
Usai sarapan, pak Ruslan mengantar Agastya menuju pelabuhan dimana kapal Zain tertambat.
"Zain, kemari," lambai pak Ruslan pada seseorang di kapal.
"Inggih, bah. Ada apa?" Lelaki yang dipanggil Zain itu mendekat.
"Perkenalkan ini Agastya, asistennya tuan Takeshi."
"Oh, orang Jepang yang menolong kita waktu itu. Memang ada apa sampai tuan Takeshi mengutus asistennya kemari?" Zain menjulurkan tangannya pada Agastya dan keduanya pun berjabatan.
"Zein."
"Aga."
"Begini, tuan Takeshi minta abah menampung Agastya dan memberinya pekerjaan atau membuatkan usaha apa, terserah kita gitu, Zain. Abah minta Agastya istirahat barang sehari dua hari lagi, tapi dianya gak mau. Maunya langsung kerja, gitu," tutur pak Ruslan.
"Oh ... jadi maksud abah, Agastya mau dititipin kerja sama aku, ya?" Tebak Zain.
"Iya, bisa kan, Zein?"
"Bisa sih, tapi .. gimana dengan status-nya yang asisten tuan Takeshi? Kan kalau kerja di kapal, berminggu-minggu baru bisa kembali ke sini."
"Eh ... maaf bang Zein, sebenarnya saya ada masalah sehingga saya berhenti jadi asistennya tuan Takeshi," jelas Agastya.
"Tapi masalahnya tidak sama tuan Takeshi, kan?" Tanya Zain lagi.
"Ya jelas tidaklah, tuan Takeshi sudah menjelaskan semua di suratnya. Intinya, karena Indonesia sudah merdeka, tuan Takeshi harus segera kembali ke Jepang dan tidak bisa membawa serta Agastya," timpal pak Ruslan.
"Oh, baiklah kalau begitu. Saya tidak mau, kalau sampai bermasalahnya dengan tuan Takeshi, pasti orang itu yang gak beres. Baiklah bah, mulai sekarang Agastya kerja dengan aku saja," kata Zain membuat Agastya tersenyum senang.
"Baiklah, kalau begitu abah nitip Agastya ya Zain. Kerja yang benar dan semoga berkah," pungkas pak Ruslan sebelum meninggalkan pelabuhan.
"Amin. Terima kasih, bah. Jaga diri baik-baik," Zain melambaikan tangan pada ayahnya.
__ADS_1
***
"Ehm, Zain ... kamu benar anaknya pak Ruslan dan bu Aminah?" Tanya Agastya.
"Iya, tapi anak abah dengan mama Zuleha, istri pertama. Aminah itu ibuku tiriku, istri ke tiga."
"Oh, pantas saja bu Aminah tampaknya masih muda tapi kok anaknya sudah dewasa."
"Haha, Aminah bahkan lebih muda dariku 2 tahun, Agastya. Kenapa kamu pengen kerja berat sama aku?"
"Ah, gak enak aja lama-lama tinggal di rumah abahmu, macam pengangguran saja."
"Aish ... gak enak nganggur, apa takut tergoda sama Aminah?" Tebak Zain.
"Ehm ..." Agastya tidak enak berkata yang sebenarnya.
"Gak apa-apa, aku ngerti, kok. Aminah itu rada-rada begini," Zain memiringkan telunjuknya miring di dahi. "Aku juga pernah digoda sama Aminah. Parahnya dia mengarang cerita ke abah, aku yang menganggunya. Hubunganku dengan abah sempat renggang, makanya kemudian aku keluar dari rumah itu, bekerja di kapal dan menikah. Terus Aminah-nya jadi malu sendiri, apalagi setelah kejadian itu, ada orang yang juga nyari kerja sama abah digoda tapi ketahuan pas abah pulang lebih cepat ke rumah. Abah lihat sendiri gimana genitnya Aminah sama pria yang lebih muda, haha. Aminah sempat hampir dicerai sama abah tapi gak jadi, alasan Aminah karena khilaf dan janji gak ngulangi lagi tapi ya gitu ... Aminah masih saja suka goda-goda gitu, padahal orang-orang respek banget sama abah," jelas Zain.
Agastya tersenyum mendengar penuturan Zain, "Untung saja aku bisa keluar dari rumah itu, Zain. Ngeri juga kalau digoda terus-terusan, haha ... oh iya, kamu bilang tadi kamu sudah menikah ya, Zain?"
"Senang ya, sudah punya anak dan istri," Agastya menatap langit biru yang berarak di atas kapal mereka yang mulai menjauh dari pelabuhan.
"Begitulah, demi mereka anak dan istriku, aku bekerja keras."
