
'Eh, sebentar ... apa tokoh 'Aga' yang disebut Aya di bagian bab awal novel ini adalah Agastya, pemuda lokal yang jadi asisten Takeshi?' tanya Mangata pada dirinya sendiri. Ah, kalau begitu, berarti Agastya adalah ... .
Mangata yang penasaran kembali melanjutkan bacaannya.
***
Berbeda dengan saat masih di kapal yang kondisinya terbatas, setelah berada dirumah yang nyaman Aya jadi leluasa beraktivitas, terutama memasak.
Pagi itu Aya membuat sarapan berupa sup sayuran karena Himawari gemar dengan makanan berkuah, juga menghidangkan onigiri, menu yang diajarkan oleh Seina, istri salah seorang prajurit Takeshi.
Onigiri tampilannya sangat mirip dengan nasi kepal, nasi yang dibentuk bulat seukuran kepalan tangan diberi isian suwiran daging ayam, diberi saus khas lalu dibungkus lembaran rumput laut kering.
"Hm ... masakanmu lezat sekali Arrabella sesuai dengan tampilannya, serasa pulang kampung nih. Cita rasanya pas banget," Ryujo spontan memuji Aya tanpa menghiraukan tuan Takeshi dan Monic.
"Ehm ..." Takeshi sengaja berdehem. Takeshi adalah seorang pemimpin yang tidak suka sekatan dengan bawahannya, termasuk dalam soal bersantap, Takeshi malah senang mengajak orang-orangnya menikmati hidangan bersama, dalam 1 meja.
"Eh tuan, maaf. Saya senang sekali karena Arrabella sungguh pintar menyesuaikan diri dan menyiapkan sesuatu yang memanjakan perut kita," kata Ryujo yang tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak hati saat melirik Monic yang juga tengah meliriknya.
"Jadi menurutmu aku yang sudah sekian bulan mendampingimu tidak bisa menyesuaikan diri dan memanjakan perutmu karena tidak bisa memasak seenak ini?" ucap Monic dalam mode ngambek.
Nah, benar kan? Sepertinya ada yang salah tanggap, deh. Sejenak Ryujo bertatapan dengan Takeshi. Takeshi tersenyum seolah berkata 'rasain kamu' kemudian memilih lanjut mengunyah makanannya.
"Eeh, tidak begitu sayang. A-aku hanya memuji usaha Arrabella yang ..." Ryujo bingung, mau bilang apa agar istri cantiknya tidak semakin kesal.
"Aku tahu, aku memang tidak pandai masak, aku cuma bisa masak nasi, goreng ikan dan ngoseng sayur," Monic merengut, sambil mengunyah makanannya dengan cepat. Terlihat lucu sekali.
"Sayaaang, aku kan susah bilang, sebagai istriku kamu tidak harus pandai memasak. Bisa memakan hasil olahan tanganmu tiap hari saja, aku sudah senang sekali. Aku memuji Arrabella agar dia semakin semangat memberikan kita makanan yang enak," ya, ya ... Ryujo mulai memainkan kata-kata manisnya.
"Em ... Ryujo, satu hal yang perlu kamu ingat baik-baik, bahwa tidak baik memuji wanita lain di hadapan istri sendiri. Kamu lihat, kamu telah merusak suasana yang damai pagi ini," ejek Takeshi setelah selesai dengan santapannya.
__ADS_1
"Ish tuan, aku adalah pria apa adanya ... aku akan memuji sesuatu karena memang pantas untuk diapresiasikan begitu. Istriku yang cantik ini, tentunya hanya aku yang tahu bagaimana pandainya ia memanjakanku, bukan hanya perut tapi istimewanya dia ini spesialis dalam melayani bagian bawah perutku juga."
Takeshi melototi Ryujo yang bicara seenaknya, "Ah Ryujo, jangan lupa ada anak dibawah umur sedang makan bersama kita saat ini. Lagi pula, berilah contoh yang tepat tentang bagaimana etiket makan yang baik yaitu jangan banyak bicara saat makan."
"Ah, tuan munafik. Tuan juga berbicara saat makan," protes Ryujo yang malah membuat tuannya tertawa.
"Baiklah. Maaf telah berbicara saat makan tapi lihatlah aku sudah selesai sarapan sekarang dan ... kamu benar, hidangan Arrabella spesial dan cocok di lidahku. Aku berharap ke depannya aku dan Arrabella juga cocok dalam hal lain," ucap Takeshi sambil melihat ke arah Aya.
"Uhuuuk," Aya tersedak mendengar perkataan Takeshi yang seolah menyiratkan makna khusus.
Monic langsung berubah ceria, menyadari maksud suaminya adalah agar Arrabella nyaman dan bisa lebih dekat dengan Takeshi.
"Ah Arrabella, hati-hati." Monic memberikan segelas minuman pada Aya. "Kamu dengar yang dikatakan tuan Takeshi barusan? Beliau senang atas layananmu pagi ini."
