
Tuan Takeshi mengutus beberapa pengawalnya guna mendampingi Agastya memcari keberadaan keluarga Adolf Vooren. Tempat pertama yang mereka sambangi tentu saja kamp yang berada di daerah Tanah Abang, namun tidak ada, lalu kemudian berpindah hingga ke seluruh kamp yang ada di Jakarta, beberapa kamp interniran disinggahi Agastya demi mencari jejak keluarga mertuanya, tetap tidak ada satu pun petunjuk yang mereka dapatkan.
Padahal tuan Takeshi sudah merencanakan jika keluarga Adolf Vooren ditemukan, mereka akan diajak tinggal bersama di rumah dinas tuan Takeshi. Namun apa daya,
setelah berusaha mencari keberadaan keluarga Adolf Vooren hingga ke sudut tiap kota Jakarta, Aya terpaksa menerima kenyataan saat keluarganya tidak ditemukan.
Ada yang mungkin sengaja tutup mulut, namun ada juga yang bilang papi-nya Aya dikirim ke Thailand menjadi buruh, ada yang bilang papi-nya pulang ke Belanda dan ada juga yang bilang keluarganya kembali ke Magelang. Tidak ada yang memberitahu secara pasti di mana keluarganya itu sekarang, termasuk kakaknya Clay dan suaminya Yusuf. Mereka juga mencari keberadaan dokter Yusuf dinseluruh rumah sakit di Jakarta, hingga tuan Takeshi mengerahkan koneksinya mencari jejak keluarga Adolf Vooren sampai Magelang pun, hasilnya nihil.
"Sabarlah sayang, setidaknya dari info yang kita dapatkan, tidak ada yang menyatakan kalau ... keluargamu sudah tiada. Artinya masih ada harapan untuk bertemu mereka, walaupun kita tidak tahu kapan," hibur Agastya.
Aya hanya bisa mengangguk pasrah, karena memang tidak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa dan menunggu keajaiban. Pencarian dengan memakai kuasa tuan Takeshi pun gagal apalagi kalau hanya dia dan Agastya saja yang mengusahakan, kemungkinan berhasilnya kecil sekali.
"Aya, segala sesuatu sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa. Suamimu benar, jika memang kamu ditakdirkan berkumpul kembali bersama keluargamu, maka itu yang akan terjadi entah bagaimana caranya," timpal tuan Takeshi. "Kamu cukup menjalani apa yang sudah ditakdirkan untukmu saat ini. Belajae jadi istri sekaligus juga murid yang baik, itu sudah lebih dari cukup," imbuh Takeshi lagi.
"Benar apa yang dikatakan tuan Takeshi, sayang. Ikuti saja apa yang sudah direncanakan," ucap Agastya.
Aya pun menekuni hari-harinya seperti biasa, mengurus keperluan Himawari, belajar dengan tim bu Dira, memasak dan melayani suami. Rumah dinas Takeshi memang sungguh nyaman, di dalamnya selain Takeshi dan Himawari, meskipun tidak ada hubungan darah tapi orang-orang di dalamnya bak keluarga, Takeshi berhasil menciptakan atmosfir 'saling mengasihi' layaknya sebuah keluarga di rumah itu, benar-benar bikin betah.
"Tolong, Monic pendarahan," ujar Ryujo dengan panik pada tuan Takeshi yang sedang berbincang dengan Agastya dan Aya.
"Siapkan mobil," perintah Takeshi pada Aga.
"Ryujo, kamu harus tenang, istrimu sedang memerlukan ketenanganmu agar bisa melahirkan dengan lancar" saran Takeshi yang telah berpengalaman menghadapi proses melahirkan istrinya.
"Lho, tuan mau ke mana?" tanya Ryujo saat melihat Takeshi mengambil kunci mobilnya yang lain.
"Ke rumah sakit juga."
"Jangan tuan, tidak usah. Ini urusan keluargaku, tuan jangan repot-repot, ini masih jam kerja."
"Hei, walaupun kamu adalah ajudanku, kita ini kan serumah, jadi bisa dibilang kita juga keluarga. Lagi pula, kalau ada apa-apa, akunyang bertanggungjawan dan melihat kepanikanmu ini, aku rasa keberadaanku di rumah sakit nanti akan sangat membantu. Ayo cepatlah," Takeshi buru-buru menghampiri mobilnya.
"Aya, titip Himawari," pesan Takeshi sebelum melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Sora, mereka ke mana, buru-buru sekali tanpa mengajak kita," tanya Himawari heran.
"Ke rumah sakit, sayang. Nyonya Monic akan melahirkan."
"Melahirkan itu apa?"
