
"Baiklah, mi. Atur sajalah, nampaknya aku tidak punya pilihan selain menerimanya," sahut Aya membuat Irene tersenyum bahagia.
"Itu jawaban yang aku harapkan, anak manis. Jangan lupa persiapkan dirimu, bawalah pakaian secukupnya juga keperluan pribadimu dan ... lakukan perawatan lengkap sebelum aku mengirimmu ke tangsi tuan Katsuro," ujar Irene.
"Baiklah, mi. Tentu saja aku akan mempersiapkan diriku dengan baik sekalian merileks-kan tubuhku yang lelah ini."
"Hei, kamu digempur habis-habisan sama ke dua tamu-mu semalam rupanya?" tebak Irene dengan gaya genitnya.
"Ah, tuan Kasturo minta deluruh tubuhnya dipijat, main 1 kali, lalu meninggalkanku setelah terlelap sebentar ... tuan Akeno yang"
"Ah, aku tahu. Dia membuatmu lelah tapi juga memuaskanmu, kan? Semalam aku ada melintasi kamar ini, aku iri mendengar ******* juga jeritan kalian. Dan tadi Akeno juga memberiku tips lumayam, hehe. Arrabella, jangan lupa kasih ratus di bagian itu supaya tetap wangi, legit dan membuat tamu kita ketagihan," Irene mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, aku mengerti, mi," Aya membalas kedipan Irene, kedua wanita beda usia itupun terkekeh sebelum berpisah dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Ayapun menyiapkan bahan-bahan racikan untuk merawat tubuhnya. Pertama, Aya fokus melakukan facial lalu memberi masker pada rambut, mengoleskan lulur di sekujur tubuh disertai pijatan ringan, mandi susu dan ritual ratus di bagian kewanitaannya sebagai penutup rangkaian perawatan spesialnya.
Semua itu sudah jadi kebutuhan utama setelah makan bagi Aya, sebab selain meningkatkan rasa percaya diri, merawat tubuh juga merupakan semacam penghargaannya atas dirinya sendiri.
Iya, orang lain mungkin bisa saja tidak menghargai tubuhnya bahkan sampai tega menyakiti tapi Aya bertekad untuk 'membalas' itu semua dengan memanjakan dirinya sendiri.
***
Usai makan sore, Irene dan beberapa pengawal mengantar Aya menuju tangsi tuan Katsuro. Tentu saja selain untuk memastikan Aya tiba dengan selamat dan diserahkan dalam keadaan sangat baik, Irene juga ingin mengatur pembicaraan terkait pembayaran yang akan didapat dari tuan Katsuro nantinya.
Diam-diam Aya bersyukur, tangsi milik tuan Katsuro berbeda dengan tangsi Isao tempo hari. Lebih tepatnya tuan Katsuro menempati paviliun yang mewah di dalam kawasan tangsi militer Jepang itu. Aya sedikit lega karena membayangkan dia tidak akan bertemu lagi dengan tuan Isao dan teman-temannya yang brutal tempo hari.
"Jangan sungkan, anggaplah seperti di kediamanmu sendiri," tutur pria matang bernama Katsuro itu pada Aya yang terlihat gelisah, sepeninggal Irene.
"I-iya tuan," jawab Aya.
"Hm, aku ingin selama kamu di sini, kamu bisa melayani semua kebutuhanku dari bangun tidur hingga tidur lagi. Yah, seperti tugas seorang istri pada umumnya," tukas Katsuro sambil tersenyum.
Aya hanya diam, sebab tugas yang diberikan Katsuro terlalu 'samar' dan kurang spesifik. Kalau hanya melayani kebutuhan lelaki itu ditempat tidur, lantas kenapa pakai istilah 'semua kebutuhanku'?
__ADS_1
"Aku akan beristirahat di sini selama 1 minggu sebelum pergi ke medan perang dan ... seperti yang kamu lihat, aku hanya sendirian di sini, jadi tugasmu adalah jadi asisten pribadiku."
"Oh jadi asisten pribadi ya, tuan? Baiklah." Sahut Aya paham, ia senang karena ternyata tuan Katsuro memberikannya pekerjaan yang mulia. Menurut Aya, jadi pembantu sekalipun lebih bermartabat ketimbang jadi pemuas napsuu semata.
"Hem, selama di sini kamu mengecek agendaku, melihat surat-surat yang masuk, membersihkan tempat ini, menyiapkan makanan, mencuci dan menyetrika pakaianku termasuk juga memandikanku dan memakaikannya pakaian untukku," jelas Katsuro yang seolah mengerti kebingungan Aya.
"Baiklah, tuan."
"Oh iya, aku dengar kamu juga pintar berbahasa Belanda dan Inggris juga, ya?"
Aya mengangguk.