Aya jadi salah tingkah, ia hanya mengangguk dan melanjutkan makan sambil menyuapi Himawari yang tidak tertarik dengan perkataan orang dewasa di sekitarnya.
"Hm, aku akan senang jika seterusnya Sora mau memasak untukku dan papa setiap hari seenak ini, aku pasti akan makan banyak terus," kata gadis kecil itu yang ternyata menyimak apa yang dikatakan Ryujo dan ayahnya.
"Ya ampun, betapa gencarnya usaha mereka mendekati Arrabella. Ah, peluangku kian tipis saja," gumam Agastya dalam hati melihat tuan Takeshi-nya kini menjadi sosok yang lebih hangat dari sebelumnya.
"Hei Ryujo, jangan lupa urusanmu denganku belum selesai," dengan menaikkan kedua alisnya Monic meperingati suaminya.
"Sana, sana ... selesaikan urusan kalian di kamar sana, jangan di sini," ucap Takeshi sambil terkekeh.
"Permisi tuan dan semua," Monic berdiri dan langsung menyeret suaminya ke kamar.
"Apa maksudmu memuji masakan Arrabella, ha? Jadi selama ini kamu terpaksa memakan masakanku, begitu? Atau jangan-jangan kamu juga menyukai Arrabella?" tuduh Monic pada suaminya.
"Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Kamu tahu sendiri, susah payah menjadikanmu milikku. Bahkan menggunakan segala macam cara, kenapa jadi begitu mudah menyukai gadis lain yang jelas-jelas disukai oleh tuanku sendiri?" Ryujo rupanya telah menguasai trik jitu berhadapan dengan wanitanya yang sensitif akibat hormon kehamilan.
__ADS_1
"Tapi jangan bikin aku kesal, dong. Atau kamu sengaja menyindirku?"
"Tidak sayang, sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku hanya ..."
"Hanya apa?"
"Itu, aku hanya ingin membuat Arrabella tidak sungkan saja. Kamu tahu kan, kalau tuan Takeshi menaruh hati padanya?"
"Lalu?" ucap Monic dengan nada ketus.
"Sayang sudahlah. Maafkan aku jika sudah menyinggungmu. Wanita hamil tidak baik marah-marah begini, nanti bayi kita jadi sedih. Kamu tidak mau kan, kalau anak kita tumbuh dengan tidak bahagia? Sementara waktu membuatnya kita begitu bersemangat, kamu lupa? Kalau lupa biar aku ingatkan sensasi dari aktivitas yang membuatmu mengandung anakku."
Kata-kata Ryujo sontak membuat pipi Monic bersemburat merah.
"Iya, aku mau diingatkan rasa itu. Sebentar lagi kamu akan pergi berlayar untuk beberapa hari ke depan. Kamu perlu bekal dan aku butuh asupan gizi dari cintamu, untuk menjaga sistem kekebalan tubuh sehingga jadi kuat menahan rindu selama kamu tidak bisa kuraih," Monic melunak saat Ryujo memeluk seraya memverikqn kecupan mesra dikeningnya.
Seringkali memang begitu, pertengkaran antara suami - istri mudah muncul salah satunya karena urusan tempat tidur yang tidak beres. Kondisi Monic yang hamil muda membuat Ryujo memilih menahan hasratnya sebab ia takut sesuatu terjadi pada janin kecil mereka. Berbeda dengan suami, Monic yang level manjanya meningkat saat mulai hamil malah berpikir Ryujo enggan menyentuhnya karena merasa kehamilan membuatnya tidak menarik lagi di mata suami, padahal ... .
"Tentu, dengan senang hati aku akan membuatmu mendesaah dan menjeritkan namaku, sayang." Ryujo berbalik untuk mengunci pintu kamar mereka dan kembali menghampiri Monic yang masih berdiri.
Ryujo menarik lengan kiri Monic dan menaruh telapak itu di bahu kanannya, kemudian meletakan tangan kanannya sendiri di pinggang Monic dan menyatukan telapak tangan mereka yang lain, saling bergenggaman.
"Ki-kita mau ngapain?" tanya Monic.
"Sayang, apa kamu tidak tahu kalau kita mau berdansa?"
"Oh, kirain kita mau ...?"
"Ya, ya ... baiklah, kita akan bercinta sambil berdiri, agar percintaan kita tidak menekan si bayi mungil, nyonya Ryujo." Ryujo mendorong pelan tubuh iatrinua hingga mepet ke dinding dan pagi yang sejuk itu seketika berubah menjadi panas membara.
__ADS_1
Ryujo sangat puas, setelah sekian lama menahan hasratnya, pagi ini segala gejolak itu tertumpah pada kekasih hatinya. Sementara Monic tersenyum senang, ambek-annya tadi pagi berbuah manis sekali.