
"Tapi aku pantang ke ianjo, Katsuro."
"Ah, sudahlah Takeshi. Kali ini saja, jangan terlalu egois. Demi Himawari," bujuk Katsuro.
Sekali lagi Takeshi memperhatikan interaksi antara Himawari dan Arrabella.
"Takeshi, aku juga punya anak ... sebagai orang tua tentu kita mau yang terbaik untuk anak-anak kita, bukan? Hanya ke ianjo dengan tujuan yang jelas tidak macam-macam, tidak akan membuatmu jadi pria yang ingkar dari prinsip selama kamu masih membentengi dirimu. Berbeda denganku yang apabila pulang ke rumah, aku adalah suami dan ayah yang mengasihi keluarga tapi jika aku berada ditempat tugas yang membuatku jauh dari istri, yah ... terpaksa aku menyalurkan hasratku dengan wanita lain. Jika area tugasku tidak berpindah-pindah dan relatif aman, aku bahkan ingin menebus Arrabella untukku, biar hanya aku saja yang menikmatinya," papar Katsuro berusaha membuka cara berpikir sahabatnya.
Takeshi tampak merenung sambil sesekali melirik pada Himawari yang masih bersenda gurau dengan Arrabella. Apakah harga diriku sebagai seorang lelaki yang berprinsip akan runtuh begitu saja jika aku memilih gadis itu menjadi pengasuh anakku? Ah, Katsuro benar. Selama ini ia memang berprinsip menjauhkan diri dari hal-hal yang amoral, termasuk tidak pergi ke ianjo dan bermain dengan jugun ianfu di situ, tapi kali ini ia harus menurunkan ego-nya sedikit demi senyum ceria gadis kecil, buah cintanya dengan Fuyumi. Ya, ini demi Himawari.
Takeshi membayangkan, menebus Arrabella dan membawa gadis itu bersamanya, terserah bagaimana pandangan teman-temannya yang terlanjur menganggapnya lelaki 'bersih', Takeshi hanya akan menjadikan Arrabella pengasuh sekaligus teman bagi Himawari, kecuali ... jika kemudian gadis itu mau menjadi istrinya. Takeshi tersenyum, Arrabella gadis yang cantik dan pintar menarik hati Himawari, seperti kata Katsuro tadi tentu tidak rugi jika ia menebus Arrabella.
Jujur, Takeshi membutuhkan seorang wanita yang selalu ada untuknya, seseorang tempatnya berbagi segala sesuatu. Setiap kali melihat anak buahnya termasuk ajudan Ryujo yang membawa istri turut berlayar, hatinya berdesir. Andai saja waktu itu Fuyumi tidak sakit, tentu Takeshi melakukan hal sama. Tapi sekarang sudah selesai, cinta mereka harus terputus karena kematian dan meninggalkan luka yang mendalam. Untung saja orang tua Fuyumi mengizinkan Himawari dibawa olehnya sebagai pengobat kerinduan Takeshi.
"Hm, hari sudah sore. Kamu silakan beristirahat di kamar tamu sementara menunggu Arrabella menyiapkan makan malam untuk kita," kata Katsuro memecah lamunan Takeshi.
"Terima kasih." Takeshi memilih beranjak menghampiri anaknya terlebih dahulu.
"Himawari, sini main sama papa," kata Takeshi dalam bahasa Jepang.
"Ie papa, kono kyōdai to asobitai dakedesu (tidak ayah, aku mau bermain dengan kakak ini saja)," rengek Himawari demgam mode merajuk.
"Hah ... wakatta (baiklah), demo jama shinaide (tapi jangan menganggunya)," sahut Takeshi pasrah melihat Himawari yang menempel manja bak perangko pada Arrabella.
Benar saja, Himawari tidak menganggu Arrabella yang sedang memasak. Gadis kecil itu hanya duduk di kursi sambil memperhatikan Arrabella yang entah kenapa dia panggil dengan sebutan Sora (langit) sambil sesekali bersenandung kecil atau mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang yang belum dimengerti oleh Arrabella.
"Himawari memintamu memanggilnya dengan sebutan 'Hani' karena itu adalah nama panggilan kesayangan dari almarhum ibunya," jelas Agastya pemuda Indonesia, asisten Takeshi yang pandai berbahasa Jepang itu pada Arrabella.
"Oh," sahut Arrabella singkat.
"Hani? Wah ... pantas saja ibumu memanggilmu begitu, karena kamu sangat manis, semanis madu," kata Aya sambil mengelus puncak kepala Himawari.
Gadis kecil itupun berdiri di kursi dan merentangkan kedua tangannya agar bisa berpelukan dengan Aya. Tentu saja Aya segera membawa gadis kecil itu ke dalam rengkuhannya. Aya tahu rasanya tidak bisa bertemu dengan orang yang dikasihi, lebih-lebih Himawari.
__ADS_1
"Ehm ... dari tadi kita berbicara, tapi belum berkenalan. Agastya." kata pria muda itu sambil menyodorkan tangan kanannya.
"Arrabella."
"Sora!" Protes Himawari saat mendengar Aya memperkenalkan diri.
"Ah, iya ... iya. Baiklah Hani, gadis kecil yang lucu ... Agastya, perkenalkan aku 'Sora'," Aya menyambut tangan Agastya diiringi tepuk tangan Himawari.
"Wah ... wah, Himawari senang sekali ya bertemu dengan kakak cantik," kata Katsuro saat memasuki ruang makan.
