Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Jadi Makanan Hiu


__ADS_3

"Hei, jangan ganggu gadis itu. Dia milik tuan," ujar Agastya dengan suara nyaring.


"Ck, siapa pun tahu kalau dia ini mantan gadis ianjo. Tentu aku tidak menganggunya jika dia juga ingin bersenang-senang denganku."


"Tapi kamu akan bermasalah dengan tuan," balas Agastya.


"Tidak akan jika kamu tutup mulut. Ayolah, kamu pun bisa menikmati tubuhnya jika aku selesai, haha ... Hei, ajudan tengil Laksamana Takeshi, kiat akan bergantian memakainya, dan kamu tidak perlu mengatakan pada siapapun, cukup antara kita saja. Ayolah, masa iya tubuhmu tidak bereaksi saat melihat makhluk cantik dan menggairahkan ini? Bayangkan tubuhnya ini tanpa sehelai benang pun yang menutupi, menggeliat manja dalam pelukanmu. Apa kamu akan tetap bertahan dengan kekakuanmu yang sudah menyerupai Takeshi itu?" ucap lelaki dengan jemari yang sibuk bergerilya, menggerayangi tubuh Aya.


Brak!


"Hentikan!" Hardik Takeshi.


"Hah, tu-tuan Takeshi?" pria itu tercengang. "A-ampun, tuan," jawabnya yang baru menyadari tatapan membunuh dari tuannya itu. Segera saja dia melepaskan dirinya dari Aya dan membungkuk memberi hormat.


"Kamu tahu aturanku untuk tidak bermain perempuan terlebih dengan wanitaku," kata Takeshi dengan rahang yang mengeras.


"Tapi tuan, gadis ianjo ini yang menggodaku terlebih dahulu," sahut pria itu mencoba membela diri, dia yakin akan dimaklumi oleh tuan Takeshi.


"Aku tidak peduli apapun alasannya, yang jelas aku telah menebusnya, dia bukan lagi gasis ianjo. Pengawal! Seret laki-laki itu, lemparkan ke laut biarkan dia jadi makanan hiu," tegas Takeshi seraya menarik tangan Aya menjauhi lelaki dengan nama tertulis 'Arata' di dada kanannya.


"Tuan, lelaki itu berbohong!" gumam Aya dengan suara bergetar.


"Aku tahu, cepat kembali ke kamar dan mandi yang bersih. Aku tidak mau keringat lelaki itu menempel di kulitmu," ujar Takeshi terkesan posesif.


Aya yang didampingi Agastya menurut dan gegas menuju kamar Takeshi yang selama ini hanya ia tempati dengan Himawari.


"Arrabella maaf, aku lalai ... tadi aku ke kamar kecil, tahu-tahu sudah kehilangan jejakmu dan Himawari."


"Sudah, tidak apa-apa itu bukan salahmu Agastya. Harusnya aku menunggumu selesai dari kamar kecil tadi, tapi nona Himawari sungguh susah ditangkap, anak itu berlari antusias ingin cepat sampai menuju anjungan."


"Ya, lain kali berjanjilah untuk selalu ada dalam pengawasanku. Kamu tahu, di kapal ini meskipun dianjutkan untuk patuh pada peraturan, tapi melihat barang bagus jadi lapar mata."


"Apa maksudmu, Agastya?"


"Ah, tidak. Tidak apa-apa aku hanya minta kamu waspada. Kita sama-sama orang asing di sini, bisa saja nereka memfitnahmu seenaknya seperti tadi. Untung tuan Takeshi percaya padamu."


"Hm, terima kasih."


"Bersihkan badanmu sesuai permintaan tuan, aku berjaga di sini," kata Agastya seraya berdiri di depan pintu.


"Agastya, di mana Himawari?"


"Mungkin Himawari sedang bermain-main dengan nyonya Monic, tadi dia di bawa tuan Ryujo ke kamarnya, nanti kalau sudah selesai kita jemput."


"Baiklah."

__ADS_1


Ternyata tebakan Agastya salah, sebab begitu pintu kamar Ryujo terbuka mereka mendapati Himawari sedang menangis histeris memanggil nama Sora. Monic tampak kesusahan mendiamkan gadis kevil tuan Takeshi.


"Sora, Soraaaa ... selamatkan Sora dari lelaki jahat itu," jeritnya.


"Hani aku di sini," kata Aya seraya menghampiri Himawari ke gendongannya.


