Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Menebus Arrabella


__ADS_3

Dikalangan perwira tinggi Jepang yang saat itu bertugas di Hindia Belanda, lelaki 'bersih' bernama Takeshi sangat dikenal sebagai satu-satunya pimpinan yang membolehkan anak buahnya membawa istri berlayar demi menjaga hasrat staff-nya agar tidak jajan sembarangan. Walaupun secara sembunyi-sembunyi, ada juga beberapa anggotanya yang tidak tahan, terutama yang masih bujangan atau yang istrinya masih di Jepang, datang ke ianjo untuk bersenang-senang dengan jugun ianfu binaannya. Jika ketahuan, biasanya Takeshi akan mengambil tindakan yaitu mengeluarkan prajurit tersebut dari kesatuannya, yang artinya dipecat jika prajurit tersebut menolak untuk menikahi gadis yang ditiduri.


"Apa tuan Takeshi ingin bersama Arrabella malam ini?" tanya Irene.


Katsuro menyenggol lengan Takeshi yang tidak merespon pertanyaan Irene karena tatapannya terpaku pada pemandangan di luar paviliun, tepatnya ke ruangan dimana beberapa orang berbeda jenis asyik bercengkrama bahkan ada yang tidak sungkan bercumbu di situ.


'Maafkan aku Fuyumi, aku terpaksa membawa gadis ianjo menjadi pengasuh anak kita. Aku harap gadis itu tidak membawa pengaruh negatif untuk Himawari kelak,' benak Takeshi.


"Hei, jangan terlalu asyik melihat mereka. Nanti kamu malah pengen lho, tuh kamu dengar tidak apa yang dikatakan Irene?" bisik Katsuro.


Takeshi terkesiap, "Eng ... maaf, bisa diulangi?"


"Apa tuan Takeshi ingin bersama Arrabella malam ini?" ulang Irene dengan nada merayu.


"I-iya, eh ... bukan, bukan. Maaf, maksudku aku akan me-membawa gadis ini keluar," sahut Takeshi.


"Oh, jadi tuan akan memakai jasanya selama beberapa hari di luar ianjo seperti tuan Katsuro kemarin?"


"Ehm, i-iya." Takeshi menunduk.


"Hah, tidak begitu. Sahabatku ini tidak ingin memakai jasa yang sepertiku kemaren Irene, tapi dia ingin menebus Arrabella," tukas Katsuro yamg gemas melihat keraguan Takeshi.


Irene tersenyum gembira, "Oh, boleh sekali, tuan. Baiklah, biaya penebusannya adalah 500.000 gulden."


"Astaga, kenapa mahal sekali, Irene? Aku dengar biasanya harga penebusan gadis ianjo berkisar antara 250.000 hingga 300.000 gulden saja," protes Katsuro.


Aya terbelalak mendengar nilai yang diajukan oleh Irene. 'Kenapa mami Irene menaikkan harga sesuka hatinya begitu?' batin Aya yang setuju dengan pernyataan Katsuro.


"Ehm, perlu tuan ketahui, Arrabella belum 2 bulan bekerja di sini dan gadis potensial. Tuan Katsuro tentu sudah mengalami betapa istimewanya servisan gadisku ini, angka 500.000 gulden sebenarnya tidak sebanding dengan kerugianku yang kehilangan gadis primadona ianjo. Jika ingin yang 300.000 gulden, bawa saja gadis lain," tawar Irene.


"Tidak, aku tetap akan membawa Arrabella saja dan membayar 500.000 gulden," sahut Takeshi yang termakan pancingan Irene. Yang Takeshi butuhkan hanya perempuan bernama Arrabella, mana mungkin Takeshi malah memilih gadis lain yang belum tentu cocok dengan Himawari?


Takeshi pun mengeluarkan uangnya dari tas dan menghitung sebentar.

__ADS_1


"Saat ini aku hanya membawa 200.000 gulden," Takeshi menaruh uang itu di meja dan mendorong ke arah Irene.


"Baik, saya anggap ini adalah uang muka, tuan bisa membawa Arrabella jika sudah melunasi sisanya," ucap Irene seraya mengambil uang itu.


"Apa Arrabella tidak bisa langsung dibawa malam ini? Percayalah, besok Takeshi pasti membayarkan sisanya," sanggah Katsuro.


"A'aa," Irene menggeleng sambil menggoyangkan telunjuknya. "Maaf tuan, aturannya memang begitu. Lagi pula, aku dengar tuan Takeshi ini tidak menetap di sini dan lebih banyak menghabiskan waktu di kapal, mungkin saja Arrabella langsung dibawa berlayar malam ini."


"Kamu tidak percaya dengan kami?" tanya Katsuro.


