Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Tempat Baru


__ADS_3

"Jangan bicara seperti itu, tuan. Aku jadi sedih," ungkap Ryujo.


"Tidak apa-apa, Ryujo. Ini kenyataan yang harus kuhadapi. Kamu, bagaimana rencanamu ke depan? Mau tetap di sini atau membawa Monic dan anak-anak kembali ke Jepang?" Tanya Takeshi pada ajudannya yang setia itu.


"Em ... aku dan Monic sepakat pulang ke Jepang, tuan. Memulai hidup baru kami di sana."


"Baiklah, aku titip Himawari, ya. Bawalah anakku kemana pun kalian pergi dan rawatlah putriku itu seperti anak kalian sendiri," Takeshi yang selama ini tampak kuat dan tegar tidak mampu menahan air matanya saat mengatakan hal itu di hadapan Ryujo dan Agastya.


"Tidak masalah tuan, bukankah tuan selalu bilang kita ini keluarga? Kami janji akan menjaga Himawari untuk tuan dan aku yakin, tuan tidak akan dihukum mati jadi suatu saat bisa kembali bersama Himawari," hibur Ryujo.


"Ah, iya ... sejauh ini, keberadaan Aya masih jadi misteri. Tidak ada petunjuk sama sekali siapa yang telah menjemputnya tempo hari dan dibawa kemana kemudian. Kita sudah mengerahkan tim untuk itu, bahkan sampai ke ianjo, tapi ... juga tidak ada, bahkan Irene pun turut menghilang jadi kita tidak bisa mengorek informasi," kata Ryujo.


"Hah, entahlah ... mungkin saja menghilangnya Irene ada kaitannya dengan Aya, bisa saja Irene berperan atas menghilangnya Aya sebab selain Isao, atau perwira lain, yang mungkin punya hubungan dengan pihak yang berpura-pura menjadi pihak intelijen cuma wanita itu. Melihat kondisi di sini tidak menguntungkan, mungkin Irene membawa Aya ke tempat lain lalu membuka usaha sejenis ianjo di situ ... bisa saja, kan?" beber Takeshi.


"Masuk akal sih, tuan. Terima kasih tuan, biarlah ... jika memang berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan aku dan Aya lagi dengan cara-Nya. Tuan Takeshi dan tuan Ryujo tidak perlu mengerahkan tenaga mencarinya, karena justru akan menimbulkan kecurigaan pihak sekutu yang tentunya malah akan mengancam nyawa Aya di manapun ia berada," ucap Agastya sambil menahan kesedihannya.


"Sekali lagi, maafkan kami Agastya. Sungguh, jika saja keadaan negara ini kondusif tentu akan lebih mudah kita melakukan pencarian," sesal Takeshi.


"Aku tahu tuan, terima kasih banyak ... tapi menurut tuan, kawasan mana yang saat ini terbilang cukup aman?"


"Em ... Kalimantan. Kamu mungkin bisa memilih ke Banjarmasin, aku punya teman yang bisa membantumu. Setidaknya keberadaanmu di sana lebih aman dari pada di sini. Maaf, aku bukannya tidak ingin lagi bersama kalian hanya saja ... keselamatanku pun tidak bisa kujamin sendiri, begitu selesai dengan tugasku di sini beberapa bulan ke depan aku kembali ke Jepang dan ya, seperti Ryujo bilang ... aku akan menghadapi persidangan militer untuk mempertanggungjawabkan tindakanku di sini," lirih laksamana Takeshi, perwira tinggi, lelaki kuat dan berwibawa itu tidak mampu menutupi perasaan sedihnya.


"Tuan orang baik dan Tuhan pasti akan menolong tuan di waktu yang tepat," hibur Ryujo sambil menepuk bahu Takeshi.

__ADS_1


***


Beberapa hari kemudian.


"Himawari, mulai sekarang kamu akan bersama papa Ryujo dan mama Monic, ya. Berlakulah baik, tunggu papa menyusulmu ke Jepang setelah papa memyelesaikan urusan di sini," pesan Takeshi pada putri tunggalnya.


"Tapi papa pasti akan menyusulku, kan?" Tanya Himawaei yang enggan berpisah dengan ayahnya.


"Doakan papa ya, sayang," pinta Takeshi seraya memeluk erat buah cintanya itu, sebelum melepas kepergian mereka menuju negeri asal Ryujo.