"Sora, kamu tidak apa-apa?" Himawari memgang kedua pipi Aya. Tangisnya mereda, hanya menyisakan isak dan suara yang sesengukan.


"Seperti yang kamu lihat, Hani. Aku baik-baik saja," ucap Aya dengan senyum teduhnya yang menenangkan.


"Bagaimana laki-laki itu, apa papa sudah memukulnya?"


Aya menggeleng, "Papamu sudah meminta orang melemparkannya ke laut jadi makanan hiu."


"Yeiiii, itu keren. Dia tidak akan menjahatimu lagi, Sora."


"Arrabella, maaf ... ." Ujar Monic saat Himawari sudah terlelap dalam dekapan Aya.


"Kenapa nyonya meminta maaf?"


"Karena aku yang membuatmu jadi gadis ianjo, stigma gadis ianjo membuatmu di cap gadis gampangan," Monic mulai terisak, tampaknya hormon kehamilan membuatnya sangat sensitif dan merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Aya.


"Tidak nyonya, mohon jangan berpikir seperti itu.Tidak karena nyonya pun kalau memang aku digariskan pernah jasi gadis ianjo ... maka itulah yang terjadi, entah dengan cara apa," sahut Aya bijak.


"Oh iya, apa Isao memperlakukanmu dengan baik saat membelimu?" tanya Monic.


"Ah, maaf jika pertanyaanku melukaimu, Arrabella."


"Setelah aku dikembalikan ke ianjo, selama beberapa waktu aku dirawat oleh mami Irene. Kata mami Irene, aku sering menyendiri dan terkadang menangis bahkan berteriak ketakutan. Hingga kemudian aku bisa menerima kodratku sebagai jugun ianfu, aku bisa melayani tamu tanpa beban."


"Me-mereka menyakitimu, sehingga kamu trauma, Arrabella."


"Hm, mungkin nyonya tapi sepertinya tidak permanen." Aya menunduk sambil tersenyum tipis.


"Kenapa?"


"Jujur saja, setelah aku bisa menerima kodratku aku mulai menikmati pekerjaan hina itu. Bahkan berusaha memberikan servis terbaik bagi tamu agar mendapat tips demi mengumpulkan uang 300.000 gulden, agar bisa terbebas dari ianjo."


Monic menggeleng, "Dan kamu tidak mencapai uang sebanyak itu, bukan?"


"Iya, tadinya sempat aku menabung tapi ada kejadian ... teman-teman VIP menyiksaku, sehingga aku tidak bisa melayani tamu selama 2 minggu-an, bahkan uang yang sudah aku kumpulkan hilang dari tempatku menyimpannya."


"Bersyukurlah akhirnya tuan Takeshi bersedia menebusmu, ya. Kamu tahu, seandainya kamu bisa mengumpulkan uang sebanyak 300.000 gulden pun, Irene pasti punya cara lain untuk mencegahmu keluar dari ianjo. Ryujo bilang, pada akhirnya tuan Takeshi memberikan 700.000 gulden hingga Irene, rela melepasmu."


"Astaga ... sebanyak itu, nyonya?"

__ADS_1


"Iya. Arrabella, sudahkah kamu berterima kasih pada tuan Takeshi atas pembebasanmu?"


"Aku tidak tahu caranya nyonya, bahkan baru saja tadi tuan Takeshi membelaku ... ah, seandainya tuan Takeshi tidak keberatan, aku dengan suka rela memberikan tubuhku untuknya," kata Aya sambil menatap langit-langit ruang Monic.


"Haha, gadis nakal! Itu hanya bisa kau lakukan jika pembebasmu bukan tuan Takeshi. Dia bukan type lelaki yang suka memanfaatkan keadaan. Aku mulai paham kepribadian tuan kita itu, kalau sudah menolong tentu tanpa pamrih, aku hanya perlu melakukan tugasmu dengan baik saja dan jangan coba-coba berterima kasih dengan cara merelakan tubuhmu, haha ... yang ada malah, kamu dilemparnya ke laut jadi makanan hiu, seperti tentara yang menakalimu itu."


"Begitu ya nyonya, syukurlah. Ternyata meskipun penjajah, tuan Takeshi adalah orang baik."


