Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Keputusan Aya


__ADS_3

Pak Ruslan telah diperbolehkan pulang dengan catatan harus kembali kontrol 3 hari kemudian. Mengingat Aminah, istri muda pak Ruslan yang dikabarkan sedang sibuk merawat ayahnya sampai-sampai tidak sempat menjenguk pak Ruslan saat dirawat, maka diputuskan untuk sementara pak Ruslan tinggal bersama ibu Siti.


Zain dan adiknya senang ketika pak Ruslan bersedia tinggal bersama ibu mereka, dan berjanji untuk bergantian menjenguk orang tua mereka di rumah itu, berbeda halnya jika pak Ruslan berada di rumah yang ditempati bersama Aminah, tentu mereka tidak akan leluasa.


"Singgah ke rumah saya ya, pak," tawar Zain pada Takeshi saat mereka meninggalkan kediaman bu Siti.


Takeshi mengangguk setuju, mengingat Himawari yang dititipkan pada istri Zain sebelum mereka pergi ke rumah sakit.


"Maaf jadi merepotkan keluargamu," ujar Takeshi memecah kesunyian mereka di sepanjang perjalanan.


"Ah, tidak merepotkan sama sekali, pak. Justru kami merasa senang sekali, sebagai sahabat abah, bapak mau jauh-jauh menjenguk."


"Bukan itu, tapi Himawari dan ..."


"Ooh itu juga gak masalah, pak. Hampir tiap hari halaman rumah kami dijadikan tempat anak-anak bermain. Dengan adanya putri bapak, tentu anak-anak itu akan makin seru bermain," jawab Zain seraya terkekeh sendiri.


"Hm, keberadaan Aga dan Aya di sini ... Sepertinya hanya menambah masalah saja."


"Maaf," cicit Aga pelan.


"Pak, masalah selalu ada selama manusia bernapas. Hanya tinggal bagaimana menyikapinya saja dan aku berharap pak Takeshi bisa memberi solusi untuk mereka berdua," harap Zain.


Takeshi perlahan menghirup udara. "Kita lihat nanti, aku susah memutuskan jika belum mendengar kisah dari sisi Aya."


Tiba di rumah Zain, Takeshi mengusap air mata yang merembes dengan sapu tangannya saat melihat bagaimana gadis kecilnya bergelayut manja dengan Aya, perempuan yang pernah ia harap menjadi ibu sambung bagi Himawari.


"Seandainya aku tahu kamu akan mengecewakannya, aku tidak akan melepaskan Aya untukmu, Ga," gumam Takeshi pelan namun masih terdengar oleh Aga.


"Maaf pak, ini hanya kesalahpahaman," sahut Aga sedikit membela diri.


"Sampai dia tidak mau kembali ke rumah kalian, itu artinya sesuatu yang fatal, Ga."


"Iya, pak. Maaf, saya bersalah dan terlalu egois," jawab Aga lagi.

__ADS_1


Takeshi menghela nafas.


"Papa, kenapa tidak bilang kalau kita akan bertemu dengan Sora?" ujar Himawari sambil menghampiri ayahnya.


"Anggap saja kejutan, sayang. Kamu senang, tidak?" tanya Takeshi lembut.


"Sangat, sangat dan sangaaaaat tenang. Apalagi Sora bilang ... Dia mau ikut dengan kita," ucap Himawari, sontak membuat Aga terkesiap.


"Hm, benarkah?"


Himawari mengangguki pertanyaan ayahnya dengan mata yang berbinar ceria.


"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi ya, sayang," kata Takeshi sambil mengelus pucuk kepala putrinya


Sementara Aga hanya tertunduk lesu mendengar perkataan Himawari. "Apakah ini berarti Aya tidak mau memaagkanku dan pernikahan kami sudah tidak dapat dipertahankan lagi?" batin Aga cemas.


Usai makan malam bersama keluarga Zain, Aga mengajak Takeshi, Himawari juga Aya kembali ke rumah mereka. Zain yang mengerti bahwa ke tiga orang dewasa itu perlu bicara serius, berinisiatif menahan Himawari untuk tetap tinggal di rumahnya, dan gayung pun bersambut, Himawari bersedia karena gadis kecil itu sangat senang bersama teman barunya, anak-anak Zain terlebih dengan keberadaan bayi mungil, putri bungsu Zain.


Walaupun sungguh tidak bermaksud turut campur dalam urusan rumah tangga Aga dan Aya, tapi Takeshi merasa perlu menengahi kemelut diantara kedua mantan pekerjanya itu dan syukurnya kali ini Aya tidak keberatan untuk ikut pulang.


