.


Ia dan beberapa orang utusan kepercayaan negaranya ditugaskan sebagai mata-mata, menyelidiki siapa saja yang berpotensi untuk diajak bekerja sama dengan Jepang dalam mewujudkan Persemakmuran Asia Timur Raya. Itulah sebabnya ia mengenal dan berhubungan baik dengan banyak orang pribumi baik yang tua maupun yang muda salah satunya Agastya.


Dibalik sikap tegas dan tampangnya yang dingin, Takeshi sebenarnya memiliki hati yang lembut. Sekian lama ia merasa gemas saat menyaksikan sendiri bagaimana bangsanya menyiksa warga pribumi juga orang Belanda yang tidak mau pulang ke negaranya, sampai-sampai Takeshi berjanji, dengan segala kemampuannya mengusahakan agar Hindia Belanda terbebas dari kekejian bangsanya sendiri.


Takeshi adalah lelaki arif yang mengutamakan hak asasi manusia, meskipun ia seorang warga keturunan Jepang asli, ia sangat tidak suka bangsanya bersikap semena-mena, karena banyak rekannya dalam melaksanakan tugas di Hindia Belanda malah melenceng dari tujuan utama mereka datang ke Indonesia, yaitu mencari cadangan logistik dan bahan industri perang, seperti minyak bumi dan aluminium, hanya itu.


Pada prakteknya, sementara mereka mengambil hasil bumi nusantara, mereka juga secara berlebihan memanfaatkan orang-orang pribumi. Kaum pria dimanfaatkan tenaganya menjadi pekerja tanpa upah yang sepadan, kaum wanita yang berumur dijadikan jongos sedangkan perempuan berusia produktif dijadikan penghibur, budak tempat para prajurit melepaskan hasrattnya. Sebenarnya Takeshi malu, sudah tidak memberi kompensasi yang pantas, bangsanya malah secara membabi buta mengeksplor sumber daya yang ada di Hindia Belanda, tapi apa daya? Walaupun ia seorang perwira tinggi, masih ada yang lebih berkuasa darinya.


Menghargai keberadaan bangsa tempat kakinya berpijak, Takeshi sering mendapat kritikan dari sesama pemimpin angkatan dan juga prajuritnya sendiri, namun Takeshi selalu berusaha bersikap memanusiakan manusia meski hanya di lingkup yang dipimpinnya saja, itulah yang kemudian membuat Takeshi sangat dihormati oleh kalangan pemimpin pribumi yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

__ADS_1


Setelah selesai menyerahkan tugasnya selama ini pada perwira kepercayaannya, Takeshi meminta kapal kecil untuk mengantar rombongannya menuju Jakarta.


"Lho, ibu kota Hindia Belanda bukan Batavia lagi, ya?" tanya Aya, mungkin karena terlalu sibuk dengan kesedihan hidupnya ia ketinggalan informasi.


"Em ... memang belum dikukuhkan, sih. Sebenarnya, sejak Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang pada masa kepemimpinan Jepang tahun kemarin, nama kota diubah menjadi Jakarta. Perubahan nama itu dilakukan sebagai bagian dari de-Nederlandisasi," jelas Agastya pada Aya.


"Tidak hanya Batavia yang diganti jadi Jakarta. Nama Hindia Belanda juga diganti menjadi Indonesia. Jika penggantian nama ibu kota Batavia menjadi Jakarta hanya untuk menarik simpati warga Indonesia saja, ceritanya segala sesuatu yang berbau Belanda di singkirkan karena telah menjajah sekian lama. Nah, kami bangsa Jepang ini ingin jadi dewa penyelamat, hanya saja pada kenyataannya malah menyakiti bangsa ini secara cepat. Sementara Indonesia merupakan nama yang diberikan para warga pribumi sebagai simbol perjuangan kemerdekaan," ujar Takeshi melengkapi penjelasan Agastya pada Aya.


"Oh jadi, sejak Jepang menduduki negara ini ... Hindia Belanda menjadi Indonesia dan Batavia menjadi Jakarta, begitu, ya? tanya Aya.


"Ya, singkatnya begitu. Aku pribadi tersentuh melihat bagaimana perjuangan bangsa Indonesia agar lepas dari penjajahan bangsa lain," timpal Takeshi lagi.


"Lalu, sebenarnya tuan Takeshi sebenarnya memihak mana, sih?" selidik Aya.


Takeshi tertawa kecil, "Aku ... memihak pada kemanusiaan. Aku bekerja sesuai tugasku tapi mengabaikan urusan yang sifatnya mencurangi bahkan merugikan bangsa Indonesia."

__ADS_1


"Meskipun seolah ... bertindak seperti pengkhianat?" kritis Aya.


"Hah, entah bagaimana aku jelaskan. Sebenarnya aku tidak mau disebut pengkhianat bangsa karena aku mengutamakan kepentingan orang banyak, terlepas itu bangsaku dan Indonesia sendiri. Penjajahan harus dihapuskan, baik di negara ini ataupun di negara lain. Suatu negara tidak akan maju jika harus dikuasai bangsa lain, karena bangsa lain jelas mengutamakan kepentingannya yang egois itu," papar Takeshi.


__ADS_2