Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Poor Aya


__ADS_3

Gadis belia usia 14 tahun itu sedang meratapi nasibnya. Sebenarnya dia takut dikurung sendirian tapi itu masih lebih baik dari pada bersama lelaki bejat itu dan mengerjainya tanpa ampun seperti yang sudah-sudah.


Memang perlakuan terakhir Isao padanya sangat baik, sebagai perempuan Aya tersanjung, jika saja melakukan hal seintim itu dengan orang yang dicintainya, tapi sejauh ini Aya belum mempunyai seseorang itu.


Gadis remaja itu tidak pernah membayangkan, kehangatan keluarga yang hangat manis, hancur oleh hal yang diluar kehendak mereka. Benar kata papi waktu itu, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi besok. Entah kebaikan ataupun kemalangan, yang jelas saat ini, Aya hanya bisa menjalani takdir yang ditorehkan untuknya.


Seandainya saja dia tidak begitu saja menerima tawaran nyonya Monic, bukan menggiringnya meraih masa depan cerah, malah menyesatkan dalam labirin dan jurang yang entah kapan dan bagaimana bisa keluar dari situ. Selain memohon Tuhan memberikan jalan terbaik untuknya, keluarga dan bangsanya, Aya hanya bisa menangis.


Aya merogoh tasnya, kini hanya buku tulis dan pensil yang dibelinya saat pertama kali berkunjung ke Batavia bersama keluarganya dulu, yang menjadi penampung curahan hatinya. Tidak ada seorangpun tempatnya berbagi, hanya buku itu.


Batavia, 10 Desember 1942.


Aku telah mengahajar tuan Isao yang mencoba melecehkanku. Aku takut, aku sedih, apa yang aku lakukan tidak hanya berakibat buruk padaku tapi juga keluargaku. Papi, mami, maafkan Aya.


Batavia, 18 Desember 1942.


Aku bahagia, nyonya Monic menawariku bea siswa ke Jepang, keluargaku akan di pulangkan ke Magelang tidak lagi tinggal berdesakan di kamp interniran.


Batavia, 20 Desember 1942.


Ternyata nyonya Monic mengelabuiku.


Tuan Isao akhirnya berhasil melakukan hal diinginkannya terhadapku. Dia menyerangku dengan sadis, sakit sekali. Aku sedih karena tidak bisa menjaga diriku, kini aku bukanlah anak gadis lagi.


Ya Tuhan ampuni aku, aku tidak bisa menolak untuk tidak melakukan perbuatan tercela itu.


Batavia, 22 Desember 1942.


Sudah 2 malam aku dikurung oleh tuan Isao disini. Aku sendirian dan ketakutan, tapi meskipun aku takut sendirian aku lebih takut lagi jika ada lelaki biadab itu. Lelaki itu sulit ditebak, bisa kasar bisa juga lembut. Aku cukup senang jika dia lembut karena dia tidak akan membuatku kesakitan.


Entah sampai kapan aku di sini, namun apapun yang akan terjadi ke depan, Tuhan beri aku kekuatan menjalaninya.


Begitu tulisan yang mengisi beberapa lembar catatan Aya.


Ceklek.


Aya menoleh ke bagian pintu yang terbuka.


"Arrabella, maaf ya aku meninggalkanmu cukup lama. Kamu pasti merindukanku." Kata Isao.


Cih, percaya diri sekali pria ini. Aya membuang muka.


"Hei, jangan ngambek begitu kamu membuatku gemas saja." Tuan Isao langsung melumaat bibir Aya dan mendekap tubuhnya.


"Balas, sayang," bisik Isao.

__ADS_1


"Kamu lupa jika menolak maka kamu akan ..."


Cepat-cepat Aya mengecuup bibir lelaki itu agar jangan sampai emosinya meledak dan menyakitinya lagi. Sudah cukup hatinya tergores jangan fisiknya dilukai juga. Aya, noni Belanda belia itu memutuskan untuk menerima dan berlaku baik demi menghindari penyiksaan.


"Gadis pintar, sekarang aku mau lihat apakah kamu masih mengingat pelajaran yang terakhir itu dengan baik? Buka pakaianku dan manjakan tubuhku," pinta Isao yang lebih mirip perintah.


Dengan tangan gemetar jemari Aya membuka kancing baju lelaki itu satu per satu dan melepaskannya. Lalu menurunkan retsleting celana panjang Isao.


"Oh sayang, jamu sudah tidak sabar rupanya. Aku belum menyuruhmu melepaskan celanaku tapi baiklah ... aku mengerti, kamu hanya malu untuk meminta padaku."


Meminta apa? Aya tidak paham. Bukankah lelaki itu yang tadi memintanya melepaskan pakaian, kenapa jadi ... .


Isao meraih tangan Aya dan menuntun telapak gadis itu membelai tubuhnya termasuk sesuatu yang sudah menegang di bagian bawah.


"Yang ini jangan cuma dibelai tapi sedikit diremas, genggam dan gerakkan tanganmu maju mundur," ajar Isao. Lelaki itu mendesaah keenakan.


"Ahh ... cukup Arrabella," Isao menarik tangan Aya.


Aya merasa lega karena berfikir tugasnya sudah selesai.


