
Dengan berat hati, Arata dan Irene pun melepas kepergian Arrabella, wanita yang menemani 'perjuangan' wisma Evergreen sejak baru buka dan belum dikenal hingga menjadi wisma yang tidak sepi pengunjung.
Jika boleh jujur, Arrabella tentu punya 'jasa' yang tidak sedikit bagi kemajuan wisma evergreen khususnya bagi pasangan licik Arata dan Irene, tapi apa mau dikata ... benar kata Agastya tempo hari pada Arata, sudah saatnya mereka mencari perempuan primadona baru bagi wisma mereka agar tamu yang datang tidak bosan.
"Arrabella, aku secara pribadi sangat berterimakasih atas persahabatan dan kerja sama kita selama ini," ungkap Irene dengan air mata yang membasahi pipinya. Pernyataan persahabatan dan kerja sama tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuh salah. Aya tentu tidak bisa memungkiri kebersamaan mereka selama ini memang layak dikatakan sebagai persahabatan, selalu tolong menolong dalam suka dan duka namun kalau kerja sama ... haha, jangan dikira Aya tidak mengerti bagaimana mereka memanfaatkan uang hasil dari keringat, lendir dan air mata seorang Arrabella yang tidak setimpal dengan 'pengorbanan'nya.
Mungkin sedikit berlebihan dengan penggunaan kata 'pengorbanan' tapi sungguh, Aya telah merelakan harga dirinya terinjak, masa depannya tergadai dan tubuhnya di eksploitasi habis-habisan karena ulah mereka, belum lagi dosa yang ditanggungnya karena perbuatan hina itu dan terakhir demi keluar dari kubangan lembah hitam itu ternyata bukan dari hasil jual dirinya selama ini, bukan? Tapi beruntungnya karena ada yang berbaik hati menolong demi ia bisa bersatu kembali dengan Aga. Sehingga Aya keluar dari situ meski harua ditebus dengan harga yang fantastis di masa itu, ah ... kerja sama macam apa ini? Haha. Mungkin baru ini perpisahan dengan 'teman' jadi sesuatu yang sangat diharapkan terutama bagi seorang Aya.
"Mami Irene, aku juga berterimakasih atas segalanya. Aku berharap urusan kita selesai sampai di sini. Sebab aku akan punya seseorang yang melindungiku, seseorang yang pasti bisa menerimaku apa adanya, jadi mami jangan khawatir, jika aku keluar dari sini akan jadi gembel apalagi kembali melacurkan diri, karena aku yakin suamiku nanti akan bertanggung jawab penuh atas kebahagianku ke depannya," sahut Aya sungguh-sungguh.
"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik, Aya. Semoga kita bertemu lagi," ucap Irene.
'Aku malah berharap kita tidak akan bertemu lagi," batin Aya dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Pak Ruslan, titip Arrabella, ya," pesan Irene pada ayahnya Zain tersebut.
"Pasti nyonya, jangan khawatir. Aku bahkan akan mengurusnya lebih baik darimu," tegas pak Ruslan.
Irene menaruh amplop yang cukup tebal ke tangan Aya, "Untukmu, sebagai pegangan. Ini adalah hasil kerja kerasmu selama ini," ujar Irene.
"Tidak perlu, mi. Maaf, bukanny aku tidaknoerlu uang ini tapi ... suamiku pasti akan mampu menafkahi dengan rezeki yang halal," tolak Aya, sembari menatap pak Ruslan.
Untungnya, pak Rusla mengerti, "Arrabella benar nyonya, biarlah dia memulai segala sesuatunya dari awal denganku. Lihatlah, jangankan uang ... pakaian pun dia tidak membawa banyak," jawab pak Ruslan.
