Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Aku Siap


__ADS_3

Perkataan beberapa temannya di ruang makan tadi pagi membuat kuping Aya memanas dan Aya jadi berpikir ... memang sih, mami Irene bilang nanti saja jika dia sudah siap, tapi siapnya itu kapan?


Aya tidak mau seolah menjadi benalu bagi teman-temannya di ianjo, lagi pula Aya sudah tidak sabar mulai menabung agar cepat bebas dari tempat terkutuk ini dan berharap bisa kembali bersama keluarganya.


Tanpa berpikir lama, Aya bergegas menemui Mami Irene.


"Mi, ada yang mau aku bicarain," sela Aya pada Irene yang sedang asyik menulis sesuatu di bukunya.


"Hm, ada apa Arrabella?"


"Aku ... a-aku si-siap mulai bekerja," ujar Aya terbata.


"Serius kamu?" Irene memindahkan perhatiannya yang semula menatap buku catatan ke arah Aya.


"Se-serius, mi."


"Hem, aku hanya tidak mau kamu terpaksa melakukannya. Apapun yang dipaksakan hasilnya jadi gak maksimal."


Aya mendengus pelan. Sejujurnya sampai kapan pun dia gak akan siap kerja begituan.


"Aku akan berusaha."


"Apa yang membuatmu jadi ingin bekerja secepat ini, beneran kamu siap jika mulai malam ini?"


"Hm, iya. Aku siap mulai malam ini, aku gak mau terlalu lama membebani kawan-kawanku."


"Baguslah. Anak pintar, akhirnya kamu mengerti. Baik, pergi ke kamarmu dan persiapkan dirimu baik-baik. Bersihkan badanmu dan jangan lupa pakai ratus, ok?" ujar Irene dengan senyum yang mengembang.


Aya pun menuruti saran Irene, ia menuju kamarnya dan mulai merawat tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala dengan perasaan gundah. Aya berharap lelaki yang ditemuinya nanti bisa memperlakukannya dengan baik dan suka atas pelayanannya sehingga bisa memberi tips padanya.


"Ayo Aya, kamu harus bisa ... bisa ... bisa!" batinnya menyemangati dirinya sendiri.


***


Usai makan sore, Aya berkumpul dengan gadis-gadis sesama penghuni kamar VIP di ruang tengah ianjo. Beberapa ngobrol sambil bersenda gurau tapi Aya seperti biasa, lebih memilih diam seolah mempelajari situasi.


Sebagian besar mereka juga gadis indo seperti Aya, ada juga yang asli orang Jepang dan usia yang tidak terllau jauh diatas Aya.


Gelap mulai menyelimuti langit ianjo satu per satu gadis-gadis itu menghilang sesuai panggilan nama dan nomor kamarnya, hingga menyisakan Aya dan Lucia.

__ADS_1


"Arrabella, kamu kok duduk di sini apa karena omongan Helie tadi pagi?" selidik Lucia.


"Hm ... sepertinya begitu, menunggu benar-benar siap gak tahu kapan, kasian mami Irene juga teman-teman di sini," sahut Aya.


"Iya, sih. Eh, dengar-dengar harga pertamamu sangat tinggi lho, aku aja dulu cuma 5.000 gulden."


"Hm ... kabarnya begitu, nyonya tempatku bekerja dulu yang menentukan harga dan menjualku ke sini dan yang membeliku adalah ... lelakinya sendiri, tuan Isao."


"Apa? Jadi mungkin tuan Isao itu memang suka sama kamu ya, bisa-bisa tidak lama lagi dia akan menebusmu."


"Entahlah, kalau bisa aku tidak mau bertemu tuan Isao apalagi sampai dia yang menebusku, aku tidak mau terikat dengan lelaki itu."


"Kenapa?"


"Saat pertama kali itu, dia memaksaku dan menyakitiku. Sempat memang dia menggunakan cara yang lebih nyaman tapi kemudian dia membawa teman-temannya mengerjaiku selama 2 malam, sampai berdarah-darah dan tidak sadarkan diri."


"Astaga, pasti sakit sekali ..."


"Gak cuma dibadan sakitnya, tapi juga di hati, Lucia."


