Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Jalani Saja


__ADS_3

Wisma Evergreen.


Aya mengeja tulisan itu baik-baik, sebaik niatnya jadi perempuan idaman para pelanggan yang akan dikeloninya. Profesional, tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk mewakili sikap yang dipilihnya. Sejatinya memang begitu kan? Bekerja dalam bidang apapun, sikap profesional, totalitas dan komitmen serius sangat diperlukan sebagai bukti kesungguhan.


"Hai Arrabella, lama tidak melihatmu kamu makin cantik aja," puji Arata sambil membelai lembut lengan Aya.


Sesuai perkataan mami Irene, saat ini Aya memulai 'pekerjaan' barunya dengan melayani hasraat Arata. Aya tahu apa yang harus ia lakukan, serta menyadari potensi serta jam terbang yang lumayan di bidang kenikmatan hakiki yang satu itu, ia sengaja mematok harga tinggi untuk pelayanannya, kecuali pada Arata yang menerima layanan spesial cuma-cuma sebagai 'imbalan'nya selaku pelindung di tempat itu. Tujuan Aya tentu saja demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah lebih banyak agar ia cepat terbebas dari tempat terkutuk itu. Aya yakin, suatu saat ia akan bertemu kembali dengan mas Aga, dan suaminya itu pasti tetap akan menerima keadaanya kembali, seperti dulu.


"Aku milikmu malam ini, sayang," dengan berani Aya membisikkan kalimat itu tepat di telinga Arata, seraya membasahi area pendengaran pria tampan itu dengan kehangatan lidahnya.


"Uh, kamu nakal sekali, baby," Arata meremang mendapat sentuhan yang membuat gairahhnya bangkit. "Tidak seperti waktu di kapal itu, kamu menolakku dengan cara yang dingin, kamu tahu? Kamu telah menyiksaku, baby. Aaarghh ..." Arata mengeram saat Aya mendorongnya ke tempat tidur, membungkam mulut Arata dengan ciuman yang menuntut dan jemari lentik yang bergerak aktif membelai dada bidang Arata, terus merambat ke perut roti sobek lelaki itu.


"Sekarang kondisinya berbeda, tampan. Aku akan memuaskanmu," tutur Aya yang langsung menduduki perut pria itu.


Arata melotot melihat sikap Aya yang sesuai dengan fantasinya. "Suka?" Aya setengah mendesahh, suara sexy-nya semakin membuat gairahh Arata memuncak. Tidak hanya telinga, kini lidah yang basah dan hangat itu menyapu seluruh bagian tubuh Arata yang tidak tertutup baju.


"Umh," leguh Arata meloloskan penutup di bagian bawah badannya. Lagi, Aya merangkum bibir Arata, sambil menggesekkan celah surgawi-nya ke bagian senjata kebanggan Arata yang sudah tegak dan siap menyerang.


"A-akuh," Arata tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, sentuhan Aya di bagian terlarangnya terlalu nikmat untuk dikomentari.

__ADS_1


"Wooow, aku suka perkakas perangmu ini, tuan," tanpa komando Aya merangsek turun, mengenggam sambil memijat tonggak sekeras batu milik Arata dengan jemari lentiknya, tidak berhenti di situ ... kini tugas jemari itu ia tukar dengan mulutnya. Membasahi dan menyesap tonggak perkasa itu bagaikan permen yang manis dan lezat saja baginya.


"Owh baby ... kamu liar sekali, aku suka," ujaran bernada pujian menyemangati Aya menyedot lebih kuat lagi.


"Mau yang lebih seru lagi, sayang?" Aya membayangkan sedang melayani mas Aga-nya, memutar posisi tubuhnya berada ke atas Arata. "Lakukan hal yang sama padaku, sayang," pinta Aya sambil menempatkan celah sorgawinya menghadap wajah Arata.


Ruangan yang semula enggan dan seharusnya tidak dihampiri oleh Aya kini penuh dengan suara-suara sesapan mesra dari sentuhan keduanya. Malam itu Aya larut dalam permainannya sendiri, ia benar-benar menanggalkan statusnya sebagai istri seorang Agastya, keinginannya cuma 1 menaklukkan Arata. Lelaki ini yang membawanya kemari, lelaki ini pula yang ia manfaatkan untuk mengembalikan cinta ke pemilik yang seharusnya.


'Maafkan aku mas Aga, ini semua agar kita bisa segera bersama, hanya sementara,' benak Aya. Walaupun Aya sendiri tidak tahu sementara-nya sampai kapan? Pastinya bukan 1, 2 hari, bukan pula 1,2 minggu, entahlah, sebab ia baru saja memulai episode paling memilukan di hidupnya. Bagian cerita yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya namun seolah bisa diprediksi oleh Isao, pria pertama pengambil kesuciannya.


Jika memang Tuhan berkehendak dan berbaik hati mempertemukan kembali ia dan mas Aga, maka bagaimanapun caranya, pasti akan terlaksana tapi jika tidak ... Aya pasrah jika harus menggeluti profesi hina namun selalu dicari oleh mereka yang membutuhkannya.