"Maaf tuan, bukannya tidak percaya. Lagi pula, kalaupun malam ini tuan bisa melunasi, Arrabella hanya bisa tuan bawa besok, karena gadisku ini perlu menyiapkan keperluan yang dibawanya dan berpamitan dengan teman-temannya," alasan Irene.


Semula Takeshi berniat kembali ke tangsi untuk mengambil sisa uangnya agar boleh membawa Arrabella malam itu, tapi mendengar perkataan Irene, Takeshi mengurungkan rencananya.


"Ya sudah, besok pagi saja," putus Takeshi.


***


Aya menggeleng.


"Atau ... dia sudah mencicipimu saat kau masih berada di tangsi tuan Katsuro?" tanya Irene yang sedang dalam mode kepo maksimal.


Lagi-lagi Aya menggeleng. Pertanyaan Irene bukanlah hal yang aneh sebab para tamu yang membawa gadis ianjo keluar terkadang senang berbagi gadis dengan teman-temannya, seperti Isao waktu itu.


"Aku hanya melayani tuan Katsuro, tuan Takeshi baru datang tadi sore bersama anaknya yang masih kecil. Lalu saat kami makan malam, mereka bilang akan menebusku," jawab Aya apa adanya.


"Oh. Eh, kamu tahu tidak? Tuan Takeshi itu terkenal dengan predikat bersih, dia tidak pernah ke ianjo ataupun bermain perempuan. Dia lelaki baik-baik yang setia, dan tadi aku perhatikan gerak-geriknya yang kaku itu, kelihatan kalau dia tidak nyaman berada di sini. Aku dengar dia baru saja menduda, tentu hatinya masih kehilangan dan itu membuatnya berubah prinsip sehingga membutuhkanmu menghiburnya."


Aya memperhatikan Irene yang sedang berbicara, "Mungkin karena tuan Takeshi membutuhkan pengasuh untuk anaknya."


"Ah, pengasuh untuknya barangkali, hihi. Kalau dia mencari pengasuh untuk anaknya, kenapa harus menebus gadis termahal di ianjo? Di luar sana, kan banyak wanita yang berpengalaman mengasuh anak. Hah, walaupun tampak dingin, aku merasa tuan Takeshi tertarik padamu."


"Maksud mami?"

__ADS_1


"Tinggal kau tebar pesona sedikit, tuan Takeshi pasti jatuh cinta padamu."


"Ah, mami ini ..."


"Serius, padahal dia tidak pernah bermain wanita tapi kemudian tiba-tiba ingin memilikimu, kira-kira kenapa? Hei Arrabella, kamu harus bisa membuat tuan Takeshi menikahimu. Jika sudah bersamanya, kamu tidak perlu suntikan pencegah kehamilan. Biarkan saja benihnya tumbuh di rahimmu agar dia semakin lengket denganmu nanti," usul Irene yang terdengar ganjil bagi Aya.


"Kata mami gak boleh hamil ka-"


Irene cepat memotong,"Ah, kalau lelaki itu tuan Takeshi kamu boleh hamil. Lihatlah dia baik dan kaya, bahkan tidak keberatan dengan harga yang sengaja kunaikan, kamu tidak akan rugi jika menjadi istrinya, malah derajatmu terangkat dan sangat dihormati karena tuan Takeshi adalah komandan tertinggi Angkatan Laut," lagi-lagi Irene menguatkan opininya.


***


Takeshi sudah kembali ke tangsinya yang berada di dekat dermaga. Perlahan ia membaringkan Himawari ditempat tidur dan memberikan kecupan selamat malam. Sambil menatap wajah lelap putrinya, Takeshi merenung ulang keputusannya yang akan menjadikan Arrabella, jugun ianfu sebagai pengasuh.


"Ah, aku harus membicarakan ini dengan Ryujo. Semoga saja dia belum tidur," gumam Takeshi sambil melangkahkan kakinya keluar bilik.


Lamat-lamat Takeshi mendengar Ryujo dan istrinya sedang berbincang di ruang tamu dengan pintu depan yang sedikit terbuka.


"Ah, syukurlah mereka belum tidur," batin Takeshi.


Tok ... tok.


Takeshi mengetuk pintu sebagai formalitas.


"Selamat malam, apa aku boleh menganggu kalian?" tanya Takeshi sopan pada ajudannya.


"Selamat malam tuan. Tidak, tidak menganggu sama sekali, kebetulan ada yang mau kami bicarakan juga," sambut Ryujo sambil mempersilakan Takeshi masuk.


"Hm, aku juga ada yang ingin kubicarakan, tapi silakan kalian duluan saja."


Ryujo berpandangan dengan Monic dengan tangan yang bergenggaman.


"Baiklah. Em, tapi maafkan jika kami lancang, tuan. Kami melihat gerak tuan sedikit terbatas sejak Himawari bersama tuan ... kami pikir, tuan perlu seorang pengasuh untuk Himawari, maaf," ujar Ryujo hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2