Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Khayalan Dan Motivasi


__ADS_3

"Sayang, gimana pelajarannya susah?" tanya Agastya.


"Hm lumayan, mas. Terlalu lama tidak menyentuh buku-buku pelajaran, otakku jadi dingin, hehe."


"Oh yang penting kamu mau berusaha dan tekun belajar, maka semua akan mudah untukmu."


"Iya mas. Syukurnya bu Dinar dan tim pengajar yang dibawanya sangat telaten mendidikku."


"Begitu, ya. Oh iya sayang, mumpung kita sudah kembali ke Jakarta ... tadi pagi aku bercakap-cakap dengan tuan Takeshi. Em, aku meminta izinnya untuk mencari keluargamu di sini. Tuan Takeshi setuju dan meminta petunjuk di mana keluargamu berada biar beliau mengutus pengawalnya pribadinya untuk menemani kita."


Mata Aya menerawang ke luar jendela, pelupuk matanya tampak berair, "Terakhir aku bertemu papi, mami dan adikku di kamp interniran dekat Tanah Abang, kalau kak Clay, yang aku tahu suaminya, kak Yusuf bertugas di Rumah sakit Cikini, aku tidak tahu apakah mereka masih ada di sana atau tidak. Mas, terima kasih, ya."


"Terima kasih untuk apa, sayang?"


"Mengusahakan agar aku boleh bertemu keluargaku, meskipun aku tahu, itu tidak mudah."


"Ya ampun sayang, mereka juga keluargaku sekarang. Lagi pula, aku ingin menemui mertuaku. Berterima kaiah telah mendidik perempuan sebaik kamu dan sekalihus meminta maaf telah menikahimu tanpa restu mereka "


Aya langsung meraih tubuh suaminya dan menumpahkan tangis di dada bidang Agastya.


"Kamu jangan khawatir, tuan Takeshi sangat bisa kita andalkan. Beliau sangat tulus membantu, meskipun kita bukan siapa-siapa, tidak punya pangkat apalagi harta," hibur Agastya.


"Apa tidak apa-apa, mas? Kita ini hanya merepotkan tuan Takeshi saja."


"Sayang, tidak ada kaya merepotkan bagi tuan Takeshi, jika memang tidak mau atau tidak bisa membantu, maka tuan akan mengatakan beserta alasannya. Aku tahu persis bagaimana tuan Takeshi bahkan ... ."


"Bahkan apa, mas?"


"Em, tuan Takeshi saat ini sedang membantu bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya."


"Serius, mas?"


"Iya, tapi ini rahasia."


"Kenapa kesannya tuan Takeshi seperti pengkhianat bangsanya, mas?"


"Tuan Takeshi tidak suka sama sikap penjajah yang sewenang-wenang begitu, beliau benci ketidakadilan."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan aku yang separuh Indonesia, separuh Belanda ini, mas? Ayahku kompeni, bangsa yang telahbmenjakah Indonesia ratusan tahun."


"Masalahnya di mana, sayang? Walaupun aku belum kenal ayahmu, tapi aku dapat menilai kalau ... secara garis besar, ayahmu dan tuan Takeshi memiliki kemiripan dalam cara pandang. Buktinya, ayahmu malah memilih tetap tinggal di kamp interniran walaulun harus bekerja keras."


"Aku tidak tahu pasti alasannya tapi kurasa karena papi sudah memiliki mami dan kami, jadi papi merasa sudah menjadi bagian Indonesia."


"Apapun alasannya, yang jelas ayahmu memilih meninggalkan karir ketentaraannya, dan jadi rakyat biasa yang memgalami penyiksaan tentara Jepang dari pada kembali ke negaranya, dibekali untuk kembali merebut negara ini dari pihak penjajah, padahal mereka sendiri juga berniat menguasai Indonesia."


"Mas, apa yang akan terjadi kalau indonesia merdeka?"


"Tidak ada penyiksaan, tidak ada perampasan sumber daya lagi. Indonesia akan bebas mengembangkan potensinya, memajukan kesejahteraan rakyat di segala bidang tanpa ada unsur paksaan dari pihak penjajah."


"Apa aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku lagi?"


"Aku fikir iya, kita bisa bersama keluarga kita lagi."


"Hm, kalau begitu apa yang terjadi kalau Indonesia merdeka, penjajah kembali ke negaranya ... apa tuan Takeshi akan kembali ke Jepang?"


