Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Pada Suatu Senja


__ADS_3

"Sayang kalau sudah selesai, kemarilah," ujar Agastya yang sengaja berbalik badan saat Aya membenahi pakaiannya.


Aya duduk di sisi lelaki yang tampak melepas ikan dari kailnya.


"Wah, kita dapat ikan yang lumayan besar, mas."


Agastya menoleh sambil tersenyum lalu kembali menaruh kail yang sudah diberi umpan berupa isi perut ikan yang didapatnya tadi ke danau. Langit mulai berwarna jingga saat Agastya mengumpulkan ranting kering.


"Mau bikin api unggun?" tanya Aya.


"Hm iya, buat bakar ikan. Kamu bawa garam yang ku minta, kan?"


"Iya, ini." Aya memberikan botol kecil pada Agastya. Lalu dengan telaten Agastya membalurkan garam itu pada ikan yang sudah dibersihkan sebelum mulai membakarnya.


Cahaya mentari mulai meredup dan membiarkan langit perlahan berubah menjadi lembayung.


"Ternyata asyik juga melihat pantulan sinar terang berganti di danau ini. Indah sekali," gumam Aya.


"Ini hari keberuntungan kita, sayang. Sebentar sinar itu semakin redup ditelan awan gelap tapi itu hanya sementara, karena akan ada keindahan lain yang muncul tidak kalah indahnya."


"Apa?"


"Tunggu saja."


"Hm, tapi ... apa artinya kita akan bermalam di sini?"


"Tidak. Orang kamp, terutama Himawari dan nyonya Monic akan ribut jika sampai kita menginap." Mengingat kenakalan Aya barusan, tentu saja Agastya menggeleng.


"Oh, aku pikir ..."


"Kamu pikir apa? Berduaan di tempat sepi apalagi sampai bermalam hanya akan mengundang setan," sela Agastya.


"Hiiiyy," Aya bergidik ngeri sebab jalan menuju danau dan lokasi mereka saat ini adalah hutan belantara, yang menurut pemikiran Aya, hutan adalah tempat mahkluk halus juga binatang liar bermukim.


"Apa yang kamu takutkan? Tidak hanya di sini, di manapun saat kita sengaja berduaan dalam waktu yang lama seperti ini, setan itu bisa saja muncul. Contohnya tadi itu, saat situasi mendukung sepasang kekasih yang dimabuk cinta maka setan berupa hawa nafsu akan berusaha melemahkan pertahanan iman kita," jelas Agastya.


"Oh," sahut Aya sambil menunduk, ia merasa pipinya memanas mendengar kalimat berupa sindiran dari kekasihnya atas tindakannya nakalnya tadi.


"Tapi tidak apa, selagi salah satu dari kita ingat untuk berhenti sebelum memulai, maka setan itu akan menjauh sendiri dan kita terhindar dari perbuatan maksiat."


"Kalau begitu, segeralah menjadikanku wanita yang halal bagimu," ucap Aya malu-malu.

__ADS_1


"Tentu, nanti jika tuan Takeshi kembali aku akan meminta izinnya. Kurang puas rasanya, harus menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi begini."


"Tapi, apakah tuan Takeshi bisa menerima?"


"Kenapa tidak? Aku cukup mengenal pribadi tuan Takeshi, jangan khawatir ... beliau cukup arif dalam bersikap dan tentunya ikhlas atas pilihanmu, bukankah itu yang beliau katakan padamu?"


Aya mengangguk sambil menatap kagum langit yang kian temaram.


"Bias senja memang indah, tapi jika disuruh memilih fajar atau senja, tentu aku akan memilih fajar."


"Kenapa memangnya, mas?"


"Karena senja sebentar akan berganti dengan kegelapan dan kesunyian, sedangkan fajar menjemput mentari yang menerangi dang menghangatkan langit. Senja adalah akhir kisah hari itu sementara fajar mengantar kita memulai cerita baru."


"Kalau begitu, kenapa mas tidak mengajakku menikmati fajar saja? Bukannya menikmati senja begini?" protes Aya.


"Ah, fajar lebih indah dilihat saat kita berada di ketinggian, bukan di tempat yang rendah seperti ini, sayang. Suatu saat, jika ada kesempatan aku akan mengajakmu mendaki gunung lalu bersama menikmati fajar memanjat langit."


"Hm, begitu, ya. Apa artinya mas tidak suka senja?"


"Tidak. Mana ada keindahan Tuhan boleh tidak kita sukai? Senja kupilih karena membuatku menghargai kesepian. Kesepianku sebelum bertemu denganmu dan juga jika seandainya kelak kita tidak berjodoh ... maka senja ini mengingatkanku bahwa tidak selamanya kita bisa selalu bersama dengan orang yang kita pilih untuk dicintai."


