Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Menarik Arrabella Kembali


__ADS_3

Sementara itu di kota A.


"Apa, jadi temannya tuan Daus tempo hari tidak benar-benar menikahi Arrabella?" Tanya Arata pada mata-mata yang sengaja diutusnya untuk mencari tahu kabar gadis yang pernah menjadi primadona di wisma miliknya.


"Benar, tuan. Haji Ruslan hanya perantara saja, ternyata nona itu malah bersanding dengan pria lain. Pak Ruslan malah sepertinya yang mensponsori kegiatan tasyakuran dan bertindak sebagai orang yang dituakan saat aku mengikuti kegiatan itu."


"Hah, siapa ... apakah anak Ruslan?"


"Bu-bukan. Lelaki itu juga pendatang, baru beberapa tahun tinggal di Banjar Masin dan pernah bekerja di kapal milik Zain, anak Haji Ruslan," lelaki itu memyampaikan informasinya.


"Hm, apakah dia pernah berkunjung ke mari?"


"Mungkin, tuan. Em, na-namanya Agastya."


"Hah, Agastya? Agastya ... Agastya. Astaga, apakah Agastya yang asistennya tuan Takeshi saat di kapal dulu?"


"Maaf, saya tidak tahu, tuan."


"Baiklah, silakan kembali ke tempatmu dan terima ini sebagai bayaranmu," Arata memberikan sejumlah uang pada mata-mata itu.


"Sialan, ternyata mereka cerdik juga." Gumam Arata kesal, ia lalubmemikirkan cara lain untuk menculik Aya dari Banjar Masin. "Irene. Ireeene, ke sini dulu," teriaknya.


"Apa sih? Teriak-teriak, aku baru selesai melayani tamu, Arata." Irene menghampiri Arata dengan tergopoh-gopoh.


"Heh, kamu ingat tidak sama Agastya yang jadi asisten tuan Takeshi dulu?"


"Agastya? Tidak, rasanya aku tidak pernah mengenalnya."


"Huh, percuma saja aku menanyakanmu. Orang suruhanku bilang, ternyata Arrabella itu tidak menikah dengan Ruslan."


"Kok, bisa?"

__ADS_1


Arata mengedikkan bahunya, "Makanya kutanyakan padamu. Kalau kamu tahu, pasti kamu kenal sama orang yang bernama Agastya itu."


"Agastya? Ehm sebentar ... kalau tidak salah, Arrabella dulu pernah bilang kalau dia sudah menikah. Iya benar, dia bilang suaminya itu adalah asisten tuan Takeshi. Wah, berarti kita kecolongan, Arata."


"Aisssh, kamu tahu Arrabella sudah menikah, sementara aku tahu dengan Agastya saat masih bekerja di kapal tuan Takeshi tapi tidak tahu kalau dia adalah suami Arrabella. Ck, pantas saja aku seperti pernah mengenal lelaki itu."


"Lelaki yang mana, dia pernah ke sini?"


"Iya, 2 kali. Yang pertama ... kamu ingat tidak, lelaki yang rela menginap 1 malam demi bisa bersama Arrabella."


"Hm, yang sanggup bayar long time itu tapi menolak saat kau tawarkan menebus kartu VIP?" Irene ingin memastikan terkaannya.


"Benar yang itu, terus yang kedua kalinya ... dia datang sama temannya diantar mobil tuan Daus dan memakai kartu VIP."


"Oh, pantas saja. Pemuda itu tampak asing di sini. Agastya ya namanya? Hm, boleh juga. Tampan, kekar, punya uang dan ... tampak serasi dengan Arrabella," puji Irene tidak sengaja.


Pluk. Arata memukul lengan Irene.


"Heh, kenapa berkata begitu, kamu cemburu? Padahal aku hanya mengungkapkan kebenaran saja."


"Aish, ngapain cemburu. Jika benar Agastya hanya seorang asisten tuan Takeshi tentu dia bukan siapa-siapa."


"Jangan lupa dia membayar Arrabella dan memberikan sejumlah tips demi bisa menikmati Arrabella secara long time, belum lagi dia datang kemari menggunakan mobil tuan Daus tempo hari, tentu dia setidaknya lunya relasi dan keuangan yang bagus," sanggah Irene.


"Ayo fikirkan cara menarik Arrabella kembali, Irene."


"Aku tidak mau berurusan dengan tuan Daus dan temannya itu, Arata."


