Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Hasutan


__ADS_3

"Assalamualaikum," sapa Zain memutus percakapan suami istri itu saat sudah tiba di depan pintu rumah Agastya.


"Waalaikumsalam, masuk dulu Zain," balas Agastya.


"Terima kasih, kamu sudah siap, Ga?"


"Sudah tapi ..." Agastya mengerlingkan matanya pada sang istri yang masih agak cemberut.


"Hem, aku bisa minta tolong yang lain kalau istrimu tidak mengizinkan kamu pergi," jawab Zain mengerti reaksi yang ditunjukkan Agastya.


"Jangan, aku mau kok menemanimu. Aya juga tidak masalah, hanya saja dia sedikit bad mood karena lagi datang bulan," ucap Agastya dengan suara yang pelan.


"Oh. Aya, benar tidak apa-apa kalau Aga ikut denganku?"


"Iya bang, tidak apa-apa," sahut Aya.


"Baiklah, kalau misalnya kami kemalaman, kamu menginap saja di rumah sebelah sama mama Alif, ya."


"Baik, bang."


Kedua lelaki itu pun pergi setelah berpamitan pada Aya.


***


"Ibu, ada yang mencarimu," kata salah seorang karyawan Agastya.


"Calon pembeli kayu? Udah kamu saja yang meladeni, aku tidak tahu apa-apa," jawab Aya.


"Bu-bukan, bu. Maaf, orang itu mencarimu dan sedikit memaksa."


"Siapa?" Aya mengerut keningnya, selama ini dia tidak ada kepentingan dengan siapa pun, apalagi pria selain dari keluarga pak Ruslan dan karyawannya.


"Hai, Arrabella," seseorang berbadan tegap berjalan sambil mendekati teras rumah Aya.


"Maaf, ada perlu apa denganku?" Tanya Aya takut-takut.


"Tinggalkan kami, sebab kami ada pembicaraan pribadi yang cukup penting," kata Latif pada pegawai kios Aya.


Aya masih menatap Latif menebak apa tujuan lelaki itu ke rumahnya.


"Aku tahu suamimu sedang tidak ada di rumah."


"Baguslah, jadi kamu tahu kalau aku tidak berkenan menerima tamu."

__ADS_1


"Hei cantik, jangan sok jual mahal begitu," Latif mencoba mengelus pipi Aya namun segera ditepis oleh Aya.


"Tolong yang sopan ya, jaga tanganmu."


"Haha, perempuan munafik. Beberapa waktu lalu saja kamu dengan senang hati membuka pakaianmu di hadapanku dan kita ... melewati malam yang panas hingga pagi, kamu lupa, hm?"


"Itu dulu, sekarang aku bukan lagi wanita yang seperti itu." Aya sungguh tidak menyangka lelaki di hadapannya ini adalah salah satu mantan tamunya dulu.


"Haha, kamu lucu juga. Aku punya penawaran, mumpung suamimu tidak ada dan dari pada kamu kesepian, aku mau mengajakmu bersenang-senang."


"Apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura tidak tahu, Arrabella. Bukankah waktu itu kamu bilang akan selalu merindukan keperkasaanku? Nah Arrabella, jadi inilah saatnya. Aku menemukanmu di suasana yang tepat, haha. Aku tahu kamu tentu tidak keberatan dan aku sanggup membayarmu setara dengan tarifmu di wisma Evergreen."


"Aku bukan Arrabella yang dulu, silakan pulang," ucap Aya sambil mendelik.


"Duuuh, galak amat. Kamu akan menyesal telah menolakku," Latif menarik lengan Aya.


"Tidak. Lepas! Toloooong," pekik Aya.


"Sialan, kamu tidak bisa diajak kerja sama rupanya. Mau aku pakai cara kekerasan, hah? Pelacur saja belagu," ucap Latif emosi.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba pak Ruslan menghampiri Latif dan Aya.


"Latif, apa urusanmu kemari?"


"A-aku mencari Agastya, pak."


"Mencari Agastya? Lalu kenapa kulihat kamu menarik tangan Aya?" Selidik pak Ruslan.


"A-aku ..."


"Sudahlah, jangan bilang kamu berusaha menggoda Aya disaat suaminya tidak ada dirumah," kata pak Ruslan dengan tegas.


"Aya, ikut abah." Pak Ruslan menarik tangan Aya dan bermaksud membawa perempuan itu menuju ke rumah Zain.


"Hei, abah! Apa yang kamu lakukan? Berani-beraninya kamu mendatangi perempuan yang lebih pantas jadi anakmu," hadang Aminah sambil berkacak pinggang. Ia tampak marah, seolah telah memergoki suaminya berselingkuh.


