Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Ternyata Ditipu


__ADS_3

"Cepat, bersihkan badanmu!," kata Isao seraya melempar handuk dan tas milik Aya. Senyum lelaki yang baru saja memanjakan jiwa dan raga Aya itu sirna, berganti ke mode dingin, acuh tak acuh.


"Apakah kita akan kembali ke rumah?" tanya Aya usai mandi dan berpakaian.


"Kamu mau? Tapi kamu harus pintar agar Monic tidak curiga, lihat Sumi dan Yati ... apakah kamu tahu kalau mereka selain bekerja mengurus rumah, melayani kebutuhan pribadiku seperti yang barusan kita lakukan?"


Aya menunduk dengan wajah yang memerah.


"Apa kamu bersedia tinggal dirumahku dan berbagi cinta dengan Monic, Sumi dan Yati?" Isao mengangkat dagu Aya dan mengecup bibirnya.


"Ah ... tapi kamu harus bersabar dulu, karena Irene tentu memasang harga mahal untuk bisa menebusmu dari ianjo. Ah, apa aku tukar saja kamu dengan Monic, biar aku bisa mendapat potongan harga ... lagian aku sudah bosan dengan Monic yang terlalu mengatur dan malas-malasan melayaniku, tingkahnya lebih parah dari istri benaran saja."


"Ja-jadi ... nyonya Monic bukan istri tuan?"


"Haha ... ya bukanlah. Dulu Monic juga sepertimu, perempuan yang kupungut dari ianjo lalu kutebus agar bisa kubawa pulang karena aku tidak suka lelaki lain juga memakai tubuhnya. Aku dan dia beda negara, aku malas ribet mengurusi pernikahan hanya demi kepentingan hasraatku saja, toh bisa beli dan selesai. Lagi pula suatu saat aku pasti akan kembali pada anak dan istriku di Kyoto."


"Em ... bagaimana soal beasiswa pendidikan di Jepang untukku tuan?" tanya Aya ragu.


"Haha, tidak ada beasiswa, itu hanya akal-akalan Monic saja agar kamu mau dibawa ke ianjo. Negara sedang berperang, gimana bisa ada beasiswa? Yang ada malah ... banyak perempuan pribumi, yang terkena iming-iming pendidikan gratis, pelatihan jadi penyanyi padahal sebenarnya menjadi penghuni ianjo. Sebenarnya menjadi jugun ianfu, perempuan yang melayani di ianjo itu mulia, karena tugasnya yang menghibur dan memanjakan kami, tentara militer Jepang. Arrabella, pemerintah kami sangat memperhatikan kebutuhan tentara yang maju berperang, sebab itu sandang, pangan hingga kebutuhan seksuaal pun disediakan semata demi menjaga semangat dan ketahanan fisik prajurit. Kamu mengerti?"


Aya mengangguk perlahan.


"Jika kamu tidak mau disakiti, jangan pernah melawan apalagi menolak. Terima dengan senyum dan layani keinginannya, maka kamu juga akan mendapat keuntungan ganda, kepuasan dan uang. Kamu cantik, jika kamu berlaku baik kamu pasti jadi primadona di ianjo Irene jangan seperti jugun ianfu lainnya yang malas-malasan, menentang sampai teriak-teriak. Ah, seolah tidak tahu saja, bagi kami yang penting pedang tumpul kami mendapat liang, mau menolak seperti apapun kalau sudah masuk ya tetap digenjot sampai tuntas. Kami tidak peduli pemilik liang itu saat dimasuki menangis, kesakitan atau berteriak, yang penting urusan kami beres.


Aya hanya memandang ke arah Isao. "Jadi, kamu sudah tahu kan, menurut dan kamu keenakan atau ... melawan maka kamu akan disiksa dan diperkosaa? Pilihan ada padamu Arrabella cantik.


"Lalu ... lalu, bagaimana dengan keluarga saya, tuan?"


"Hah, entahlah. Kalau tetap tidak mau pulang ke Belanda ya berarti tetap di kamp interniran saja."


"Apa tuan tidak bisa membuat keluarga saya kembali ke Magelang?"


"Kamu ini, baru dikasih enak sedikit sudah ngelunjak, jangan berharap yang tidak-tidak ... Belanda dan semua antek-anteknya harus musnah dari negeri ini. Kalian yang tetap mau bertahan termasuk keluargamu, hanya menunda waktu kematian saja.

__ADS_1


Kini Aya mengerti, kalau dia telah ditipu mentah-mentah oleh nyonya Monic. Harusnya saat Aya dijemput paksa akan langsung dibawa ke ianjo, tapi karena belum ada kesepakatan harga dengan mami Irene, maka nyonya Monic sengaja menundanya.