"Sepertinya begitu."


"Jangan khawatir sayang, yang penting kita akan selalu bersama. Aku akan kembali melamar pekerjaan di kantor berita, sebelum aku menjadi asisten tuan Takeshi. Aku janji, akan giat bekerja dan seandainya tidak diterima aku akan membangun usaha dari gaji yang kudapat selama bekerja dengan tuan Takeshi."


"Membangun usaha apa?"


"Apa saja, kitablihat saja nanti usaha apa yang bagus dikembangkan agar kita bisa memiliki rumah sendiri. Rumah yang akan kita tempati bersama anak-anak kita, Mangata, Arunika, Lembayung Senja, Langit Biru ... ."


"Ish mas ini malah berkhayal, lho."


"Tidak salah, kan? Khayalan itu terkadang diperlukan sebagai motivasi kita meraih apa yang kita impikan. Lihat saja apa yang dilakukan tuan Takeshi padamu. Sudah bersuami pun, beliau malah menyekolahkanmu. Beliau memanfaatkan kuasanya saat ini salah satunya untuk memberi bekal bagimu baik itu pendidikan maupun keterampilan jika kelak kamu, maksudku kita hidup mandiri. Kamu tidak sadar kalau tuan sedang mempersiapkan kita?"


Aya tampak berfikir, "Lantas apa keuntungannya untuk beliau?"


Agastya terkekeh, "Bagi orang sebaik tuan Takeshi, membantu orang lain tidak semata demi mendapat keuntungan saja, tapi saat melihat orang yang didukungnya berhasil, disitulah letak kepuasannya. Sejatinya manusia ya seperti itu, bermanfaat bagi orang lain kemudian mendukung yang lainnya melakukan hal yang sama."


"Jadi maksud mas, suatu saat kita juga harus mendukung orang lain agar dia juga jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain?"


"Hm, tapi kita harus ikhlas menularkan kebaikan jangan karena ingin dinilai baik, pahala atau yang lain. Berbuat baik kemudian lupakan. Contohnya ketika kita memberi makanan pada orang yang kekurangan, jangan harap suatu saat dia akan balas memberi kita makanan juga tapi bisa jadi balasan itu berupa kemudahan dalam berusaha kesehatan dan hal lain yang tidak kita duga "

__ADS_1


"Oh begitu. Hm, kalau mas ... apa yang jadi khayalan dan motivasi mas?"


"Yang udah terjadi apa belum?"


"Dua-duanya, hehe."


"Yang udah terjadi, dulu saat pertama bertemu denganmu aku berkhayal andai saja gadis ini jadi kekasihku, maka aku termotivasi bagaimana bisa menjadikanmu milikku, terbukti sekarang kamu jadi istriku, kan?"


"Ish mas ini lho, yang belum tercapai apa?"


"Yang seperti aku bilang tadi, aku berkhayal kita punya pekerjaan, punya uang buat beli rumah sendiri untuk kita tempati bersama anak-anak kita kelak, hidup damai sejahtera ... makanya aku termotivasi lebih giat bekerja dan menabung, demi masa depan kita."


"Kok kedengarannya gombal banget deh omongan suamiku inih?"


"Cieee yang udah punya suami, digombalin juga tetap suka, kan?" Agastya menoel hidung Aya.


"Sayang, barusan aku dapat khayalan baru, nih."


"Apa mas, terkait masa depan kita juga?"


"Bisa iya, bisa juga tidak?"


"Lha, yang jelas dong, mas."


"Jadi istri harusnya peka dong, ini udah jelas banget," jawab Agastya sambil menurunkan kolornya sendiri.


"Astaga mas, kirain ... ."


"Kirain apa? Dari tadi aku sudah mengkhayal kita bercinta dengan posisi baru, lha kamu malah ngajak ngobrol terus."


"Haha, maaf mas ... aku gak faham kode. Maklum namanya juga baru jadi istri. Hm, mau coba posisi baru gimana nih?"


"Sayang tolong tutup dulu pintu kamar kita," Agastya menunjuk ke arah pintu yang tidak tertutup rapat. "Sekalian dikunci, kasihan kalau tuan Takeshi mendengar, jiwa duda-nya nanti meronta lho."


"Ish, mas ini, lho."


"Eh benaran, aku yakin posisi ini akan membuatmu menjerit lebih keras dari biasanya," kata Agastya seraya merengkuh tubuh istri kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2