Gita Senja Geetruida

Gita Senja Geetruida
Demi Masa Depan Kalian


__ADS_3

Tidak terasa, sambil menjadi pengasuh Himawari, mengurus keperluan dapur rumah dinas tuan Takesi dan juga tugasnya sebagai istri Agastya, Aya mampu menempuh pendidikannya dengan sangat baik. Ia menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya dalam waktu 5 bulan dan setelah mendapatkan ijazah kelulusan, Aya kembali menekuni pembelajaran secara private untuk tingkat menengah atas-nya juga dalam waktu kurang lebih 8 bulan.


Meskipun ia tidak merasakan serunya belajar bersama sambil bercengkrama dengan kawan-kawan sekolah serta mengenakan seragama seperti saat ia masih tinggal di Magelang, namun Aya merasa beruntung. Sebab pada masa itu hanya orang tertentu yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan. Kesempatan yang tidak akan ia dapatkan jika dulu tidak mau mengikuti rencana tuan Takeshi yang memintanya menjadi kekasih pura-pura. Tuan Takeshi benar-benar pahlawan bagi Aya, sudah menebusnya dari ianjo, memberinya pekerjaan yang layak, menikahkannya dengan lelaki yang dicintai, mendapat kehormatan karena status 'kekasih' seorang perwira tinggi Jepang dan kini ia bahkan telah menyelesaikan pendidikannya SMA-nya ... sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan jika masih menjadi seorang jugun ianfu.


"Tuan, maaf ... sekarang nona Arrabella sudah menyelesaikan pendidikannya, apa rencana tuan untuk nona Arrabella? Apakah akan segera menikahinya? Karena sebentar lagi nona Arrabella sudah berusia 17 tahun," ujar bu Dinar saat makan malam di rumah Takeshi dalam rangka syukuran 'kelulusan' Aya.


"Uhukk," Takeshi terbatuk, salah tingkah mendengar kata 'menikahinya' dari bu Dinar.


"Saya melihat nona Arrabella sangat berbakat dalam hal tulis menulis, juga karena nona menguasai bahasa asing sangat mumpuni jika siarahkan menjadi tim penerjemah kenegaraan. Hanya untuk bisa masuk sebagai pekerja, nona Arrabella wajib menemput pendidikan lanjutan," bu Dinar melanjutkan ulasannya.


"Maksud ibu, Arrabella harus kuliah?"


"Benar, tuan. Apa tuan keberatan, kekasih tuan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?" tanya bu Dinar.


"Ah ... tidak, tidak. Itu sungguh saran yang baik bu-"


"Maaf tuan, ada tamu ingin bertemu," Agastya menghampiri, memotong percakapan tuannya dengan bu Dinar.


"Em ... bu Dinar, Terima kasih atas masukan juga bimbingan ibu untuk kekasih saya hingga menyelesaikan pendidikannya. Buat Himawari, mohon tetap di bimbing, bu. Silakan nikmati jamuan makan malam kami, maaf saya ada tamu, jadi saya tinggal dulu," pamit Takeshi pada bu Dinar.


***


Dua orang tamu yang menemui Takeshi adalah perwakilan pemuda Indonesia yang bergerak aktif memperjuangkan kemerdekaan. Mereka sangat mengenal Takeshi yang bersimpati terhadap perjuangan rakyat Indonesia dan bersedia membantu persiapan kemerdekan Indonesia, karena itu mereka perlu membahas beberapa hal dengan Takeshi.


Takeshi sendiri juga seisi rumah dinasnya sangat dihormati oleh angkatan perang Jepang sehingga mempunyai hak imunitas terhadap Angkatan Darat Jepang, sehingga akan tetap aman berkonsultasi dan tidak akan dicurigai pihak Jepang.


"Ryujo, tolong kerahkan keamanan rumah ini, ya," kata Takeshi pada ajudannya sepulang kedua tamu dan juga tim pengajar bu Dinar.

__ADS_1


"Em, apa tidak apa-apa, tuan? Kita jadi terkesan membelot dengan negara kita sendiri jika turut memfasilitasi kemerdekaan Indonesia," sahut Ryujo.


"Meskipun harus bertaruh dengan jabatan dan pangkatku, aku tahu yang kulakukan, Ryujo. Lagi pula, kamu jangan lupa kalau kamu juga setengah Indonesia karena menikahi Monic, jadi apa yang kita lakukan ini juga demi mengusahakan kebahagiaan kalian di masa depan," tegas Takeshi.


"Sungguh tuan berhati mulia, tuan memiliki sifat samurai Jepang, yang rela mengorbankan diri demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Aku bangga terhadap tuan," sanjung Ryujo sungguh-sungguh.


