
"Aiyaaah, tadinya kupikir begitu Aya dijemput paksa oleh Monic langsung dibawa ke ianjo, tapi ternyata masih ada tahapannya sebelum ke situ," gumam Mangata yang lanjut membuka bab 22.
"Sayang, sudah baikan?" tanya Isao dengan lembut pada Monic.
"Hm," jawab Monic dengan tampang dinginnya.
"Ehm ... maaf, malam ini Ryujo menginap lagi di sini, sebab kami ada sedikit urusan, tidak apa-apa, kan?"
"Iya," jawaban Monic terkesan biasa saja, padahal kabar itu membuatnya hampir melonjak kegirangan.
'Asyik bisa berduaan lagi dengan Ryujo, tapi aku harus pakai trik apa lagi agar Isao bisa tidur lelap sampai pagi? Tidak mungkin tiba-tiba bersikap manis lalu memberinya ramuan seperti tadi malam, dia pasti curiga,' batin Monic bingung.
"Sayang, aku sudah dapat calon pembeli kegadiisan Arrabella yang sanggup membayar 1.000 gulden pada Irene."
"Siapa?"
"Tuan Takeshi, atasannya Ryujo. Tadi kami sempat menemui Irene."
"Oh iya? Jadi besok aku tinggal mengantar Arrabelle menemui mami Irene."
"Iya. Sayang, makan malam, yuk. Tidak enak, lagi ada sahabatku menginap di sini, kamu malah mendekam di kamar dan membiarkan kami makan berdua saja."
"Ok,"
"Mau kugendong sampai ruang makan, sayang?"
"Tidak usah."
"Baiklah." Isao membiarkan saja sikap Monic yang acuh tak acuh itu dari pada ujung-ujungnya mereka ribut lagi.
Monic berjalan membuntuti Isao menuju meja makan yang ternyata sudah ada Ryujo di situ. Monic pun mengedipkan sebelah matanya yang langsung dibalas anggukan hormat dari Ryujo.
"Halo, selamat malam Monic. Maaf mengganggu kalian, malam ini aku menumpang lagi ya, sebab ada sedikit urusan dengan Isao," ujar Ryujo sopan.
'Cih, sok formal,' kata Monic dalam hati.
"Ok, tidak masalah, Ryujo. Kami sangat tersanjung, kamu bersedia menyambangi kediaman kami," jawab Monic tidak kalah sopannya.
Ketiganya pun menikmati makan malam tanpa banyak bicara.
"Ryujo, apa kamu berniat jalan-jalan malam ini?" tanya Isao.
"Tidak. Kegiatan hari ini sangat menguras energiku jadi aku mau cepat-cepat tidur saja, Isao."
"Ok. Kamu tentu tidak keberatan kan kalau selepas ini aku dan Monic langsung masuk kamar?"
"Tentu," Sahut Ryujo sambil melap mulutnya menggunakan tisu. Ryujo menjaga raut wajahnya tetap tenang padahal sedari tadi kaki Monic sibuk menggesek betisnya.
Klontang.
Garpu Monic terjatuh secara refleks Monic membungkuk ke bawah meja agar bisa mengambil garpu itu, dalam waktu yang super cepat Ryujo sempat turut membungkuk ke bawah dan memberikan kertas kecil yang sudah digulung ke tangan Monic. Lalu kembali ke posisi semula.
"Aduh sayang, kenapa diambil segala? Ambil aja garpu baru," gerutu Isao.
"Hm, maaf. Aku sudah selesai. Aku duluan ke kamar, ya. Kalian silakan lanjut mengobrol," pamit Monic yang sebenarnya penasaran melihat isi kertas dari Ryujo.
__ADS_1
'Hati-hati, Isao berencana membuatmu tertidur.' Demikian pesan yang disampaikan Ryujo untuk Monic. Usai membaca, Monic membuang kertas mungil itu ke closed dan menyiramnya sampai tenggelam.