"Hm, kalau begitu kita mulai pendekatan lewat tuan Daus. Aku yakin dia tentu silau kalau kita iming-imingi sejumlah uang dan tawaran menarik," Arata mengutarakan ide-nya sambil tersenyum licik.


"Tawaran menarik, apa?"

__ADS_1


"Kamu, kamu harus memanfaatkan tubuh dan segenap pesonamu untuk membuat tuan Daus mau mengikuti rencana kita."


"Sekali lagi aku katakan, aku tidak mau berurusan dengan tuan Daus, kamu lupa ancaman temannya itu tempo hari?"


"Hais, Irene. Pakai otakmu!" Geram Arata.


"Kenapa harus aku? Pakai saja gadis lain, aku selalu kewalahan meladdni tuan Daus, dia terlalu perkasa dan permainannya kasar sekali, Arata."


"Aku tidak peduli, setidaknya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, sementara jika memperdayanya dengan menggunakan gadis lain ... aku takut rencana kita tidak berhasil. Ayolah Irene, kamu satu-satunya wanita yang diinginkan tuan Daus sejak Arrabella tidak ada di sini lagi. Kamu rayu saja, aku yakin dia juga pasti merindukan kehangatan dan keliaran Arrabella, haha."


"Huh, kamu ... sebenarnya kamu atau tuan Daus sih yang rindu sama Arrabella?"


"Ya, ya ... tentu saja aku juga merindukann tubuhnya. Meski aku tahu dia terpaksa melayaniku tapi dia tetaplah perempuan yang selalu mampu memenuhi fantasiku."


"Oh, cuma dia? Aku dan perempuan wisma yang pernah kau tiduri tidak bisa meladeni fantasi liarmu itu, Arata? Tanya Irene sewot.


"Bisa sih, tapi Arrabella yang terbaik ... dan kamu jangan lupa kalauy para pelanggan yang lain tentunya akan bahagia jika kita mampu menyeret Arrabella kemari, kamu sadar tidak, setelah Arrabella keluar dari sini pemasukan wisma kita merosot tajam. Makanya kita harus fikirkan cara untuk kembali menarik pelanggan."


"Hm, kamu benar juga. Aku juga sebal sudah 1 bulan berlalu selaluuu saja Arrabella yang dicari. Heran deh aku, dia pakai pelet apa sih?"


"Pelet itu apaan, sih? Jujur saja, sebagai lelaki Arrabella memang beda. Cantik, badannya sexy, mulus, bening, dan uh ... belum lagi miliknya itu yang legit menggigit, padahal dia sudah sejak usia sangat belia kerjanya begituan, bercinta dengan berbagai jenis dan type lelaki tapi entah kenapa aku tiap kali memasukinya berasa bercinta dengan perawan saja," ungkap Arata jujur dan mengabaikan Irene yang cemberut.


"Kalau kamu begitu menggilainya, lantas kenapa kamu biarkan dia ditebus dan dibawa pergi?" protes Irene.


"Ah itu ... aku fikir tidak akan ada yang mampu dan rela membayar wanita penghibur sampai segitu mahalnya, tapi ternyata kita kecolongan. Walaupun harga tinggi eh ada saja yang sanggup dan orang itu tidak lain adalah suaminya sendiri," gumam Arata sambil bergidik ngeri pertengkaran singkatnya denga Agastya saat ia mencoba menawarkan kartu VIP.


Arata masih ingat ancaman lelaki yang ia rasa pernah dikenalnya itu, yaitu akan melumpuhkan usaha sekalian melenyapkan nyawa Arata. Hiiih, menjadi asisten Takehi ternyata bisa membuat lelaki yang dulunya hanya jongos itu memiliki sifat kejam dan dominan saat mengintimidasi Arata.


Harusnya Arata dapat menerima bahwa Arrabella sudah ditebus dan dibawa keluar dari wisma Evergreen, tapi jika ada peluang membawa perempuan itu kembali tentu akan lebih menguntungkan. Baik untuk usahanya juga untuk kepentingan pribadinya.


"Kalau ide-mu itu tidak nanggung, mending tidak usah saja, Arata. Aku takut mereka tidak main-main dengan ancamannya."

__ADS_1


"Mana kita tahu kalau tidak mencobanya, Irene? Yang penting usaha dulu, perkara hasilnya kita lihat saja nanti. Jangan belum apa-apa sudah bilang 'tidak mau berurusan', aku tidak suka dnegan orang pesimis, bikin hidup tidak maju-maju saja."


__ADS_2