
"Eh ... kamu belum jawab, apa ada pesan penting dari Laksamana Takeshi?" tanya Isao.
Agastya masih tertegun, ia perlu waktu untuk mewaraskan isi kepalanya, "Eh, a-aku ..."
"Apa kamu mau memenuhi undangan Sumi di kamar belakang dulu?" tanya Isao dengan senyum sinis.
"Iya, eh ... tid-tidak, tuan." Agastya memukul pelan mulutnya yang asal nyablak.
"Haha, tidak apa-apa kalau mau, aku bisa tutup mulut dari tuan Takeshi asal ..."
"Asal apa, tuan?" Ealah, Agastya kok nanya seolah tertarik pada tawaran Isao, ya?
"Kamu antarkan Arrabella kemari," jawab Isao tanpa ragu.
'Masa iya sih, demi perempuan genit tadi, aku harus mengantar Arrabella kemari? Eh, Arrabella? Dheg!Arrabella kan, istriku?' Monolog Agastya dalam benaknya. Seketika Agastya teringat tujuannya ke rumah Isao.
"Maaf tidak bisa tuan, tujuan saya ke sini justru untuk menanyakan keberadaan Arrabella, pada tuan."
"Heh? Kamu tidak lihat dari tadi tidak ada kekasih tuanmu di sini, wanitanya cuma ada Sumi dan Yati saja, membosankan tapi ya terpaksa kupakai karena belum mendapatkan kembali Arrabella, ataupun Monic, haha. Lumayan, dari pada karatan."
"Tapi tuan, Arrabella hilang di kampus, dosennya bilang ajudan tuan Takeshi yang menjemputnya."
"Lho, apa urusannya denganku? Otakmu dimana, kacung?Kamu tanya sana sama tuan Takeshi atau sama Ryujo. Aku tidak ada urusan sama sekali dengan mereka." Isao tersinggung karena merasa dituduh.
"Sudah tuan, bahkan tuan Ryujo sendiri yang memintaku ke mari menanyakan keberadaan Arrabella pada tuan."
"Sialan Ryujo, aku bawa kabur Monic baru tahu rasa," umpat Isao.
__ADS_1
"Tuan, tolong katakan di mana Arrabella?" Mohon Agastya.
"Aku tidak tahu! Kamu pikir hanya aku yang menginginkan wanita pelacur, kekasih tuanmu yang impoten itu? Hei, dengar ... Arrabella itu primadona ianjo, kamu pikir tiap lelaki yang sudah mencicipi tubuhnya, tidak mau mengulang kebersamaan denganya? Haha, aku baru saja akan menyusun siasat untuk bisa membawanya keluar dari rumah Takeshi," jawab Isao jujur.
"Tapi ... "
"Aish, dasar jongos! Banyak omong kamu. Selesaikan." Ucap Isao memberi kode pada anak buahnya.
Baku hantam tanpa penyebab yang jelas itu terjadi, tidak terelakan lagi. Agastya yang mulai kewalahan, membalas secara membabi buta.
Dor, dor, dooor ... Agastya melepaskan tembakan dari pistol yang diberikan Takeshi padanya.
Brukkk. Sosok tinggi gempal itu jatuh tanpa tenaga.
"Sialan! Kamu telah melukai tuan kami," ujar salah satu pengawal Isao.
Disaat Laksamana Takeshi tidak hanya mengizinkan rumahnya dijadikan tempat perumusan proklamasi, tetapi juga memastikan agar proses perumusan berjalan dengan aman dan lancar, Agastya di kediaman Isao malah disekap oleh para pengawal akibat tindakan menghilangkan nyawa perwira Isao. Ya, Agastya gagal menemukan Aya di rumah Isao, ia malah terpancing dan kalap hingga lupa pesan Ryujo, maka habislah nyawa pria bejat itu di tangannya.
Beberapa hari sebelumnya tepatnya tanggal 6 dan 9 Agustus terjadi pengeboman di Hiroshima dan Nagasaski oleh pihak Amerika Serikat, merupakan balasan bagi Jepang, yang telah menghancurkan banyak armada Pasifik Amerika Serikat yang berbasis di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Jatuhnya kedua bom atom tersebut lantas membuat Jepang tidak lagi berdaya. Sehingga terjadi kekosongan kekuasaan sebab Jepang menyerah kepada Sekutu. Tujuan penculikan Soekarno-Hatta, benar seperti yang dikatakan Monic pada Agastya, yaitu agar Soekarno dan Hatta yang merupakan tokoh besar Indonesia disembunyikan dan dijauhkan dari pengaruh Jepang, selain itu para tokoh kemerdekaan juga ingin membuktikan perjuangannya melalui proklamasi kemerdekaan setelah dalam waktu yang lama bangsa Indonesia telah dijajah.
