Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Saran Ryujo


__ADS_3

Sementara Aya sibuk meladeni kenakalan anak buah kapal tuan Takeshi, Agastya berusaha memenuhi janjinya dan Aya pada Himawari, untuk kapan-kapan mengajak serta gadis kecil itu bersantai di danau, menikmati sore hari sambil memancing. Maka malam itu seperti beberapa malam sebelumnya, Agastya sibuk merancang desain rakit bambu yang nantinya akan mereka gunakan untuk menyusuri perairan yang indah itu.


Rencananya, besok di pagi buta Agastya akan pergi ke hutan untuk mencari beberapa batang bambu untuk dijadikan rakit.


Kedatangan tuan Takeshi beserta rombongan membuat Agastya berfikir, tentu Aya sedang sibuk mengurus segala keperluan, hingga tidak ada waktu bagi mereka untuk sejenak bercengkrama. Sedikit pun tidak ada firasat yang menyatakan kalau kekasih tercintanya itu justru sedang asyik berbagi kenikmatan dengan beberapa pria di barak tentara Jepang.


Tok ... tok ... .


Bunyi ketukan di kamar Agastya mengalihkan perhatiannya.


"Masuk saja," jawab Agastya.


"Hai," sapa Ryujo.


"Oh, hai tuan Ryujo. Apa kabar?"


"Baik. Apa aku mengganggumu?" tanya Ryujo.


"Oh, tentu tidak, tuan. Ada yang perlu aku bantu?"


"Tidak. Monic sudah tidur, aku hanya perlu teman berbincang sambil merokok."


Agastya mempersilahkan Ryujo duduk.


"Hm, kamu sedang membuat apa?"


"Ah ... ini, aku sedang coba-coba membuat sampan sederhana dari bambu," Agastya menunjukkan gambarnya.


"Menarik," puji Ryujo. "Apa aku dan Monic boleh ikut naik rakit bambu ini nanti?"


"Tentu saja, tuan. Rakit yang akan kubuat ini, diperkirakan mampu mengangkut 5 sampai 7 orang dewasa," jawab Agastya bangga.


"Aku jadi tidak sabar menunggu rakit itu jadi. Em ... Monic bilang, kamu dan Arrabella menjalin hubungan serius, apa benar?" lempar Ryujo setelah berbasa-basi.


Agastya tersenyum. "Entah tuan Ryujo akan memihakku atau tuan Takeshi. Aku menyukainya sejak pertama bertemu di tangsi tuan Katsuro. Saat itu aku sudah memikirkan bagaimana caraku bisa membuatnya jadi wanitaku seutuhnya."

__ADS_1


"Kamu tidak masalah kalau dia adalah mantan jugun ianfu?"


Agastya menggeleng, "Tentu saja, dia gadis berkepribadian menarik. Tidak peduli seperti apa dia dulu, bagiku yang terpenting adalah bagaimana dia setelah bersamaku."


"Oh syukurlah. Aku fikir tuan Takeshi tidak akan mempermasalahkan, asalkan kamu tidak menyia-nyiakan gadis sebaik Arrabella."


"Aku juga berharap begitu, tuan Ryujo. Tinggal bagaimana aku membicarakan hal itu tanpa melukai hati tuan Takeshi juga putri kecilnya, Himawari."


"Haha, sesungguhnya yang jatuh cinta pada Arrabella itu bukan tuan Takeshi tapi anaknya, Himawari. Selagi kalian bisa meluluhkan Himawari yang mendambakan Arrabella jadi mamanya, kufikir tidak akan ada kendala."


"Jadi tuan mendukungku?"


"Tentu saja. Kita berhak menentukan sendiri akan bahagia dengan wanita yang seperti apa nanti dan memperjuangkannya menjadi milik kita seutuhnya. Sebesar apapun kendalanya, jika memang berjodoh ... pasti ada jalan untuk itu. Contohnya, hubunganku dengan Monic," ucap Ryujo sambil tersenyum membayangkan perjalanan cintanya dengan wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


"Aku tidak mau menjalani hubungan yang tidak sehat, maka aku berniat untuk secepatnya menikahi Aya."


"Aya?"


"Panggilan kesayanganku untuk Arrabella, itu nama kecilnya di kalangan keluarga."


"Oh, baguslah kalau begitu. Tuan Takeshi rupanya sudah menularkan salah satu prinsip yang baik untuk kita yaitu tidak bermain-main dengan wanita nakal."


"Wah, haha ... itu tidak masalah Agastya, bermain dengan wanita yang berpengalaman seperti Aya tentu sangat baik lelaki muda sepertimu," canda Ryujo.


