
Pagi-pagi sekali Zain, pak Ruslan dan Agastya sudah bersiap menuju kota A, mengendarai speed boat milik pak Ruslan yang dikemudikan oleh Zain. Setelah menyusuri sungai barito hampir 2 jam, ketiga pria itu tiba di kota tujuan.
"Itu tempatnya," tunjuk Agastya pada sebuah bangunan asri bertuliskan 'Wisma Evergreen'.
"Sepertinya tempat itu nyaman ya, tidak terbayang kalau tempat sebagus itu hanya kedok, padahal tempat prostitusi," gumam pak Ruslan."
"Lho pak Haji Ruslan, apa kabar?" Sapa seseorang.
"Eh, Haji Salim. Kabar baik Ji, aku mau jalan-jalan saja, mau ketemu sama pimpinan daerah sini."
"Oh, mau ketemu Haji Daus? Mari aku antar pak Haji. Kebetulan rumahku dekat sama kantorny Haji Daus juga," tawar Haji Salim yang langsung disetujui pak Ruslan. Mereka bertiga pun masuk ke mobil milik Haji Salim.
"Maaf jika boleh tahu, ada urusan apa pak Haji Ruslan ketemu Haji Daus?"
"Ah, hanya mau membicarakan masalah bisnis saja."
"Apa, pak ... kapal pak Haji kena razia, ya? Tebak Haji Salim.
"Oh, tidak. Hanya mau cari bisnis sampingan lain saja untuk keponakanku ini, Agastya," jawab pak Ruslan yang enggan merinci tujuannya.
"Wah, pak Haji Ruslan memang luar biasa padahal sudah sukses tapi masih mau memikirka kemajuan orang lain pula."
"Lha iya, apalagi ini keponakan kita, pak Haji Salim. Siapa lagi yang mendukungnynya, kalau dia hidupnya enak kan kita jadi senang juga tapi kalau dia susah ya kita kebawa susah juga, haha."
"Hehe, jadi intinya nolongin orang biar gak ngerepotin kita gitu ya, boleh juga teorinya pak Haji, nih."
"Gak juga gitu Ji, haha ... sudah sewajibnya kita berbagi, bukankah Allah sudah menganugerahkan segala kecukupan bagi kita. Asalkan tidak pamrih berbagi tidak akan membuat kita berkekurangan, kok."
"Luar biasa Haji Ruslan ini, prinsipnya patut diacungi jempol. Sampeyan ini murah hati tapi malah tambah kaya," sanjung Haji Salim.
"Haha, bisa saja. Segala sesuatu, yang penting disyukuri dan dinikmati, Ji."
"Benar juga. Nah, kita sudah sampai. Aku cuma ngantar sampai depan saja. Gak sampai dalam ya, Ji."
"Ini juga kami sangat berterima kasih, Ji. Alhamdullilah, semoga Allah memberkahi segala usaha Haji Salim, ya," ucap pak Ruslan sesaat sebelum keluar dari mobil teman lamanya itu.
***
__ADS_1
"Wah ... Haji Ruslan, apa kabar?" Sambut Haji Daus saat melihat siapa yang bertamu ke kantornya pagi ini.
"Kabar baik, Haji Daus. Gimana dengan sampeyan?"
"Yah, seperti yang Haji Ruslan lihat, haha. Ada angin apa kemari?" Ujar Haji Daus to the point.
"Em ... begini. Pertama aku minta maaf karena membahas urusan pribadi di kantor."
"Tidak apa-apa, Ji. Kebetulan pekerjaanku hari ini tidak terlalu padat, kok."
"Oh, syukurlah kalau tidak mengganggu. Begini Ji, aku datang bersama anak saya Zain dan pemuda yang satunya ini, Agastya yang sudah saya anggap anak sendiri juga ... maksud kedatangan kami adalah, mencari informasi mengenai, wisma Evergreen."
Dahi Haji Daus nampak berkerut menebak tujuan kedatangan pak Ruslan ke kantornya.
"Jadi begini, saat masih di Jakarta, beberapa tahun lalu istri dari Agastya ini diculik. Lalu penculiknya itu, membawa istri Agastya kemari, menjadi maaf ... wanita penghibur di wisma itu. Nah, maksud kedatangan kami adalah meminta kesediaan Haji Daus untuk membantu kami membawa istri Agastya keluar dari situ," jelas pak Ruslan dengan suara yang mantap.
"Em, maaf ... saya masih belum mengerti maksudnya membantu dalam hal yang bagaimana, ya? Bukannya tinggal temui saja, owner dan pengelola wisma dan katakan saja niat kalian, mungkin bisa langsung disetujui," jawab Haji Daus.