Sementara Latif yang membuntuti pak Ruslan dan Aya, menyeringai seraya mengedipkan sebelah matanya pada Aminah. Entah ini sudah direncanakan keduanya atau tidak sebelumnya, yang pasti dalam waktu singkat ada beberapa orang berkerumun, ingin tahu apa yang telah terjadi sampai Aminah berteriak begitu.


"Aminah, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku tadinya sedang mengecek persediaan kayu di pabrik Agastya, dan mendengar Aya minta tolong lalau saat kuhampiri, kulihat Latif sedang menarik lengan Aya," pak Ruslan berusaha menjelaskan.


"Jangan bersandiwara begitu, abah. Kamu bilang Latif menarik lengan Aya, tapi kenapa justru tanganmu yang memegang tangan perempuan gatal ini, hah?"

__ADS_1


Pak Ruslan segera membebaskan tangan Aya dari pegangannya.


"Tolong jangan salah paham dulu, Aminah."


"Cih, sudah ketangkap basah masih mengelak juga dasar tua-tua tidak berguna," cemooh Aminah.


Pak Ruslan menghela nafas pendek, menyesali tindakan gegabahnya barusan. Niatnya memang baik, tapi mungkin caranya kurang tepat.


"Bu Aminah, maaf. Pak Ruslan hanya melindungiku dari lelaki itu," bela Aya sambil menunjuk Latif.


"Cih, dasar perempuan gatal. Kamu jelas-jelas berusaha memikat lakiku, malah melibatkan orang lain. Hei, bapak-bapak ... ibu-ibu, kalian lihat perempuan ini, padahal dia adalah seorang istri tapi menerima pria lain disaat suaminya tidak ada di rumah," kata Aminah dengan suara lantang.


Terdengar bisik-bisik orang yang berkerumuman menyaksikan kejadian itu. "Kalian, terutama yang ibu-ibu, hati-hati dengan perempuan ini sebab dia sebenarnya tidak berasal dari Jakarta sebelum kemari tapi dari kota A, dia adalah pelacur di Wisma Evergreen yang dibawa oleh Aga kemari," kata Aminah membongkar aib yang selama ini tidak diketahui para warga di lingkungan itu.


"Haaaa?" bagaikan koor, orang-orang tersebut memandang Aya tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh Aminah.


"Aminah, tolong ... jaga kata-katamu," pak Ruslan mengingatkan istri ke tiganya itu.


"Halaaah, jaga kata-kata apa, bah? Jangan dikira aku tidak tahu maksudmu menolong Aga membebaskan perempuan nakal ini dari wisma Evergreen, haha ... apalagi kalau tidak karena kamu menginginkan kehangatannya juga, bukan?" tuduh Aminah beserta tatapan sinisnya.


"Heh, aku lelaki yang pantang berzinah. Kalau aku mau, aku bisa saja menikahinya."


"Apa? Berani-beraninya kamu bilang mau nambah istri lagi. Dasar pria tua tidak tahu malu," kecam Aminah.


"Aku bilang kalau aku mau, bukan berarti aku sungguh-sungguh akan menambah istri lagi."


"Sama aja abah, kalau sudah ada niat begitu cepat atau lambat pasti kau lakukan juga. Dengar ibu-ibu, bapak-bapak ... demi kenyamanan lingkungan kita, maka perempuan ini harus kita usir secepatnya."


"Tidak bisa begitu, kamu menuduh tanpa bukti, Aminah."


"Bukti yang seperti apa yang kamu maksud, bah? Apa harus kudapati kamu meniduri perempuan nakal ini dulu, begitu?"


"Aya, apa benar yang dikatakan bu Ruslan barusan kalau kamu adalah perempuan yang menjual tubuhmu di wisma Evergreen?" Tanya seorang ibu penasaran.


"I-iya, tapi aku tid-" Jawaban Aya terputus.


"Tid- apa? Apapun alasannya tetap saja faktanya kamu telah menjajakan tubuhmu pada banyak lelaki, apa yang melekat padamu menjadi isi darah dan dagingmu adalah hasil perbautan maksiat, haram!" Aminah cepat-cepat memotong kalimat Aya yang akan berpotensi menuai simpati dari si penanya.


"Maaf Aya, kami menghargai kejujuranmu, namun kami juga tidak mau lingkungan ini tercemar akibat kelakuanmu."


"Apa yang kulakukan, kelakuan yang bagaimana maksudnya? Lihatlah aku sudah bertaubat, aku sudah memperbaiki hidupku dan mengabdi hanya pada Aga, suamiku." Aya berusaha membela diri.


"Aish, mengabdikan diri hanya pada suami, lantas kenapa kamu mau diajak pergi sama pak Ruslan. Kamu tentu telah menggoda pria yang lebih pantas jadi ayahmu," tuduh ibu-ibu lain membuat Aminah tersenyum menang.

__ADS_1


__ADS_2