Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Monic Dan Ryujo


__ADS_3

Bab 30.


Kita tinggalkan sejenak Isao yang lupa telah membiarkan Aya sendirian di tangsi khusus, sebab pasangan berikut inipun punya andil dalam hidup Aya.


Monic dan Ryujo melaksanakan pernikahan secara darurat, begitu mendapat surat nikah keduanya meninggalkan kota itu, karena Ryujo harus segera pergi berlayar menuju Banjarmasin, menggantikan tugas pimpinannya yang masih di Jerman.


"Jadi kita ber-malam pertama di kapal, nih?" tanya Monic.


"Kenyataannya memang begitu, sayang. Ini pertama kali kamu ikut aku berlayar dan pertama kali aku tidur dikamarku dengan seorang wanita. Sesuai dengan anjuran tuan Takeshi yang hanya membolehkan kami menginap di kapal dengan istri. Aku jamin bercinta saat ada gelombang akan jadi hal yang luar biasa untuk kita."


"Ish, bulan madunya di kapal aja, nih?" rengek Monic manja.


"Hei ... Bersabarlah sayang bulan madu kita tunda dulu ya, jika kapal berlabuh atau aku dapat cuti," sahut Ryujo sambil mengecup mesra dahi wanita milik sahabatnya yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu.


"Hm ... kira-kira, apa Isao sudah menemukan suratku dan apa dia akan marah jika tahu aku kabur bersamamu?"


"Seandainya aku ada di sana, tentu aku adalah orang pertama yang mendengar keluhan serta dimintai tolong mencarimu, haha. Perkiraanku jika Isao tepat waktu, harusnya urusannya dengan Arrabella selesai dan sudah pulang dari villa lalu menyerahkan noni itu untuk kutiduri 2 malam sebelum dia dijadikan bintang pesta oleh teman-teman."


"Bintang pesta?"


"Iya, ini rencana Isao yang tidak mau rugi dan tidak mau kamu curiga, haha ... maka dia gilirkan gadis itu nanti kepada temana-teman untuk menutupi uang yang sudah dibayarkan kepada Irene."


"Hm, begitu, ya."


"Tapi tidak tahu juga, nanti setelah dia menyadari kamu pergi dan meninggalkan sejumlah uang, bisa saja dia malah menebus noni itu dan membawanya pulang, menggantimu."


"Halah, sebenarnya dia tidak perlu penggantiku. Kan dia sudah sering mengover tugasku melayaninya pada Sumi dan Yati. Tidak mungkin, 100. 000 gulden lho kalau mau bawa Arrabella pulang, nilai yang tidak sedikit. 1.000 gulden aja Isao mikir segitunya. Sementara 2 pelayan dirumah bisa dia nikmati gratisan," ujar Monic sewot.


"Ck, itukan karena dia takut kamu tahu karena harus membayar 1.000 gulden demi menikmati keperawanan dan 10 malam gratis bersama Arrabella. Bayangkan, jika kamu masih bersama Isao, dan selama gadis itu belum digilirkan ke pria-pria lain, dia akan membuat alasan seperti apa?"


Monic tersenyum. "Jadi, setelah 10 malam semua perempuan yang sudah dibayar itu sudah bebas ditiduri siapapun?"

__ADS_1


"Hm, ya begitulah. Gadis baru seperti Arrabella biasanya hanya akan melayani perwira tinggi saja dulu dan jika pria itu mau membayar lebih, bisa saja Arrabella hanya melayani 1 orang saja sampai pria itu saja bosan. Tapi lama-lama kalau sudah sering dipakai atau ada gadis baru lagi yang datang, ia akan bergeser posisi ke level kedua, kecuali Arrabella-nya pintar memuaskan tamu bisa saja dia jadi primadona dan bahkan dia sendiri yang akan memilih ingin ditiduri oleh siapa.


"Oh, ada urutan seperti itu?"


"Iya, sebenarnya permainan Irene saja sih agar dapat keuntungan. Seorang jugun Ianfu yang ditempatkan di level bawah biasanya karena tidak menarik lagi, terlalu banyak tingkah, sudah lama bekerja atau yang sakit-sakitan. Nah mereka inilah yang sering dipakai para prajurit secara gratisan.


"Tapi aku dulu langsung ikut Isao, tidak ada melayani lelaki lain selain kamu ..."


"Iya, karena Isao tidak suka berbagi, jadi dia membayar untuk kegadisanmu dan memberi tebusan agar kamu tidak perlu menjadi gadis peliharaan Irene, melayani banyak pria."


"Haha," Monic terbahak.


"Kenapa?"


