Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Persahabatan Rubah dan Serigala


__ADS_3

'Siapapun tahu, yang terkuat dan tercepat adalah pemenangnya tapi jangan lupakan kecerdasan dan keberuntungan yang turut menunjang pemenang itu mendapat buruannya.'


Demikian tulis Geetruida mengawali bab ke 20 yang sedang dibaca Mangata.


Yang kuat, cepat, cerdas dan beruntung pun masih perlu waktu dan upaya agar mendapatkan mangsa, tapi tidak jarang malah calon pemenang itu justru seketika menjadi korban karena ketidakpekaannya dan ketika menemukan dirinya sudah tidak berdaya, semua sudah terlambat.


Sejatinya, orang baik bertemu orang baik dan berada dalam lingkaran pertemanan yang sama, demikian juga halnya 'binatang' yang hanya serasi berteman dengan sesama 'binatang'.


Seperti Ryujo dan Isao, persahabatan mereka seperti pertemanan rubah dan serigala, sama-sama manis di depan, berlagak baik hati gemar menolong, tanpa pamrih padahal cuma topeng. Ceritanya bekerjasama padahal saling menjatuhkan dan hanya memikirkan trik halus agar pengorbanannya menjadi keuntungan maksimal bahkan di saat lain tanpa ragu mendorong sahabatnya itu ke jurang demi menyelamatkan diri sendiri.


Ryujo ibaratkan rubah cerdas yang sabar menunggu saat tepat untuk memangsa tanpa membuat calon buruannya menyadari sedang diintai dan Isao bagaikan serigala licik yang pintar memanfaatkan situasi, dan menjadikan calon mangsanya umpan bagi pemburu lain padahal nanti dia sendiri yang akan menerkam.


Lihat saja nanti, waktu akan menentukan siapa yang akan jadi pemenang pertarungan terbungkus persahabatan itu atau malah keduanya sama-sama menjadi korban buruan, haha.


"Selamat pagi, Ryujo. Gimana istirahatmu semalam?" sapa Isao saat Ryujo bergabung dengan mereka untuk menikmati sarapan.


"Hm, luar biasa. Kapan-kapan aku menginap di sini lagi, ya?"


"Oh, tentu. Kapan saja kamu mau, pintu rumah kami selalu terbuka, bukan begitu sayang?" Isao menyikut lengan Monic yang tengah mengoles selai di roti.


"Hm," jawab Monic dingin sambil menatap rotinya.


Melihat gelagat wanitanya, Isao cepat-cepat menghabiskan makanannya dan mengajak Ryujo ke kantor. Isao tahu sumber kekesalan Monic adalah karena dia yang tertidur sebelum sempat memuaaskan wanita itu. Tadi pagi saat Isao terbangun, Monic tidur memunggunginya. Ketika Isao memeluk Monic dari belakang, dengan gerakan cepat Monic membebaskan diri.


"Jangan memulai kalau kamu tahu kamu tidak akan bisa menyelesaikannya," hardik wanita itu.


"Sayang, maaf. Aku ngantuk berat semalam, sungguh aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Aku tebus sekarang, boleh?"


"Tidak. Tidak perlu!" Isao hanya bisa membuang nafas kasar saat Monic menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


Aish, jelas saja Monic menolak tawaran Isao toh semalam ia sudah puas digempur oleh Ryujo. Keduanya asyik berpacu hingga menjelang subuh.


Jika tidak mengingat ada Isao yang terlelap di kamar depan sendirian, Monic ingin tidur dalam dekapan Ryujo saja hingga matahari menyembul dan mengawali pagi dengan mengulang olah raga mengasyikkan itu sekali lagi. Tapi, seperti yang Ryujo bilang, mereka harus sabar dan bermain rapi, jangan sampai Isao curiga, maka dengan malas-malasan Monic kembali ke kamar depan, tidur memunggungi Isao.


Isao kesal kenapa bisa tidur senyenyak itu dan bangun disaat hari mulai terang. Andai saja ia terbangun saat masih malam dengan kondisi Monic yang memunggunginya seperti ini ... ish, sudah pasti Sumi, Yati atau keduanya memberikan kenikmatan sesuai fantasinya.


Sekilas Isao ingin nekat saja, mengajak salah satu dari pembantunya bercintaa di kamar mandi belakang, main cepat dalam kondisi mencuri waktu kayanya seru juga.


"Sayang, aku pengen ..." ujar Isao sambil meremaas pelan bokoong seksi Monic.

__ADS_1


Plakkk!


Monic memukul tangan Isao.


"Aku bilang tidak ya tidak. Biar kamu tahu bagaimana rasanya lagi kangen malah ditinggal ngorok," jawab Monic.


'Aish sial, ternyata Monic tidak tidur,' batin Isao. Jadinya Isao mengurungkan niat bersenang-senang dengan salah satu pembantu mereka. Jadilah Isao mengasah pedangnya sendiri di kamar mandi.


***


"Kamu kenapa, ada masalah?" tanya Ryujo saat mereka sudah tiba di kantor Isao.