"Entahlah, segala sesuatu ada masanya dan kita tidak bisa menawar takdir. Yang jelas, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok."


"Kenapa begitu terdengar memilukan?" Aya menyandarkan kepalanya di bahu kekar kekasihnya.


"Sayang, aku hanya bilang 'jika seandainya' saja. Tentu aku berharap kita bisa selalu bersama dan aku mau bias lembayung di danau ini akan jadi senja yang tidak terlupakan seumur hidup kita."


"Ya, hari ini tentu tidak akan aku lupakan. Terima kasih kamu telah berusaha menjaga kehormatanku mas," sahut Aya.


"Sudah seharusnya begitu, sayang. Sesungguhnya tanggung jawab seorang lelaki tidak terbatas menikahi gadis yang sudah dihamilinya, tanggung jawab utamanya adalah menjaga kesucian, mencegah jangan sampai itu terjadi sebelum ada ikatan."


"Tapi mas, aku bukan perempuan yang suci lagi."


"Walaupun demikian, bagiku kamu tetaplah gadis suci yang aku usahakan untuk tidak kucemari sebelum kamu syah menjadi milikku."


Pernyataan Agastya membuat Aya terharu, "Ah, aku benar-benar bersyukur bertemu lelaki sepertimu, mas."


"Aku lebih bersyukur menjadi kekasih perempuan sepertimu sayang, tapi kamu ... jangan lagi menggodaku seperti tadi sebab aku bisa saja khilaf. Kita harus saling membantu dalam menjaga kesucian cinta kita. Yang penting ke depannya kita harus bisa menjaga hati masing-masing agar tidak mudah tergoda."


"Baiklah, aku janji. Jika menikah bisa menghindarkan kita dari perbuatan terlarang, maka aku mau kamu secepatnya menikahkanku, mas," sagut Aya mantap.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Hanya aku ragu, kamu masih terlalu muda."


"Ck ... aku sudah 15 tahun, mas. Dulu teman-teman kakakku Clay, banyak yang sudah menikah saat seusiaku."


"Umur memang tidak bisa jadi patokan kesiapan seseorang membina rumah tangga, tapi 15 tahun bisa dibilang masih sangat muda, sayang."


"Lalu menurut mas, usia berapa yang ideal?"


"Hm, setidaknya 20-an tahun lah."


"Clay menikah di usia 21 tahun, disaat dia dan suaminya sudah bekerja. Tapi aku? Gimana bisa dapat kerjaan yang benar, aku tidak sekolah begini? Lagi pula, apa iya kita akan menikah paling cepat 5 tahun lagi?" Kata Aya sambil mengerucutkan mulutnya.


"Haha, tampaknya gadisku sudah tidak tahan untuk segera kumiliki, lagi pula aku juga sebenarnya tidak yakin kita akan bertahan selama itu. Baiklah aku janji untuk segera menghalalkan hubungan kita." Ujar Agastya sambil menoel hidung mancung Aya.


"Mas ... ."


"Ya, sayang?"


"Nanti kalau kita sudah menikah, aku tidak mau kamu seperti para lelaki yang suka ke ianjo, lho."


"Maksudmu, lelaki yang suka bermain dengan ... maaf, perempuan nakal, begitu?"


Aya mengangguk.


Agastya meraih jemari Aya, "Dengan pertolongan Allah, aku berusaha untuk tidak jadi pria seperti itu. Belum menikah saja, sejauh ini aku bisa menjaga hasratku apalagi nanti saat aku sudah memilikimu sebagai tempatku berbagi kepuasan yang halal."


"Ya, barangkali saja suatu saat nanti kamu bosan denganku lalu ingin mencicipi gadis lain."


"Astaga Aya, belum apa-apa kamu sudah berfikiran yang bukan-bukan begitu?"


"Aku hanya takut mas kepincut gadis lain, mas. Lelaki yang pernah bersamaku di ianjo, semua sudah memiliki istri tapi mereka malah mencari hiburan dengan jugun ianfu."


"Itu beda kasus, sayang. Selain karena punya bakat nakal, mereka seperti itu karena jauh dari istrinya, bukan?"


"Iya, sih."


"Contohnya tuan Takeshi yang mampu menjaga kesuciannya bahkan di saat beliau sudah berstatus duda. Walaupun ada peluang untuk memilih wanita manapun yang bisa menghangatkan tubuhnya, misalnya kamu yang jelas-jelas memiliki hak atasmu, beliau tidak memanfaatkan kesempatan itu, kan?"


"Iya, tuan Takeshi justru meminta pertimbanganku agar bersedia menjadi istrinya."


"Nah itulah, tuan Takeshi adalah type lelaki yang bertanggung jawab. Dan selama jadi asisten tuan Takeshi aku banyak belajar mengenai bagaimana mempertahankan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, meskipun kondisi sangat mendukung."

__ADS_1


__ADS_2