"Ya, ya ... aku mengerti. Aku bersyukur tidak mengalami sepertimu, kecuali jika tamu sedang mabuk, mereka jadi seenaknya sama kita. Lelaki pertamaku adalah seorang laksamana bernama Akeno. Tampan, masih muda dia memperlakukanku dengan lembut. Tiap kali kapalnya bersandar, pasti dia menemuiku. Sayangnya, dia tidak bisa menebusku karena dia hidupnya di kapal, jadi katanya sulit membawaku kemana-mana. Seharusnya kita yang kerjanya begini gak boleh pakai hati ... ." Lucia tampak termenung sejenak.


"Jujur aku jatuh cinta sama laksamana Akeno, hihi."


"Apa sia juga menaruh perasaan yang sama dengan kamu?" selidik Aya.


"Entahlah, setiap kali kami bercinta ... dia memperlakukanku dengan sangat baik, sampai-sampai aku merasa dia begitu memanjakanku dan mencintaiku," sahut Lucia dengan wajah memerah menahan malu.


"Semoga saja dia merasakan yang kamu rasa dan jika memang berjodoh, pasti ada jalannya," hibur Aya.


"Hm, aku tidak berani berharap banyak. Kita hanya wanita penghibur, kamu tahulah bagimana penilaian orang terhadap wanita seperti kita. Jadi rasanya terlalu besar kepala jika aku berharap Akeno membalas perasaanku lalu kami menjalin hubungan yang serius," sahut Lucia sambil menanap nanar langit-langit ruang tamu, tersirat rindu sekaligus kesedihan yang mendalam di matanya.


Aya mengelus pelan lengan teman barunya, " Kita gak tahu apa yang akan terjadi di depan, jadi jalani saja apa yang adq saat ini sebaik-baiknya."


"Wah, aku gak nyangka kamu bisa bicara panjang, biasanya senyum-senyum aja Arrabella."


Aya tersenyum. "Aya, panggil aku Aya, Lucia. Kita teman sekarang."


"Baiklah Aya. Tuh, giliranmu. Gadis kamar nomor 8." Kata Lucia yang mendengar panggilan untuk Aya.

__ADS_1


Aya terkesiap.


"Semangat ya. Semoga kamu bersenang-senang dan semoga malam ini kita beruntung dapat pria yang tampan, gak banyak maunya tapi juga gak pelit ya Aya," harap Lucia.


Aya mengangguk dan meninggalkan Lucia, menyambut pria yang telah memesannya.


"Gadis kamar no.8?" tanya pria tampan itu pada Aya.


"Ya."


"Wah, aku beruntung malam ini. Infonya, aku pria yang pertama kau temani sejak kau menempati ianjo."


Aya mengangguk dan tersenyum manis. "Tuan mau saya temani minum dulu atau ...?"


"Ah, kita langsung ke kamarmu saja, aku mau cepat-cepat melemaskan otot-ototku bersamamu, cantik," sahut pria itu seraya menggandeng lengan Aya.


Begitu masuk ke dalam kamar Aya, pria itu langsung melepaskan seragamnya.


"Minta handuk," kata pria itu sambil melangkah ke kamar mandi.


"Tuan mau saya pijat?" tawar Aya begitu pria itu keluar kamar mandi berbalut handuk.


"Boleh, beri aku pijatan spesialmu, sayang," lelaki itu langsung telungkup di atas pembaringan.


Dengan hati-hati Aya mulai mempraktekkan ilmu memijatnya. Aya tahu, gerakannya masih sangat kaku tapi pria itu tampak sangat menikmati sentuhan Aya buktinya hanya beberapa saat Aya memijat, pria itu langsung tertidur.


Apa yang harus aku lakukan? Apa dia akan tidur bersamaku malam ini? Apa dia akan memperlakukanku dengan baik? pikir Aya.


"Hei cantik, sini," ujar pria itu mengubah posisinya jadi telentang dengan mata terpejam menepuk-nepuk bantal kosong disebelah bantalnya.


"Peluk aku, sayang," pinta lelaki itu.


'A-apa? aku harus berpelukan dengan lelaki yang ..." ya tercengang, sebab handuk yang membungkus tubuh lelaki itu telah terikat simpulnya.


Baru saja Aya berbaring, tubuhnya langsung direngkuh oleh lelaki itu.


"Ah, nyamannya berpelukan dengan gadis cantik dan wangi sepertimu," ujar lelaki itu.


'Jadi maunya cuma ditemenin tidur sambil berpelukan saja, padahal aku sudah siap jika dia mau ... ah, syukurlah,' gumam Aya.

__ADS_1


__ADS_2