Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Resmi


__ADS_3

Aya, demi menghargai usaha Agastya yang mau menerima keadaanya memilih ikut keyakinan pria itu agar segala sesuatunya di mudahkan.


"Syah!"


Akhirnya Agastya dan Aya kini resmi berstatus suami istri walaupun hanya secara agama. Mereka menikah tepat 2 hari setelah tiba di Jakarta.


Berbeda dengan pernikahan Clay dan Yusuf yang dirayakan besar-besaran dan direstui banyak orang, Aya cukup berpuas diri atas dukungan penuh tuan takeshi yang membuat pesta kecil sekalian selamatan menempati rumah baru di Jakarta.


Setelah selesai acara makan-makan, Takeshi mengajak pasangan pengantin baru itu ke ruang kerja-nya.


"Aga, Aya," kini Takeshi sudah merubah cara panggilannya. "Em, maaf karena Aya masih belum cukup umur maka pernikahan kalian belum tercatat secara hukum negara. Aga, ingat pesanku untuk jangan dulu meminta anak dari Aya," lanjut Takeshi.


"Eh, tapi kalau meminta hak sebagai suami, boleh kan, tuan?" tanya Aga yang sontak membuat Aya menunduk malu.


"Oh, tentu. Itu terserah kalian saja. Aku juga pernah menikah jadi aku tahu apa yang dibutuhkan sepasang kekasih yang sudah resmi saat hanya berduaan," balas Takeshi sambil menaikkan kedua alisnya.


"Tuh dengar sayang, tuan bilang boleh," kata Aga sambil menyikut istrinya yang masih muda.


"Tapi sekali lagi aku mohon maaf Aga, Aya, pernikahan kalian untuk sementara mohon jangan dirahasiakan dulu. Ini demi kebaikan kalian juga terutama Aya, karena kita sama-sama tahu kondisi yang ... em," Takeshi tampak memikirkan kalimatnya. "Aku janji ini hanya sementara saja, dan demi keamanan aku akan mengakui Aya sebagai kekasihku," lanjut Takeshi lagi.


Aya terperanjat memdengar penuturan Takeshi, ia malah berfikir kalau Takeshi jangan-jangan berniat licik dan ... .


"Aya, mulai minggu depan aku akan mendatangkan guru private untukmu juga Himawari. Terutama kamu, agar tidak ketinggalan pendidikan. Tentu dengan predukat 'kekasihku' semua akan jadi mudah," jelas Takeshi yang masih menyisakan tanda tanya di benak Aya.


"Baik tuan, aku sangat menghargai hal ini," berbeda dengan istrinya, Aga justru menyambut baik rencana yang dikemukakan Takeshi.


"Kenapa kamu setuju?" bisik Aya.


"Sudah, terima saja hak istimewa sebagai kekasih Laksamana Takeshi tentu jauh berbeda jika orang-orang tahu kalau suamimu ini hanyalah seorang pelayan, orang pribumi pula," sahut Aga tanpa bermaksud merendahkan dirinya.


"Dan tugas pertamamu sebagai kekasihku adalah besok malam, kamu akan ikut denganku menghadiri acara makan malam bersama utusan kaisar. Aku akan menyiapkan semuanya, kamu hanya perlu tersenyum jangan jauh-jauh dariku."


"Ehm, tapi setelah acara itu Aya tuan kembalikan padaku, kan?"


"Tergantung, kalau Aya-nya malah mau lanjut jadi nyonya Takeshi, kamu mau apa? Haha," canda Takeshi. Lucu baginya tapi tidak bagi Aga dan Aya.

__ADS_1


"Hei, ada apa dengan raut wajah kalian ini, hm? Jangan khawatir Aga, setelah itu aku akan mengembalikan Aya ke kamar kalian," jawab Takeshi yangblangsung membuat pengantin baru itu bernafas lega.


"Aga, Aya ... aku tdak tahu sampai kapan bisa melindungi kalian dengan caraku tapi, jika suatu saat nanti terjadi sesuatu terhadapku yah, katakanlah misalnya para pejuang Indonesia berhasil memerdekakan negara ini dan aku ditarik pulang ke Jepang, setidaknya kalian khususnya Aya, punya modal untuk hidup ke depannya. Itulah sebabnya aku mau Aya belajar dan dikenal juga punya relasi baik dengan beberapa kalangan. Nah Aya, apa kini kamu sudah mengerti salah satu keuntungan menjadi kekasihku?" ungkap Takeshi yang tahu penyebab dahi Aya berkerut dari tadi.


"Hanya kekasih pura-pura lho, tuan," Aga menegaskan.


"Iya, aku tahu. Dan yang tahu aku dan Aya hanya kekasih pura-pura juga cuma orang rumah ini saja, diluar ... biarkan sementara publik tahu aku sedang menjalin hubungan istimewa dengan istrimu ini, paham?"


"Iya tuan, paham."