"Yang penting setelah menikah, perempuan itu nakalnya hanya buat kita saja ya, tuan."


"Nah itu kamu paham, haha ... tapi aku masih memikirkan satu hal ... kamu ingat kejadian Arata sewaktu kita masih di kapal?"


"Iya, tuan. Memangnya kenapa?"


"Itu ... aku hanya berfikir bisakah kamu melindungi Aya dari para tentara yang mengagumi kecantikannya jika dia sudah jadi istrimu?" pancing Ryujo.


"Ah, buktinya tidak ada yang berani macam-macam dengan nyonya Monic. Tentunya dengan Aya juga nanti begitu, tuan."


"Semoga saja, mungkin aku terlalu berlebihan, Agastya. Tapi aku mau bilang, aku dan kamu kondisinya berbeda. Para tentara tidak berani mengusik Monic atau istri tentara lainnya karena kami sebangsa, sementara kamu ... hanyalah orang pribumi yang dipilih tuan Takeshi menjadi asisten."

__ADS_1


Agastya mulai paham arah pembicaraan Ryujo, " Pemikiran tuan ada benarnya, jadi karena aku hanyalah asisten dan dari golongan pribumi maka ada kemungkinan para tentara itu kurang respek terhadapku, begitu, kan?"


"Sorry to say, iya Agastya. Malah aku takut mereka tetap berani menggoda istrimu nantinya."


"Tapi kan, tentara dibawah asuhan tuan Takeshi tentu mengerti prinsip itu, kan?"


"Benar tapi hanya segelintir yang sanggup, sebab dimana ada ianjo, para tentara dengan cerdiknya tetap saja menyalurkan hasratnya pada jugun ianfu."


"Aku juga tahu sih tuan, tapi aku tidak berhak untuk mencampuri urusan orang lain."


"Nah itulah sebabnya, Agastya. Aku juga tidak mau mencampuri urusan orang lain karena aku mengerti para prajurit itu butuh pelampiasan dan hiburan, makanya aku enggan mengungkapkan hal ini pada tuan Takeshi. Kecuali orang lain yang melaporkan pada beliau atau ada yang secara tidak sengaja terdeteksi oleh tuan sendiri. Terutama para perwira yang jelas-jelas membawa istrinya bertugas tapi masih juga mencari kesenangan dengan wanita lain diluar, aish ... jelas orang itu langsung terdepak keluar dari kesatuan Angkatan Laut dibawah komando tuan Takeshi."


"Haha, itu sih namanya cari gara-gara, tuan," timpal Agastya.


"Iya. Jadi, apa rencanamu setelah menikah? Apa kamu ingin membawa istrimu kemana pun kita bertugas?"


"Rencananya sih begitu, tuan. Tapi gimana sebaiknya menurut tuan Ryujo?"


"Hm ... menurutku, jangan. Aku takut kejadian Arata terulang, Agastya. Beda cerita kalau tuan Takeshi yang menikahi Aya, tentu nyali para tentara langsung ciut."


"Tapi tergantung bagaimana Aya bersikap sama mereka aja, sih."


"Jangan berfikiran begitu, mana kamu tahu disaat kamu lengah, istrimu disekap lalu, ah ... kamu tentu paham," kata Ryujo bermaksud agar Agastya waspada.


"Tuan Ryujo, apa sebaiknya setelah aku dan Aya menikah nanti aku keluar dari kesatuan ini?"


"Maksudmu berhenti jadi asisten tuan Takeshi?"


"Iya."


"Boleh juga, tapi aku sarankan jangan berhenti, deh. Begini, aku dengar mulai bulan depan tuan Takeshi mendapat misi tambahan dan akan ditarik ke ibu kota negara, menetap di situ, jadi akan jarang berlayar seperti sekarang."


"Jadi tempat ini akan kita tinggalkan, tuan?"


"Iya, beberapa ada yang tetap berjaga di sini tapi yang mendiami rumah utama; Himawari, Aya, Monic, tentu akan ikut menetap di ibu kota sementara aku akan berada dimana pun tuan Takeshi bertugas, entah kalau kamu. Saranku, kamu minta berhenti jadi asisten tuan dan mengajukan usul agar bisa jadi pengawal di rumah ibu kota nanti. Dengan begitu, secara tidak langsung lingkup istrimu nanti terbatas."

__ADS_1


"Apa bisa begitu tuan?"


"Bisa saja, asalkan kamu setuju dan bilang sama tuan Takeshi. Nanti aku juga akan memberi masukan begini ke tuan biar klop."


__ADS_2