
"Baiklah. Em, tapi maafkan jika kami lancang, tuan. Kami melihat gerak tuan sedikit terbatas sejak Himawari bersama tuan ... kami pikir, tuan perlu seorang pengasuh untuk Himawari, maaf," ujar Ryujo hati-hati.
Takeshi menghela nafas sebelum menyahut, "Ya, aku mengerti dan juga sependapat dengan kalian. Sekarang apa kalian punya calon yang sekira cocok dengan Himawari?"
"Ada, tuan. Kebetulan Monic mengenal gadis itu karena pernah bekerja dengannya. Gadis itu masih sangat muda dan juga mempunyai adik yang mungkin seusia dengan Himawari, jadi selain sebagai pengasuh gadis itu tentu bisa menjadi teman bagi Himawari," ungkap Ryujo.
"Hm, ini juga yang mau kubicarakan dengan kalian. Aku baru saja menemukan orang yang mungkin bisa jadi pengasuh Himawari. Tadi sore saat berkunjung ke tangsi Katsuro, aku melihat sendiri bagaimana Himawari langsung lengket dengan gadis ianjo yang disewa Katsuro."
Ryujo terbelalak karena antusias. "Tuan Katsuro? Tadi pagi saat rapat, tuan Katsuro mengatakan kalau pekerjaannya terkait surat menyurat banyak dibantu oleh gadis ianjo, Arrabella."
"Benar, Arrabella ... calon pengasuh yang kumaksud itu adalah Arrabella," jawab Takeshi.
"Apa? Kebetulan sekali. Syukurlah." Ekspresi terkejut sekaligus lega kedua suami-istri itu membuat Takeshi keheranan.
"Kenapa?"
"Gadis yang mau kami usulkan jadi pengasuh Himawari adalah Arrabella, tuan," kata Ryujo.
"Benar, tuan. Hanya saja kami bingung, apakah tuan bersedia atau tidak karena Arrabella yang berstatus jugun ianfu," timpal Monic.
"Ah, itu yang sedang kupikirkan," sahut Takeshi.
"Tuan, maaf. Kami mengajukan Arrabella sebagai pengasuh Himawari sesungguhnya demi mengurangi rasa bersalah istriku."
"Rasa bersalah istrimu, kenapa?"
"Tuan, Arrabella adalah gadis baik dan rajin. Aku tahu dia gadis yang terpelajar, makanya aku mengimingkan beasiswa ke Jepang demi mengangkat taraf hidup keluarganya, padahal aku hanya menjadikannya gadis ianjo. Aku merasa bersalah, sementara aku bahagia dengan kehidupanku saat ini, dia yang tidak tahu apa-apa malah aku jadikan mangsa pria hidung belang di sana," sesal Monic.
"Aku hanya takut, gadis ianjo itu berpengaruh buruk terhadap Himawari," Takeshi mengungkapkan keresahannya.
"Aku bisa menjamin itu tidak akan terjadi, tuan. Aku sendiri yang akan membantu tuan mengawasi Arrabella," janji Monic.
"Ba...," Belum lagi Takeshi selesai menyahut, tiba-tiba terdengar tangis disertai teriakan Himawari.
"Papaaa!"
"Papaaa!"
"Papa, mana Sora? Huuu, huuu ... Hani mau Sora."
Takeshi bergegas menghampiri putrinya yang sudah berdiri diambang pintu bilik Ryujo.
"Sayang, kamu mimpi buruk lagi atau mau minum susu?" ucap Takeshi dengan nada lembut sambil menggendong putrinya.
__ADS_1
Himawari menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Sora menghilang," adunya.
"Sora tidak menghilang, dia hanya berada di suatu tempat. Jika kamu kembali tidur, maka besok dia akan datang untukmu."
"Tidak mau. Aku tidak mau tidur lagi, Sora pergi saat aku tidur." Himawari meloncat dari gendongan ayahnya dan melanjutkan amukannya sambil menghentak-hentakkan kakinya dilantai.
"Huuu, huuu ... cepat cari Sora, papa!" perintah gadis kecil itu disela-sela raungannya.
Ryujo dan Monic bingung, mereka tidak tahu cara menenangkan anak kecil yang histeris seperti itu. Bahkan, selama Himawari bersama mereka, ini amukan terngeri yang mereka hadapi.
Takeshi membiarkan saja Himawari dengan tingkahnya itu. Justru dengan tenang meminum air putih yang disedikan Monic.
"Kalian lihat? Betapa terikatnya perasaan Himawari terhadap Arrabella. Sora yang dia maksud adalah Arrabella dan Himawari meminta Arrabella memanggilnya dengan sebutan Hani, nama kesayangan dari Fuyumi, ibunya."
Ryujo dan Monic melongo, ibaratkan mencari jodoh ... hal kebetulan itu terjadi seolah mempermudah jalan perjodohan.
"Em, tuan ... apakah tuan berniat menebus Arrabella?" tanya Ryujo.
Takeshi melihat Himawari yang masih setia dengan tangisannya, "Ya, bahkan aku sudah memberi uang muka 200.000 gulden."
"Berarti tinggal menambah 100.000 gulden saja, Arrabella bisa di bawa kemari," sahut Monic.
"Kekurangannya 300.000 gulden, tadi aku tidak membawa uang sebanyak itu. Jadi aku berencana meminta Ryujo menjemputnya besok pagi di ianjo."
