Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Kamar 103


__ADS_3

Gelisah. Tubuh Agastya bolak-balik tidak tenang di tempat tidur empuk milik wisma Evergreen. Bukan karena ia tidak sabar ingin melampiaskan hasratt kelelakiannya, menahan dan mengendalikan diri, sudah biasa bagi seorang Agastya. Lebih banyak malam yang ia lalui dengan rindu dan kedinginan dibanding malam yang hangat dengan istrinya. Sementara ini hanya tingggal 1 malam saja, kenapa Agastya seolah tidak sanggup menunggu malam cepat berganti pagi?


Agastya sibuk membayangkan apa yang terjadi besok pagi. Benarkah Arrabella yang dielu-elukan Latif dan kawan-kawan sebagai ladies top Evergreen itu adalah Aya, istrinya?


Kalau memang benar, apa yang harus ia lakukan?


Bercinta dan membayar jasa atas percintaannya dengan perempuan nakal seperti yang dilakukan pria brengsek lainnya? Tidakkah itu terdengar miris ... bercinta dengan istri sendiri dan membayar kemudian? Astaga ... kenapa hidup harus semenyedihkan ini?


Tapi kalau itu bukan Arrabella, kemana lagi ia harus mencari istrinya, kapan lagi ia bisa bertemu dengan wanita pemilik hatinya itu?


Ah ... bosan bermonolog sendiri, akhirnya Agastya lelah dan jatuh lelap, lagi hanya berteman sepi dan dinginnya malam.


***


Keesokan hari. Usai sholat subuh dan membersihkan diri Agastya membuka jendela kamarnya. Sejuk pagi membelai wajah tampan pria itu. Badannya tegap dan gagah, tapi ia tidak mampu melawan takdir. Ia hanya bisa mengikuti ke mana arus kehidupan membawa kakinya melangkah pasrah pada sang Khalik. Sungguh, ia hanya seorang yang tidak berdaya.


Bagaimana pun, sebagai seorang suami ia berhak marah jika memang Arrabella yang dimaksud itu adalah Aya, istrinya. Hampir 4 tahun hidup seperti duda, berdoa agar Tuhan menjaga istrinya dan mempertemukan mereka kembali ... sementara selama itu pula ternyata istrinya malah berbagi kehangatan dengan pria lain, bisakah dia menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar?


Tok, tok.


Agastya bergegas membuka pintu kamarnya.


"Sarapan, tuan," seorang petugas memasuki kamar Agastya membawa sepiring nasi goreng, segelas teh hangat dan air mineral.


"Terima kasih, taruh saja di situ," jawab Agastya.


Ya, sebaiknya ia mengisi perutnya. Ia perlu energi untuk menghadapi kenyataan di depan.


Kembali Agastya menatap pemandangan luar dari bingkai jendela. Hijau, asri dan menenangkan, sampai ia tidak sadar kalau seseorang memasuki kamarnya hingga tangan lembut itu melingkari perutnya.


"Hai, aku dengar kamu hanya ingin denganku," suara pemilik tangan itu terdengar halus dan manja.


Agastya memejamkan matanya. Suara itu ... benar, suara itu yang selama ini ia rindukan. Dekapan hangat dari belakang itu pun yang biasa ia terima saat mereka masih bersama dulu ... tapi seketika Agastya merasa kesal saat menyadari, suara itu, tangan itu, dan tubuh yang sedang menempel ditubuhnya, tidak lagi hanya miliknya.


Perlahan Agastya memegang tangan lembut perempuan itu dan berbalik.

__ADS_1


"Tentu saja, aku bahkan tidak keberatan menunggu dan membayar mahal demi bisa bersamamu ... lagi," ujar Agastya dengan tatapan tajam.


"Mas Aga?" Pekiknya tertahan.


Perempuan itu melepaskan tangannya, menatap sejenak manik Agastya dan menunduk. Perlahan ia bergerak menuju dipan, menghempaskan pantatnya di sisi tempat tidur dan terisak.


"Kenapa kamu menangis? Kata-kataku yang mana yang menyinggungmu?" Agastya masih di posisi semula, membelakangi jendela.


"Maafkan aku mas Aga," bisik wanita itu.


"Ternyata kamu masih mengenaliku," Agastya tersenyum miring.


"Bagaimana aku bisa melupakan lelakiku?" Ucap Aya lirih di sela air matanya.


