Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Aku Kotor


__ADS_3

"Langkah panjang membuat lelaki asing itu tiba dengan cepat ke kamar barak yang menjadi tujuannya. Disitu sudah ada 3 orang temannya yang sedang beristirahat.


Brak!


Lelaki itu menendang pintu kamar dan langsung membawa tubuh Aya ke tempat tidur yang kosong.


"Astaga Fumio, tak kusangka kau berhasil membawa gadis itu kemari," ujar temannya.


Fumio menyeka keringatnya lalu membuka kemejanya, "Haha, jangan sebut namaku Fumio kalau tidak bisa mengangkutnya ke sini."


"Tapi, apa kamu menggunakan tehnik akupuntur sehingga gadis ini bisa tidak berdaya begini?"


"Tidak aku hanya membuatnya pingsan dengan memberikan obat bius tidur, haha," sahut Fumio bangga.


"Ck, bermain dengan gadis yang tidur apa enaknya?Seperti main sama patung, tidak ada timbal balik dan desahhan yang membuat kita lebih bersemangat."


"Kau tenang saja, ini cuma bius sementara. Sebentar lagi juga dia bangun, tentu dia akan melakukan apapun yang kita mau. Kalian tolong berjaga di luar ya, karena aku yang membawanya kemari maka akulah yang pertama mendapat giliran mencicipi tubuhnya, ujar Fumio sambil melepaskan helai demi helai pakaian yang menutup tubuh Aya.


Kedua teman Fumio tercekat dan menelan saliva saat melihat kemolekan tubuh Aya. "Waduh Fumio, gadis ini mulus banget, bolehkah aku saja yang duluan menidurinya? Aku akan membayar berapa pun yang kau minta," ujar salah satu teman Fumio yang tangannya hampir menyentuh kaki jenjang Aya.


Plak!


Fumio memukul lengan temannya.


"Tidak bisa begitu, aku yang membawanya kemari, jadi kamu tunggu saja giliranmu, kawan."


Teman Fumio terkekeh dan berbalik, berjalan menuju pintu. "Hah, baiklah ... tapi jangan lama-lama, cukup satu kali kemudian giliranku, ya."


"Sudah sana, berjaga diluar saja. Aku sudah lama tidak menggaulli wanita jadi nanti mainnya juga tidak akan lama, kamu mengerti, kan?"


"Ya, ya ... asalkan jangan terlalu berisik. Sebab kalau sampai suara kalian terdengar yang lain, selesailah sudah."


"Enghh ..." Aya terbangun, kelopak matanya mengerjap beberapa kali sebelum menatap sekeliling ruangan yang asing. "Di-dimana ini?" gumamnya.


"Di kamarku, sayang," sahut pria bersuara berat yang tiba-tiba sudah berbaring di sisi Aya.


Greppp.

__ADS_1


Fumio memeluk Aya dan langsung membungkam mulut Aya dengan bibirnya.


Hmph.


Aya berusaha mengelak, tapi lelaki itu sangat kuat menekannya.


"Ssttt, bertingkahlah manis maka malam ini kita akan bersenang-senang."


"Tu-tuan jangan, ku mohon," ujar Aya.


"Minumlah. Kamu baru bangun, pasti haus," kata Fumio sambil menyodorkan segelas air putih.


Glek.


Aya tanpa prasangka apapun meminum air yang diberikan Fumio.


Tiba-tiba Aya merasa ada yang tidak beres.


"Tuan, maaf. Aku harus kembali ke rumah utama, kepalaku pening."


"Peningmu sebentar juga hilang, aku punya obat yang manjur untukmu."


"Maaf, aku tidak bisa mundur dan memulangkanmu sebelum aku memberimu air surgaku yang sudah lama terendap, sayang. Aku tahu tubuhmu juga merindukan belaian pria dan ingin merasakan pelepasan seperti saat kamu masih di ianjo, bukan? Tuan Takeshi itu tentu tidak akan pernah bisa memuaskanmu, sayang," rayu lelaki itu lalu meremass salah satu puncak gunung kembar milik Aya dan mengemutt puncak yang satunya lagi.


"Tuan, kumohon berhentilah," cegah Aya lagi, sementara hatinya berdesir dan jantungnya mulai berpacu tidak keruan demi mendengar penuturan mesra Fumio.


"Berhenti? Haha ..." Fumio sudah bergeser ke bagian bawah tubuh Aya, lalu membuka kedua betis muluus itu untuk mempermudah aksesnya di bagian inti.


"Awh ... ." Mata Aya terpejam, kedua tangannya meremass alas tempat tidur, saat kehangatan lidah Fumio membelai celah surgawinya.


"Hmmh ..." Aya menggigit bibir bawahnya untuk mengontrol suara saat Fumio mengiisap intinya.