"Lalu setelah dari sini, saya akan kemana, tuan?"


"Hm ... yang pasti setelah 5 hari baru aku kembalikan kamu ke ianjo."


"Ianjo, tempat mami Irene?"


"Betul."


"Ayo berangkat, temanku pasti sudah tidak sabar menunggumu."


Dheg!


Dada Aya bergemuruh, untuk apa teman tuan Isao menunggunya?


***


"Maaf tuan Isao, kemarin tuan Ryujo berpesan kalau dia ada tugas mendadak yang mengharuskannya kembali berlayar, jadi katanya lain kali saja dan terserah pada tuan menjalani rencana yang sudah disusun," kata supir itu pada Isao.


"Maaf tuan, saya tidak berani mengganggu kesenangan tuan di dalam," sahut supir itu tenang.


"Baiklah kalau begitu antarkan kami ke tangsi khusus, kamu mengerti?"


"Siap tuan."


Tangsi khusus yang dimaksud oleh Isao di sini adalah gedung yang dibuat untuk tempat tinggal para tentara Jepang golongan perwira tinggi. Namanya juga khusus, jadi tidak sembarang tentara bisa masuk ke situ termasuk para wanita, sebab disitu ada juga perwira yang sengaja membawa istrinya dari Jepang.


Isao memiliki kamar pribadi bangunan itu, ruangan yang seharusnya dia tempati bersama Monic, tapi karena ia enggan berbagi dan Monic juga tidak mau tinggal di situ makanya mereka, mencari rumah untuk ditempati.


"Istirahatlah, aku akan mengurus sesuatu. Makanan dan semua keperluanmi sudah tersedia. Kamu jangan berbuat macam-macam," titah Isao sebelum mengunci dan meninggalkan Aya di sendirian.


***

__ADS_1


Lelah.


Setelah meninggalkan Aya di tangsi khususnya, Isao bekerja dan pulang ke rumah.


Isao melangkah lesu ke kediamannya sambil memutar otak, mencari alasan yang bisa diterima Monic jika malam ini ia tidak tidur di rumah. Isao masih ingin menikmati tubuh ramping Aya. Tapi bagaimana? Ah, dia harus bisa meyakinkan Monic.


"Selamat datang, tuan." Baru saja masuk, Sumi sudah menyergapnya dengan pelukan.


"Hei, jaga sikapmu Sumi!"


"Aman tuan, nyonya Monic sedang tidak ada dirumah. Kemarin nyonya Monic bilang akan pulang ke Bandung 3 hari. Nyonya pergi membawa Arrabella, katanya mau diantar ke mami Irene," papar Sumi.


'Ah, aman. Aku bisa kembali ke tangsi secepatnya,' pikir Isao.


"Oh, kalau begitu kamu yang siapkan air hangat untuk mandi dan baju ganti untukku."


"Tidak sekalian saya dimandiin, tuan? Tidak iri sama mereka ..." sahut Sumi sambil mengerling genit.


"Mereka, siapa?"


"Itu, Yati dan pengawal tuan," jari Sumi menunjuk ke kamar tamu yang mungkin lupa ditutup, sehingga aktivitas panas 2 makhluk berkeringat di dalamnya mudah disaksikan dari luar.


"Hah, kunci pintu dan tarik gordennya, Sumi. Lampu jangan dihidupkan dulu. Kita bereskan di sini saja, aku sudah tidak tahan," kata Isao sambil menghempaskan pantaatnya di sofa ruang tamu.


Sumi, babu yang terampil dan cekatan itu segera melucuti pakaiannya sendiri dan langsung duduk di pangkuan Isao menyodorkan payudaraa ke mulut Isao.


"Oh ... untung tuan datang, aku tersiksa mendengar suara mereka, membuat jiwaku meronta ingin dipuaskan," ucap Sumi dengan suara yang serak.


"Kalau tidak mau tersiksa lebih lama, turunkan dulu celanaku biar pedang tumpulku segera memuaskanmu." Tentu saja Sumi yang patuh itu gegas menuruti yang dikatakan tuannya.


"Uuh, goyanganmu memang tidak ada duanya, Sumi. Kau selalu membuatku ingin cep-"


"Ish," Isao meringis karena Sumi mencubit pinggangnya.

__ADS_1


"Tahan sebentar tuan, aku mau sampai," kata Sumi sambil terus bergerak liar diatas tubuh Isao.


__ADS_2