
"Hah, dasar gadis bodoh. Bikin repot saja, dia benar-benar ingin merasakan hukuman jika mencoba kabur dari sini?" gerutu Irene yang kesal karena malam ini pasti penghasilannya berkurang.
Irene benci dengan gadis-gadis pembangkang, segera ia menyuruh para penjaga berkeliling mencari jejak Aya.
"Harus cari sampai dapat, biar dia tahu aku tidak main-main dengan aturan di ianjo sekalian buat peringatan untuk gadis-gadis yang lain bahwa aku akan menyiksa siapapun yang berani menentangku," tegas Irene.
Mendengar itu gadis-gadis yang menyeret Aya, ketar-ketir, sebagian lagi menyesal karena tempat penyekapan Aya masih di area ianjo, harusnya mereka merancang konsep seolah-olah Aya kabur dari ianjo, agar kalau ditemukan bisa dihukum seberat-beratnya.
"Hei, apa yang kalian pikirkan? Aku sudah sangat puas membuat anak itu tidak bisa menerima tamu setidaknya untuk beberapa malam ke depan," kata gadis VIP yang bernama Monalisa mempengaruhi teman-temannya.
"Benar, setidaknya anak itu tidak besar kepala dan tidak merasa sok cantik lagi," timpal yang lain.
"Setuju."
"Nanti biar aku yang menghadapi mami Irene. Biar mami Irene tahu kalau kita tidak suka dia pilih kasih begitu," tutur Lucia.
***
Tidak perlu waktu lama, para penjaga ianjo menemukan Aya yang terikat di pohon kelapa dalam keadaan luka-luka dan pingsan.
Melihat hal itu, Irene tahu kalau gadis kesayangannya ini bukanlah ingin melarikan diri tapi dihukum oleh teman-temannya.
"Letakkan dia di kamar perawatan, biar nanti aku yang mengurusnya," perintah Irene saat penjaga mengatakan kalau Aya ditemukan di kebun belakang dalam keadaan terikat.
Tanpa diberitahupun Irene mengerti kalau ini jelas perbuatan gadis-gadis VIP ianjo.
__ADS_1
"Ck, dasar gadis-gadis bodoh ... perbuatan kalian ini tidak hanya menyusahkanku tapi juga menghambat pendapatanku," gerutu Irene.
Engh, mami ... papi ... ." Igau Aya.
"Astaga anak ini demam rupanya," gumam sambil mencari handuk kecil untuk mengompres kening Aya.
Melihat tubuh Aya yang kotor, Irene pun berinisiatif seraya menyeka dengan air hangat lalu dengan telaten engoleskan obat memar dan obat merah di kulit Aya dan mengganti pakaian gadis itu.
"Sayang, apa ini perbuatan teman-temanmu?" tanya Irene saat Aya siuman.
Aya membalas dengan anggukan yang lemah.
"Maaf Arrabella, aku sungguh tidak tahu akan begini."
"Mi, aku ingin berhenti saja melayani tamu. Biar aku jadi tukang masak dan bersih-bersih saja di sini sampai mendapat uang 300.000 gulden."
Aya jadi mengharapkan hal yang sama demgan gadis yang dikatakan Irene barusan.
"Sekarang kamu makan dulu ya, sayang, biar cepat minum obat," kata Irene sambil menaruh sepiring nasi dan air minum di nakas.
***
"Kenapa kalian menyiksa anak baru yang bernama Arrabella?" tanya Irene ketus, usai para gadis VIP ianjo menikmati sarapan, keesokan harinya.
"Dia sombong."
__ADS_1
"Sok cantik."
"Anak baru itu merebut pelangganku." Sahut para gadis itu bergantian.
"Heh! Kalian dengar, ya ... Arrabella itu bukan sombong, sebagai anak baru, dia hanya sungkan bergaul dengan kalian. Lagi pula, dia bukannya sok cantik tapi memang cantik," sergah Irene.
"Mami pilih kasih, kenapa pelanggan kami dikasihkan ke dia semua?" Lucia bersuara.