"Mengeluarkan adik bayi dari perut nyonya Monic," terang Aya dengan bahasa yangbsekiranya mudah dimengerti Himawari.
"Jadi, adik bayi yang bergerak-gerak saat aku menvium perut Monic akan keluar dan aku bisa menciumnya langsung?" ujar Himawari dengan mata membulat ceria.
"Iya."
"Yeiiii ... aku akan punya adik yang menemaniku bermain," sorak Himawari.
"Tentu saja, Hani. Kamu akan jadi kakak, tapi kamu tidak boleh mencium adik bayi jika belum mandi. Adik bayi-nya juga tidak bisa langsung kamu ajak bermain."
"Kenapa tidak bisa? Apa dia adik bayi yang sombong? Atau Ryujo dan Monic tidak membolehkan akubbermain dengan adik bayi-nya?" Himawari seketika kecewa.
"Bukan begitu Hani sayang, nanti adik bayi yang lahir itu akan kecil sekali jadi belum bisa bermain denganmu, bukan karena sombong. Kamu juga tidak boleh menganggu adik bayi saat tidur."
"Adik bayi akan menangis padahal saat tidur adik bayi akan bertambah besar."
"Kalau begitu aku akan menyuapi adik bayi makan, seperti yang Sora lakukan padaku."
"Tidak bisa. Adik bayi yang baru lahir hanya meminum susu dari nyonya Monic. Nanti kalau sudah besar baru kamu boleh menyuapinya, mengerti?"
"Ya Sora, aku mengerti."
"Nah sekarang, mari kita berdoa agar adik bayinya lahir dengan selamat."
"Baiklah Sora."
***
__ADS_1
Beruntung Takeshi ikut ke rumah sakit, sebab begitu Monic ditangani, bukan hanya panik, Ryujo malah pingsan.
"Agastya, tolong kamu urus Ryujo. Monic biar aku yang mendampingi," titah Takeshi.
Ryujo langsung ditangani oleh dokter orang Indonesia yang sangat ramah. 'dr. Maulana' demikian nama yang tertera di dada pak dokter. Agastya bahkan mengobrol dengan dr. Maulana seputar kesehatan Ryujo tanpa mengetahui kalau pak dokter itu adalah kakak ipar Aya, salah satu keluarga yang mereka cari selama ini.
Sementara itu, di ruangan lain.
"Tuan, nyonya terpaksa melahirkan secara SC," lapor tim medis.
"Baik, lakukan yang terbaik. Saya yang bertanggung jawab," ujar Takeshi.
"Tapi kami perlu persetujuan keluarganya tuan."
"Suaminya juga sedang dirawat di rumah sakit ini, jika ada dokumen yang perlu ditanda tangani biar saya saja yang melakukan. Monic adalah keluarga angkat saya," kataTakeshi lagi.
"Oek ... oek," terdengar tangis bayi dari ruang operasi, membuat Takeshi tersenyum lega.
"Ah, syukurlah. Sudah lahir," gumam Takeshi. Tidak lama keluar perawat membawa bayi yang sudah dibersihkan.
"Bagaimana? Laki-laki apa perempuan?" Takeshi menghampiri perawat.
"Keduanya lahir sehat dan keduanya laki-laki, tuan," sahut perawat.
"Keduanya? Wah kembar ternyata," Takeshi melihat perawat lain yang baru keluar dari ruang operasi juga membawa seorang bayi.
Walaupun bukan keluarga yang sebenarnya, Takeshi bahagia menyambut kelahiran putra kembar Ryujo dan Monic.
Sebagai wujud penghargaan pada Takeshi, Ryujo dan Monic sepakat meminta tuannya memberi nama untuk si kembar. Tentu saja Takeshi menyambut baik permintaan ajudannya itu. Maka diberinyalah nama pada si kembar nama yang dulu pernah ia siapkan jika Himawari punya adik lelaki.
"Yang pertama aku beri nama Hiroki yang artinya kekuatan yang berlimpah. Bayi yang kedua namanya adalah Hiroshi, maknanya anak laki-laki yang dermawan," kata Takeshi sambil menimang kedua bayi itu bergantian.
"Terima kasih, tuan. Nama yang indah sekali," ujar Ryujo.
__ADS_1
Kini suasana rumah dinas tuan Takeshi makin semarak sejak kelahiran si kembar tampan Hiroki dan Hiroshi, buah cinta Ryujo dan Monic. Kehadiran si kembar mampu membuat Himawari melupakan impiannya yang pernah meminta Aya menjadi mamanya.
Si gadis mungil Himawari pun tidak kalah gembira, ia menyebutkan dirinya sebagai 'kakak' serta merubah panggilannya terhadap sang ajudan ayahnya menjadi papa Ryujo dan mama Monic pada ibu si kembar.