Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Kekasih Laksamana Takeshi


__ADS_3

Monic tampak asyik mendadani Aya, menyulap wanita yang1 sudah cantik dari lahir itu menjadi semakin cantik.


Tubuh Aya yang tinggi semampai itu dibalut dress berwarna biru tua dengan model sabrina, berlengan pendek dan panjang selutut. Rambut warna hazelnut bergelombang panjang sebahu sengaja dibiarkan jatuh tergerai, membuat tampilan Aya semakin manis dan menawan.


"Mari nyonya," Takeshi yang terpesona melihat keberadaan Aya menawarkan lengannya untuk digandeng oleh perempuan itu.


Aya menoleh pada Agastya seolah meminta izin. Walau pun hatinya mencelos tapi demi kelancaran urusannya, Agastya memilih memberikan anggukan.


"Siap tuan," balas Aya sambil menautkan lengannya pada pada Takeshi.


Malam itu Takeshi mengenakan jas navy dan berdasi kupu-kupu, tampak sangat sepadan dengan Aya.


Tiba di istana negara, tempat acara yang dimaksud Takeshi berlangsung, pasangan pura-pura itu langsung menjadi pusat perhatian.


"Lihat wanita yang bersama Laksamana Takeshi, cantik sekali," terdengar beberapa orang berbisik.


"Wah, iya. Cantik sekali, tampaknya keturunan Belanda," timpal yang lain.


"Apa? Noni Belanda. Halah paling-paling juga gadis ianjo," sinis seseorang.


"Tapi perempuan itu cantik, anggun dan santun sekali tidak mungkinlah kalau dia jugun ianfu."


"Heh, kadang penampilan hanya topeng. Bisa saja santun di luar tapi liar di ranjang."


"Ish, ngapain sih Takeshi itu menampung gadis dari bangsa yang seharusnya pergi dari Indonesia? Ck, macam tidak ada perempuan lain saja.


"Hush, hati-hati kalau bicara. Tuan Takeshi bukanlah lelaki yang bisa mengunjungi ianjo, mana mungkin beliau suka sama wanita penghibur begitu?"


"Ah, bisa saja. Tuan Takeshi kan duda, pria yang bebas. Siapa yang tahu kalau beliau butuh kehangatan perempuan lalu ... ."


"Sudah-sudah, nanti kedengaran sama Laksamana Takeshi bisa bahaya," peringat yang lain.


Begitulah, Laksamana Takeshi yang gagah didampingi kecantikan Aya yang elegan benar-benar telah menghipnotis banyak pasang mata para undangan.


Sementara sebagian orang di aula itu heran karena Takeshi yang terkenal dingin terhadap wanita malah terlihat begitu mesra menggandeng gadis cantik yang tidak tahu asal usulnya, beberapa pria justru menatap Aya dengan perasaan kagum, termasuk Pamhlima Katsuro dan Laksamana Akeno termasuk lelaki yang malah merasa bangga telah mencicipi surga dunia dengan gadis blasteran Belanda itu.


Khususnya Panglima Katsuro, yang merasa berperan penting dalam mempertemukan Takeshi dengan Aya alias Arrabella dan juga berikeras mendorong Takeshi menebus gadis itu dari ianjo.


"Hai Takeshi, selamat ya. Ternyata kau mendengarkan saranku. Rupanya Arrabella tidak saja kau jadikan pengasuh anakmu, Himawari tapi juga calon pendampingmu," bisik Katsuro membuat Takeshi tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Ah, Terima kasih banyak, Katsuro," sahut Takeshi sambil membungkukan sedikit badannya. Takeshi tahu selain Aya, dia pun harus berperan sempurna dalam memuluskan harapannya pada Aya.


"Hei Arrabella, gadis kamar nomor 8. Pantas saja aku lama mencarimu, rupanya tuan Takeshi yang sudah membawamu. Selamat ya," kata Akeno dengan suara pelan pada Aya.


"Laksamana Akeno, tolong jaga kata-katamu, ya. Mohon jangan ungkit kalau dia pernah menempati amar nomor 8 karena dia adalah kekasihku sekarang," peringat Takeshi pada rekannya.


"Ah, mohon maafkan aku, Laksamana Takeshi. Jujur saja, selama pelayaran aku terus memimpikan Arrabella untuk bisa kutebus dan hanya melayaniku. Namun aku harus kecewa karena terakhir saat kapalku merapat di Jakarta, aku tidak menemukannya. bahkan Irene menutup rapat keberadaannya, haha."


"Hei Akeno, aku juga tadinya mengharapkan Arrabella jadi milikku. Hanya saja aku menimbang kalau Takeshi lebih membutuhkan gadis ini maka aku mengalah saja," timpal Katsuro.


