Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Ketumpahan Sop


__ADS_3

"Doakan Sora bersedia menjadi mamamu, sayang," bisik Takeshi dalam hati.


Besar harapan Takeshi untuk memenuhi harapan Himawari sekaligus mewujudkan keinginannya sendiri yang ingin memiliki seorang pendamping.


Aya telah berusaha untuk tidak canggung saat Takeshi di dekatnya tapi yang ada malah grogi.


Seperti sore itu, saat Aya sedang berada di dapur kecil yang dibuat khusus di kamar kapal Takeshi.


"Bikin apa?" Sapa seseorang tepat dibelakang Aya yang sedang membuat makanan untuk Himawari.


"Aaaa ..." Aya terpekik.


Prang! Klontang.


Panci kecil yang dipegang Ayah terjatuh, isinya yang berupa sop sayuran berhamburan, dan ada yang tersiram ke kakinya.


"Apa yang kau pikirkan Arrabella sehingga kau melamun?" tanya Takeshi khawatir.


"Ah, ti-tidak ada tuan, saya hanya terkejut," sahut Aya terduduk sambil meringis.


"Sora, kamu tidak apa-apa?" tanya Himawari tidak kalah khawatir.


"Hei papa, kau melukai Sora-ku, ya?" tuduh Himawari.


"Tidak sayang, papa hanya berbicara sedikit tapi membuatnya terkejut dan membuat isi panci itu tumpah," Takeshi coba menjelaskan.


"Papa nakal sekali, cepat obati Sora!" perintah gadis kecil itu abil memukul lengan ayahnya.


"I-iya biar papa periksa dulu, apa yang terjadi. Maaf, Arrabella, aku harus membawamu ke tempat tidur," Takeshi meminta izin sebelum mengangkat tubuh Aya.


"Agastya, kemari!" Panggil Takeshi pada asistenny yang berjaga di luar kamar.


"Iya tuan, ada apa? Lho, Arrabella kamu kenapa?"


"Cepat ambilkan kotak P3K itu."


"Maaf Arrabella," kembali Takeshi meminta izin sebelum menyingkap rok plisket Aya yang panjangnya semata kaki.


Takeshi dan Agastya sama-sama terkesima meneguk saliva saat melihat betis mulus Aya yang selama ini tertutup rok panjangnya. Duh, lelaki mana sih yang tidak tergugah melihat keindahan tersembunyi itu, apalagi kalau ... ah, jadi terbayang bagaimana seorang Aya yang malah mungkin tanpa penutup apapun itu melayani hasrat lelaki yang menginginkannya.


"Sedikit memerah dari pertengahan betis hingga tungkai kaki kirimu," kata Takeshi berusaha menutupi kekaguman sesaatnya.


"Tidak apa-apa tuan, nanti juga sembuh," kata Aya tidak enak hati.


"Tidak apa-apa gimana, ini kalau dibiarkan bisa melepuh," sanggah Takeshi yang cekatan membersihkan bagian yang terkena tumpahan sop panas itu lalu mengoleskan salep luka bakar.


Sungguh, Aya tidak enak diperlakukan seperti itu oleh seorang pria yang adalah 'atasannya", sementara Takeshi juga sama tidak enak-nya karena ... jujur saja, dia lelaki normal yang sudah lama tidak bersentuhan dengan wanita.

__ADS_1


Takeshi memejamkan matanya sambil menggeleng. "Kamu bisa melakukan apa saja, bukankah kamu telah menebusnya? Tinggal kasih kode, Arrabella pasti mau memenuhi keinginannya. Tidak, tidak ... tidak boleh tergoda meskipun sebagai tuannya, aku memang sah-sah saja dilayani dan berhak penuh atas diri Arrabella. Ingat prinsipmu, Takeshi ... ingaaaat," suara hatinya berperang.


Sementara Agastya yang merasa tidak ada perintah lagi dari Takeshi, memilih keluar untuk kembali berjaga di luar pintu untuk memberi ruang bagi tuannya sekaligus menenangkan perasaannya sendiri.


"Duh, tidak salah lagi ... aku tertarik pada gadis itu bahkan saat bertemu di tangsi tuan Katsuro tapi, tuan Takeshi juga sepertinya menyukainya," batin Agastya.


Agastya, adalah seorang pemuda Indonesia berusia 22 tahun semula adalah pekerja di kantor berita Antara yang kemudian dipilih oleh Takeshi menjadi asisten sejak Jepang menduduki bumi Hindia Belanda. Beruntung Agastya kemudian menjadi orang kepercayaan Takeshi, seorang pimpinan yang baik dan bijaksana. Dari golongan penjajah yang terkenal dengan cap bengis itu Agastya malah banyak belajar tidak hanya soal kedisiplinan tapi juga perlunya memegang prinsip.


***


"Tolong jangan bergerak dulu, Arrabella," pinta Takeshi.


"Papa, panggil Sora," protes Himawari.


"Ah, iya ... Sora, tolong kamu istirahat dulu, Himawari biar aku yang mengurusnya," ujar Takeshi lagi.


"Papa benar. Sora kamu harus istirahat biar kakimu cepat sembuh, nanti aku yang akan mengurusmu," ucap Himawari dengan percaya diri.


