Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Terima Saja


__ADS_3

Sementara Aya mencoba berdamai dengan nasibnya, berbeda dengan Clay, kakak kandung Aya yang menjalani hidup yang tampak baik-baik saja tapi nyatanya harus menghadapi pergumulan yang pelik menurutnya; kehadiran keturunan, buah cintanya dengan Yusuf.


"Bang, tolong aku ..." rintih Clay yang terduduk pucat di kamar mandi. Sudah sejak tadi malam Clay menahan rasa nyeri di area perut dan pinggangnya, namun baru pagi ini ia berani mencoba bergerak ke kamar mandi ia takut keluar flek lagi, jika semakin banyak flek dia bisa keguguran lagi.


"Sayang, kamu kenapa?" sahut Yusuf panik saat melihat darah menggenang di sekitar lantai kamar mandi tempat Clay terduduk.


Clay menangis sesengukan. "Bang, sepertinya aku akan keguguran lagi, hiks"


"Ssttt, belum tentu sayang. Ayo kita ke rumah sakit, biar kamu segera ditangani, ya." Ajak Yusuf sambil merengkuh istrinya yang lemah.


Di rumah sakit.


"Salah satu janin kalian tidak berkembang dan janin yang satunya lagi sangat lemah. Maaf dokter Yusuf, kita harus segera melakukan kuret pada istri anda," kata dokter kandungan usai memeriksa keadaan Clay.


"Apa tidak ada tindakan lain untuk bisa mempertahankan janin yang lemah itu?" harap Yusuf.


Dokter itu menggeleng lemah, "Maaf dokter Yusuf, dengan sangat menyesal saya katakan, janinnya sungguh tidak bisa dipertahankan lagi. Kita harus segera melakukan kuret kalau tidak, istri anda akan terus mengalami pendarahan dan itu berbahaya bagi kesehatan istri anda."


"Baiklah, silakan ditindaklanjuti, Dok." Yusuf hanya bisa pasrah meskipun ia dan Clay susah sangat ingin memiliki anak, tapi keadaan tidak memungkinkan.


Satu sisi, Yusuf sangat sedih atas kehilangan 2 janin sekaligus tapi, sebagai seorang suami Yusuf tidak mau menampakkan kesedihannya. Dalam keadaan ini, Yusuf harus bisa menguatkan dan membesarkan hati istrinya.


"Sayang, aku mohon terima saja takdir yang disah digariskan untuk kita. Yakinlah, Allah akan memberikan pengganti anak-anak yang telah tiada bahkan sebelum kita melihatnya," hibir Yusuf.


"Tapi bang ... ini sudah yang ketiga kalinya aku keguguran dan kita telah kehilangan 4 calon anak-anak kita. Aku tidak yakin bisa hamil lagi dan memberikan keturunan untukmu."


"Sayang, tidak boleh berkata seperti itu. Jangan mendahului kehendak Allah. Optimis saja, suatu saat kamu bisa hamil lagi. Yang penting kamu sehat dulu, ok?"


Clay menghembus nafasnya perlahan. "Bang, bagaimana kalau aku tidak bisa hamil lagi?"

__ADS_1


"Sayang, please ... ." Mohon Yusuf.


"Aku hanya ingin tahu pendapatmu bagaimana kalau kita pada akhirnya tidak punya anak?" cecar Clay.


"Ya, mau gimana lagi? Kita tetap akan bersama hingga kematian memisahkan kita. Kalaupun kita tidak punya anak, kita tidak sendirian bukan? Diluar sana masih banyak orang tua yang menantikan buah hati seperti kita dan juga ... mungkin kita bisa mengadopsi anak-anak yang kehadirannya tidak diinginkan orang tuanya," solusi Yusuf.


"Maafkan aku, Bang."


"Hei, kamu tidak perlu minta maaf. Semua bukan karena kesalahanmu. Kita sudah berusaha merawat dan mempertahankan kandunganmu, sampai-sampai kamu harus bedrest total dan mengkonsumsi penguat kandungan. Kita sudah menyerahkan segalanya ke Yang Maha Kuasa, maka yakinlah ini adalah yang terbaik untuk kita."


"Bang ... ."


"Iya, sayang?"


"Jika abang mau memiliki keturunan sendiri, maka aku izinkan abang menikah lagi," tutur Clay dengan suara yang lirih.


"Bang, aku sungguh ingin menimang anak. Setidaknya kamu cari perempuan yang mau melahirkan anak bagimu, kita besarkan sama-sama."


"Aku tidak mau membagi cintaku dengan wanita manapun selain kamu."


