
Agastya mengurungkan niatnya mengejar kapal milik Zain yang sudah jauh bergerak ke arah hulu. Biaya carter perahu kecil untuk menyusul kapal itu lumayan mahal dan karena sungai sedang pasang dan berarus, kapal kecil itu akan lambat mengantar Agastya ke tujuan. Lalu setelah menimbang-nimbang, akhirnya Agastya membeli tiket longboat yang akan membawanya menuju ke kediaman pak Ruslan. Agastya yakin pak Ruslan pasti bisa menolongnya membawa Aya keluar dari wisma Evergreen.
***
"Selamat siang bu Aminah, bapak ada bu?" Sapa Agastya sopan pada nyonya rumah.
"Duh, abang Aga lama gak kemari tambah tampan ajah. Gak salah nyari abah, gak nyari aku aja gituh kan udah pasti ada, hihi," sahut Aminah dengan centilnya.
Hiiiyyy, seketika Agastya merinding melihat Aminah yang bergerak lincah kayak ulat bulu.
"Em ... aku perlunya sama bapak, bu."
"Perlu sama aku aja sih, abang Aga. Kan asyik, mumpung sepi nih, hihi," Aminah mengerjapkan matanya berusaha menebar pesona pada pemuda tampan yang berusia lebih muda dari suaminya. Dari jawabannya, Agastya mengerti kalau pak Ruslan sedang tidak berada di tempat dan memilih undur diri, cari aman.
"Bu, aku permisi dulu, ya. Tolong sampaikan pada pak Ruslan kalau aku ada kemari mencari beliau."
"Iiiih, abang Aga baru juga datang sebentar udah langsung pergi lagi, sih?" Aminah merengut saat Agastya memilih berjalan keluar dari pekarangan rumahnya. Tujuan Agastya tentu saja ke rumah sahabatnya Zain, anak pak Ruslan.
Setelah berjalan kaki hampir 15 menit, tibalah Agastya di rumah Zain yang letaknya tidak jauh dari sungai. Di bagian belakan rumah Zain kini terdapat bangunan semacam pabrik kecil-kecilan untuk mengolah kayu menjadi bahan jadi seperti papan, balok juga moulding. Persis di samping rumahnya, Zain yang lulusan STM itu membuat usaha meubel guna menyalurkan hobinya bertukang, membuat segala jenis keperluan rumah tangga. Agastya salut sama Zain yang menurutnya punya visi ke depan yaitu meciptakan lapangan pekerjaan bagi saudara juga para tetangganya.
"Paman Agaaa," sambut Alif putra pertama Zain yang hampir berusia 10 tahun itu lalu menjabat dan menciumi tangan Agastya.
"Hai Alif, abahmu ada, nak?" Agastya mengusap pelan pucuk kepalananak lelakinya Zain.
"Ada paman, lagi di bengkel kerja, bikin lemari," tunjuk Alif pada salah satu sisi rumahnya.
" Hai Zain, apa kabar?" sapa Agastya pada tuan rumah.
"Eh, Aga ... gak kerja sama Latif?"
"Gak Zain, lagi pengen libur, hehe."
__ADS_1
"Oh, ya gitu dong sesekali libur, jangan kerja terus," kata Zain. "Maaa, kemari ... ada tamu nih," Zain lalu memanggil istrinya.
Tidak lama muncul perempuan dengan baju longgar dan berkerudung menghampiri bengkel kerja Zain.
"Oh, paman Aga rupanya. Apa kabar?" Sapa istri Zain yang biasa dipanggil mama Alif.
"Baik, mama Alif. Ini, aku lagi pengen gangguin abah Alif kerja," ucap Agastya basa-basi.
"Gak apa-apa, Ga. Abahnya Alif diganggu aja, biar gak keasyikan kerja." Mama Alif masuk ke dalam rumah dan tidak lama keluar lagi membawakan kopi beserta sepiring pisang goreng untuk suami juga tamunya.
"Silakan Aga, seadanya, ya. Saya tinggal beres-beres dulu," kata mama Alif sambil mengangguk singkat.
Agastyabpun membalas anggukan itu, "Jangan repot-repot lho, keluarin aja semua yang bisa aku makan, haha ..." canda Agastya.
Sluuurph. Kedua lelaki itu langsung menikmati hidangan yang dibawakan mama Alif.
"Eh, Zain ... Alif dan Amar bakalan punya adik lagi, ya?" Tanya Agastya yang tadi tidak sengaja melihat perut mama Alif lebih buncit dari sebelumnya.
"Haha, iya ... akibat harus banyak istirahat dan gak boleh membatang lagi, jadi aku malah produktif bikin anak lagi, Ga. Kehamilan yang kali ini, mama Alif mintanya aku gak pergi-pergi lagi, pengennya nempel terus atau paling gak aku berada di tempat yang masih terjangkau penglihatannya." Agastya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu, membayangkan suatu saat nanti ia dan Aya berumahtangga se-normal Zain dan istrinya.