"Ah, tidak. hanya merasa lucu saja sama Isao. Dia yang membayar kegadisanku tapi malah kamu yang mendapatkan. Terus, dia yang menebusku agar tidak berbagi dengan pria lain tapi ... tiap kali kapalmu bersandar di dermaga, aku membuat alasan ke salon, berbelanja atau apalah agar kita bertemu di hotel."


"Makanya aku bilang, Isao memang bodoh. Salahnya sendiri, aku yang pertama suka sama kamu, dia malah ikut-ikutan. Padahal dia sudah punya gadis incaran waktu itu."


"Hihi, aku juga langsung suka sama kamu Ryujo. Saat kita berkenalan, kamu baik, sopan dan tidak genit seperti Isao."


"Padahal kamu pernah bilang kalau ... kita tidak akan melakukannya jika belum menikah."


"Maafkan aku sayang, malam itu aku memang berniat menghajar Isao. Ketika sampai dibilik itu aku melihat dia merobek pakaianmu dan hampir memperkosamu, ah ... jujur gairahku terpancing dan lupa untuk memperistrimu dulu baru menidurimu, tapi dari pada keduluan Isao. Makanya Isao aku bikin pingsan saja, dan pergi meninggalkanmu sebelum dia terbangun."


"Oh iya, kamu bilang Isao terobsesi membeli Arrabella karena dendam, dendam apa maksudnya?"


"Beberapa bulan lalu Isao pernah bercerita kalau dia tertarik pada wanita pribumi yang mengambil paruh kerja ditempat kalian, ternyata gayung tidak bersambut ... wanita itu menolak melayaninya dan selalu menghindar, nah kemudian Arrabella, anak wanita itu, juga menolak keras saat Isao ingin mencicipi tubuhnya bahkan sampai menghajar Isao."


"Astaga, jadi Arrabella punya alasan menghajar Isao? Wah ... aku jadi merasa bersalah telah membawanya ke mami Irene, jangan-jangan Isao ingin Arrabella seperti Sumi dan Yati, jadi budak nafsunya."


"Mungkin. Sepertinya sih begitu."

__ADS_1


"Hm, apakah Arrabella akan menghajar Isao saat akan ..."


"Bisa iya, kalau Arrabella berani melawan tentu akan membuat Isao marah dan memperkosaanya tapi kalau dia menurut dan patuh, ya seperti pembantu kalian itu ... jangankan menolak disentuh, malah menggoda. Kamu tahu gak, malam itu saat aku memberimu catatan kan kamu langsung masuk kamar ... nah saat itu kedua pembantu kalian masuk ke ruang makan, yang satunya langsung duduk dipangkuan Isao dan yang satunya lagi saat mencoba menyentuhku, aku tolak. Isao bilang, tidak baik menolak barang bagus, selama kamu di sini ... kamu bebas bermain dengan mereka."


"Kenapa kamu tolak, benar kan kata Isao? Lagi pula aku yang sudah masuk kamar tidak akan tahu apa yang kalian lakukan."


"Ya aku tolak, karena nyonya Monic baik wajah, body dan service-nya lebih bagus dari mereka, haha. Isao keluar kamar dan menguncimu, memberiku kode tutup mulut saat dan dengan santai menuju kamar belakang. Setelah dia dan pembantu itu ke loteng, baru aku masuk ke kamarmu."


Monic memeluk suaminya, "Ryujo, terima kasih kamu sangat baik, mau menerima aku apa adanya dan mau menikahiku."


"Terima kasih saja? Kamu fikir semua ini gratisan?"


"Hah, jadi kamu perlu tebusan juga?" tukas Monic yang langsung menjauhi Ryujo.


"Tentu saja. Kamu harus menebus kebaikanku ini dengan ... seluruh cintamu, Monic."


"Aaah, kiraian uang ...tanpa kamu minta, aku pasti memberikan cinta, hati dan hidupku hanya untukmu, Ryujo."


"Tubuhmu tidak termasuk?" goda Ryujo.


"Dari tadi ngobrol aja, kirain kamu sudah tidak berminat lagi dengan tubuhku."


"Astaga, kamu yang tidak paham kode. Waktu belum menikah, kita mencuri kesempatan bertemu dan langsung melakukannya begitu pintu kamar dikunci. Sekarang giliran sudah resmi malah asyik mengobrol ...."


"Kamu yang banyak ngomong Ryujo, sampai tidak menyadari dari tadi aku sengaja mengelus perutmu."


"Yang dielus bawah perut, sayang."


"Seperti ini?" Monic langsung menggengam dan meremass bagian bawah puser suaminya.


"Hm ... lakukan yang kau mau, sayang. Aku milikmu seutuhnya sekarang."

__ADS_1


***


"Halah, mulai lagi deh, menjurus-juruh ke arah situ," gumam Mangata sambil menaruh kembali novel Arrabella.


__ADS_2