"Tapi Ji, kami ini kan tentunya tidak dikenal oleh owner dan pengelola wisma itu, takutnya malah dipermainkan, begitu, Ji."
"Oh, aku baru paham. Jadi apa perlu aku ikut mendampingi kalian ke sana?"
"Jangan begini, Haji Ruslan. Aku jadi tidak enak, sebab aku tahu sampeyan sangat baik tujuan kalian pun tentunya juga mulia. Aku pasti akan menolong semampu saya. Bawa kembali amplop ini," Haji Daus menggeser amplop itu ke arah pak Ruslan.
"Jika Haji Daus menganggap saya teman, mohon diterima. Kami tahu ini sangat beresiko bagi jabatan sampeyan, Ji. Jadi mohon tolong kami membuat strategi agar kami tidak gagal membawa pulang istri Agastya," kata pak Ruslan sambil menaruh amplop itu di tangan kanan Haji Daus.
Merasa tidak enak, Haji Daus pun menerima amplop itu, "Em, baiklah ... tapi aku sebenarnya pantang disuap lho, Ji."
"Oh ini, bukan suapan, Ji. Hanya ucapan terima kasih kami atas kesediaan sampeyan memuluskan rencana kami."
"Haha, aku belum bilang iya lho, Ji."
"Tapi aku percaya sampeyan pasti bersedia," sahut pak Ruslan yakin.
"Ya, ya ... biklah. Pertama aku infokan dulu bahwa izin usaha wisma itu legal dan jelas namun sudah jadi rahasia umum kalau itu kemudian malah berfungsi jadi wadah prostitusi, namun kalau kita mempermasalahkan itu, jelas saja ownernya akan berkelit. Kita tahu orang yang bergerak di hal begituan pintar membuat alasan."
"Silakan Haji Daus menghitung dulu isi amplop, apa masih tidak sesuai? Aku tidak memintamu menutup usaha itu, Ji. Hanya tolong bebaskan satu orang saja," ujar pak Ruslan yang seolah tahu kalau pihak wisma pasti memberikan uang tutup mulut pada pemimpin daerah itu.
__ADS_1
"Ah, tidak. Tadi sudah aku bilang, tanpa amplop ini pun aku akan bantu sampeyan semampuku, Ji. Aku hanya memikirkan bagaimana memperhalus caranya saja."
"Haji Daus cukup bersama kami dan keponakanku ini tinggal membayar uang tebusan lalu membawa pergi istrinya dari situ."
"Mereka minta berapa?"
"1 juta rupiah."
"Semahal itu, memang siapa sih nama istri Agastya ini?"
"Arrabella, pak. Ini bukti kalau kami telah menikah," Agastya angkat suara sambil menunjukkan selembar foto pada pak Daus.
"Hah, jadi gadis ini ... istrimu?" Pak Daus terbelalak melihat foto itu. Jelas saja terkejut, karena beliau salah satu member pemegang kartu hijau, yang pak Daus terima dari Arata tidak saja sejumlah uang setiap bulannya tapi layanan spesial dari perempuan bernama Arrabella itu.
"Benar, pak."
"Hm, ini bakalan sulit karena Arrabella primadona-nya wisma Evergreen. Dia gadis yang paling dicari dan dengan bayaran termahal."
"Wah, ternyata Haji Daus tahu juga," ujar pak Ruslan seolah memergoki maling, mebuat pak Daus salah tingkah.
"Am ... aku juga cuma dengar kabar, Ji."
"Jadi gimana menurutmu, kira-kira apa solusinya. Agastya membayar tebusan lalu-"
"Ah, maaf. Ini benar-benar aku tidak bermaksud meremehkan nak Agastya, lho. Kalau cuma seseorang yang ya seperti nak Agastya ini bisa saja anggap saja ngaku-ngaku suami dan hanya akan dipandang sebelah mata. Ehm ... apa kamu pernah ke wisma itu, nak?"
"Pernah, pak," sahut Agastya.
"Bisa bertemu Arrabella?"
"Bisa, tapi harus menunggu dulu."
"Nah itulah, pengunjung istimewa harus punya kartu berlabel khusus."
"Arata pernah menawariku."
"Hah, jadi kamu sudah kenal Arata?"
__ADS_1
"Iya, pak. Arata juga Irene aku tahu mereka sejak lama dan baru-baru ini bertemu saat aku ke situ.
"Hm ... berarti kamu tidak bisa bertemu langsung demgan mereka, tapi harus lewat perantara," ujar pak Daus sambil mengusap janggutnya.