Aya tersenyum sambil mengelus rambut Himawari, " Anak manis, Sora tidak apa-apa kan kaki yang melepuh ini sudah dikasih salep."


"Tidak, kamu tidur saja. Seperti aku kalau sakit juga kamu suruh tiduran saja. Terus kamu suapin lalu bacakan cerita."


Himawari yang imut itu sudah mengambil posisi di sisi Aya, sementara Takeshi memilih menyelesaikan pekerjaan Aya.


"Tuan, biar aku saja," Aya berusaha mencegah tuannya.


"Himawari, sini," panggil Takeshi.


"Iya, pa." Himawari mendekati ayahnya.


"Kamu, duduk di sini dan cobalah makan sendiri." Takeshi menarik kursi di meja makan.


"Papa akan menemaniku makan?"


"Nanti, setelah aku menyuapi Sora."


"Ah, tidak biar aku saja, pa."


"Jangan, makan sendiri saja kamu tidak bisa nanti malah tumpah kemana-mana." Takeshi segera duduk di sisi Aya dan bersiap menyuapi perempuan yang akhir-akhir ini menari di pikirannya.


"Buka mulutmu, Sora."


"Ah, jangan tuan. Saya bisa makan sendiri."


"Ck, kamu sedang sakit. Jangan membantah, saatnya aku yang melayanimu."


"Tapi hanya kaki saya yang sakit, tangan saya tidak masalah, tuan."

__ADS_1


"Ini perintah, Arrabella," tegas Takeshi lagi yang langsung disambut Aya dengan takut-takut.


"Sora, makanlah yang banyak. Biar kamu cepat sembuh dan cepat besar, bukankah kamu bilang begitu kalau aku malas makan?" kata Himawari sambil mengunyah makanannya. "Kalau kamu tidak mau makan, aku juga akan tidak mau berteman dan bermain denganmu," lanjut gadis kecil itu dengan mata yang mendelik.


Bukannya takut ancaman, Aya malah tersenyum geli melihat Himawari yang sok galak.


"Hihi, Hani ... kami tidak lihat kalau aku sudah besar?"


"Hei Sora, barusan papa menggendongmu dan menyuapimu, berarti kamu juga masih kecil sama sepertiku," elak Himawari.


"Tapi aku juga sering menggendong dan menyuapimu, berarti aku lebih besar dari kamu, Hani."


"Uuuh, tunggu sebentar lagi aku juga akan besar sepertimu, Sora. Ingat ya, kalau kamu tidak mau makan maka aku tidak akan berteman denganmu lagi."


"Sudahlah, jangan berdebat. Cepat habiskan makanan kalian," perintah Takeshi menengahi perdebatan keduanya.


"Hm, Arrabella ... apa kamu kepikiran dengan perkataanku tadi pagi sampai ketumpahan sop begini?" tanya Takeshi dengan suara pelan agar tidak didengar Himawari.


"Em ... masalah itu, tuan? Tidak, saya hanya terkejut dan refleks pegangan panci itu terlepas."


"Kamu terkejut karena sedang melamun, apa yang kamu pikirkan, aku sungguh-sungguh dengan perkataanku lagipula bukankah Himawari juga pernah memintamu menjadi mamanya?"


"Ah, tuan ternyata memperhatikan ya. Abaikan saja tuan, namanya juga omongan anak kecil."


"Arrabella, walaupun aku dan Himawari tidak pernah membahas hal ini tapi ... aku serius dengan kata-kataku tadi pagi. Aku tidak memaksa, jangan khawatir. Seandainya kamu memiliki lelaki yang kamu cintai dan bisa menerimamu dengan tulus, aku akan menerima penolakanmu."


"Tuan, aku bukan menolak hanya ... rasanya ini terlalu cepat untukku. Jujur saja, saya sendiri masih belum bisa menerima kenyataan pernah jadi gadis ianjo, apalagi orang lain? Kita baru bertemu tuan, tentu perlu waktu untuk saling mengenal dan menyesuaikan."


"Ah, baiklah. Kalau begitu bolehkah kita berteman?"


"Ma-maksud tuan, bagaimana?"


"Mulai sekarang jangan lagi memanggilku dengan 'tuan', dan jangan lagi pakai 'saya' sebab dengan begitu seolah ada batasan antara kita, bukanlah mulai hari ini kita perlu saling menyesuaikan?"


"Jadi harus bagaimana tu-?"


"Takeshi, panggil saja namaku begitu dan aku akan mengikuti cara Himawari memanggilmu, Sora."


"Eng, baiklah tu- eh, Takeshi."


"Bagus. Biasakan begitu, ya. Oh iya, apa pernah kamu pernah menanyakan pada Himawari kenapa dia memanggilmu 'Sora'?"


Aya menggeleng.


"Saat kami sama-sama bersedih atas kepulangan Fuyumi, ibunya Himawari ... kami sering memandang langit entah saat cerah, mendung, saat malam hari atau saat kapanpun kami merasa rindu pada Fuyumi, dan dalam bahasa kami, Sora berarti langit. Aku pikir, Himawari mau kamu menjadi langit yang selalu ada untuknya," jelas Takeshi.


Aya menunduk, siapa sangka tragedi ketumpahan sop menjadi awal memudarnya sekat antara dirinya dan tuan Takeshi?

__ADS_1


__ADS_2