Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Hak Suami


__ADS_3

Di saat akan melakukan penyatuan, tiba-tiba Aya menahan suaminya, "Mas tidak jijik menyentuhku yang ... sudah bukan gadis lagi dan bekas pakai banyak pria?"


Agastya beringsut, membuat jarak diantara mereka,


"Bekas pakai? Memangnya kamu ini sejenis barang? Tidak, aku tidak berfikir begitu. Aku hanya bingung harus mulai dari mana, sayang."


"Oh, tapi mas tidak kecewa saat-"


Agastya cepat-cepat memotong kalimat istrinya, "Saat aku memilihmu jadi pendampingmu, itu berarti aku sudah siap apa pun resiko dari pilihanku. Kamu wanita yang baik, apa lupa kalau aku sudah berjanji mengembalikan harga dirimu? Satu hal yang perlu kamu ingat adalah sampai kapan pun aku akan berusaha menjaga kehormatanmu, tidak peduli bagaimana kamu dulu yang penting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan kita, rumah tangga kita ke depannya, sayang."


"Terima kasih, mas."


"Tidak perlu berterima kasih, membimbing, melindungi, mendidik dan memberimu kesempatan untuk belajar merupakan tugasku sebagai suami. Dan, tahukah kamu apa yang menjadi hak-ku sebagai suamimu?" tanya Agastya.


"Em ... melayanimu kebutuhanmu ditempat tidur?" tebak Aya.


Agastya terkekeh sambil menoel hidung istri kecilnya, "Mentang-mentang kita berada di tempat tidur yang sama dalam keadaan tanpa tertutup apa pun, kamu mikirnya hanya kebutuhan itu."


"Lalu apa?"


"Em ... beberapa yang aku tahu, sebagai suami aku berhak kamu dipatuhi dan ditaati olehmu kecuali dalam hal maksiat, mendapat senyummu jadi kamu jangan berwajah masam dihadapanku."


"Oh, mendapat kehangatan ditempat tidur tidak termasuk hak-mu ya, mas?"


"Eh itu ... mu-mungkin termasuk dalam dipatuhi olehmu dalam melayani segala kebutuhanku, selama permintaan dan kebutuhan tersebut masih dalam batasan yang wajar dan baik."


"Jadi yang termasuk segala kebutuhanmu itu ... urusan tempat tidur termasuk juga kan, mas?"


"Menurutmu?"


"Eng ... termasuk, sih," sahut Aya ragu.


"Ya sudah ayo."


"Ayo apa?"


"Astaga, jadi kapan aku mendapatkan hak pertamaku sebagai suami?"


"Ck, tadi mas menyebut kalau aku hanya memikirkan hal itu saja. Mas gimana, sih? Penjelasannya muter-muter tapi ujung-ujungnya ke situ juga," jawab Aya sambil merengut.


"E'eh ... baru juga kubilang kalau aku jangan kamu kasih wajah yang masam, kok malah cemberut?"


Aya langsung memasang wajah senyum terpaksanya.

__ADS_1


"Gak gitu juga kali, sayang. Kelihatan banget senyumnya gak ikhlas gitu."


"Hah, mas Aga ribet. Masalah senyum aja pake dinilai ikhlas apa tidaknya."


"Nah, satu lagi aku baru ingat ... sebagai suami istri kita wajib menghindari perdebatan yang dapat merusak kemesraan kita, sayang. Jadi ketika kita berbeda pendapat atau fikiran sebaiknya cepat diselesaikan."


"Hah, baiklah mas. Maaf. Kalau begitu kita tidur saja," sahut Aya sambil mengambil pakaiannya untuk dikenakan kembali.


"Lho, bajumu mau diapain?"


"Mau kupakai lagi lah, mas."


"Jadi ini nasibnya gimana?" tanya Agastya sambil melirik pusakanya yang masih kokoh berdiri.


"Tidak tahu, mas sendiri bilang kalau aku memikirkan hal itu saja. Kenapa disaat aku mencoba untuk tidak memikirkan hal itu saja mas malah nanya bajuku mau diapain? Bukankah lebih baik aku berpakaian agar mas tahu aku sudah mengerti kalau mas tidak mau menyentuhku?" sahut Aya kesal.


"Astaga sayang, bukan begitu. A-aku hanya ingin memberitahumu saja kalau urusan ranjang bukan satu-satunya hak yang perlu kudapat darimu."


"Iya, tahu. Makanya aku mau pakai bajuku lagi."


"Tidak bisa begitu."


"Kenapa tidak bisa?"


"Ajakan apa?"


Aga tidak lagi menyahut perkataan istrinya yang dapat memancing perdebatan, tapi ia malah menyerang istrinya dan melanjutkan aktivitas mesra yang tadi sempat terhenti.