"Aku, lelakimu? Bukankah kamu punya banyak lelaki? Hah, bahkan tiap hari dan malam, kamu bebas ditiduri banyak lelaki."


"Mas, jangan ngomong gitu. Bagaimana pun kita ini masih suami istri."


"Syukurlah kalau kamu masih ingat status kita," ucap Agastya dingin masih di posisinya semula.


"Ya, aku tahu. Ngomong-ngomong ... aku tidak membayar mahal wanita hanya untuk mengobrol apalagi mendengar keluh kesahnya," ujar Agastya.


Aya menghapus air matanya dan mendongak ke arah Agastya.


"Apa yang mas mau?"


"Apa kamu hanya begini dengan para lelaki itu? Kudengar namamu terkenal sebagai ladies evergreen ... karena pelayananmu yang hot, pijatanmu yang enak, desahhanmu yang mampu melumpuhkan keperkasaan lelaki mana pun. Huh, ternyata cuma begini."


"Apa maksud, mas?" Aya sedikitpun tersinggung mendengar kalimat tidak enak dari suaminya. Dia memang wanita bayaran, tapi pantang dihina apalagi dijatuhkan lebih rendah lagi harga dirinya, menjadi wanita penghibur bukanlah keinginannya sendiri.


"Kamu benar-benar tidak merindukan pria amatiranmu ini, Aya?" Agastya merentangkan kedua tangannya, Aya berdiri, berlari dan memeluk Agastya.


Cukup lama, kedua suami istri itu larut dalam tangis yang memilukan.


"Aku masih halal untukmu mas, lakukan apa pun yang mas mau," kata Aya setelah air matanya surut.

__ADS_1


"Tanpa status halal, hanya dengan 100 atau 300 rupiah pun aku bisa memidurimu, bukan?" Ucap Agastya dengan nada sinisnya.


"Mas, aku terpaksa melakukan ini. Aku diculik kemudian dijebak aku-"


"Tapi kamu menikmati perangkap manis ini, kan? Buktinya, namamu jadi terkenal sebagai ladies evergreen," potong Agastya.


"Iya, aku sengaja melakukan itu semua agar aku dibayar mahal ... biar aku bisa segera lepas dari sini, mas."


"Berapa yang mereka minta?"


"1 juta rupiah, itu pun kalau Irene dan Arata konsekuen."


"Maksudmu?"


Aya pun menceritakan kekecewaannya atas pembagian keuntungan yang tidak sesuai dengan pembayaran yang ia terima. Tiap hari, baik siang maupun malam, Aya mampu melayani hingga 6 orang pria, namun hanya diberikan uang paling banyak 100 rupiah atau 10.000 sen per hari. Padahal Aya tahu, sejak lama Irene mematok 100 rupiah untuk shot time dan 300 rupiah untuk long time per orang yang dilayaninya, tapi begitulah Irene. Wanita licik itu, ada saja akalnya sehingga ada saja yang harus Aya bayar padanya, semata demi mengikat Aya di wisma Evergreen.


"Aku tidak akan menyentuhmu, sebelum kita menikah secara resmi, syah secara agama dan negara," putus Agastya yang sadar tidak punya 1 dokumen pun sebagai bukti kalau mereka adalah pasangan resmi.


"Tapi bagaimana caranya, kita tidak punya identitas mas."


"Serahkan padaku, atau kamu mau coba cara lain."


"Apa itu?"


"Kabur dari sini."


Aya menggeleng, lalu perlahan membuka pakaiannya dan membelakangi Agastya.


"Lihatlah, itu bekas luka cambuk akibat aku yang pernah melarikan diri dari sini tapi ditemukan kembali," ucap Aya.


Agastya mengancing kembali pakaian Aya dan memeluk tubuh wanita yang masih berstatus istrinya itu.


"Aku janji akan membawamu keluar dari sini dan mengembalikan kehormatanmu. Tolong bersabarlah sedikit lagi," mohon Agastya.


Bukannya tidak berminat bercinta dengan Aya, namun Agastya hanya ingin menjadikan Aya hanya miliknya dan tidak ingin berbagi dengan pria manapun lagi, meski sekali lagi ia harus berbesar hati menghadapi kenyataan 'bersabarlah sedikit lagi' secara tidak langsung menyatakan bahwa ia memberikan izin istrinya melanjutkan tugas sebagai ladies Evergreen sementara ia mampu mengurus semuanya.

__ADS_1


__ADS_2