'Sial, tubuhku tidak sinkron dengan hatiku,' omel Aya pada dalam hati.


"Kamu benaran ingin berhenti, hm? Jangan bilang begitu sebelum kamu rasakan milikku memenuhi milikmu" bisik Fumio, ia sudah sangat siap melesakkan pedang tumpulnya ke liang hangat Aya yang sudah menanti hentakan.


"Tu-tuan, tolong pakai pengaman terlebih dahulu."

__ADS_1


"Ck," Fumio berdecak. Ia menggapai laci nakas di mana ia menaruh benda yang dimaksud, walaupun kesal ia tetap menuruti permintaan Aya.


Jlep, jlep ... Fumio menggerakkan pinggulnya dengan semangat, setelah pusakanya terbungkus pengaman dengan sempurna.


"Mas Aga, maafkan aku. Aku bisa jaga hati, tapi gagal menjaga tubuhku hanya untukmu, mas," batin Aya, air matanya merembes pelan.


Hatinya sedih harus mengkhianati Agastya, kekasihnya. Namun, kejadian ini ... bagaimana ia mengelak? Lagi pula sudah terlanjur, Aya yang sudah terbakar gairah malah ikut bergoyang mengikuti irama gerakan Fumio yang menhasilkan erangaan serta desahaan.


Bagaikan ladang kering yang merindukan hujan, demikian dahaganya tubuh Aya menanti hujaman lelaki di liangnya. Ya ampun, apakah bercinta sudah jadi sebuah kebutuhan utama baginya? Bisa jadi. Sebab respon Aya sungguh diluar ekspektasi Fumio. Tadinya dia fikir, Aya akan melayaninya dengan terpaksa dan malas-malasan. Bahkan Fumio sudah berencana memperkosaanya saja apabila Aya tidak proaktif.


Ternyata, tidak hanya gadis proaktif yang didapatnya tapi juga profesional. Ah, gadis jebolan ianjo ini memang luar biasa memuaskan.


Tok ... Tok ... .


"Fumio, kalau sudah muncraat cepatlah keluar. Aku sudah tidak tahan lagi," ujar teman Fumio dari luar kamar.


Aya menatap lelaki yang baru saja berbagi keringat dengannya.


"Ah, kamu dengar sendiri sayang ... bersiaplah meladeni keperrkasaan kami malam ini," ujar Fumio sambil berlalu dari hadapan Aya.


Begitu pintu kamar dibuka, sang teman langsung merangsek masuk. Fumio tertawa kecil saat melihat sesuatu yang menonjol di balik celana temannya.


"Selamat menikmati kualitas super," bisiknya sambil mengedipkan mata.


Lelaki kedua ini sungguh sudah tidak dapat menahan hasraatnya lagi. Ia memilih pola main cepat dan melewatkan proses foreplaay, untung saja Aya masih dalam kondisi siap pakai dan sempat meminta lelaki kedua memasang pengaman.


Kurang dari 7 menit, permainan panas itu pun berakhir. "Terima kasih, cantik. Maklum, milikku sudah terlalu lama tidak mendapat jepitan hangat nan legit seperti milikmu, jadinya ... ah, besok malam kita main lebih lama lagi, ya." Lelaki itu mengecup kening Aya sebelum meninggalkan Aya.


"Uh," Aya beringsut dari tempat tidur, berniat memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Lama tidak berhubungan dengan lelaki, ternyata cukup membuatnya tubuhnya letih.


Baru saja ia berdiri, tiba-tiba tubuh polosnya disergap dari belakang.


"Astaga, masih ada lagi yang harus kuladeni?" batin Aya.


"Kamu pasti kecewa hanya dijadikan alat bantu melancarkan saluran air yang tersumbat milik temanku barusan. Hei sayang, aku akan memuaskanmu sampai pagi," Bisik lelaki ke tiga sambil menggerayyangi tubuh Aya.


"Mas Aga maafkan aku, masihkah kamu mau menerima gadis yang sudah kotor sepertiku? Lihat, aku tidak mampu menolak mereka yang datang padaku dan sialnya aku malah menikmati permainan mereka," gumam Aya dalam hatinya.

__ADS_1


Aya menghembuskan nafasnya perlahan lalu berbalik menghadap lelaki yang memeluknya dari belakang, "Hai tampan, mari tunjukkan kemampuanmu memuaskanku sampai pagi," tantang Aya sambil mengalungkan lengannya ke leher lelaki itu. Aya menyodorkan bibirnya agar segera dibungkam dan melingkarkan salah satu kakinya ke pinggul lelaki itu.


Ya, aku memang wanita jallang, liar dan kotor, mas Aga.


__ADS_2