Peristiwa pengeboman itu membuat semangat dan martabat jatuh dan Jepang menyadari kekalahan telah di depan mata, sehingga Kaisar Jepang memutuskan untuk menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang secara resmi menyerah kepada Sekutu di kapal USS Missouri dan mulai tanggal 15 Agustus 1945 dan seluruh pasukan Jepang ke negaranya harus kembali ke negara matahari terbit sementara tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu, itulah yang membuat Laksamana Takeshi masih berada di Indonesia dengan banyak urusan terkait tanggungjawabnya, sehingga sampai mengabaikan keberadaan Aya 'kekasihnya' dan Agastya, asistennya.
Demikianlah, walaupun hanya di belakang layar, persahabatannya dengan Soekarno secara tidak langsung membuat Laksamana Takeshi sedikit banyak memiliki andil sehingga pada 17 Agustus 1945, Indonesia berhasil memproklamirkan kemerdekaannya dan berhasil mengibarkan bendera merah putih sebagai simbol bahwa Indonesia telah bebas dari semua bangsa penjajah.
Pikir Takeshi, kedua suami istri itu sedang mengamankan diri, dan memang sebaiknya begitu, meskipun di rumah dinasnya aman tapi karena mereka termasuk orang yang bekerja pada pihak Jepang sepertinya, bisa jadi sasaran empuk baik bagi sekutu maupun pihak Indonesia sendiri atas 'pengkhianatan' mereka.
Satu sisi Takeshi turut merasa lega atas keberhasilan para pejuang Indonesia meraih kemerdekaannya, namun ... ia tahu, hal yang akan mengancam karir dan masa depannya jika kembali ke Jepang nanti.
__ADS_1
Saat pemulangan pasukan yang dilakukan secara bertahap, Takeshi mendapat informasi dari intelijen bahwa perwira Isao mati terbunuh oleh seseorang yang menggunakan pistol yang mungkin disengaja atau tidak, tertinggal di kediaman Isao dengan lambang kode rahasia khusus yang hanya digunakan oleh orang-orang kepercayaan Takeshi.
Takeshi mengurut dahinya, ia merasa gagal melindungi orang-orangnya sebab ia baru tahu kalau sore itu Agastya pergi ke rumah Isao dengan tujuan mencari keberadaan Aya yang entah bagaimana sampai terjadi penembakan terhadap Isao oleh Agastya.
"Aya tetap kuliah seperti biasa walaupun terjadi kekacauan di negara ini, karena yakin atas perlindungan tuan. Namun siapa sangka, disaat Agastya berjaga, justru ada seseorang yang mengaku sebagai utusan tuan, menjemputnya di kelas," jelas Ryujo pada Takeshi.
"Dan kamu menyuruh Agastya ke rumah Isao karena berpikir orang itu suruhan Isao?"
"Benar tuan."
"Wah, aku terlalu fokus pada tamu-tamuku para tokoh kemerdekaan itu, sampai tidak berpikiran melarang saja Aya ke kampus," sesal Takeshi.
"Sebenarnya selain Isao aku masih mencurigai satu nama, bangsa kita juga?"
"Siapa?"
"Panglima perang Katsuro."
"Haihhh ... itu sangat tidak mungkin, Ryujo. Katsuro sudah merelakan Arrabella untukku, tidak mungkin sampai main culik seperti itu, dia bukan orang yang gampang berubah pikiran. Lagi pula, Katsuro juga sedang sibuk-sibuknya mengatur pasukan, mana sempat mikirin perempuan, sih?" tutur Takeshi.
"Ah, iya juga ... tapi siapa tuan? Cuma 2 nama itu yang kita tahu pernah ada kontak fisik dengan Aya."
"Iya, siapa pun yang kamu duga berdasarkan info dari dosennya Aya, lelaki yang mengaku utusanku itu adalah bangsa kita tapi ... ah, kamu tahu sendiri kan, kondisi seluruh pasukan kita dalam keadaan genting begitu ... emang ada tentara atau perwira yang malah ingin bersenang-senang?"
"Nah, makanya waktu itu aku meminta Agastya ke rumah Isao sebab temanku itu kadang bertindak aneh dan konyol meski di saat sulit. Baginya beban negara jangan sampai mengorbankan kesenangan pribadinya," Ryujo menjelaskan dengan raut menahan tawa sekaligus sedih atas kematian Isao.
"Hais ... baiklah, Isao sudah tewas dan Katsuro juga mungkin saat ini sudah kembali ke pelukan anak istrinya di Jepang, berarti sudah pasti, mereka tidak ada hubungannya dengan raibnya Aya dan Aga. Tapi siapa pelakunya? Ke mana mereka pergi?" ucap Takeshi seolah bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1