Sementara itu, Agastya yang sudah pulih, sengaja membiarkan kumis dan jambangnya tumbuh untuk sedikit menyamar penampilannya, tengah siap bertolak menuju pulau Kalimantan sesuai arahan Takeshi, berbekalkan sepucuk surat berstempel dan sejumlah uang sebagai modalnya memulai hidup baru di tempat yang belum pernah ia hampiri.


"Aku harap suatu saat kamu akan menemukan Aya, Agastya dan jangan lupa kalau kita pernah bersama, aku senang punya asisten sebaik kamu," pesan Takeshi saat Agastya bersiap memasuki kapal yang mengantarnya ke Banjarmasin.


***


"Benar, pak," sahut Agastya.


"Hm, aku tidak tahu apa yang bisa kau lakukan di sini .. tapi sambil kamu mengenali wilayah sini, sebaiknya kamu menginap di rumahku saja," tawar pak Ruslan.


"Terima kasih, pak. Aku siap melakukan tugas apapun di sini," sahut Agastya.


"Oh, ada tamu rupanya," suara lembut perempuan tiba-tiba menghampiri ruang tamu tempat pak Ruslan dan Agastya berbincang.

__ADS_1


"Kemari, Aminah. Perkenalkan ini Agastya, dia akan tinggal bersama kita," pak Ruslan mempersilahkan keduanya berjabatan, namun diluar pengawasan pak Ruslan, Aminah mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Agastya.


"Tolong antarkan Agastya ke kamar tamu dan biarkan dia beristirahat, aku mau kembali ke perkebunan," ucap pak Ruslan sembari meninggalkan Agastya dan Aminah.


"Hai, kamu masih lajang atau sudah beristri?" Tanya Aminah sambil berjalan mengantar Agastya menuju kamar tamu.


"Aku sudah punya istri," jawab Agastya sambil berusaha menghindari Aminah yang seolah ingin menggodanya.


"Tapi istrimu tidak ikut. Suamiku kalau ke kebun akan kembali sebelum maghrib, jadi aku bisa menemanimu di sini," ucap Aminah sambil melemparkan senyum manisnya.


Agastya terkejut saat tahu wanita muda dihadapannya adalah istri pemilik rumah, tadinya dia berfikir kalau Aminah adalah putri pak Ruslan.


"Bu Aminah, maaf ... bukankah tadi pak Ruslan menyuruhku beristirahat jadi ibu bisa meninggalkanku di sini," kata Agastya yang berusaha menghindari kontak fisik dan mata dengan Aminah.


"Asalkan kamu bersikap baik maka semua akan aman terkendali," kata Aminah sambil meraih Agastya dalam pelukannya.


"Maaf bu Aminah, tidak bisa begini," tolak Agastya berusaha melerai pelukan Aminah.


"Kenapa? Istrimu tidak ada, suamiku juga tidak ada di sini ... kamu tampan, gagah dan masih muda, aku yakin kamu bisa memuaskanku lebih baik dari Ruslan," ujar Aminah yang terus berusaha memancing gairah Agastya.


Astaga, wanita ini benar-benar gila. Baru beberapa saat lalu mereka bertemu kini sudah berani menggoda Agastya sedemikian rupa.


"Bu Aminah, mohon maaf. Aku bukan pria yang seperti itu." Agastya perlahan mendorong tubuh Aminah sampai pintu kamar dan segera mengunci pintu itu saat Aminah sudah berada diluar.

__ADS_1


"Kamu akan menyesal telah menolakku, pria tampan," ujar Aminah setengah berteriak di depan kamar tamu yang dihuni Agastya.


Agastya hanya mampu menghela nafas, sekali ini lolos dari godaan wanita itu, entah kali lain. Huff, Agastya memikirkan cara agar bisa segera meninggalkan rumah itu tanpa menyinggung pemilik rumah. Ya, agar tidak jatuh dalam pencobaan, maka sebaiknya dia harus segera menjauhi sumber yang bisa membuatnya terjatuh. Walaupun di situ Agastya mendapat tempat tinggal gratis plus kemungkinan kepuasan pribadi yang akan terpuaskan secara gratis pula dari sang nyonya rumah, Agastya memutuskan segera keluar dari rumah itu.


__ADS_2