"Sora!" sahut Himawari sambil menunjuk Arrabella.
"Kakak cantik ini bernama Arrabella, sayang," jelas Katsuro.
"A'aa, namanya Sora," bantah Himawari.
"Ya, ya ... sesukamu sajalah anak manis, asal kamu jangan menangis saja. Kasihan ayahmu," Katsuro mengalah.
"Iya, tuan."
"Baiklah, panggilkan Takeshi di kamarnya."
"Ehm, biar saya saja, tuan" Agastya menawarkn diri.
"Ya sudah, cepatlah. Aku sudah lapar."
Keempat orang itu pun bersantap malam dengan lahap, terutama Himawari yang biasanya harus dibujuk-bujuk, kali ini tidak banyak tingkah saat 'Sora' menyuapinya.
"Arrabella, sebentar lagi aku akan mengantarmu kembali ke ianjo," ujar Katsuro, saat mereka sudah selesai makan.
"Baik, tuan."
"Begini, Takeshi terkesan karena kamu mampu mencuri hati Himawari, maka dia berniat menebusmu," ujar Katsuro yang sukses membuat hati Aya begemuruh riang.
__ADS_1
'Terima kasih, Tuhan. Hari yang kunantikan datang tanpa aku harus menunggu lama,' batin Aya.
Apapun alasannya, bagi Aya tidak masalah, yang penting dia segera keluar dari ianjo. Sekalipun dengan alasan Himawari, Aya akan mengabdikan hidupnya pada Takeshi, pahlawan hidupnya. Bahkan jika Takeshi minta dilayani secara khusus pun, Aya dengan senang hati memberikan servis terbaiknya sebagai ungkapan terima kasih, begitu tekad Aya.
"Aku belum sanggup berpisah dengan Himawari yang baru saja kehilangan ibunya, ditambah lagi aku belum menekukan orang yang dapat kupercaya mengasuhnya. Jadi aku harap kamu tidak keberatan jika untuk sementara hidup berpindah tempat. Maksudku, kamu ikut dengan kami berlayar sampai ada kebijakan yang menentukan tempat aku bisa menetap," ujar Takeshi pada Arrabella.
"Baik, tuan."
"Tapi nanti akan kuusahakan untuk mencaei tempat dan rumah yang nyaman untuk Himawari dan kamu tempati, agar aku tidak lagi membawa kalian berlayar. Aku pazti akan ke rumah itu nanti jika sedang off," kata Takeshi lagi.
Sepanjang perjalanan menuju ianjo, Himawari hamya ingin duduk di pangkuan 'Sora'-nya bahkan sampai tertidur. Saat mereka sudah tiba, pelan-pelan Aya memindahkan tubuh gadis kecil itu ke jok yang kosong. Agastya ditugaskan Takeshi menunggui Himawari yang tidur di mobil.
"Halo, selamat malam," sapa Irene sumringah saat melihat kedatangan 3 orang tamu itu.
"Irene, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Katsuro dingin.
Irene melirik lelaki yang datang bersama Katsuro dan Aya. Irene belum kenal dan baru pertama bertemu dengan Takeshi. Sejenak memindai, Irene tahu kalau pria baru ini pastilah berkantong tebal, 'Mangsa baru untuk ianjo nih,' pikirnya.
"Mari, kita ke paviliunku saja biar lebih nyaman mengobrol," ajak Irene. Ketiga orang itu pun setuju mengikuti langkah Irene.
"Ehm, Irene ... aku mengembalikan Arrabella lebih cepat 2 hari dari perjanjian kita namun jangan khawatir, aku tidak akan meminta sisa uang yang sudah kubayarkan. Anggap saja bonus, karena Arrabella sangat membantuku selama di tangsi," Katsuro membuka percakapan.
"Baiklah," sahut Irene yang masih bertanya-tanya kenapa Katsuro membawa temannya. 'Apakah teman tuan Katsuro ini berniat memakai jasa Arrabella?' Tebak Irene dalam hati.
"Perkenalkan, ini sahabat saya Laksamana Takeshi ..." kata Katsuro lagi.
'Oh, jadi ini orang yang bernama Laksamana Takeshi? Komandan Angkatan Laut Jepang yang kabarnya anti ke ianjo dan tidak pernah bermain perempuan.
Jadi? Haha ... ternyata lelaki dimana-mana sama saja, mana tahan dia membiarkan pedang tumpulnya tetap tidak tersentuh belaian wanita dalam waktu yang lama, sementara jelas-jelas statusnya adalah seorang duda?' benak Irene bermonolog.
Meskipun lingkupnya terbatas, Irene selalu medapat info terbaru di luar ianjo dari para tamu yang datang. Termasuk siapa dan bagaimana Laksamana Takeshi, walaupun baru kali ini berjumpa, Irene tahu kisah lelaki yang kabarnya tidak hanya anti bermain wanita tapi juga melarang anak buahnya mengunjungi ianjo.
Lelaki 'bersih' bernama Takeshi adalah satu-satunya pimpinan yang membolehkan anak buahnya membawa istri berlayar demi menjaga hasrat staff-nya agar tidak jajan sembarangan. Namun secara sembunyi-sembunyi, ada juga beberapa anggota yang tidak tahan, terutama yang masih bujangan atau yang istrinya masih di Jepang, datang ke ianjo untuk bersenang-senang dengan jugun ianfu binaannya.
__ADS_1