Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Agastya dan Zain


__ADS_3

"Nah, ceritanya kita pending dulu, Ga. Kita sholat Dzuhur terus lanjut makan siang. Oh iya, kamu sebaiknya menginap saja di rumahku, sebab abah sedang giliran menginap di rumah mamaku di kampung sebelah, hingga lusa," Zain memberi informasi pada Agastya.


"Baiklah," Agastya menyambut baik tawaran Zain, lalu memgikuti sahabatnya itu ke belakang mengambil wudhu. Usai sholat, Agastya duduk bersama keluarga Zain, beralaskan tikar rotan menyantap makan siang berupa ikan gabus goreng, asam manis ikan asin telang, sayur bening bayam dan sambal mangga muda buatan mama Alif. Hm, sederhana tapi rasanya spesial, nikmat sekali.


Lagi-lagi Agastya berharap suatu saat nanti dia dan Aya juga akan seperti ini nanti, makan bersama dikelilingi anak-anak mereka yang lucu dan pintar seperti Alif dan Amar. Ah, semoga disegerakan dan dimudahkan jalanku ya Allah, doa Agastya dalam hati.


***


"Abah, bikinkan mobil-mobilan," pinta Amar pada Zain sambil menyodorkan 2 buah jeruk Bali berukuran sedang.


"Sini biar paman saja yang bikinkan," Agastya menawarkan diri. Dan putra kedua Zain itu pun meletakkan jeruk Bali di hadapan Agastya.


"Paman, kata mama isi buahnya ditaruh sini," katanya sambil meletakkan mangkok alumunium berukuran sedang.


"Siap nak," jawab Agastya.


"Hihi, biasalah wanita hamil sukanya makan yang segar-segar, itu mamanya Alif pasti lagi ngidam, Ga. Isi buah jeruk Bali itu nanti dibikin rujak sama dia," ucap Zain sambil tertawa kecil.


Agastya mengangguk. Ah, rasanya ia sudah tidak sabar membuat Aya hamil, terus mengabulkan apa pun yang diminta istrinya itu nanti.


"Hm ... jadi, apa Arrabella yang mereka maksudkan itu benar adalah Aya, istrimu?" Zain melanjutkan perbincangan mereka sebelum makan siang tadi.


"Iya," sahut Agastya yang mulai asyik memisahkan kulit jeruk Bali dari isinya.


"Terus, kamu langsung memesannya dan ... kumpul dengan istrimu?"


Agastya menggeleng pelan. "Aku tidak langsung bertemu dengan Aya, tapi ketemu sama Irene."


"Siapa Irene?"

__ADS_1


"Zain, dulu Arrabella dijebak majikannya jadi jugun ianfu. Irene adalah pengelola ianjo saat itu."


"Apa dia tidak mengenalmu saat kalian bertemu?"


"Sepertinya tidak, aku hanya tahu Irene tapi memang tidak pernah bertatap muka apalagi berbicara dengannya. Saat itu tuan Takeshi sedikit kewalahan mengurus putrinya yang masih balita, tapi anehnya saat bertemu Aya di tangsi milik temannya, Himawari putrinya tuan Takeshi jadi penurut dan tidak mau jauh dari Aya. Lalu tuan Takeshi menebus Aya dari ianjo dengan bayaran yang mahal."


"Sebentar Ga, apa maksudmu ... tuan Takeshi membawa Aya keluar dari ianjo?"


"Benar."


"Apa tuan Takeshi me-"


"Tidak Zain, tuan Takeshi menebus Aya khusus untuk jadi pengasuh Himawari dan memasak untuk kami," potong Agastya yang mengerti arah pertanyaan Zain.


"Oh syukurlah, jadi cinta kalian bersemi karena kalian sama-sama bekerja pada tuan Takeshi, kamu sebagai asisten tuan Takeshi sering bersama Aya yang bertugas jadi pengasuh Himawari?"


"Oh, aku baru mengerti sekarang apa kaitan Arata, Irene dan Aya istrimu itu. Em, maaf ... meski ini pertanyaan pribadi, aku sungguh ingin tahu bagaimana reaksi istrimu saat kalian bertemu. Apa kamu meminta hakmu sebagai suami dengan cara membayarnya macam tamu yang biasa datang maaf, memakai jasa istrimu?" Tanya Zain hati-hati.


Agastya menggeleng pelan. "Amar, Alif ... sini nak, ini kapal dan mobil dari kulit jeruknya sudah jadi," seru Agastya memanggil kedua anak Zain.


Kedua lelaki kecil itu segera berlari kecil menghampiri paman Aga, mengucap terima kasih lalu siap bermain ke halaman.