"Diam ditempatmu, biar aku saja. Aku sudah janji akan memuaskanmu, tuan," Aya yang pengertian mengubah posisinya, kembali menduduki perut roti sobek Arata. Namun sebelum benar-benar duduk, Aya terlebih dahulu mengarahkan tombak perkasa itu menemui pintu celah surgawinya baru kemudian secara bertahap menurunkan bokongnya. Arata meracau kian nyaring, tombaknya ingin segera menikmati rasa sesak yang ditawarkan celah sempit berlendirnya Aya.


"Ah ..." tanpa membuang waktu lagi, Aya melahap tombak sakti Arata memenuhi sarangnya. "Ka-kamu hebat, Arrabella ... ini enak dan luar biasa," celoteh Arata dengan tubuh bergetar dan berkeringat. Tidak ada kata yang mampu terucap lagi, hanya terdengar suara hasil penyatuan mereka saja. Bercinta dengan orang yang berbeda memang menciptakan sensasi yang berbeda pula, Aya mengakui itu meski ia tetap membayangkan sedang sedang melakukan ibadah sakral dengan suaminya mas Aga.


"Umh, awhh ..." Aya memejamkan matanya saat Arata berperan aktif menghentakkan senjatanya dari bawah, membuat Aya kian melayang akan kenikmatan sensasi yang dihadiahkan Arata untuknya.


"Lagi?"

__ADS_1


Hap, hap, hap ... .


Arata kembali menghunuskan tombaknya dengan kekuatan penuh. "Ah, ini luar biasa, tuan," Aya merebahkan tubuhnya diatas dada Arata, membiarkan lelaki itu menghentak, mengobrak-abrik liangnya.


"Yah, aku tahu. Respon tubuhmu sangat bagus, sayang ... kamu sempit sekali," ujar Arata sambil menikmati kedutan yang bertubi-tubi di batangnya.


"A-aku sudah sampai," leguh Aya.


"Sebentar, aku belum ..." Arata menggeser tubuh Aya, lalu mengambil posisi dibelakang perempuan yang selama ini jadi fantasinya. Arata bergerak cepat memberi serangan dan tekanan dari bagian belakang Aya yang sedang berjongkok di depannya.


Tidak ada yang mengingat dosa kalau sudah disuguhi sesuatu yang memabukkan seperti itu, yang ada hanya bagaimana mendapat kepuasan yang penuh lagi dan lagi. Aya sudah memutuskan menjalani saja apa bisa ia lakukan saat itu, menikmati sesuatu yang tidak halal untuk ia nikmati. Sebab menurut Aya Tuhan saja mengizinkan ia berada di situ, Tuhan saja telahbmembiarkannya tanpa daya ataupun pilihan lain selain menjadi seorang pecundang sejati, apa salahnya ... sudah kadung basah, kenapa Aya tidak bercebur saja sekalian?


***


Sementara itu, Mangata yang tengah membaca kisah di bab tersebut, hanya bisa pasrah menerima gejolak yang begitu saja menghampiri kesendiriannya. Seperti biasa, lelaki muda yang terpengaruh goresan cerita ibunya itu terpaksa meredakan kebutuhannya dengan caranya sendiri.


Setelah lega, kini benak Mangata dipenuhi pertanyaan ... mengapa maminya mau-mau saja menempuh jalan yang membuatnya terperangkap kembali menjadi wanita penghibur? Mengapa Agastya, yaitu orang yang ia curigai adalah bapak bioligisnya seolah hilang dan tidak ada upaya menyelamatkan maminya? Trus Mangata bisa lahir gimana? Mengapa ia bisa menjadi anak Amar dan Helena, tantenya dan mengapa rentang usia antara dia dan Geetruida cukup jauh, menjadi momok di benak seorang Mangata Maulana.


"Mami menikah dengan 'mas Aga' pada usia 15 tahun, seandainya mereka sepakat menunda kehamilan hingga mami berusia 20 tahun dan ternyata mami melahirkan aku di usia 23 tahun berarti mami dan 'mas Aga' menunggu kelahiranku selama 8 tahun, masa yang sangat panjang bagi sepasang kekasih menunggu kehadiran si buah hati, harusnya ... mereka tidak sampai hati memberiku pada orang lain, meskipun masih keluarga sendiri," gumam Mangata yang tiba-tiba merasa kecewa karena kehadirannya begitu tidak diinginkan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Ah, aku ... kalau menikah, pastinya kepingin istriku cepat hamil dan memberiku keturunan. Ini, sudah nunggu 8 tahun, bukannya bersyukur aku malah dikasihkan ke orang, mami dan suaminya itu, gimana sih sebenarnya?" kata Mangata bermonolog. Ingin marah tapi rasanya tidak adil jika ia belum mengetahui duduk perkara sebenarnya.


__ADS_2