Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Kedatangan Takeshi Dan Himawari


__ADS_3

Pria berbadan tegap, berkulit putih dan bermata sipit itu melangkah gontai keluar dari pesawat didampingi seorang gadis kecil. Ya, itu adalah Takeshi dan putrinya Himawari, setelah menempuh perjalanan panjang dari negeri matahari terbit, ayah dan anak itu akhirnya tiba di kota seribu sungai, Banjar Masin.


"Kamu lelah, nak?" Tanya Takeshi pada putrinya.


"Tentu saja pa, tapi jangan coba-coba ingin menggendongku, sebab aku ini sudah besar dan aku masih kuat berjalan," sahut Himawari membuat ayahnya tersenyum.


Setelah sekian lama hanya bertukar surat dengan pak Ruslan membuat Takeshi memutuskan untuk mengunjungi sahabatnya.


Banyak perubahan di kota itu sejak ia terakhir berkunjung namun tidak membuatnya lupa letak kediaman pak Ruslan.


"Permisi," ujar Takeshi sambil mengetuk rumah kayu yang megah itu berkali-kali.


"Sepertinya tidak ada orang di rumah ini, pa," kata Himawari.


"Iya, sepi sekali. Sebentar kita tanya sama tetangga sebelah dulu."


"Permisi, pak. Saya teman pak Ruslan, kok rumahnya sepi, ya?" Tanya Takeshi yang masih fasih berbahasa Indonesia.


"Oh, tuan ini ... tuan Takeshi, kan?" sahut tetangga pak Ruslan.


"Benar, pak." Sahut Takeshi seraya tersenyum ramah, sungguh suatu kebahagiaan baginya, masih dikenali oleh tetangga pak Ruslan.


"Wah, selamat datang kembali, pak. Tentu tuan Takeshi ingin bertemu pak Ruslan?"


"Iya, tapi beliau tidak ada di rumahnya apa mungkin beliau sedang bekerja atau berada di rumah yang lain?"


"Oh, pak Ruslan sudah beberapa hari ini di rawat di rumah sakit umum, tuan."


"Astaga, pak Ruslan sakit, ya?"


"Iya, tuan. Sakit jantung."


"Oh, begitu, ya."


"Kalau Agastya, apakah bapak mengenalnya?"


"Agastya, bang Aga?"


"Iya. Di mana dia?"


"Kalau rumahnya tidak jauh dari tepian sungai, dia bertetangga dengan Zain, anak pertama pak Ruslan, tuan."


"Bisakah bapak mengantarkan kami ke rumahnya?"


"Bisa, tuan. Mari," sambut tetangga pak Ruslan itu, ramah.


"Om Agaaaa!" pekik Himawari saat melihat Agastya dari kejauhan.


"Astaga, Himawari ... tuan Takeshi?" Agastya terkejut melihat ayah dan anak yang tiba-tiba menghampiri kediamannya.


"Apa kabar, tuan?"

__ADS_1


"Yah, seperti yang kamu lihat, Aga. Kami baik-baik saja Kamu bagaimana? Wah, tampaknya kamu berhasil dengan usahamu, ya."


"Semua berkat pertolongan dari tuan."


"Ck, aku hanya perantara tetap saja keberhasilanmu berkat kerja kerasmu sendiri. Oh iya, tolong jangan panggil aku 'tuan' lagi, sebab aku bukan lagi pimpinanmu."


"Terus, gimana sebaiknya? Aku sejak awal kenal sudah terbiasa memanggil 'tuan'.


"Seperti papa Ryujo dan mama Monic, panggil saja papaku dengan sebutan pak Takeshi," timpal Himawari.


"Wah, boleh juga. Ngomong-ngomong, kamu sudah besar sekarang Himawari, tambah cantik saja," puji Agastya membuat pipi Himawari memerah.


"Kamu tidak ingin mempersilahkan kami masuk ke rumahmu, Ga?"


"Eh, maaf tu- em, pak. Hehe, ayo mari masuk," kata Agastya.


"Aku tadi ke rumah pak Ruslan, tapi kata tetangganya yang mengantar kami kemari tadi, katanya pak Ruslan sakit."


"Benar, pak. Sudah hampir 1 minggu dirawat. Nanti kita menjenguknya ke rumah sakit, sekarang bapak dan Himawari istirahat dulu, ya," tawar Agastya seraya mengangkat koper Takeshi ke kamar tamu.


"Wow, jadi om Aga sudah bertemu dengan kak Sora?" Tanya Himawari sambil memeperhatikan beberapa foto yang terpajang di dinding rumah Agastya.


"Iya, aku tinggal bersama kak Sora-mu itu di rumah ini."


