
Kamp Interniran Desember 1942.
Suasana kamp interniran ramai seperti biasa, kaum ibu sibuk dengan aktivitas rumah tangga pada umumnya, bersih-bersih, mencuci, memasak dan mengurus keperluan lainnya dengan fasilitas minim dan seadanya. Meskipun kamp itu dikelilingi pagar tinggi yang dililit kawat berduri namun tidak mengurangi keriuhan di tempat itu. Bagaimanapun persamaan nasib membuat mereka semakin dekat satu sama lain.
Namun ada sesuatu yang tidak biasa, di salah satu sudut kamar, Sekar dan Adolf tampak sibuk mengurusi seorang pria tua yang mereka sebut papa Steur. Bapak yang baik hati, pendiri panti asuhan di Magelang. Panti yang menampung anak-anak terlantar hasil dari kawin campur bangsa Eropa dengan Jawa, anak-anak korban perang ataupun anak-anak yang memang sengaja dititipkan karena orang tua yang tidak mampu.
Papa Steur mengalami sakit yang cukup mengkhawatirkan, mungkin karena lingkungan kamp yang kurang bersih sehingga mempengaruhi kondisi pria tua itu rentan terserang virus.
"Pi, apa yang harus kita lakukan? Obat-obatan dari rumah kesehatan tidak bisa mengurangi penderitaan papa," ujar Sekar.
"Aku akan menemui pimpinan kamp," sahut Adolf.
"Bagaimana kalau mereka menolak dan justru menghukummu nanti?"
"Tidak apa-apa, kita sudah merawat papa ini tapi tidak sembuh-sembuh malah bisa dehidrasi, aku akan mencobanya walaupun gagal, setidaknya kita sudah berusaha."
Dengan berjalan pincang dan sedikit menyeret kakinya, Adolf memberanikan diri menemui pemimpin kamp mereka.
"Tuan, maaf bisakah kami membawa papa Steur ke rumah sakit? Beliau mengalami diare yang cukup parah. Kami sudah membawanua ke rumah kesehatan tapi tidak membawa hasil."
"Memang apa urusanmu dengan pria tua itu?" tanya pimpinan kamp.
"Beliau adalah sahabat kami, pemilik panti asuhan di Magelang, seorang aktivis kemanusiaan bukan dari golongan militer yang bertentangan dengan kekaisaran Jepang," Jawab Adolf.
"Kenapa kalau dia seorang aktivis kemanusiaan, kalau memang dia orang baik biar Tuhannya menyembuhkan dengan cara yang ajaib, atau biarkan saja dia mati."
"Tolong tuan, saya mohon sekali. Saya takutnya virus itu menyebar dan bisa saja menulari tuan juga para tentara lainnya yang berjaga di sini."
__ADS_1
Pemimpin kamp itu tampak berfikir sejenak.
"Baik, aku akan meminta tim medis dari rumah sakit ke sini, jadi kalian tidak harus meninggalkan tempat ini."
"Terima kasih, tuan."
"Hei, ini tidak cuma-cuma. Sini, pijatkan badanku."
"Iya, tuan." Adolf yang sebelumnya perwira tinggi mau merendahkanhatinya melayani pimpinan kamp yang apabila dirunut jenjang kemiliterannya jauh dibawah Adolf, namun apa daya ... status mereka saat ini hanyalah tawaran perang di kamp itu.
***
Sekar terperangah saat melihat tim medis yang didatangkan untuk memeriksa papa Steur. Meskipun menggunakan masker, Sekar mengenali itu adalah dokter Yusuf menantunya dan salah satu perawat itu adalah Clay, anak sulungnya. Demikian juga dengan Clay yang melihat keberadaan ibunya di situ, cepat-cepat menaruh telunjuknya di depan bibir sebagai kode tutup mulut sebab ada tentara Jepang yang mengawasi interaksi mereka.
Yusuf yang memahami situasi pun menulis sesuatu di kertas resep obat dan diam-diam memberikan pada Sekar. 'Mami, akhirnya kami menemukan keberadaan kalian. Apa kabar? tolong tulis sesuatu, besok kami usahakan ke sini lagi,' isi tulisan itu.
"Tidak. Tidak ada yang boleh keluar dari tempat ini," sahut tentara itu.