"Hm."


"Apa?"


"Monic."


"Ada apa dengan wanitamu itu?"


"Aku tidak mengerti, aku sering gagal memuaskannya dan tidak jarang aku tertidur sebelum memulai sesi panas itu."


"Kamunya sudah bosan atau ... kamu mengalami disfungsi ereksii?"


"Ah, kalau begitu kamu kembalikan saja dia ke ianjo, aku pikir Monic harganya masih lumayan."


"Kamu gila, Ryujo. Aku tidak mungkin melakukan itu, dia pemegang kendali keuanganku, tahu?"


"Hm, tidak baik terlalu percaya sama seseorang walau itu teman tidur kita sekalipun. Aku sarankan, untuk tidak membiarkan wanita itu berkuasa penuh atas semua harta yang kamu punya."


"Terima kasih, atas saranmu Ryujo."


"Dan satu lagi Isao, jangan terlalu cinta atau menaruh harapan penuh pada Monic. Ingat, dia tidak sebangsa dengan kita, jika nanti kita dipanggil kembali ke negara kita, memangnya kamu mau membawanya serta?"


Isao tepekur merenungi perkataan sahabatnya.


"Membawa Monic pulang ke Kyoto? Kemungkinannya kecil sekali, apalagi aku dan Keiko, istriku masih terhitung saudara, kasihan Monic jika nanti dikucilkan keluarga besarku."


"Nah, baguslah kalau kamu mengerti maksudku."

__ADS_1


"Ryujo, kamu berkata seperti ini karena ... sikap Monic barusan, ya?"


Ryujo mengerutkan kedua alisnya, "Hei Isao, kita kenal sudah lama, bukan kemaren sore."


"Ya ... ya, kamu tahu? Ini memang salahku. Beberapa hari lalu aku sempat menggoda noni Belanda yang bekerja di rumahku. Aku sudah mengatur waktu, agar bisa berduaan dengan anak itu tapi kamu tahu tidak? Belum sampai aku mencicipinya dia sudah menghajarku habis-habisan."


"Habis-habisan, bagaimana?" Wajah Ryujo memerah menahan tawa.


"Dia menguasai ilmu bela diri dan berhasil membuatku kesakitan, hingga terasa semua tulangku remuk dan akibatnya ... aku gak bisa begituan dan itu yang membuat Monic kesal. Tadi malam aku sudah merasa ok saat Monic menggodaku, eh ... akunya malah ketiduran. Kemudian tadi pagi aku mencoba menebus kesalahanku semalam, tapi malah ditolak mentah-mentah. Makanya kamu lihat mukanya lesu begitu," tutur Isao.


'Ah, bukan lesu Isao ... tapi wanitamu itu lelah bertarung denganku, kawan. Kamu saja yang tidak tahu, betapa mahirnya wanitamu itu memuaaskanku dari segala sudut, ditambah lagi rintiihannya membuat aku ingin terus menempatkannya dalam kungkuunganku.' Jelas Ryujo dalam hati.


"Hm ... kamu, jangan pernah biarkan dirimu dikendalikan oleh wanita manapun, ketika dia sudah berani menolakmu apalagi marah-marah begitu, tinggalkan saja!"


"Aduh Ryujo, mana bisa semudah itu?"


"Terserah, yang penting aku sudah mengingatkanmu. Oh iya, apa gadis yang menghajarmu itu masih ada dirumahmu?"


"Iya."


"Apa dia bisa dipakai?"


"Tidak. Noni itu masih muda, usianya masih belasan tahun. Yang bisa menghangatkan ranjaang kamar tamu tuh Sumi dan Yati."


"Oh. Jadi noni itu tidak bisa menemaniku nanti malam?"


"Tidak bisa, Ryujo. Noni itu masih perawan, dan Monic berencana membawanya ke ianjo Irene."


"Hm ... kalau begitu, aku saja yang membelinya bagaimana?"


"Janganlah. Harus aku yang pertama meniduri anak itu, sebagai kompensasi telah membuat aku puasa berhari-hari. Kamu coba Sumi atau Yati aja dulu, sambil menungguku puas mengerjai noni itu."


"Baiklah. Enakan mana, Sumi atau Yati?"


"Dua-duanya enak, Sumi tubuhnya montook, goyangaan dan desahaannya asyik kalau Yati badannya langsing, goyangaanya biasa aja tapi daya cengkram celah sempitnya itu kuat sekali, bikin junior seperti digigit-gigit."


"Kamu ... jadi keduanya sudah pernah kamu tidurin?"


"Bukan hanya pernah, tapi malah sering banget, eh ..." Isao cepat-cepat menutup mulutnya, saat secara tidak sengaja membagikan informasi kalau pembantunya tidak hanya bisa menghangaatkan teman atau tamu yang menginap di rumahnya saja, tapi terutama memuaaskan tuan rumah juga.

__ADS_1


"Ok, Sumi dan Yati ... enak mana jika dibandingkan dengan Monic?" tanya Ryujo sambil tersenyum.


"Maksudmu?"


__ADS_2