Apa maksudnya 'Isao berencana membuatmu tertidur'? Berencana berarti sengaja. Apa sebelum ini Isao pernah melakukannya? Monic berusaha mengingat kapan Isao tampak melakukan sesuatu yang mencurigakan seperti ia yang tadi malam menambahkan serbuk tertentu di ramuan 'penegak' itu. Kalau terang-terangan berbentuk obat tidak pernah, sih.
"Sayang, kamu kenapa? Masih kesal gara-gara semalam?" tanya Isao yang tampaknya sudah selesai mengobrol dengan Ryujo.
"Tidak, aku hanya sedang tidak enak badan."
"Sudah minum obat?"
"Sudah."
"Ok. Istirahatlah," Isao membela pipi Monic lalu mengambil buku dan mulai membaca.
Monic menguap sebagai awal aksinya sebelum pura-pura terlelap sengaja ia membuat dengkuran halus, agar lebih natural. Nah, sekarang aku sudah tidur, lalu kamu akan membuatku tertidur dengan cara apa? tanya Monic dalam hati.
Tiktok ... tiktok .... Waktu semakin maju dari menit ke menit.
"Aku akan membuatmu semakin nyenyak seperti biasa, sayang," bisik Isao.
Heppp. 'Apa ini?' Monic cepat-cepat menahan nafas saat merasa Isao membekap mulutnya dengan sesuatu yang dingin dan lembut.
"Selamat tidur sayang, aku mau senang-senang dulu," ujar Isao sejenak sebelum lelaki itu meninggalkannya.
Ceklek.
Sialan, dia juga mengunciku dari luar, umpat Monic. Monic berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan hidung dan mulut yang terkena bekapan. Monic sekarang tahu kalau Isao menggunakan kain yang sudah diberi obat bius kelas ringan atau sejenisnya dan ... sepertinya Isao sudah sering melakukannya.
Jadi, aku yang sudah tidur, dibuatnya tidur semakin pulas lagi agar tidak terbangun saat dia sedang bersenang-senang.
Ceklek.
Pintu kamar tidur terbuka.
Astaga, dia kembali lagi. Untung Monic sudah berbaring lagi. Apa Isao sudah selesai bersenang-senang atau ... hanya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal?
Monic memejamkan matanya kembali seolah masih pulas.
Ada gerakan perlahan di sisi tempat tidurnya yang kosong. Lalu ... Monic didekap dari belakang.
"Cinta, kamu benar-benar sudah tidur?" bisik suara bariton itu.
Monic tersenyum dan berbalik. Aroma dan suara khas itu hanya milik ....
"Ryujo, aku kangen," rengek Monic.
"Mau kumanjakan di sini atau di kamar tamu?"
"Di sini? Bagaimana kalau Isao memergoki kita, apa kamu sudah siap?"
"Ah ... cepat atau lambat itu pasti terjadi, tapi kalau saat ini sepertinya tidak mungkin."
"Dari mana kamu tahu?"
"Isao keceplosan, makanya aku menuliskan pesan itu untukmu. Tadi aku melihatnya ke belakang, lalu tidak lama aku melihat dia dan seorang perempuan menaiki tangga. Pasti saati ini Isao sedang bermesraan berduaan dengan perempuan itu. Kamu mau memergokinya?"
__ADS_1
Monic menggeleng. "Perempuan dari kamar belakang?Apa mungkin dia ada main dengan pembantuku?"
"Sepertinya begitu."
"Siapa? Arrabella?"
"Entah, badannya kelihatan mungil tapi padat berisi."epertinya bukan nama itu yang disebutkan."
"Berarti Sumi."
"Mungkin, dari ceritanya dia tidak hanya bermain dengan salah satu pembantu tapi keduanya juga. Tadi dia tidak sengaja membandingkan sensasi bermain dengan pembantu kalian dan menawariku juga."
"Lalu kamu mau?"
"Ish, ada nyonya cantik yang siap memuaaskanku ngapain sama babu?"