"Menunduk dan masukkan ini ke mulutmu," tugas Isao lagi. Aya terbelalak. I-itu masuk mulut bagaimana bisa.


"Cepat! Kemarin aku sudah menjilatii milikmu, enak kan? Nah, sekarang kamu balas."


Terpaksa Aya menurut, namun saat baru saja pedang tumpul itu mengisi mulutnya ... hoek, Aya mual.


Lagi-lagi karena takut Isao menyiksanya, Aya mencoba memasukkan benda itu ke mulutnya.


Hoek.


"Maaf saya tidak bisa, tuan," kata Aya takut-takut.


"Aaarrgghh, ya sudah. Buka pakaianmu dan berbaring," suruh Isao.


Aya pun patuh. Jangan ... kali ini jangan sampai tuan Isao marah lalu melakukan itu dengan kasar. Walaupun sesungguhnya Aya tidak mau, tapi setidaknya jangan sampai dia disiksa seperti kemarin.


Air mata Aya merembes saat tubuh polosnya ditatap seperti hidangan. Isao membuka kedua kaki Aya dan melahap rakus celah mungil surgawi yang tersembunyi di tengah.


"Uh ..." Aya tak sengaja mendesah.


"Enak kan, sayang. Kalau memang berniat ingin memanjakan pasangan kita, tidak ada akan jijik seperti kamu tadi. Tapi tak mengapa, karena itu yang pertama kali untukmu. Aku maafkan," ujar Isao yang lanjut menghujamkan pedang tumpul ke sarang yang sempit itu dengan berbagai ritme.


"Umh ... ah," lagi-lagi ******* lolos dari bibir Aya.


"Nah, seperti itu ... kalau kamu menurut, maka kamu tidak akan kesakitan malah enak, kan?" ujar Isao setelah hajatnya tersalurkan.

__ADS_1


"Cepat bersihkan badanmu dan nanti keluar pakai handuk saja, tidak perlu pakai baju," kata Isao pada Aya.


"Hei, aku sudah selesai ... ." Aya bingung, menduga kalimat itu ditujukan padanya tapi tuan Isao seperti berbicara ke arah luar kamar.


'Apa ada orang lain yang datang?' pikir Aya sambil mengguyur badannya.


Sesuai permintaan tuan Isao, usai mandi Aya hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuh rampingnya.


"Wow ... kamu memang pintar memilih perempuan, Isao." Ujar seseorang pria.


"Iya, cantik, mulus, masih muda ... hei, aku duluan ya?" jawab pria lain.


"Tidak bisa, aku yang pertama ditawari Isao, jadi aku yang duluan," sambung pria yang lain lagi.


"Tidak bisa, aku yang membayar paling mahal dari antara kalian."


"Wah, aku bisa membayar lebih mahal lagi."


Aya terperanjat, tidak hanya 1 atau 2 tapi ada 8 orang pria asing di kamar itu. Astaga, ini sungguh tidak sopan. Hanya mengenakan belitan handuk dihadapan pria dewasa.


Sementara yang lain sibuk berargumentasi, ada 1 orang yang menghampiri Aya.


"Sudah biarkan saja mereka ribut, ayo puaskan aku, cantik," ujarnya sambil melepaskan handuk yang menutupi Aya.


Aya malu sekali, tubuhnya yang polos dilihat oleh laki-laki bukan hanya melihat tapi menelisik dengan tatapan yang liar. Uh, bahkan ibunya sendiri tidak pernah melihat Aya tanpa pakaian, ini malah ... .


Tanpa buang-buang waktu lelaki itu menggiring Aya ke tempat tidur, lalu membuka celananya sendiri.


Jleb.


Lelaki itu memasukkan miliknya tanpa aba-aba ataupun pemanasan. Sakit. Aya hanya bisa menangis diam-diam setiap kali lelaki itu menghentaknya.


"Aaargggh, ..." Lelaki itu ambruk diatas tubuh Aya usai menyemburkan lahar hangatnya.


"Hei, kalau sudah keluar, cepat bangun," kata pria lain.


"Iya, aku tahu," jawabnya dengan malas-malasan ia bangun.


"Nanti aku akan sering mengunjungimu di ianjo," bisik lelaki itu sambil mengecup bibir Aya.


Aya belum lagi menggeser posisinya, datang pria yang tadi menyuruh temannya itu bangun. Tanpa sehelai benang yang membungkus tubuhnya pria itu meremas payudaraa Aya dan menciumnya dengan rakus.


Hanya 3 lelaki setelah Isao yang sempat diingat Aya telah mengganyangnya, selebihnya Aya tidak tahu apa-apa. Pingsan.


Aya terbangun karena sinar matahari yang menembus celah gorden mengenai wajahnya. Ini bukan pagi lagi tapi menjelang siang. Sejak sore kemarin Isao sudah mengerjainya, berlanjut teman-temannya yang bergantian memakai tubuh Aya sebagai penyaluur hasraatnya.

__ADS_1


Aya hanya bisa menangis, padahal dia sudah tidak melawan tapi tetap saja badannya sakit seolah tulang-tulangnya remuk, terutama bagian kewanitaannya yang bengkak dan mengeluarkan darah.


"Ya Tuhan, ini sakit sekali," ratapnya.


__ADS_2