"Pilih kasih gimana? Kalian semua aku perhatikan, aku penuhi kebutuhan kalian dan kalau sakit, tentu aku rawat dan ... bukan salahnya kalau pelanggan kalian ingin mencicipi gadis baru, namanya pria tentu punya jiwa petualang dan wajar saja kalau mereka penasaran."
"Tapi kan tetap aja mami yang mengarahkan tamu-tamu itu," sahut Lucia lagi.
"Lho wajar saja jika aku menawarkan Arrabella pada pelanggan. Hanya menawarkan tidak memaksa, toh pada akhirnya mereka yang memutuskan sendiri ingin mencoba atau tidak."
"Kalau mami masih terus membelanya, kami akan mogok melayani tamu!" Ancam Monalisa.
"Coba saja, jangan hanya mogok melayani tamu ... sekalian saja kalian kabur dari sini. Kalian tahu? Kalian hanyalah perempuanntidak berguna di luar sana. Kalian tidak pikirkan predikat kalian sebagai gadis ianjo? Hah, apa yang bisa kalian lakukan? Memangnya kalian punya keahlian selain membuka kedua kaki kalian melayani hidung belang, pekerjaan yang bisa menjamin hidup kalian lebih baik ketimbang di sini? Paling juga bisanya berkelanan dari 1 pria ke pria lain yang pastinya tidak mau membayar kalian sebagus di sini." Oceh Irene dengan tatapan tajam.
"Ma-maaf mami, kami minta maaf. Kami janji tidaknakan mengulangi lagi," Lucia berinisiatif mewakili teman-temannya.
"Bagus, aku pegang kata-katamu. Lagi pula kalian sadar diri, dulu juga kalian pernah mengalami masa-masa seperti Arrabella, jadi primadona yang selalu diincar. Bahkan kuberi kebebasan memilih lelaki mana saja yang diinginkan. Kenapa giliran ada pendatang baru kalian malah sewot bahkan sampai menyiksanya? Kalian tahu yang kalian lakukan itu bisa merusak kejiwaan Arrabella yang baru saja sembuh dari trauma akibat perkosaan, tambah lagi luka fisik yang kalian lakukan terhadapnya, huh ... entah kapan dia siap bekerja lagi. Harusnya kalian bersyukur sudah sekian lama aku masih mau menempatkan kalian di VIP agar hanya melayani para perwira saja. Asal kalian tahu, tidak sulit bagiku mencari 10 gadis cantik dan body-nya lebih bagus dari kalian, dan tentunya menggeser posisi kalian ke belakang, melayani tentara yang ... yah, boro-boro dibayar malah dipakai rame-rame, gratisan." Tutur Irene setengah menakuti.
"Tidak, jangan pindahkan kami ke mess belakang, mi. Kami mau tetap di sini saja, kami janji akan berlaku baik pada Arrabella dan tidak akan marah jika dia harus melayani langganan kami. Kami juga janji akan bekerja sebaik-baiknya," timpal Agnes.
"Ok, mumpung aku sedang berbaik hati ... siapa yang ingin keluar baik-baik dari sini, silakan temui aku. Jangan lupa siapkan juga uang tebusan 300.000 gulden," ucap Irene sambil berlalu menuju paviliunnya.
__ADS_1
Kesembilan gadis itu saling bertatapan, belum pernah mereka lihat Irene semarah itu. Beberapa gadis bergidik ngeri membayangkan posisi mereka yang bisa tergeser ke mess belakang ... huh, mereka sering menyaksikan betapa tersiksanya para perempuan yang berada di situ, benar-benar dijadikan budak napsu. Jangankan merawat diri dan istirahat yang cukup, para gadis itu ada yang tidak sempat makan demi melayani hasrat tamu yang datang, ada yang tetap harus melayani walaupun sedang datang bulan dan dihukum jika menolak, baru-baru ini ada perempuan yang mati mengenaskan akibat ketahuan hamil tapi tidak mau menggugurkan kandungannya dan malah ketahuan mencoba melarikan diri.
Tentu saja Lucia dan kawan-kawannya lebih memilih bersikap manis agar tetap menjadi gadis VIP ianjo.