"Senang banget ya, punya istri, anak, keluarga yang selalu menanti kepulangan kita."
"Ya ... begitulah. Kalau kamu, sudah berkeluarga?"
"Sudah, tapi ... kami belum sempat punya anak dan istriku diculik beberapa waktu lalu, aku kehilangan jejaknya. Bahkan orang-orang tuan Takeshi tidak dapat menemukan keberadaan istriku."
"Maaf telah membuatmu sedih, aku berdoa kamu bisa segera bertemu istrimu ya, Agastya."
"Iya Zein, terima kasih. Biar akrab, cukup panggil aku Aga saja."
__ADS_1
"Baiklah, Aga."
***
Agastya yang ramah dan supel itu berkawan baik dengan Zain dan beberapa pekerja lainnya. Berminggu-minggu mereka keluat masuk hutan, mengumpulkan kayu dan mengantarnya ke pemesan. Istirahata beberapa hari, kemudian lanjut lagi. Begitu terus hingga tak terasa sudah lebih 3 tahun mereka bekerja sama.
Suatu hari Zain sakit dan terpaksa menyerahkan kepemimpinannya kepada anak buahnya yang bernama Latif, untuk mengurus segala sesuatu.
Latif pribadinya sedikit berbeda dengan Zain. Jika Zain tidak ngejar target dan selalu pulang ke rumah jika sudah pergi bekerja selama 1 atau 2 bulan ... Latif tidak, baginya pulang pergi seperti itu membuat tidak efisien baik dari segi tenaga dan waktu. Ia tidak terbeban pulang menengok keluarganya seperti Zain, baginya mau pergi berapa lama pun asalkan kembali membawa uang lebih banyak, orang rumah pasti menerima alasannya.
Latif juga punya istri lain yang rumahnya tidak jauh dari hutan yang sering mereka singgahi untuk mencari kayu, jadi bebannya 'terpecah', Latif semangat cari uang lebih banyak karena istri yang menjadi tanggungannya juga lebih dari 1. Bahkan, demi mengejar target, Latif memutuskan menjual kayu pada pembeli terdekat, dan menunda pemenuhan pesanan sebelumnya, baginya yang penting bekerja cepat menghasilkan uang.
Agastya dan pekerja lain menurut saja bagaimana baiknya, termasuk jika Latif mengajak mereka bertambat di pelabuhan yang tempatnya cukup ramai, Latif pasti mengajak mereka singgah untuk beristirahat dan tidur di penginapan, seperti saat ini.
"Ayo kita sekali-kali refreshing. Kerja harus seimbang dengan bersenang-senang sebagai bentuk penghargaan untuk diri kita sendiri, biar lebih semangat lagi kerjanya," kata Latif pada para pekerja, termasuk Agastya.
"Refreshing apa nih maksudnya bang? Perasaan kota ini biasa aja, sama kaya tempat kita," salah satu pekerja menanggapi saran Latif.
"Haha, kita ini pria dewasa yang jenuh bekerja dan kondisi jauh dari kasih sayang wanita ... menurutmu apa refreshing yang cocok untuk kita?" Latif balik bertanya tapi tidak ada yang menjawab.
"Kudengar di sini ada wisma yang menyediakan layanan spesial, ceweknya cantik-cantik bahkan ada juga yang keturunan Belanda, kalian tidak ingin mencoba?" Lanjut Latif lagi.
"Ish ... abang ini, sudah punya 2 istri juga masa masih mau senang-senang sama cewek lain?" Protes Agastya.
"Ck, istri ya istri ... terkadang bosan juga pulang ke rumah, mereka malah sibuk ngurus rumah, ngurus anak ... kebutuhan suami yang pulangnya jarang-jarang jadi terabaikan. Ketemu ditempat tidur, udah capek duluan. Sementara kalau cewek-cewek itu kan, tugasnya memang khusus melayani kebutuhan kita yang satu itu. Sistem bayar, putus. Gak ada tuntutan lain-lain macam kita sama istri," Latif mengemukakan asumsinya.
"Baiklah, aku tertarik bang. Aku ikut ke wisma sama abang ya," kata salah satu pekerja.
"Aku juga, aku juga," timpal yang lain.
"Kamu Aga, gak ikutan?" Tanya Latif.
"Ah, tidak bang. Saya istirahat di kapal aja," sahut Agastya.
__ADS_1
"Aish ... kamu ini Ga, punya uang buat apa juga sih? Ayolah sesekali bersenang-senang, lagi pula kamu terpisah cukup lama sama istrimu, masa gak rindu kehangatan perempuan?" Latif mencoba mempengaruhi pendirian Agastya.
"Ah, belum kefikiran, bang ... terima kasih," tolak Agastya halus.