
Usai menghadiri rapat, Agastya tertegun saat berdiri di depan rumahnya, melihat pintu yang tertutup tapi ada cacat sedikit seperti telah dibuka paksa dari luar dan benar, saat Agastya membuka pintu itu, rupanya tidak terkunci.
Seketika ada rasa was-was menghampiri benak lelaki tampan itu. Sambil melangkah menuju kamar tidur mereka, Agastya berdoa semoga Aya tidak apa-apa.
"Assalamualaikum. Sayang, kamu sudah tidur?" Ujar Agastya mengharap jawaban dari istrinya.
"Aya, kamu di mana sayang?" Kata Agastya lagi dengan suara yang lebih nyaring, lalu ia melangkah ke kamar mandi yang ada di kamar, tapi tidak ada Aya di situ.
"Ya Allah, Aya ke mana?" Agastya membuka lemari pakaian, utuh. Pakaian miliknya dan Aya masih tersusun rapi di situ. Tidak ingin menarik kesimpulan kalau istrinya pergi, Agastya memeriksa tiap sudut rumahnya dari teras hingga dapur. Nihil, Aya tetap tidak dapat ia temukan.
Meski malam beranjak larut dan tidak peduli dianggap menganggu, Agastya memutuskan untuk pergi ke rumah Zain, sahabatnya.
"Ada apa, Ga?" Tanya Zain begitu mendapati Agastya di depan pintu rumahnya.
"Maaf, apa Aya ada di sini, Zain?"
"Tidak ada. Kenapa?"
"A-Aya tidak ada di rumah, Ga."
"Yang benar? Kamu sudah cek?"
"Sudah."
"Em, pakaiannya di lemari sudah kamu lihat juga?"
"Sudah, pakaiannya aman."
"Lho, ke mana istrimu. Ayo, aku temani memeriksa rumahmu sekali lagi," kata Zain sambil menutup dan mengunci pintu rumahnya.
"Wah, tidak benar ini, Ga. Ini bekas linggis, pintumu sudah dibuka dengam paksa, nih."
"Iya, tadi aku pulang pintu ini hanya tertutup tapi tidak terkunci lagi."
"Astaga, berarti istrimu diculik, Ga. Sebab kalau dia pergi dan keluar sendiri, pintu ini tidak akan rusak begini."
Agastya meraup wajahnya dengan kasar, ia sependapat dengan Zain. "Tapi, siapa yang tega membawa istriku malam-malam begini, Zain?"
__ADS_1
"Entahlah. Sepertinya si penculik tahu kapan kita lengah. Ah, harusnya tadi kita tidak usah pergi rapat saja," sesal Zain.
"Zain, kita harus gimana ini?"
"Entahlah, tapi kamu dan Aya baik-baik saja, kan? Maksudku, kalian tidak sedang bertengkar, bukan?"
Agastya menggeleng, " Tidak, kami baik-baik saja."
"Berarti benar, istrimu pergi bukan karena keinginannya sendiri tapi dipaksa orang lain."
"Sebelum berangkat aku sempat menawarkan untuk menungguku di rumah kalian, tapi Aya menolak. Katanya dia lagi malas kemana-mana, ingin cepat beristirahat saja karena tadi sore dia dipijat sama acil Saadah.
"Aneh. Hm ... apa mungkin dia diculik sama pemilik wisma Evergreen?"
"Arata maksudmu, Zain?"
"Iya."
"Apa sebaiknya kita tanyakan pada orang-orang di dermaga apa ada melihat kapal kemari?"
"Bisa, ayo kita ke dermaga," sambut Zain.
"Apa mungkin penculiknya menyembunyikan Aya ke tempat yang aman dulu sebelum membawanya pergi?" Gumam Agastya.
"Ck, tentu saja orang itu sudah mengatur serapi mungkin agar tidak ketahuan," balas Zain.
"Aku benar-benar teledor kali ini, Zain."
"Sabar, Ga. Berdoa agar istrimu baik-baik saja dan bisa segera kita temukan. Sekarang sudah lewat tengah malam, tidak akan ada informasi yang kita dapatkan. Besok kita lanjutkan pencarian, sekalian kita minta tolong abah untuk mengerahkan anak buahnya mencari istrimu," kata Zain.
"Tapi aku kepikiran, Zain."