Takeshi memasang wajah masam, "Sekali lagi aku ingatkan pada kalian, Panglima Katsuro, Laksamana Akeno, Arrabella adalah kekasihku," tegas Takeshi dengan mimik serius.


"Baiklah," jawab kedua pria itu bersamaan.


Takeshi terpaksa meninggalkan Aya saat ada seseorang yang menyampaikan pesan bahwa perwakilan kaisar Jepang ingin menemuinya.


"Aya, tolong tunggu sebentar, ya sayang," pinta Takeshi sambil melepaskan gandengannya. Aya mengangguk sambil tersenyum pada tuan kekasih pura-puranya itu.


Saat Takeshi hilang dari pandangan mata Aya, tiba-tiba seseorang merangkul pinggangnya lalu menariknya menjauh dari perhatian orang, "Hai Arrabella," Isao, lelaki yang sangat ingin dihindari Aya menyapa. Aya yang semula tampak anggun dan percaya diri itu seketika memucat.


"Tu-tuan I-Isao?" Aya tergagap.


"Ah, rupanya kamu tidak melupakan keperkasaan lelaki yang pertama menerobos gawang surgawimu, buktinya kamu masih ingat namaku," ucap Isao disertai tatapan nakalnya.


"Akan apa, hm? Kenapa kamu menyebut kekasihmu sebagai 'tuan', haha ... jangan-jangan, kamu dibayar agar mau jadi kekasihnya."


Dalam hati Aya merutuki mulutnya yang keceplosan menyebut 'tuan' pada Takeshi.


"Hei, kamu sangat butuh uang ya? Sampai-sampai mau dibayar oleh lelaki impoten itu, haha."


"Ti-tidak begitu, tuan," Aya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Isao.


"Kalau kamu mau melayaniku, maka aku akan membebaskanmu, bagaimana?"


"Tidak!" Balas Aya sambil menegakkan kepalanya.


"Kamu yakin kalau tubuhmu tidak merindukan kehangatanku? Kamu lupa kalau akulah lelaki yang mengajarimu menikmati keintiman pria-wanita dan juga membuatmu mendesah keenakan karena pelepasan pertamamu, hm?" Rayu Isao berusaha mengintimidasi Aya.


"Jangan lupa kalau tuan juga memperkosaku bahkan membuatku tertekan oleh tindakan brutal tuan dan teman-teman tuan yang bejat itu."

__ADS_1


"Haha, tapi buktinya kamu masih baik-baik saja, kan? Malah masih menekuni takdirmu sebagai jugun ianfu."


"Itu dulu, tuan?"


"Hah, apa bedanya dulu dengan sekarang? Tetap saja kamu pelacur, tetap saja kamu pernah digilir banyak pria bahkan saat ini kamu malah jadi gundik berkedok kekasih, haha ... kamu menyedihkan sekali, Arrabella," sinia Isao hampir membuat pertahanan Aya runtuh.


"Apa yang kamu lakukan, Isao? Jauhkan tanganmu dari nona Arrabella," hardik Ryujo yang tiba-tiba datang


"Nona, maafkan aku datang terlambat," ucap Ryujo sambil menganggukan kepalanya dengan hormat.


Isao mengamati sikap Ryujo dan menebak kenapa temannya itu bertindak demikian, lalu pelan-pelan membebaskan jemari Aya dari genggamannya.


"Hai Ryujo lama tidak bertemu, apa kabar?" alih Isao berbasa-basi.


"Baik."


"Eng, apa benar Arrabella adalah kekasih tuanmu Laksamana Takeshi?"


"Iya, sesuai skenariomu saat membelinya dari Irene," sahut Ryujo membuat Isao berdecak.


"Aku dengar kamu sudah menikah."


"Benar."


"Siapa? Aku bahkan tidak tahu kamu punya pacar."


"Kamu tidak perlu tahu, Isao."


"Hah, teman macam apa kamu ini, bahkan kabar bahagia saja tidak mau berbagi."


"Yang penting aku ada di saat kamu susah."


"Ah, kamu benar juga, Ryujo."


"Tentu. Maaf, tujuanku ke sini adalah untuk menjemput Arrabella karena tuan Takeshi memintanya menemui ibu Dinar."


"Ibu Dinar guru private itu?"


"Iya, tuan Takeshi ingin Arrabella, gasis yang kamu hina ini jadi perempuan terpelajar," tegas Ryujo pada temannya.

__ADS_1


Isao mematung, ia tahu Arrabella adalah gadis pandai dan ibu Dinar merupakan sosok pengajar yang sangat disegani, kualitas murid hasil didikannya sangat diakui kalangan bangsanya.


'Astaga, sebegitu perhatiannya tuan takeshi sama Arrabella. Aduh main-main dengan mantan jugun ianfu satu ini hanya membawaku pada petaka besar saja,' batin Isao.


__ADS_2