Monic terkejut, "Ja-jadi mami Irene meminta 500.000 gulden? Mahal sekali. Biasanya di kisaran 200.000 gulden saja, tertinggi 300.000 gulden, itu pun belum tentu ada yang mau."
"Kalau begitu, aku akan ke ianjo malam ini juga untuk menjemput Arrabella."
"Tidak bisa, Irene bilang gadis itu harus mempersiapkan keperluannya dan berpamitan pada teman-temannya terlebih dahulu."
"Ah, itu hanya akal-akalan Irene saja, tuan. Sudahlah, dari pada Himawari menangis sepanjang malam, lebih baik aku ke sana saja, aku tahu bagaimana cara berbicara dengan Irene." Ryujo bergegas mengambil kunci mobil.
"Himawari," Ryujo mengelus kepala gadis mungil itu. "Jika kamu mau diam, maka aku akan membawakan Sora untukmu."
Himawari menghentikan tangisnya, "Apa itu benar?".
"Aku tidak pernah berbohong, lihat ... aku sudah memegang kunci mobil," jawab Ryujo sambil menunjukkan benda di kamarnya.
"Kalau begitu aku akan ikut mencari Sora," mata yang basah itu mulai berpendar ceria.
"A'aa ... tidak bisa. Kamu tidak bisa ikut. Kamu lihat? Jika aku pergi siapa yang menemani istriku di sini, dia akan menangis jika sendirian," bujuk Ryujo.
"Aku mau ikuuut," Himawari kembali bersiap-siap menangis lagi.
__ADS_1
"Himawari, dengar ... jika kamu mau menemani istriku dan adik bayi yang ada di perutnya ini, maka aku dan papamu akan segera kembali membawa Sora kemari." Ucap Ryujo mengelus perut istrinya.
"Ya, Ryujo benar. Apalagi jika kamu menghabiskan sebotol susu ini, maka malam ini juga kamu akan bertemu Sora-mu itu," tambah Takeshi sembari menyodorkan susu pada anaknya.
Himawari mengangguk antusias. Segera saja tangan mungilnya itu menyambut botol susu dari tangan Ayahnya. "Aku mau minum susu, aku mau Sora cepat kemari," kata gadis imut itu sebelum menyesap ujung botol susunya.
***
"Tuan tidak masalah harus ke ianjo dan menebus gadis di sana untuk dibawa pulang?" tanya Ryujo sambil menyupir mobilnya.
"Yah kamu tahu sendirilah Ryujo. Jika bukan demi Himawari aku tidak akan ke situ."
"Tuan, maaf. Jika Himawari saja tertarik dengan Arrabella apa mungkin ... tuan juga akan-"
"Ah, aku tahu maksudmu, Ryujo." Takeshi menepuk bahu ajudannya. "Ya tentu saja, tidak menutup kemungkinan jika kemudian ada getar-getar cinta antara aku dan Arrabella, maka aku akan menikahinya. Sehingga dia resmi menjadi ibu anak-anakku nantinya."
"Apa tuan tidak masalah, jika seandainya menikahi gadis mantan jugun ianfu?"
"Ah, tentu tidak. Kamu tahu kan, kalau cinta tidak kenal logika apalagi tata krama, contohnya kamu dan Monic yang diam-diam berhubungan di belakang Isao," sahut Takeshi setengah meledek ajudannya.
Ryujo terkekeh. "Hm, aku pikir tuan anti sama perempuan nakal."
"Haha, yang bikin anti itu karena status yang tidak resmi, selain zina adalah dosa, rasanya aneh saja harus bergantian barang pribadi dengan orang lain. Tidak asyik. Tapi kalau masalah kenakalan ... jujur saja, kamu juga suka kan di nakali oleh istrimu?" goda Takeshi.
"Aduh bicara soal nakal-nakalan dengan istri, aku jadi pengen putar balik saja, tuan. Kangen Monic, nih."
"Aduuuh, baru gitu saja sudah tidak tahan. Apa kabar aku yang dulu terpisah jarak dengan istri dan sekarang malah terpisah alam dengan Fuyumi?"
"Ah, itu kan hanya tuan saja yang mampu memendam hasrat. Aku tidak bisa dan tidak sanggup berjauhan dengan istriku, tuan."
Takeshi terkekeh, "Kalau begitu cepatlah, agar kita segera membawa Arrabella pulang."
"Kalau tuan sudah tidak tahan lagi aku akan menunggu tuan menyelesaikan keinginan tuan dengannya di kamar VIP ianjo."
"Ck, sembarangan! Kamu lupa Himawari yang mengamuk tadi?"
"Kalau Himawari tidak mengamuk?"
"Ngapain juga aku malam-malam ke ianjo," sahut Takeshi sewot dan itu membuat Ryujo terbahak.
"Haha, sesuatu yang harusnya tersalurkan sebaiknya yang dihalangi, tuan. Nanti malah bermasalah dengan prostat lho," pancing Takeshi.
"Iya, aku tahu itu. Usiaku masih produktif, hasratku juga masih normal ... jangan dikira aku baik-baik saja melihat kalian bermesraan dengan istri. Aku juga rindu belaian wanita, tapi harus istriku. Sayangnya Fuyumi waktu itu sakit-sakitan sehingga tidak bisa kuajak ke sini terus kemudian dia meninggal dunia, ah ... gimana aku bisa menyalurkannya?"
__ADS_1
"Gampang, nikahi saja Arrabella malam ini. Himawari pasti bahagia jika 'Sora' yang jadi istri tuan."
"Dasar ajudan ga ada akhlak," rutuk Takeshi.