"Abang tidak perlu mencintainya, cukup nikahi lalu buat dia mengandung dan memberimu keturunan. Aku ikhlas berbagi dengan perempuan itu, tapi kalau dia yang tidak bersedia, ceraikan saja. Ambil hak asuh anak dan kita yang membesarkan anak itu nantinya."


"Cukup Clay, kamu pikir akan semudah itu? Sudahlah, aku tidak mau apaoin alasannya. Aku mohon, jangan membahas ini lagi." Tegas Yusuf yang tersulut emosi mendengar kata-kata istrinya. Terpaksa Yusuf meninggalkan Clay yang sedang terisak, Yusuf harus menenangkan dirinya, sebab itu ia menuju mushola dan berwudhu. Hanya Allah yang tahu kondisi hatinya, hanya Allah tempatnya mengadu.


***


"Arrabella, tuan Katsuro memintaku untuk menanyakan kesedianmu, apakah kamu mau jika beliau mengajakmu keluar?" tanya Irene.


"Tuan Katsuro yang mana, ya?"

__ADS_1


"Panglima perang yang kau layani sebelum Akeno tadi malam," jelas Irene.


"Oh tuan itu, apa maksud mami dia akan menebusku?" Ada secercah harapan dibalik pertanyaan yang Aya ajukan pada Irene.


"Ah, tidak. Dia akan membayarmu mahal, tapi tidak bermaksud menebusmu. Dia hanya ingin kau menemani beberapa malam di tangsi khususnya."


"Tangsi khusus?" Kedua manik mata hazelnut Aya yang tadi sempat berbinar jadi redup. Ternyata lelaki itu tidak ingin menebusnya, hanya ingin memilikinya selama beberapa malam saja. Bayangan kejadian ketika Isao membawa dan menyekapnya di tangsi khusus kembali melintas.


"Bagaimana, Arrabella? Irene menunggu keputusan Aya.


"Menurut mami, tuan Katsuro itu bagaimana?" Aya menjawab pertanyaan Irene dengan pertanyaan lain.


"Hm, kamu sendiri sudah merasakan bagaimana tuan Katsuro memperlakukanmu semalam, jadi aku pikir kamu lebih tahu. Apapun keputusanmu, aku terima. Hanya saja, jika kamu menerima tawaran beliau tentu kamu akan mendapat pembayaran yang lumayan."


"Ah, tuan itu ... lelaki tua itu hanya mementingkan kebutuhannya saja, dia tidak memikirkan aku yang tidak puas saat bermain dengannya lagipula dia hanya memberiku tips 50 gulden tadi malam," sahut Aya setelah sejenak berpikir.


"Ahaha, kamu semakin pintar saja, Arrabella. Ternyata kamu sudah tahu nikmatnya bermain-main dengan pria dan berharap bonus yang setimpal dengan kepuasan yang kamu berikan," goda Irene membuat Aya tersipu.


Penilaian Irene benar. Aya memang sudah memahami cara kerjanya sebagai gadis ianjo dan juga mulai menikmati pekerjaannya itu.


Meskipun harus menggadaikan harga diri, tubuh noni Belanda yang masih belia itu sudah tahu apa yang menjadi kebutuhannya ... disentuh, disayang, saling memuaskan dan dibayar. Ah, Aya hanya bisa berharap jangan sampai ia keterusan dan memilih melakukan hal maksiat sebagai mata pencahariannya di kemudian hari.


Sebab, profesinya sebagai jugun ianfu membuat Aya cukup hanya dengan beraksi hingga berkeringat ditempat yang nyaman, tidak harus mati-matian bekerja keras dibawah terik matahari dengan bayaran yang mungkin tidak seberapa.


Sebagai manusia yang normal, siapa sih yang tidak mau melakukan sesuatu yang mudah ditempat yang enak kemudian mendapat bayaran lumayan dibanding bekerja ditempat yang tidak nyaman tapi bayaran sedikit? Hanya saja, Aya yang masih remaja itu masih cukup waras dan bisa membedakan mana sesuatu yang halal dan haram. Ibarat hasil curian yang manis, buah yang haram mengandung racun dan berjuta konsekuensi, namun buah yang halal pasti baik untuk kesehatan tubuh dan jiwanya.


"Sebagai informasi tambahan, tuan Katsuro memegang peranan penting dalam keberlangsungan ianjo. Tidak ada seorang pun yang selamat jika sudah menyinggung beliau. Makanya aku berharap, kamu terima saja tawaran beliau dari pada nanti kita dibikin susah. Lagipula, beliau tergolong selektif dan hanya gadis tertentu yang dipilihnya," ungkap Irene membuyarkan lamunan Aya.


"Baiklah, mi. Atur sajalah, nampaknya aku tidak punya pilihan selain menerimanya," sahut Aya membuat Irene tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2