Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Jangan Ganggu Gadis Itu


__ADS_3

Dahi Ryujo sedikit berkerut saat Takeshi mengatakan bahwa kota yang dijadikan tempat tinggal sementara adalah distrik Boeven Digoel.


"Apa disitu aman, tuan? Aku dengar itu adalah merupakan tempat pembuangan tokoh-tokoh politik Bumi Putra?"


"Setidaknya tempat itu yang terdekat dengan wilayah pelayaran kita selama kita ditugaskan di wilayah timur negara ini, jadi kita akan lebih mudah menjenguk orang-orang yang kita tinggalkan di sini. Lagi pula, Belanda sudah mengantisipasi terjadi pemberontakan jadi para tahanan itu sudah dikirim ke Australia, jauh sebelum kita tiba di Hindia Belanda Sekalian nanti di situ juga kita akan beristirahat beberapa hari untuk mempersiapkan kapal kita ke medan berikutnya yang akan kita hadapi." Takeshi nampak memikirkan sesuatu."


"Siap, tuan."


"Oh iya, tolong kamu hubungi dokter Paul agar memvaksin dan memberikan obat-obatan seluruh awak kapal termasuk keluarga kita, untuk mencegah terkena malaria. Sekalian juga siapkan 30 tentara beserta tenaga media untuk mereka yang akan tinggal di sini," titah Takeshi.


"Siap. Laksanakan, tuan." Ryujo yang hendak berbalik mengurungkan niatnya saat seorang pimpinan pelayaran ke 2 yang bertanggung jawab atas rute peta pelayaran mendekatinya dan Takeshi."


"Lapor, tuan," katanya setelah memberi hormat.


"Ya," sahut Takeshi.


"Siap. Ada informasi perwakilan kekaisaran akan berkunjung ke Hindia Belanda, 10 hari lagi."


"Hm, apa ada berita yang lebih detail mengenai tujuan kunjungan itu?"


"Siap. Pihak perwakilan akan membahas masalah persiapan dan strategi terkait penguasaan wilayah timur dan akan diadakan acara ramah tamah."


"Baik. Informasi diterima. Kita tetap singgah di dermaga berikutnya sesuai rencana, kamu silakan kembali ke tempatmu," jawab Takeshi dengan suara tegasnya. Pimpinan pelayaran 2 itu pun memberi hormat lalu meninggalkan Takeshi dan Ryujo.


"Tuan, apakah tuan akan mengajak Arrabella mendampingi tuan menghadiri acara ramah tamah itu?"


"Kenapa begitu?"


"Bukankah acara ramah tamah itu berarti pihak kekaisaran ingin menjalin hubungan yang baik dengan para perwira dan keluarganya yang mendukung perjuangan kita?"


"Ah, Arrabella hanya pengasuh Himawari, bukan keluargaku."


"Maaf tuan, aku lihat Arrabella pandai mengambil hati dan sangat menyayangi Himawari, apa tuan tidak menyesal jika ... keduluan orang lain untuk memilikinya?" ucap Ryujo memancing tuannya.


"Ah, itu ... ." Benar saja. Wajah Takeshi tampak kemerahan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa tuan, jika memang ada rasa ... jangan diingkari. Aku yakin gadis itu bisa mengisi mengisi kekosongan hati tuan," saran Ryujo gamblang.


"Hm ... aku tidak tahu harus bagaimana? Ini terlalu cepat." Pernyataan Takeshi sontak membuat Ryujo yakin kalau tuannya masih malu mengakui perasaannya.


"Tidak ada istilah terlalu cepat tuan


Justru lebih cepat, lebih baik."


"Ehm akan aku pikirkan, tapi ..."


"Tuan ragu karena dia mantan jugun ianfu?"


"Ah ... entahlah, aku hanya berpikir, aku baru saja kehilangan istriku lagi pula, dia masih sangat muda apa mau dengan pria matang beranak satu sepertiku?"


"Haha. Pertanyaan itu harusnya tuan kemukakan pada Arrabella saja, kalau memang gayung bersambut, tentu tidak alasan yang jadi penghalang. Aku yakin, jika tuan meminta pendapat Himawari tentu ..."


"Sudah Ryujo, aku tahu maksudmu. Anakku pastilah setuju sebab aku mendengar sendiri bagaimana ia meminta Arrabella menjadi mama-nya."


"Ha? Yang benar saja tuan ... masa tuan kalah berani dengan Himawari?"


"Ck, aku hanya menganggap Himawari sama seperti anak kecil lainnya yang lagi senang-senangnya dengan sesuatu yang baru. Apapun pasti itu yang diutamakan. Aku tidak mau gegabah apalagi ini terkait masa depan. Jika nanti aku sudah memilih, tentu sudah tidak ada keraguan apalagi penyesalan setelahnya."