"Tidak hanya tuan Takeshi saja, suamiku juga orang baik, kalau tidak baik mana mungkin aku memilih kabur dari Isao demi bisa menjadi istri Ryujo? Hihi. Arrabella, jangan pernah menyamakan orang hanya karena warna kulitnya atau loreng bajunya. Status penjajah yang kejam dan tidak punya hati yang mereka sandang semata karena tugas. Mereka telah bersumpah, teguh memegang janji mengabdikan hidup demi bangsa dan negara mereka, tapi semua kembali ke pribadi masing-masing. Terkadang banyak juga yang lantas berlebihan menakar tanggungjawabnya, sehingga muncul persepsi sesuai predikat yang mereka sandang sebagai penjajah," ujar Monic panjang lebar.


"Baik nyonya, terima kasih masukannya."


"Sekarang, aku mau tanya ... adakah sedikit hatimu untuk tuan Takeshi?"


"Ah, ap-apa maksud nyonya?"


***


Sementara Aya asyik berbincang dengan Monic, di luar kamar tepatnya para awak kapal telah mendengar kejadian yang menimpa salah satu tentara akibat mencoba melecehkan Aya.


"Ternyata laksamana Takeshi bisa tega juga." Kata awak kapal berbicara dengan sesama rekannya.


"Salahnya telah lancang menyentuh orangnya."


"Halah, gadis ianjo itu apa keistimewaannya, wajar saja di perlakukan begitu, aku juga tidak keberatan jika dia mau kutiduri, haha," timpal yang lainnya.


"Benar, sementara laksamana Takeshi tentu tidak mungkin mau bermain dengannya sementara kita sama-sama tahu bagaimana sepak terjang seorang jugun ianfu."


"Hei, tapi lihatlah ... teman kita itu benar-benar di lempar ke luar kapal, sampai laksamana sekejam itu, apa kalian tidak berpikir kalau mungkin saja beliau punya rasa sama gadis itu," sergah seorang tentara yang baru saja bergabung dengan kelompok yang sedang berbincangan itu.


"Haha kamu mabuk atau gimana? Kamu tahu bahkan laksamana Takeshi tidak pernah berminat main perempuan, jangan lupa wanita itu jugun ianfu yang telah ditebus dan dibawa kemari menjadi pengasuh putrinya saja, mana mungkin beliau punya rasa untuk perempuan begituan? Aku menduga, gadis itulah yang kegatalan menggoda Arata duluan tapi keburu ketahuan sama laksamana Takeshi, jadi tidak terjadi hal-hal yang diinginkan diantara mereka."


"Benar, benar ... dilain waktu bisa saja kita yang jadi sasaran godaannya, gadis yang terbiasa disentuh pria dewasa seperti kita pasti punya keinginan untuk mencari kehangatan sementara laksamana Takeshi tidak mungkin melakukan itu."


"Ah kalau begitu, jika ingin menikmatinya tunggu laksmaan Takeshi dan para ajudannya lengah dulu. Kita bisa saling berjaga dan bergantian memakai gadis itu nantinya. Aku yakin saat-saat itu pasti ada nanti terlebih aku dengat mereka akan tinggal di kawasan berikut, beberapa dari kita tentu ada yang dipilih untuk melindungi mereka di tempat itu."


"Tepat sekali, aku dengan senang hati jika terpilih tinggal karena aku punya kesempatan untuk ... haha."


"Wah, aku juga berminat, haha." Timpal yang lainnya sambil tertawa senang membayangkan tugas yang membuat mereka bisa melancarkan aksi tanpa pengawasan laksamana Takeshi.


"Ehm, apa yang membuat kalian begitu gembira?" tegur Ryujo yang telah mendengar sedikit pembicaraan gerombolan tentara itu.


Ryujo menghujami para tentara itu dengan tatapan yang dingin, membuat mereka merasa ada yang tidak beres.


"Aku peringatkan, kalian jangan sekali-kali bertindak ceroboh seperti Arata. Kalian tahu, apa artinya orang-orang yang dipilih oleh laksamana Takeshi sehingga begitu dilindungi."

__ADS_1


"Ehm, maaf tuan Ryujo kami hanya berpikir ... gadis ianjo yang gatal itulah yang telah menggoda Arata-"


"Hei dengar, terlepas bagaimana awalnya aku hanya mengingatkan jangan coba-coba menyentuh gadis itu kecuali kalian mau mati sia-sia seperti Arata yang saat ini mungkin sudah menjadi santapan hiu," tegas Ryujo anil meninggalkan kerumunan para tentara.


__ADS_2