"Cih, dasar perempuan angkuh. Merasa di atas angin karena ada yang mau menebus, gitu aja sombong," tukas Arata.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Arata," balas Aya dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Sudah, bisakah kalian menghargai keputusan Arrabella? Di mana salahnya Arrabella, yang sudah kutebus, lalu dia menolak pemberian Irene, bukankah berarti kalian sudah dapat cuan besar tanpa usaha? Pokoknya sejak hari ini kalian tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Arrabella, atau ... aku akan bertindak, menghancurkan usaha kalian," ancam pak Ruslan dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya dengan Aya, membuat Arata dan Irene tidak berkutik. Bahkan pak Daus pun merasa ngeri melihat ketegasan pak Ruslan karena dia sudah tahu bagaimana pribadi lelaki tua itu yang telah bertindak sedemikian rupa hanya demi kebahagiaan seorang 'anak angkat' bernama Agastya.
"Arata, kalaubkamu masih ingin usahamu maju maka berfikir dan bekerja keraslah," timpal pak Daus sambil menepuk bahu Arata.
"Dan satu hal, aku tidak ingin kalian mengatakan kepada publik bahwa akulah yang menebus Arrabella apalagi sampai tersiar kabar Arrabella menikah denganku atau info Arrabella yang pernah bekerja di wisma kalian. Ingat itu, aku tidak main-main dengan kata-kataku," kata pak Ruslan lagi.
Sementara, Arata dan Irene terpaksa untuk tidak membantah, entah kenapa ... apalagi karena pak Ruslan datang diantar pak Daus, malah menimbulkan pertanyaan baru; ada apa dibalik sikap pak Daus sementara selama ini pak Daus merupakan salah satu pria yang gemar memakai jasa Arrabella bahkan jadi tamu VIP di wisma Evergreen, tapi malah mendukung keputusan pak Ruslan untuk membebaskan Arrabella, membiarkann wanita itu favoritnya jadi milik sahabatnya sendiri?
"Ah, maaf. Kalau begitu ... bagaimana pun kami merasa terhormat atas kedatangan tuan Ruslan kemari dan bangga atas keputusan tuan yang telah memilih ladies terbaik kami," ingin hidupnya aman, Arata memilih menjilat pak Ruslan, tapi tentu saja hal itu tidak membuat hati lelaki berwibawa itu senang.
"Kami harus pulang sekarang, mari," pak Ruslan menggamit lengan Aya dan dengan acuhnya berbalik dari hadapan Arata dan Irene.
Pak Daus yang belakangan keluar dari wisma, menyenggol lengan Arata, "Kabarkan kala ada barang baru yang lebih yahud dari Arrabella, ok? Kalau tidak, Irene juga tidak apa-apa," ucapnya dengan seringaian nakal dan mengedipkan sebelah matanya pada Irene, seolah memyiratkan makna tidak ada rotan, akar pun jadi.
__ADS_1
Tentu saja Irene menyambut ujaran pak Daus dengan senyuman genitnya, "Ok tuan, kapan pun anda mau, aku siap," balasnya centil. Apalagi yang ada difikira Irene selain uang dan keuntungan serta jaminan masih boleh meneruskan usaha terselubungnya, jika ia bersedia meladeni nafsu seorang penguasa nomor satu di kota itu? Ketiadaan Arrabella justru membuatnya bisa lebih aktif berkiprah, memaksimalkan potensi dan memberi kesempatan emas pada wanita peliharaan di wisma Evergreen, termasuk dirinya yang berperan ganda, induk semang sekaligus 'pekerja'. Ya, ya ... apapun dia akan lakukan demi keuntungan yang berlipat. Mana Irene peduli dengan sentilan tajam Arrabella tadi?
Apa itu kerja yang berkah, yang maknanya kebaikan yang banyak dan di ridhoi Allah? Haha, toh uang dimana-mana sama saja, peduli apa dengan sumbernya halal atau haram, bermanfaat baik atau tidak? Bagi Irene yang penting fungsinya. Tidak pernah terlintas di difikirannya bagaimana ia mempertanggungjawabkan perbuatannya itu kelak di akhirat.