"Oh, terus di mana kak Sora sekarang?"


Agastya tercekat mendengar pertanyaan lugu Himawari. Sungguh ia bingung bagaimana menjelaskan kalau hubungan mereka sebenarnya tidak baik-baik saja.


"Kapan dia kembali? Aku sangat merindukan kak Sora," oceh Himawari.


"Sebentar lagi, mung-mungkin beberapa hari lagi."


Melihat Agastya yang ragu-ragu menjawab, Takeshi jadi menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Aya. "Hm, dimana sebenarnya Aya, kenapa dia tidak bersama Agastya?" batin Takeshi.


"Himawari, bersihkan badanmu terus istirahat ya, nak," kata Takeshi pada putrinya.


"Ah iya Himawari, mari aku antarkan kamu ke kamarmu," ujar Agastya sambil menuntun gadis kecil itu.


"Aga, apa benar kamu sudah bertemu kembali dengan Aya?" Tanya Takeshi.


"Iya, pak."


"Dia bersamamu di sini?" Selidik Takeshi lagi.


"I-iya. Ehm ... tadinya dia bersamaku, tapi kami sedang ada masalah jadi sementara dia tinggal di rumah Zain di sebelah, sambil membantu istri Zain yang baru saja melahirkan."


"Masalah apa? Kenapa sampai kamu biarkan istrinu tinggal di rumah orang lain?"


"Ehm ..." lagi-lagi Agastya terjebak rasa bersalah, ia bingung bagaimana menjelaskan perkara yang ia alami dengan Aya.


"Aga, jika ada masalah rumah tangga sebaiknya segera diselesaikan dengan kepala dingin, jangan sampai istrimu keluar rumah begini," nasehat Takeshi dengan nada suara yang dingin.

__ADS_1


"Eh, bapak juga sebaiknya membersihkan diri lalu beristirahat sebelum nanti sore kita menemui pak Ruslan," Agastya berusaha menghindari rasa penasaran Takeshi.


"Hm, baiklah, tapi kamu hutang penjelasan denganku," sahut Takeshi sebelum masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuknya dan Himawari.


Himawari sedang duduk di depan jendela saat ayahnya masuk ke kamar.


"Apa yang kamu lakukan, nak?"


"Melihat mereka. Papa, tampaknya permainan mereka seru sekali," ujar Himawari sambil menunjuk ke arah luar jendela.


"Mereka?" gumam Takeshi yang mengikuti arah telunjuk anaknya.


"Pa, aku mau bermain bersama anak-anak itu, boleh?" pinta Himawari.


"Hm ... boleh tidak, ya?"


"Ayolah, pa. Please."


"Tapi kamu kan masih capek, besok sajalah."


"Huh, aku kan sudah tidur-tiduran tadi," Himawari merengut.


"Ah, baiklah ... tapi jangan lama-lama, ya. Minta Aga mengantarmu dan jika calon teman-teman barumu itu bertanya kamu siapa, bilang saja kamu keponakan Aga."


"Baik, pa. Terima kasih, i love you."


"I love you too, sayang."


"Aku main dulu ya, pa. Bye."


"Ya, hati-hati. Ingat jangan lama-lama, segera pulang sebelum matahari terbenam."


"Ok, pa."


Gadis kecil itu lalu berlari kecil menghampiri Agastya dan menyatakan keinginannya.


"Om Aga, aku mau main dengan anak-anak di halaman sebelah."


"Apa papamu mengizinkan?"


"Iya, asal jangan lama. Tolong antarkan aku ke situ, om."


"Baiklah kalau begitu," Agastya senang mengantarkan Himawari, sebab anak-anak itu pastilah Alif, Amar dan teman-temannya yang bermain di halaman rumah Zain. Setidaknya ia jadi punya alasan ke situ, siapa tahu ia bisa melihat Aya.


Beberapa hari lalu ia sempat menemui Aya, minta maaf dan minta Aya kembali ke rumah, namun Aya menolak dengan alasan ingin mencari ketenangan sambil membantu mama Alif yang baru saja kembali dari rumah sakit.


"Alif, Amar ... perkenalkan teman baru kalian, ini keponakanku, namanya Himawari." Setelah Agastya mengatakan itu, anak-anak segera menghampiri Himawari dan dalam waktu singkat, Himawari langsung berbaur dan bermain dengan teman-teman barunya.


"Hei, kamu datang dari mana? Kenapa kamu berbahasa Indonesia?" Tanya anak-anak itu saat mereka beristirahat.


"Jepang," jawab Himawari.

__ADS_1


"Jepang itu di mana?" Tanya Amar.


__ADS_2