"Nah, kamu juga bisa membantuku menerjemah surat atau buku dan yah, mungkin juga mendampingiku kalau ada tamu dari luar," kata Katsuro lagi.
"Siap, tuan," sahut Aya dengan mata berbinar ceria karena hati yang gembira. Setelah sekian lama tidak bersekolah, akhirnya dia punya kesempatan untuk mempraktekkan sekaligus menggali ilmunya. Ah, ternyata apa yang ditawarkan nyonya Monic dulu itu tidak sepenuhnya salah, begitu juga dengan keputusannya menerima tawaran mami Irene tadi.
'Waduh, jadi ngapain tadi repot-repot perawatan kalau ternyata tuan Katsuro memintaku jadi asisten pribadi?' batin Aya.
"Bagus, aku suka gadis muda yang pintar sepertimu," puji Katsuro.
Tidak sampai 10 menit, Aya menyelesaikan tugas yang diberikan. Aya membaca lalu memberikan tulisan terjemahan surat itu pada tuan Katsuro.
Prok. Prok. Prok.
Katsuro bertepuk tangan, "Luar biasa," sanjung Katsuro lagi.
Aya mengangguk sambil tersenyum.
"Hah, harusnya kamu bekerja denganku saja. Jadi jugun iunfu membuat gadis potensial sepertimu, tidak berkembang saja. Hanya melayani kebutuhan laki-laki yang datang, cuma gitu-gitu aja. Ada saatnya kalian sebagai perempuan itu tidak menarik lagi, tidak bisa nyari uang dengan cara itu lagi, lantas gimana nanti kalian hidup?"
Aya hanya menunduk. Katsuro benar, baru kali ini ia bertemu lelaki pemakai jasanya yang sepemikiran. Lagi pula, Katsuro ini seorang panglima Jepang yang bertujuan menindas bumi Hindia Belanda, sedikit mirip dengan papi Adolf ... meskipun dari golongan penjajah, tapi mereka tergolong orang-orang yang fair dan masih menghargai harkat seseorang sebagai manusia.
"Berapa usiamu?" tanya Katsuro membuyarkan lamunan Aya.
__ADS_1
"Em, bulan depan 15 tahun, tuan."
"Astaga masih muda sekali, tadinya aku ingin menawarkanmu bekerja sebagai karyawan domei. Kamu tahu domei?"
"Tidak, tuan."
"Domei adalag kantor berita, di sini kantor berita itu bernama 'Antara' tapi sejak menjadi perwakilan pihak kami, maka namanya diubah menjadi Yashima," jelas Katsuro.
"Oh, begitu."
"Dari sisi kecerdasanmu aku sangat yakin kamu bisa jadi wartawan atau karyawan domei, aku bisa merekomendasikan tapi ... tampangmu yang indo ini membuatku tidak yakin. Ah, nanti lagi kita bahas soal ini. Aku mau mandi sebelum kita tidur, kamu siapkan air hangat untukku, ya."
"Eh, kenapa tuan Katsuro bilang 'kita tidur' apa artinya mereka akan tidur bersama?" batin Aya, sambil menyiapkan air hangat untuk Katsuro.
"Tuan, airnya sudah siap."
"Ayo, kita mandi," ajak Katsuro sambil merengkuh pinggang Aya menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Hah, tuan ini pakai kata 'kita' lagi," Aya bermonolog sendiri.
"Hm, maaf sebelumnya tuan, dimana saya menaruh barang-barang yang saya bawa?" sela Aya, sedikit membuat jarak dengan Katsuro.
"Di kamarku, bawa saja barang-barangmu sekalian, aku menunggumu di dalam." Sahut Katsuro, melepaskan rengkuhannya.
"Hah, ja-jadi saya juga tidur di kamar tuan?" tanya Aya terdengar polos.
"Kamu ini gadis pintar tapi yang begitu saja tidak mengerti. Tentu saja kamu tidur bersamaku, kan kamu sudah kutunjuk menjadi asisten pribadiku, tentunya kamu juga yang mengurus kebutuhan pribadiku yang satu itu. Jika kamu tidur di kamar lain, lalu aku membutuhkan sesuatu, bagaimana?" jawab Katsuro dengan seringaian yang membuat Aya merinding.
Glek.
'Aya salah menduga maksud tuan Katsuro.
"Kirain jadi pembantu doang, taunya pembantu plus-plus seperti mbak Sumi dan mbak yati'." Rutuk Aya dalam hati.
__ADS_1
***
"Benar Aya, semua laki-laki sama aja," gumam Mangata saat membaca bagian itu. "Eh aku kan juga lelaki, tapi sampai seusia ini masih perjaka. Jadi aku pengecualian lho, Aya. Aku pria yang berbeda dengan tamu yang kamu layani," ralat Mangata.