"Nak, ingat sebelum maghrib harus sudah pulang, ya. Jangan sampai mama teriak-teriak menyuruh kalian pulang," pesan Zain pada kedua anaknya.


"Setelah sekian lama tidak bertemu kamu tidak rindu melakukan itu dengan istrimu?" Tanya Zain lagi.


"Rindu, tentu saja, sangat rindu malah. Tapi entah kenapa, mengingat jika aku bercinta dengan istriku dan membayar setelahnya lalu membayangkan pria lain pun melakukan hal yang sama padanya, aku jadi seperti lelaki yang tidak berguna, Zain. Walaupun Aya masih istriku, tapi jika aku masih harus berbagi dengan pria lain ... ah, mungkin seperti itu rasanya berzinah. Aku tidak mau melakukan itu dan hasrattku menguap begitu saja.


"Aku mengerti maksudmu, Ga," Zain menepuk pelan pundak Agastya.

__ADS_1


"Aku bahkan ingin langsung pergi dari situ setelah memastikan, benar Arrabella yang mereka maksud itu adalah Aya istriku, namun Aya menahanku. Ia memohon agar aku jangan pergi, dan memintaku tetap bersamanya hingga keesokan harinya, karena aku membayarnya untuk 'long time' serta menghindari kecurigaan. Semalaman kami hanya berbagi pelukan dan kisah selama kami terpisah, tidak ada percintaan yang panas. Hanya saling menguatkan dan menyusun rencana agar bisa membawanya keluar dari Evergreen."


"Hm, apa rencana kalian dan bagaimana caranya?"


"Aya bilang sejak semula Irene meminta tebusan 1 juta rupiah."


"Astaga itu jumlah tidak sedikit, Ga."


"Hah, itu pun kalau Irene bisa menepati kata-katanya, bagaimana kalau tidak? Aku ingat dulu waktu masih di ianjo, Irene menetapkan 300.000 gulden sebagai syarat Aya boleh keluar dari situ. Untungnya saat itu Ryujo ajudannya tuan Takeshi yang menyerahkan uang itu beserta gertakan-"


"Eh, sebentar ... jadi kita bisa melakukan trik yang sama untuk bisa membawa istrimu keluar dari wisma, Ga."


"Iya Zain tapi gimana? Uang belum tentu cukup kekuasaan hingga bisa menggertak juga tidak ada."


"Hei, jangan lupa kamu masih punya uang untuk modal usaha dari tuan Takeshi yang dititipkan pada abahku, tabunganmu hasil penjualan karet dari kebunmu sendiri, tabungan emas yang kamu titipkan sama mama Alif dari hasil membatang? Itu semua dikuras aja, Ga. Ah, kalau aku sih, gak masalah habis harta yang penting bisa bersama orang yang kita sayangi. Toh uang bisa dicari, sementara cinta?"


"Itulah yang kupikirkan, Zain. Aku sudah menghitung-hitung, ambil semua pun belum genap 1 juta. Itu baru buat nebus Aya, lha buat lain-lainnya termasuk rencanaku membuat syukuran nikah dan bikin rumah untuk kami nanti, gimana?"


"Astaga Aga, kamu ini mikirnya rumit banget. Muter-muter terus bingung sendiri, aiiish ... keburu disambar orang bini kamu, atau gini aja deh, lupakan Aya-mu itu. Kamu cari aja perempuan di sini, tuh adiknya mama Alif ada yang perawan, lamar aja. Kan seru kita jadi keluarga beneran karen istri kita saudara kandung," sengaja Zain melemparkan ide-nya untuk memacu Aga berpikir dan bertindak gesit.


"Zain ... sekian lama aku mencari dan bertahan dalam kesendirianku demi menunggu kesempatan boleh dipertemukan dengan istriku, kamu tahu yang kucari bukan sekedar teman tidur tapi teman sehidup-semati. Kalau cuma teman tidur, dari dulu mungkin aku sudah menikahi perempuan yang mungkin tidak kucintai atau ... ya sudah, beli aja seperti yang dilakukan bang Latif, haha. Lain cerita kalau aku menemukan kenyataan misalnya, Aya meninggal ... baru aku akan mencari penggantinya," tutur Agastya.


"Aku mengerti, Ga. Aku tahu, yang punya uang dan kuasa untuk membebaskan istrimu adalah ... abahku, aku yakin abahku pasti bisa menolongmu."


"Ya, aku harap juga begitu, mengingat abahmu sangat disegani di daerah kita."


"Tapi gimana ya Ga, abahku itu walaupun punya banyak istri, beliau anti main perempuan dan mengunjungi tempat begituan."


"Semoga saja hati abahmu luluh jika kuceritakan semuanya," harap Agastya.

__ADS_1


__ADS_2