"Aku melakukan semua berdasarkan kepentingan kemanusiaan, Ryujo. Kasihan bangsa ini yang telah teejajah selama ratusan tahun, Indonesia harus segera memproklamirkan kemerdekaannya sendiri agar terbebas dari kesema-semaan bangsa lain. Sebab itu, kamu tolong atur dan fasilitasi para pemuda yang akan dibekali untuk persiapan kemerdekaan. Jika ada yang menanyakan, suruh mereka menemuiku," titah Takeshi lagi.


"Siap, tuan."


***


"Aya, melihat minat dan bakatmu, bu Dinar menyarankan kamu melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik," kata Takeshi saat mereka tengah bersantai di teras samping.


"A-apa saya boleh kuliah, tuan?" tanya Aya.


"Tentu. Saya pribadi tidak masalah, saya sangat mendukung hanya ... untuk kuliah, kamu harus menjalaninya secara reguler, tidak bisa menggunakan sistem private seperti yang sudah-sudah, jadi kamu wajib menanyakan pendapat suamimu dulu."


"Tidak masalah, yang menikah bahkan punya anak pun pihak kampus tidak mempermasalahkan, hanya mungkin ... sebaiknya kamu kuangkat kadinpengawal pribadi Aya, untuk mempermudah pengawasannya, gimana Agastya?"


"Oh, eh ... tapi kalau fakultas Sastra atau Fisipol saya tidak berminat, tuan. Saya pilih fakultas Ekonomi saja, boleh?"


"Boleh-boleh saja, tapi beda sepertinya beda gedung, yang artinya kamu jadi tidak bisa intens mengawasi kekasihnya Takeshi," kelakar Takeshi.


"Em ... mungkin tidak apa-apa tuan, yang penting kami masih dalam lingkup yang sama."


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Besok kalian silahkan pergi ke kampus untuk mencari informasi pendaftaran mahasiswa baru. Sekalian biar Aya bisa melihat dunia luar." Selama menempati rumah diasn Takeshi, Aya hampir tidak pernah keluar lingkungan rumah kecuali bersama Takeshi dan Himawari.

__ADS_1


"Ah tapi ... tidak jadi saja, tuan," ujar Agastya ragu.


"Kenapa?"


"Anu itu ... uang saya sepertinya tidak memungkinkan untuk kuliah tuan, hehe. Saya memang ada sedikit tabungan tapi saya berniat itu untuk modal usaha saya kelak. Saya punya keinginan suatu saat hidup mandiri dengan Aya, membina rumah tangga kami sendiri."


"Wah bagus kalau kamu punya visi begitu, aku sangat mendukung. Memang tidak selamanya kalian harus bergantung denganku. Begini saja, kamu dan Aya jangan pikirkan masalah biaya kuliah, semua saya yang menanggungnya, gimana?"


"Potong gaji tidak, tuan?"


"Em ... tergantung kamu maunya gimana, sih?"


"Kalau harus potong gaji, tidak jadi saja tuan," putus Agastya.


"Ck kamu ini gimana sih, Agastya? Tidak ingin menghargai tawaranku?" Tanya Takeshi membuat kening Agastya berkerut.


"Kami hanya tidak mau jadi beban, tuan. Susahlah kami boleh tinggal, makan dan tidur gratis, masih mendapat gaji, masa masih ahrus dibiayai kuliah pula?"


"Ya kalau itu menurutmu sih, tidak apa-apa. Aku bisa menganggap biaya kukiah kalian sebagai hutang. Hutamg yang harus dibayar dengan keseriusan kalian belajar hingga menjadi sarjana."


"Maksud tuan apa?"


"Begini, kalian tahu ... besar kemungkinan tidak selamanya aku tinggal di Indonesia jasi jika itu terjadi, artinya kalian akan hidup mandiri seperti yang kamu bilang tadi. Nah, aku mau siapa pun yang pernah menjadi bagian tanggungjawabku, pekerjaku ... mereka punya modal untuk itu."


"Jadi gimana, tuan?"


"Ya, terserah kamu saja. Mau kuliah atau tidak, pilihannya terserah kalian, aku tidak memaksa. Toh itu tidak berpengaruh pada gaji-mu sebagai pekerjaku, tidak ada pemotongan sama sekali."

__ADS_1


"Wah ... te-terima kasih. Tuan baik sekali."


"Ya, ini demi masa depan kalian juga, Agastya. Walaupun bangsaku adalah penjajah keji di bumi nusantara ini, aku hanya ingin keberadaanku bermanfaat setidaknya bagi segelintir orang yang kukenal," jawab Takeshi membuat Aya dan suaminya melempar pandang sambil tersenyum cerah.


__ADS_2