"Ah gak, Zain ... aku cuma, tiba-tiba pengen punya keluarga sepertimu," jawab Agastya jujur.
"Wajar sih, seusia kita ... perlu teman hidup buat berbagi. Hm, kenapa tidak mencari gadis di sini saja, apa tidak ada menarik perhatianmu?" Pancing Zain.
Tiba-tiba Agastya teringat tujuannya yang semula ingin menemui pak Ruslan, tapi karena beliau tidak berada di tempat, Agastya malah menghampiri sahabatnya itu.
"Zain, aku sudah menemukannya?"
"Siapa, gadis yang memikat hatimu itu, anak siapa?" Zain antusias mendengar penuturan sahabatnya.
"Istriku, Zain."
__ADS_1
"Hah, benarkah? Lantas kenapa kamu tidak mengajaknya kemari? Bikin rumah di pekarangan sebelah, mama Alif pasti senang punya teman nantinya."
Agastya menggeleng dan menghela nafasnya kasar.
"Kenapa? Istrimu ternyata sudah dinikahi pria lain?" Tanya Zain hati-hati.
"Zain ... aku malu bercerita."
"Tidak apa-apa, barangkali aku bisa membantumu. Kita ini sudah lama bersahabat bahkan sudah seperti saudara. Kamu sudah terlalu sering membantu abah dan keluargaku, kini saatnya kami yang menolongmu," hibur Zain yang langsung menghentikan aktivitasnya mengecat lemari.
"Apa masalahnya, Aga?" Kejar Zain.
"Aku menemukan istriku di wisma ... dia jadi wanita panggilan di sana."
"Ya Allah, kok bisa?"
"Ternyata istriku diculik oleh mantan tentara-nya tuan Takeshi. Namanya Arata, ia diberhentikan karena hampir melecehkan Aya yang waktu itu masih belum jadi istriku. Arata yang mendalangi penculikan itu kemudian membawanya ke luar dari Jakarta, ia memiliki sebuah wisma lalu menjadikan istriku sebagai pelayan hasratt hidung belang."
"Ya Allah, kejamnya." Zain mengurut dadanya. "Lalu bagaimana bisa kamu tahu istrimu ada di wisma itu?"
"Setelah menjual kayu pada pemborong di kota B, bang Latif mengajak kami beristirahat di kota yang terdapat wisma itu, wisma Evergreen namanya."
"Ah, iya ... sepertinya aku pernah mendengar nama wisma itu. Ck, Latif sudah beristri dua masih saja suka jajan dan malah menulari kegemaran tidak terpuji itu pada teman-teman kapal, termasuk kamu juga, kan?" rutuk Zain.
"Sebenarnya aku tidak ikut, 2 malam mereka menginap di wisma, aku dan beberapa pekerja lainnya hanya beristirahat di kapal sambil membenahi haluan yang bocor. Sepulangnya mereka dari wisma itu, mereka ramai membicarakan pengalaman mereka bersenang-senang dengan wanita di wisma Evergreen. Sampai tersebutlah nama Arrabella beserta deskripsi yang mirip dengan istriku, noni Belanda dengan kulit halus berambut gelombang dengan warna yang sama dengan manik matanya, hazelnut. Terdorong rasa penasaran, aku memberanikan diri mengunjungi wisma itu, padahal kapal kita sudah mulai jalan sekitar 1 jam tapi Latif berbaik hati mengantarku kembali ke kota B."
"Aish, Latif memang paling pengertian kalau sudah urusan begituan. Pasti dia fikir kamu penasaran mau merasakan pengalaman seperti mereka di wisma itu," tebak Zain.
"Iya," kedua sahabat itu sama-sama terkekeh. "Aku bingung ... meski senang jika benar Arrabella itu adalah istriku yang hilang tapi juga sedih karena predikatnya sebagai ladies top Evergreen, perempuan incaran pria berkantong tebal, sempat aku berharap yang mereka bicarakan itu bukanlah Aya, Arrabella-ku tapi ... kapan lagi aku bisa bertemu dengan belahan jiwaku itu, Zain."
"Ya, aku mengerti yang kamu rasakan, Agastya."
__ADS_1
"Bah ... kata mama ajak paman Aga makan siang dulu," kata Alif yang tiba-tiba muncul di bengkel, memutus percakapan ayah dengan paman Aga-nya.
"Nah, ceritanya kita pending dulu, Ga. Kita sholat Dzuhur terus lanjut makan siang. Oh iya, kamu sebaiknya menginap saja di rumahku, sebab abah sedang giliran menginap di rumah mamaku di kampung sebelah, hingga lusa," Zain memberi informasi pada Agastya.