"Aku menginginkanmu, sayang."


"Dari tadi aku sudah siap, mas. Aku milikmu maka, lakukan apa saja yang mas mau," ucap Aya dengan wajah yang merona bahagia. Sungguh, Aya memang sudah tidak sabar menikmati surga dunia bersama lelaki yang sudah syah menjadi suaminya ini.


Agastya pun kembali memanjakan istri cantiknya dan membuat wanitamya memohon untuk segera dipuaskan.


"Jangan lupa untuk menarik itu jika mas merasa mau keluar," lagi-lagi Aya mengingatkan suaminya yang sedang asyik memompa pusakanya.


'Astaga, masih harus pakai kata 'itu' lagi,' batin Agastya sambil terus menghujam liang surgawi istrinya.


"Tarik, mas," Aya yang sudah hapal kapan sesuatu itu akan meledak, mencubit pelan pinggang Agastya saat hentakan suaminya itu kian keras mendera celahnya.


"A-ahhh," dengan nafas menderu Agastya menumpahkan benihnya diperut Aya. "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu," bisik Agastya sambil mengecup mesra dahi Aya lalu mengalihkan tubuhnya, berbaring bersisian.


"Gimana, mas?" bisik Aya sambil memeluk suaminya.

__ADS_1


"Luar biasa. Pantas saja ... astaga, jika aku tahu begini nikmatnya bercinta, barangkali aku sudah candu melakukannya sebelum menikah."


"Jadi mas ngerti kan, kenapa banyak orang melakukan segala cara demi kepuasan yang satu itu?"


Agastya mengangguk sambil tersenyum, "Syukurnya aku melakukan penyatuan pertamaku di saat kita sudah terikat pernikahan, kalau tidak sia-sia saja semua amal ibadahku karena ... ah, sayang apa normal jika ... ."


"Jika apa, mas?"


"Jika kita melakukannya lagi," jawab Agastya malu-malu.


"Mas mau lagi?" tanya Aya menggoda suaminya.


"Kamu tidak merasa kalau milikku siap tempur?" Jawab Aga sambil memijat benda padat yang terdapat di bagian belakang tubuh Aya.


"Aku masih penasaran, rasanya nanggung banget mas, karena tadi itu ibarat mendaki, aku masih merangkak eh, mas sudah sampai di titik puncak dan langsung keluar aja. Sekarang mas baring aja, biar aku saja yang aktif," Aya segera mengambil posisi di atas Agastya.


"Penasaran gimana?"


"Uh, tadi itu aku baru hampir sampai, mas dah selesai aja. Dengan begini, kamu yang tadi sudah lega tentu bisa lebih lama, jadi aku bisa ... hmmmh," desis Aya yang menari lincah sambil menduduki suaminya.


"Sa-sayang aku hamp-"


"Tahan sedikit lagi mas, sebentar lagi," potong Aya sambil terus menggoyang pinggulnya, membuat suaminya semakin tidak keluar menahan gejolak yang akan meledak lahar panasnya lagi.


"Sayang aku mau keluar," kembali Agastya mengingatkan istrinya.


"Iya mas, ahhhh ..." dengan tenaga yang lemah akhirnya Aya melepas cengkramannya dan memilih berbaring sementara di dada bidang Agastya.


"Ya ampun sayang barusan kamu ... mencapai puncakmu kan?"


Aya mengangguk.


"Oh, sekarang aku mengerti laki-laki tidak boleh egois, maaf aku tadi tidak mengerti dan hanya memikirkan kepuasanki saja."


Aya mengangkat kepalanya dan tersenyum sambil membelai wajah Agastya yang dipenuhi keringat.


"Tidak apa-apa mas, aku maklum kok. Tapi sekaramg skor kita 1 sama, impas," jawab Aya sambil terkekeh.


"Impas? Hm iya, kalau begitu untuk sementara kita impas, tapi entah untuk sesi penutupnya," Aga ikut terkekeh.


"Sesi penutup apa mas?"


Agastya membawa Aya ke dalam gendongannya menuju kamar mandi. "Tidur dalam keadaan kotor dan lengket oleh keringat dan cairan lain di tubuh kita pasti tidak nyaman, sayang. Lagi pula, aku adalah murid pandai yang tidak suka mengecewakan gurunya," bisik Agastya sambil menurunkan Aya dan membuat Aya berdiri menghadap dinding kamar mandi.

__ADS_1


"Terima hadiah terbaik dari muridmumu ini, bu guru cantik," kata Agastya sambil menghujam pusakanya, membuat Aya mendesis tak karuan.


__ADS_2