"Wajar Ga, namanya juga sama istri. Ini sebenarnya aku juga lagi harap-harap cemas sama istriku. Maaf, jadi tidak maksimal membantumu, aku belakangan ini harus siaga, karena mama Alif sudah mendekati waktunya melahirkan."
"Oh iya ya, Zain. Aku yang minta maaf telah merepotkanmu, Zain. Padahal kamu juga punya kepentingan sendiri."
"Tidak, bukan begitu maksudku, Ga. Aku cuma, ah ... sudahlah. Ayo kita pulang dan beristirahat. Kita sudah lelah bekerja seharian, ditambah kejadian ini. Kita perlu otak dan tubuh yang fresh untuk menemukan sebab penculik itu tentu sudah mempelajari situasi dan memikirkan segala kemungkinan sebelum membawa Aya."
__ADS_1
"Iya," sahut Agastya lesu.
"Ga, sebesar apa pun masalah kita, ingat ada Allah yang lebih besar yang pasti mampu menolong kita menghadapi setiap masalah kita. Serahkan semuanya pada Allah, dan izinkan Dia yang bertindak," kata Zain sambil menepuk bahu sahabatnya sebelum melangkah pulang ke rumah.
"Terima kasih atas segalanya, saudaraku," jawab Agastya.
Kegelisahan merajai pikiran seorang Agastya, tempat tidur yang biasanya hangat kini menjadi hampa. Bahkan malam ini terasa dingin dan lebih menyedihkan dari malam-malam saat Aya terpisah darinya dulu.
Ini kali kedua Agastya harus terpisah dari istri tercinta pas lagi sayang-sayangnya. Duh, kenapa semesta seolah bahagia telah membiarkan Agastya merana?
Sebenarnya Agastya adalah sosok yang kuat, tapi ia tidak mampu menahan air mata yang tumpah saat ia bersimpuh, mengadukan semua kegundahannya pada Sang Pemilik Kehidupan.
"Ya Allah, terima kasih Engkau telah mempertemukan hamba dengan Aya dan saling mencintai. Hamba percaya kami bisa bertemu dan berpisah hanya karena kuasa-Mu ya, Allah. Banyak hal yang tidak hamba mengerti, rancangan-Mu sungguh tidak dapat hamba pahami dan saat ini izinkan hamba memohon ... jagalah istri hamba di mana pun dia berada dan pertemukan kami kembali atas perkenanan-Mu." Usai mengungkapkan isi hatinya, Agastya mendapat ketenangan sehingga ia bisa terlelap.
Tok, tok.
"Assalamualaikum, Aga," sapa Zain yang udai menunaikan sholat subuh langsung menuju ke rumah Agastya.
"Waalikumsalam, Zain."
"Apa kamu bisa tidur semalam?"
"Alhamdulillah, iya."
"Syukurlah, kita sarapan di rumahku dulu. Mama Alif sudah siapkan semuanya. Kita perlu tenaga agar kuat menghadapi kenyataan hari ini," kata Zain pada sahabatnya itu.
"Baiklah," Agastya pun mengikuti Zain.
Meski sesungguhnya tidak ada selera makan, Agastya tidak ingin mengecewakan sahabatnya. Zain benar, tubuh mereka perlu bahan bakar yang cukup untuk kegiatan hari ini yang akan menguras hati sekaligus energi mereka.
"Jadi setelah ini kita ke mana dulu?" Tanya Agastya usai bersantap pagi.
"Kita temui abah agar mengerahkan anak buahnya mencari Aya di wilayah kita lalu ... aku berkeyakinan istrimu diculik oleh pemilik wisma yang licik itu jadi kupikir kita perlu ke kota A," beber Zain.
"Mama Zain gimana, apa tidak apa-apa kalau kita tinggal?" Tanya Agastya pelan
"Aku baik-baik saja, Ga. Waktuku melahirkan memang sudah dekat, tapi jangan khawatir aku sudah dua kali melahirkan dan sekarang belum ada tanda-tanda serius. Bagaimana pun, kalian harus secepatnya menemukan Aya karena-" uuups, hampir saja mama Alif keceplosan mengatakan kemungkinan Aya yang yang sedang hamil muda.
__ADS_1
"Karena apa, sayang?" tanya Zain penasaran.
"Ah, karena terakhir kondisi Aya kurang sehat dan ... kepergiannya yang misterius begini?" Ungkap mama Zain.