"Baiklah, terakhir aku minta maaf karena hanya bisa menyediakan kamar yang dibuat kedap suara untuk bulan madu kalian. Berbeda jika misalnya kamu menikah denganku Aya, untuk bulan madu mungkin aku akan mengajakmu pulang ke Jepang," canda Takeshi lagi.


"Ish tuan ini, lho," protes Aga.


"Iya, iya ... maaf. Ya sudah sana, aku sengaja membebaskan kalian dari segala tugas karena ini hari adalah istimewa kalian."


Aga dan Aya menatap Takeshi. "Aku sudah selesai bicara, sana ... apa yang kalian tunggu? Masa sampai aku bilang, kembali ke kamar dan nikmatilah malam pertama kalian?"


"Te-terima kasih tuan, kami permisi dulu," pamit Aga sambil menarik tangan Aya.


"Aish ... ada yang tidak sabar rupanya, ingat pesanku Aga, jangan bikin Aya hamil dulu, kasihan ... istrimu masih kecil," pesan Takeshi saat kedua pasangan itu hampir hilang dari pandangan matanya.


***


"Sayang, aku tidak tahu bagaimana memulainya," ungkap Aga saat ia dan Aya sudah berada di kamar.


"Memulai apa, mas?"


"Itu."


"Itu, apa?" Aya pura-pura tidak tahu maksud suaminya.


"Ituuu." Aga menyatukan kedua ujung telunjuknya.


"Oh, itu. Lha kan itu kamu udah bisa, mas." Aya ikut menyatukan kedua ujung telunjuknya seperti Aga.

__ADS_1


"Ck, itu lho sayang ... hubungan suami istri, kamu tentunya lebih pengalaman dari aku."


"Aish ... tapi tadi tuan Takeshi bilang jangan bikin hamil dulu, mas."


"Emang kalau sekali aja bisa hamil?"


"Bisa saja. Mas gak punya benda pengaman, kan?"


"Pengaman apa? Senjata laras panjang? Emang apa hubungannya sama kehamilan?"


"Astaga, mas ... bukan pengaman yang itu tapi sarung karet buat itu-mu biar yang keluar dari situ nanti gak jadi anak di perutku."


"Hah, itu yang keluar dari situ?" Aga nampak berfikir.


"Ah, mas ini ... sebenarnya ada cara lain, tapi tetap ada kemungkinan buat jadi, sih. Kalau mas mau juga, tapi kalau mas bisa nahan kita tunda saja sampai mas dapat pengaman atau aku sudah suntik pencegah kehamilan dulu, gimana?"


Kini Aga mengerti maksud perkataan Aya, "Hm, tidak mau. Gimana ceritanya malam pengantin tapi kita gak kawin, gak afdol, sayang."


"Baiklah, tapi mas harus disiplin ya ... kalau merasa mau keluar itunya harus buru-buru ditarik."


"Haduh, itu-itu melulu dari tadi bikin bingung aja. Ya udah, nanti ingatin ya sayang. Hm, kita mulai dari mana nih?"


Aya tidak menyahuti perkataan suaminya tapi langsung membungkam mulut Aga dengan bibirnya. Tentu saja kali ini Aga tidak menolak seperti saat kejadian di tepi danau dulu, karena sekarang mereka sudah syah menikah.


Dengan gerakan yang lembut Aya memanjakan bibir suaminya sementara tangannya mulai melepaskan kancing kemeja Aga satu per satu. Selesai dengan penutup bagian atas, tangan Aya bergerak mengurai pengait celana Aya dan segera saja tangannya merambah sesuatu milik suaminya yang sudah mencuat sedari tadi.


"Uuuh," desis Aga saat jemari Aya aktif memainkan pedang tumpulnya. Mata Aga membesar saat Aya berjongkok di hadapannya, rupanya tidak cukup dengan jemari, Aya juga ******* pusakanya itu dengan mulut.


Aga hanya bisa memejamkan mata menikmati kenyamanan yang diberikan Aya padanya, ia baru membuka mata saat Aya berhenti melakukan itu dan berdiri sejajar di hadapannya.


"What next?" batin Aga.


Sambil tersenyum Aya melucuti pakaiannya sendiri lalu berbaring di tempat tidur, "Mas aku siap, lakukan apa saja yang mas mau," pinta Aya dengan suara yang terdengar sensual di indera pendengaran Aga.


Mengikuti naluri kelelakiannya, kini Aga-lah yang menjadi pemimpin permainan panas itu. Meski sudah berpengalaman dengan banyak pria, Aya tidak mau mendominasi adegan percintaan pertama-nya dengan lelaki yang dia cintai itu.

__ADS_1


Aya hanya mengarahkan dibagian mana saja ia ingin disentuh lelakinya, namun rupanya Aga lelaki pintar, buktinya malah Aya yang dibikin mendesah gelisah saat suaminya memanjakannya dengan penuh kasih sayang.


'Ah, ternyata bermesraan dengan orang yang benar-benar kita cinta dan sudah terikat resmi, seperti ini nikmatnya,' batin Aya.


__ADS_2