"Baik, sementara kami beri obat-obatan ini dulu, jika diizinkan besok kami kemari lagi membawa obat dan perlengakapan yang lebih memadai."
Tentara itu tampak berfikir.
"Besok sekalian kami bawakan vitamin dan suplemen untuk pimpinan dan staf yang berjaga di kamp ini, agar tidak mudah lelah dan menjaga stamina supaya tidak gampang tertular penyakit penghuni kamp ini," imbuh Yusuf.
Penjaga itu langsung keluar dari ruangan papa Steur, sepertinya dia hendak berkonsultasi dengan pimpinannya sebelum memutuskan.
"Mami, Clay rindu," Clay gegas memeluk Sekar sepeninggal pengawal itu.
__ADS_1
Rasa haru menyeruak saat mereka yang sudah lama terpisah, bertemu lagi dalam keadaan yang jauh berbeda.
"Papimu menolak kembali ke Belanda, jadi terpaksa kami menetap di sini," tutur Sekar.
"Di mana papi?"
"Ada di kamp ini juga, mungkin sedang melakukan sesutai yang diminta oleh tentara. Papimu agak pincang akibat tertembak tempo hari, makanya dia tidak di kirim ke Thailand sebagai tenaga pembuat jalan kereta, papimu di sini, setiap hari mengurusi kebersihan ruang tentara dan berkebun.
"Bagaimana dengan Aya apakah dia ada di gerombolan anak-anak yang sedang bermain di luar situ?"
Sekar menggeleng, tangisnya pecah. "Aya ... Aya, dijemput paksa oleh pengawal tempatnya bekerja karena dia mencoba membela diri saat hampir dilecehkan oleh tuan rumah."
"Ya, Tuhan ..." pekik Clay tertahan. Clay mengerti arti gadis-gadis yang dijemput paksa oleh tentara Jepang, tentu akan dilemparkan ke ianjo, menjadi budak nafsuu di situ.
"Aku dan Yusuf akan mencari di ianjo mana Aya ditempatkan semoga masih di wilayah Batavia," janji Clay. Tidak lama pengawal datang, dan Clay pun menjauh dari Sekar, seolah tidak saling kenal.
Yusuf yang turut mendengar percakapan istri dan inu mertuanya langsung memahami situasi, ia lalu menulis sesuatu di kertas resep obat dan diam-diam memberikan pada Sekar. 'Mami, akhirnya kami menemukan keberadaan kalian. Bisakah kami bertemu papi dan alderts juga? Besok kami akan ke sini lagi.'
Sekar tahu, bisa bertemu Clay dan Yusuf yang secara kebetulan itu adalah salah satu bentuk kebaikan Tuhan pada keluarganya, dia tidak bisa berharap lebih karena untuk bisa bertemu lagi, cukup beresiko bagi mereka.
Tidak jarang mereka menyaksikan keluarga mereka disiksa bahkan dibunuh di depan mata mereka sendiri jika melanggar atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan.
***
Sementara itu, di tempat lain, Isao yang awalnya ingin cepat-cepat kembali ke tangsi menemui Aya, batal karena godaan Sumi. Pembantu pengertian yang sensuaal itu seolah tak kenal lelah melayani nafsunya.
Setelah puas mengangkaangi tuannya di sofa ruang tamu, Sumi menariknya ke kamar tidur. Sumi mendorong tubuh polos Isao hingga telentang lalu memanjakan sekujur tubuh lelaki itu dengan jilataan dan kecupan mesra dengan tanpa sungkan menempatkan celah surgawi berlendirnya ke mulut Isao lalu turun agar pangkal pahaanya diisi penuh oleh pedang tumpul sang majikan, lalu menekan dan memutar-mutar pantaatnya dengan tekanan dan memberikan goyangan yang selalu membuat Isao mengerrang nikmat.
__ADS_1
"Ah ... Sumi, milikmu enak sekali, kamu tidur di sini selama Monic tidak ada ya," racau Isao. Sumi tidak menjawab, tanpa diminta pun dia akan menyerahkan diri untuk berbagi kehangatan. Seperti yang biasa dia lakukan, jika Monic sedang tidak tidur di rumah maka dia yang akan menemani tuannya di kamar tidur utama.-