Baik Aga maupun Aya tidak ada yang membuka suara, Aya malah hanya tertunduk menghindari tatapan suaminya.


"Ayo, apa tidak ada salah satu dari kalian yang ingin memulai? Aku ada di sini untuk mendengarkan dan syukur-syukur jika bisa memberi solusi bagi kalian berdua," kata Takeshi lagi.


"Aku tidak tahu kenapa aku bisa berdua dengan pak Ruslan di tempat tidur dalam keadaan yang tidak pantas tapi dia tidak mau mendengar alasanku, dia sudah tidak lagi mempercayaiku," cicit Aya terdengar lirih.


"Maafkan aku, sayang," ujar Aga.


Aya menggeleng lemah, "Aku sudah memaafkanmu tapi jika kamu berharap aku kembali bersamamu seperti sedia kala, di rumah ini ... Aku tegaskan, itu tidak akan pernah menjadi mungkin."


"Aya, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kamu dan pak Ruslan dijebak, kalian adalah korban fitnah dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Aku mohon Aya, maafkan aku dan kembalilah bersamaku."


Aya tersenyum miris, " Setelah kamu bilang sudah muak melihatku dan dengan begitu mudahnya kamu kumpulkan pakaianku ke dalamm tas lalu melemparkannya padaku dan mengusirku, sekarang kamu ingin aku kembali? Tidak akan Aga!" sahut Aya.

__ADS_1


Aga tersadar, bahkan cara Aya memanggilnya pun kini sudah berubah, tanpa 'mas' lagi.


"Aya, suamimu sudah meminta maaf. Tidak bisakah kamu lembutkan hatimu dan menerima permintaan maaf suamimu, hm? Aku yakin, kalian bisa mulai dari awal lagi," saran Takeshi.


"Pak, aku ini hanya seorang pelacur yang ingin bertobat dan hidup baik-baik. Bahkan Aga harus menebusku dengan sejumlah uang yang besar agar aku bisa kembali bersamanya tapi, dia sama sekali tidak menghargaiku kemudian, aku kecewa!" Aya mulai terisak.


"Aku tahu, aku mengerti apa yang kamu rasakan, Aya," timpal Takeshi.


"Cukup, pak. Kalian itu sama-sama lelaki, wajar jika saling membela. Padahal kalian tahu persis kalau keadaanlah yang membuatku terpaksa digilir oleh berbagai lelaki hidung belang sejak aku belia, dan kejadianku dengan pak Ruslan waktu itu pun juga karena jebakan. Pak Takeshi, aku tidak pernah lupa bagaimana suamiku sendiri meneriakiku 'sekali pelacur tetaplah pelacur!' Kalian sunguh tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku," jerit Aya.


Takeshi menatap tajam ke arah Aga. Entah apa tindakannya jika ia berada di posisi Aga saat itu, namun yang sangat disesalkan pria Jepang yang masih terlihat tampan diusia matang itu adalah begitu gampangnya emosi Aga tersulut hingga tidak memikirkan kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Jadi sekarang, apa maumu Aya?" Tanya Takeshi pelan.


"Sesuai keinginannya, pak. Aku tidak mau bersamanya dari pada dia muak melihatku."


"Sayang, sudahlah. Jangan ungkit-ungkit lagi perkara itu. Kita mulai lagi dari awal, ya?" pinta Aga.


"Tidak mau, aku mau pergi dari kota ini!"


"Jangan Aya, aku mohon dengan sangat," harap Aga lagi.


"Sekali tidak, tetap tidak."


"Aya tolong pikirkan lagi keputusanmu ini," ujar Takeshi penuh harap sama seperti Aga.


"Aku sudah memikirkan hal ini selama aku tinggal di rumah Zain, jadi apa yang kuputuskan ini sudah kupikirkan matang-matang. Pak Takeshi, apakah anda ingin hubunganku dan Aga membaik?"


"Ya, tentu saja. Aku mau kalian hidup rukun dan bahagia."


"Kalau begitu, tolong bawa aku pergi dari tempat ini karena kebahagiaanku adalah saat tidak lagi bersama Aga." Usai berkata demikian, Aya pamit meninggalkan kedua lelaki yang pernah sangat berarti untuknya, ia kembali ke rumah Zain.


"Jadi bagaimana ini, Ga? Aku gagal memediasi kalian," sesal Takeshi.

__ADS_1


"Kita ikuti saja maunya Aya, pak. Mau bagaimana lagi? Aku tahu Aya sangat kecewa, semoga waktu menyembuhkan luka hatinya dan aku yakin suatu saat ia bisa menerimaku kembali," tutur Aga.


__ADS_2