Bosan hanya bermain di dalam kamar, pagi itu Himawari mengajak Arrabella berkeliling dan pilihannya jatuh kepada anjungan kapal. Tempat khusus yang merupakan ruang komando kapal di mana ditempatkan roda kemudi kapal, peralatan navigasi untuk menentukan posisi kapal berada. Tentu saja Arrabella tidak segera mengiyakan, ia meminta Agastya untuk menanyakan keinginan Himawari pada tuan Takeshi terlebih dahulu.


"Nona Sora, tuan Takeshi bilang tidak apa-apa asalkan aku turut mendampingi kalian dan jangan terlalu lama," kata Agastya setelah bertemu Takeshi.


"Hei Hani, kau dengar itu? Papamu mengizinkan asalakan jangan terlalu lama," ujar Aya.


"Yeiii ... let's go Sora," Himawari terpekik senang.


Sekian lama ikut berlayar ini pertama kalinya Aya menjelajahi sebagian kapal yang berukuran lebih dari 200 meter itu. Dan, untuk pertama kalinya juga para penghuni kapal melihat keberadaan perempuan cantik yang katanya telah ditebus oleh tuan Takeshi untuk dijadikan pengasuh anak.


Predikat gadis ianjo yang terlanjur melekat membuat Aya dihujani tatapan nakal beberapa pria, meskipun sikap dan pakaian yang Aya digunakan sangatlah sopan, tapi itu tidak mampu menyembunyikan pesonanya.


Mereka tahu persis tuan Takeshi yang dingin itu tidak berminat bermain dengan perempuan nakal dan tentunya tidak 'memakai' Aya seperti misi lelaki lain yang rela menebus gadis ianjo pada umumnya.

__ADS_1


Tiba-tiba di sudut menuju tangga anjungan, seorang tentara mencekal tangan Aya. "Hei cantik, kenapa kau keluar dari zona amanmu? Ingin bersenang-senang denganku, hm?"


"Maaf, a-aku tid ..." Aya menoleh kebelakang mencoba mencari Agastya yang seharusnya mendampinginya dan Himawari.


"Tenang aku akan mengaturnya dan memberimu uang yang banyak, bagaimana? Kamu mencari ajudan Agastya? Tasi dia tiba-tuba dipanggil Laksamana Takeshi. Ayo ke bilikku, anak ini setelah diberikan obat tidur tentu akan memberi waktu untuk kita bersenang-senang," kata pria itu lagi.


"Hei, lepas! Kamu berniat menjahati Sora-ku?" teriak Himawari.


"Hah, anak kecil. Aku tidak menjahati Sora-mu. Kami hanya ingin bersenang-senang sebentar. Kamu setuju bukan?"


"Tidak, kamu pasti akan menyakitinya, lepaskan tanganmu!"


Lelaki itu hanya terkekeh mendengar perkataan Himawari.


"Agastya! Kamu di mana?" kembali Himawari berteriak.


Percuma saja, lelaki itu telah menyeret tangan Aya menuju ruang di balik tangga.


"Kamu cantik, tubuhmu berisi ... sayang sekali tuan Takeshi tidak tertarik menidurimu."


Aya berusaha membebaskan dirinya dari dekapan kuat lelaki yang sebentar lagi mungkin akan melahapnya.


"Jangan sok menolak, aku tahu selama di ianjo bukankah tubuhmu biasa dijamah oleh lelaki yang sanggup membayarmu? Selama ini kamu tidak mendapatkan kehangatan, apa iya tubuhmu tidak merindukan pelepasan?"


"Tolong jangan lakukan," Aya memalingkan wajahnya dari tatapan lelaki itu.


"Jangan sok suci. Aku bisa memuaskanmu juga membayarmu, kita main cepat saja agar tidak membuat tuan Takeshi curiga," tawar lelaki itu. Dadanya berdetak kencang, matanya yang tertutup kabut gairah tidak awas saat Himawari keluar dari ruangan itu.


Brakkk.


Pintu ruangan itu dibuka kasar.


"Hei, jangan ganggu gadis itu. Dia milik tuan," ujar Agastya dengan suara nyaring.


"Ck, siapa pun tahu kalau dia ini mantan gadis ianjo. Tentu aku tidak menganggunya jika dia juga ingin bersenang-senang denganku."

__ADS_1


"Tapi kamu akan bermasalah dengan tuan," balas Agastya.


"Tidak akan jika kamu tutup mulut. Ayolah, kamu pun bisa menikmati tubuhnya jika aku selesai, haha ... masa iya tubuhmu tidak bereaksi saat melihat makhluk cantik dan menggairahkan ini?"


__ADS_2