"Gila, jadi dia bersenang-senang dengan pembantu. Pantas saja giliran aku pengen, macam-macam alasannya menolakku, banyak kerjaan, lembur, lelah. Ternyata karena dia menyangkul sawah pembantu," gerutu Monic.
"Sudah, jangan buang-buang waktu. Kalau kamu mau melabrak Isao di loteng, aku temani tapi ..." tangan Ryujo sibuk meremaas payudaraa Monic yang putiingnya sudah mengeraas.
"Aku tidak mau kita meninggalkan jejak, di sini. Ayo kita ke kamarmu saja."
Monic kesal dengan Isao. Pantas saja sejak mereka tinggal bersama, lelaki itu tidak pernah ketahuan mengunjungi ianjo untuk mengencaani wanita penghiibur di sana, kabarnya hanya minum-minum saja dengan temannya. Iyalah untuk apa dia datang berkencan? Toh dia sudah sangat terhibur di rumah, sebab ada 1 ratu dan 2 babu yang siap mengangkaang kapan saja untuknya.
" Uh, brengseeek !" Umpat Monic seraya menghempaskan pantaatnya di tempat tidur Ryujo.
"Ayo sayang lampiaskan padaku semua yang kamu rasakan," hibur Ryujo.
"Ssst ... diam dan nikmati saja Ryujo."
Monic berdiri lalu mendorong tubuh Ryujo hingga telentaang, dengan gerakan sensuaal Monic melepas pakaiannya sampai benar-benar polos. Mata Ryujo terbelalak dan ingin mendekati Monic untuk menyambar bibiir ranuum di depannya. Tapi Monic menghalangi niat prianya.
"Hei, biar aku yang memuaaskanmu malam ini, kamu jangan banyak bergerak kalau belum kuminta." Ryujo pun patuh.
Monic menaiki tubuh kekar dihadapannya, menguluum bibir lelaki itu beberapa saat lalu menyodorkan aset kembar kenyalnya untuk diisaap dan diremaas bergantian sesuai dambaan Ryujo.
Dengan sekali tarik, Ryujo dibikinnya setengah bugiil dan Monic segera mengabsen tubuh bagian atas lelaki itu dengan mulut dan lidahnya tanpa ada yang terlewati. Hingga tiba di bagian bawah perut ... Monic tersenyum nakal pada Ryujo. Ternyata lelaki itu telah melorootkan celanaanya sendiri agar Monic segera memanjakan junioornya.
"Hei, masa cuma dilihat saja?" Protes Ryujo gelisah.
Fuuuuh.
Monic malah meniup pelan pedang tumpul Ryujo dari pangkal hingga kepala.
"Astaga, jangan bikin aku frustrasi, sayang. Ayo, manjakan dia dengan jemari dan liidahmu," Ryujo semakin tidak karuan.
Monic menunduk, mengecup sepasang bola Ryujo secara bertubi-tubi.
Tidak tahan, Ryujo pun menarik rambut panjang Monic dan membuatnya mendongak. "Sayang jangan cuma disitu, kamu tidak kasian dengan junioorku yang ingin kamu sentuh juga?"
Monic merangsek naik dan mengecup bibir Ryujo lalu berputar, membuat wajahnya berhadapan langsung dengan pedang tumpul Ryujo dan menempatkan kepala Ryujo diantara celah surgawi di pangkal pahaanya. Tentu saja Monic dengan senang hati memenuhi apapun yang diminta Ryujo. Mendengar lelaki itu memuji, mengumpat dan meneriakkan namanya adalah kebanggaan suatu kebanggan bagi Monic.
***
"Sial! Bisa-bisanya mami menarasikan posisi yang kuidamkan sedetail itu. Ah, kasihanilah aku yang belum punya musuh untuk diajak enak-enakan seperti Ryujo dan Isao, mami," rutuk Mangata. "Nah keras lagi, kaaaaan. Terpaksa kita main pake tangan dan baby oil kaya tadi lagi ya, boy."
__ADS_1
Kali ini setelah bermain solo yang keduakalinya, Mangata tertidur lelap. Nyenyak sampai pagi.